
Keesokan harinya, mereka semua kini berjalan menuju arena dengan wajah kesal karena Rey yang sudah gatal untuk tidak mencincang tubuh orang terbangun dari tidurnya sebelum mentari pagi bersinar, dia membangungkan semua orang dengan menggedor pintu kamar mereka dengan keras, bahkan sampai terdengar keluar penginapan.
"Ayolah, mengapa kalian lesu seperti ini? Tunjukan rasa antusias kalian karena setelah ini kalian akan menyaksikan pertunjukan super keren saat sang penghancur ini membabat semua lawannya," Rey berbicara dengan keras tanpa peduli orang-orang yang melihatnya dengan padangan aneh.
Zenith mendekati Feng Qiuyu dan berbisik, "Kurasa otaknya sudah tidak waras, lebih baik pura-pura tidak mengenalnya saja dari pada kita mendapat pandangan aneh orang lain."
Rey yang punya pendengaran tajam mendengar bisikan Zenith, dia melihat kesekitarnya dan ternyata benar apa yang diucapkan Zenith karena sekarang orang-orang sedang melihatnya. Namun, dimata Rey pandangan orang-orang itu bukanlah sebuah pandangan aneh melainkan pandangan kagum dan hal itu tentu saja membuatnya bangga, maklum saja otaknya kan sudah bergeser dari tempatnya.
Yui sendiri hanya tersenyum manis ke arah Rey, itu wajar saja sebab orang yang sedang dilanda jatuh cinta pasti akan menganggap semua yang dilakukan oleh orang yang disukai menarik, cinta itu bukannya buta tapi rabun -1 juta.
Tak lama kemudian mereka terlah sampai di arena, seperti biasa pedagang memadati arena di sekitar arena. Rey yang penasaran mendekat kesalah satu pedagang dan betapa terkejutnya dia saat melihat dagangan orang tersebut karena yang dia jual adalah batu kerikil, tidak hanya Rey saja bahkan Zenith dan lainnya pun juga tak kalah terkejutnya.
"Apa kau mau beli tuan?" Tanya pedagang tersebut antusias.
Rey mengambil salah satu batu kerikil pedagang tersebut dan berkata, "Aku tanya, untuk apa kau menjual kerikil ini?"
"Tidak ada alasan pasti, tapi orang tuaku berkata bahwa semua hal yang ada di dunia ini dapat dijadikan uang, jadi aku mencoba menjual kerikil ini untuk mengetahui apa yang diucapkan orang tuaku itu benar atau tidak, namun ternyata kerikil tidak bisa dijadikan uang," Keluhnya.
Rey mengerutkan dahinya, 'Ini orang goblok atau gimana ya?' Batinnya kesal.
Tiba-tiba saja Rey tersenyum dan berkata, "Aku punya ide, bagaimana jika kau menjual otakmu saja, karena kurasa otakmu itu tidak ada gunanya sama sekali."
"Apa itu bisa jadi uang?" Tanyanya.
"Tentu saja," Rey bediri, " Nah, jika ada pelanggan lagi sebaiknya kau tawarkan saja otakmu itu ya," Rey tersenyum sinis, dia cukup kagum dengan kebodohan pedagang tersebut karena sudah mencapai tahap ekstrem.
"Terima kasih tuan!" Teriak pedagang tersebut dengan keras seraya melambaikan tangannya.
Mereka semua tak henti-hentinya tersenyun sebab pedagang tersebut benar-benar menawarkan otaknya saat ada orang yang mendekati dagangannya, bahkan Liu Ji yang sejak kemarin murung ikut tertawa karenanya, sepertinya apa yang di ceritakan oleh orang-orang yang berasal dari aliran hitam tentang mereka yang berasal dari aliran putih hanyalah kebohongan belaka karena kenyataannya sungguh berbanding terbalik pikirnya, jika ditanya apakah dia senang atau tidak sekarang ini? maka jawabannya adalah kebebasan berekspresi tanpa harus mengikuti aturan yang begitu ketat.
"Rey sebaiknya kau masuklah, kami akan menyemangatimu dari bangku penonton," Yui tersenyum manis yang membuat jantung Rey berdetak kencang.
'Walaupun tidak bisa melihat senyumnya itu tapi kurasa itu adalah senyuman tulus dari seorang perempuan, sama halnya seperti ibuku,' Batin Rey.
__ADS_1
Tetua Fengyi memegang kepala Rey, "Sebaiknya kau jangan sampai sekarat karena kau akan membuat panik semua orang nanti," Ucapnya seraya melototkan matanya ke arah Rey, karena terakhir kali Rey sekarat itu hampir membuatnya jantungan.
Semua orang mengangguk setuju kecuali Fui dan Liu Ji, mereka yang pernah melihat Rey sekarat pasti akan takut karena itu lebih mirip dengan orang mati, dan tentunya mereka tidak ingin melihat lagi pemandangan mengerikan seperti itu, mungkin itulah yang disebut sebagai perasaan.
Rey menyilangkan tangannya, "Heh, tidak usah khawatir, meskipun sekarat juga sang penghancur ini tidak akan mati," ucapnya seraya tersenyum sombong. Tidak ada lagi mahluk yang bisa mengalahkan sifat sombongnya itu, bahkan iblis pun kalah dengan sifat sombong yang dimiliknya.
Fui ingin sekali menyemangati Rey tetapi dia terlalu gugup sampai-sampai suaranya tertahan di tenggorokan, jadi yang bisa dia lakukan hanya berharap agar Rey keluar menjadi juara. Dengan langkah pasti, Rey berjalan menuju jalur khusus seperti sebelumnya sedangkan yang lainnya ikut mengantri memasuki arena.
**
Semua penonton bersorak keras saat melihat sang wasit berjalan ke tengah-tengah arena. Wasit itu sebenarnya cukup malu karena saat pertandingan terakhir dia lari menuju rumah dan berlindung dibalik selimut karena takut akan tornado api yang dilihatnya, namun karena ini merupakan pekerjaannya jadi dia membuang semua rasa malunya tersebut.
"Baiklah, tanpa banyak basa basi karena saya malas berbicara lagi, aku akan memanggil lima peserta dari grup yang berbeda-beda." Ucapnya dengan lantang.
'Ayolah, sebut diriku," Batin Rey berharap keras agar dia yang pertama di sebut, hal itu tentu saja bertujuan untuk menyita semua perhatian orang mengarah kepadanya, jadi dia akan terkenal sebelum dirinya melakukan terornya kelak.
"Rey, Ash Shu, Guo Blok, Jian Cho, Xiao Dre, kelima peserta yang saya sebutkan diharapkan segera menuju ke tengah arena."
Sebelum berjalan, Rey melirik panitia di depannya atau lebih tepatnya dia melirik senjata salah satu panitia di sana, dia ingin sekali mengambilnya secara paksa tapi setelah dipikir-pikir kembali pasti kekuatan panitia itu diatasnya, bukan keberhasilan yang dia peroleh malah sekarat yang dia dapatkan, jadi lebih baik menghindari masalah daripada sekarat pikirnya.
"Siapa wanita cantik itu?"
"Astaga, mataku yang sebelumnya tidak bisa melihat tiba-tiba saja langsung bisa melihat karena wanita itu?!"
"Kau kan sebenarnya tadi hanya menutup mata saja bukannya buta bodoh!."
"Memang kapan aku bilang bahwa mataku buta? Kan aku hanya mengatakan bahwa mataku tidak bisa melihat saja, jadi yang sebenarnya bodoh itu kau!"
"Kau!"
Terjadi adu cekcok di bangku penonton karena turunnya Yui di tengah-tengah arena, Rey sendiri bingung dengan kedatangan Yui yang tiba-tiba saja melompat ke tengah arena. Wasit itu mendekati Yui dan berkata, "Nona ini siapa? Dan ada keperluan apa nona sampai turun ke arena?"
"Apa aku boleh memberikannya senjata? Karena dia sekarang sama sekali tidak memegang senjata dan tentu saja hal itu tidak adil baginya." Tanya Yui.
__ADS_1
Rey yang mendengar ucapan Yui tersentak, tidak dia sangka bahwa Yui seperhatian ini kepadanya dan hal itu membuat perasaannya kepada Yui bertambah. 'Sial, tubuh ini semakin lama semakin menyukai Yui, ini diluar diguaanku,' Batin Rey seraya memandang Yui dengan ekspresi rumit.
Wasit itu menoleh ke arah Rey, dia pikir Rey meyimpan senjatanya di cincin semesta tapi setelah dilihat-lihat ternyata tidak ada satupun di jari tangannya yang menggunakan cincin semesta. "Baiklah, kau boleh memberikannya senjata," Ucapnya seraya mengangguk pelan.
Yui mendekati Rey, lalu mengeluarkan sebuah pedang dari cincin semestanya, "Ambilah ini Rey, ini adalah Pedang teratai suci, ini milikmu sekarang," Ucapnya seraya menyerahkan pedang tersebut kepada Rey.
Pedang teratai suci merupakan pemberian dari mendiang Ibu Yui, Yui memang memiliki tubuh teratai es tapi aura dingin yang dikeluarkan pedang teratai suci membuat tubuhnya semakin dingin layaknya es dan hal itu membuatnya jarang sekali memakai pedang tersebut walaupun sebenarnya pedang itu merupakan sebuah pedang tingkat tinggi.
Rey menggenggam pedang tersebut dengan hati-hati sebab aura dinign yang dipancarkan oleh pedang tersebut membuatnya cukup merasakan sensasi dingin yang begitu hebat. Dia melihat ukiran di pedang tersebut yang bertuliskan Teratai Suci, dia berpikiran pasti pedang yang dia genggam itu adalah sebuah pusaka langka.
'Semoga saja kau bisa megngeluarkan kekuatan penuh pedang itu Rey.' Yui tersenyum tipis saat melihat Rey memandangi pedang tersebut.
Setelah tujuannya tercapai, dengan segera dia kembali ke bangku penonton dengan lompatan indahnya. Baru saja Rey ingin mengucapkan terima kasih namun Yui sudah hilang dari pandangannya, di dalam dia hatinya Rey sangat berterima kasih kepada Yui.
Rey mengarahkan pedangnya kepada keempat lawannya dan berkata, "Kalian tidak layak menjadi lawanku."
"Astaga, betapa sombongnya dia itu."
"Aku memang tidak suka dengan sifat sombongnya itu tetapi kurasa itu cukup wajar karena dia memiliki kemampuan hebat."
"Aku rasa dia hanya mencoba memprovokasi lawannya saja."
"Ya kau benar."
Para penonton saling berbisik, tapi beda halnya dengan Zenith dan Feng Qiuyu, mereka berdua malah cekikikan sendiri sebab sifat sombong Rey itu selalu membuat siapapun emosi, terutama mulut berbisanya itu yang selalu dapat memperkeruh situasi hanya karena mengucapkan beberapa kata saja.
'Aku harus belajar banyak darinya' Batin Zenith seraya menatap kagum Rey.
Semua lawan Rey kesal bukan main, mereka ingin sekali menghajar mulut bocah putih yang sombongnya melebihi batas tersebut tetapi mereka dihentikan oleh wasit. Wasit itu melihat Rey dengan kagum, dia tidak menduga bahwa tampang polos itu ternyata berbanding terbalik dengan kelakuannya.
Saya bingung karena sudah 2 jam saya otak atik kok gak bisa upload, udah saya halus saya eh malah tetap gak bisa, setelah aya teliti lagi ternyata saya salah memasang waktu upload menjadi tanggal 15, hal itu membuat eps selanjutnya gagal tidak bisa diupload... Jadi kalo telat maafkan ya, saya ganti jam 11 mal
__ADS_1
Silahkan dibaca, ini novel buatan seorang bocah yang entah siapa namanya saya lupa, bagian menariknya adalah ketika kita membacanya itu seperti membaca sebuah puisi karena pilihan kata-katanya yang begitu uwow, oke bubye.