
Seakan sadar akan perbuatan mereka selama ini, satu per satu dari mereka menurunkan senjata. Mereka melihat Rey dengan pandangan rumit, ego yang dimiliki oleh mereka selama ini perlahan-lahan runtuh hanya karena beberapa kata yang keluar dari mulut Rey, mereka tidak menyangka bahwa pola pikir mereka dapat berubah hanya karena ucapan bocah yang bahkan tidak bisa mereka anggap serius, apalagi bocah yang sehari-harinya hanya membuat rusuh.
Liu Ji yang melihat semua itu hanya bisa menunduk malu, dia didik untuk membenci mereka yang berasal dari Kultivator aliran putih tapi siapa sangka bahwa ada saat dimana dirinya diselamatkan oleh seorang bocah Yang berasal dari Kultivator aliran putih. Apa itu rasa malu? Rasa malu yang sesungguhnya adalah saat dirimu sadar akan kesalahan yang kau perbuat selama ini, karena rasa malu akan selalu hadir saat dirimu sadar akan diri sendiri.
Zenith melirik Rey sekilas, dia memang tidak mengetahui permasalahan kedua belah pihak tersebut tapi satu hal yang pasti adalah mereka telah bermusuhan sejak lama, tapi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rey membuatnya berpikir tentang alasan dirinya menjadi bagian dari Kultivator aliran putih. Dia tidak pernah sekalipun memiliki tujuan ataupun sekedar cita-cita, bahkan dirinya sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi Kultivator walaupun dirinya cukup berbakat, tapi entah mengapa keinginan menjadi Kultivator tiba-tiba muncul dan keinginan tersebut bertambah kuat saat dirinya melihat Rey untuk pertama kalinya.
'Mengapa semua ucapan yang keluar dari mulutnya membuatku berpikir tentang kehidupan yang kujalani selama ini? Tidak, tapi semua yang ada padanya selalu terlihat menarik bagiku, apa jangan-jangan aku sudah berbelok?!'
Zentih memegang dadanya untuk mengecek detak jantungnya, 'Detak jantungku masih normal tidak ada tanda-tanda jantungku berdebar saat melihat Rey, dan juga kurasa mustahil diriku menyukai sesama jenis karena sampai saat ini aku pun masih menyukai seorang perempuan,' Pikir Zenith seraya mengelus dagunya. Terdapat sesuatu yang ada di dalam dirinya seperti memaksanya untuk mendekati Rey, apa karena rasa kagumnya itu yang menjadikannya fanatik pada sosok Rey? Mungkin itu alasan yang logis untuk saat ini pikirnya.
Rey yang mendapat tatapan kagum semua orang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa senangnya, dia berdecak pelan seraya memuji-muji dirinya sendiri dalam hatinya. 'Kalimat hanyalah sebuah rangkaian dari kata-kata belaka, kurasa rangkaian kata-kataku menjadi sebuah kalimat yang mempunyai arti begitu dalam sampai-sampai mereka semua terhanyut dalam pikiran masing-masing, mempunyai otak cerdas juga ada gunanya ternyata, ckckck.'
Rey sebenarnya hanyalah merangkai kata-kata berdasarkan pengalaman hidupnya menjadi sebuah kalimat yang menggambarkan situasi saat ini, tapi sepertinya mulut bon cabe level maxnya masih memiliki sisa-sisa rasa manis sampai-sampai bisa mengucapkan kalimat yang begitu bermakna tentang kehidupan, yah walaupun kenyataannya dirinya sama sekali tidak menerapkan hal yang dikatakannya itu sih, namun kembali lagi kepada semboyannya yang dimana mengatakan bahwa sang penghancur yang sangat agung sepertinya bebas melakukan apapun, selama mereka tidak sadar itu bukanlah suatu masalah baginya, bahkan meskipun mereka sadar juga apa pedulinya? Toh mereka saja yang terlalu bodoh karena terlalu lambat menyadarinya.
"Meskipun aku sulit percaya tetapi ucapan bocah ini sangat masuk akal, mungkin kalian juga merasakan hal yang sama denganku," Ujar Tetua Fengyi seraya memegang kepala Rey dengan tangannya.
Mendengar pujian itu membuat Rey semakin bangga akan dirinya, dia tersenyum kecil dan berkata, "Tentu saja ucapanku tadi masuk akal, karena diriku sebelumnya..." Rey menghentikan ucapannya, hampir saja dirinya mengatakan rahasia tentang kehidupannya di masa lalu, sebab jika mereka tahu bahwa dirinya berasal dari dunia berbeda pasti akan menimbulkan spekulasi dan pertanyaan yang akan menyulitkan dirinya kelak.
"...pernah diajarkan oleh orang tuaku tentang arti kehidupan," Rey melanjutkan ucapannya agar tidak menimbulkan kecurigaan dengan kalimat yang sudah dirangkai sedemikian rupa olehnya, tak lupa juga dia mempertahankan ekspresi biasa pada wajahnya untuk mengelabuhi semua orang.
Tetua Shen Xuan yang mempunyai intuisi tajam langsung menaruh rasa curiga pada Rey. Dia melihat ekspresi bocah berambut putih di depannya untuk memastikan intuisinya itu benar atau salah tetapi ekspresi Rey masih terlihat biasa saja dan tidak ada tanda-tanda kepanikan yang tergambar di wajahnya, jadi ucapan Rey sebelumnya mungkin memang benar apa adanya.
__ADS_1
"Orang tuamu ternyata sangat bijak, berbanding terbalik dengan kau bocah," Dengan gemas Tetua Fengyi memukul kepala Rey sampai menghasilkan bunyi cukup keras.
"Hahaha," Mereka semua tertawa melihat Rey yang terlihat kesakitan seraya memegang kepalanya tersebut.
Meskipun kesal dengan perlakuan Tetua Fengyi yang selalu seenaknya memukul kepalanya, dirinya cukup lega bahwa tidak ada satupun dari mereka yang menaruh curiga padanya.
'Hah.. untung saja mereka semua tidak ada yang bertanya, kurasa mereka cukup bodoh sehingga tidak dapat menyadarinya, hahaha,' Rey tiba-tiba cengengesan sendiri yang membuat semua orang berhenti tertawa.
Tetua Fengyi yang masih penasaran dengen partemuan Rey dan Tetua Shen Xuan bertanya, "Oh hampir saja lupa, bagaimana Tetua Shen bisa bertemu dengan bocah ini?"
Mendengar itu membuat Tetua Shen Xuan mengingat kembali tentang tujuannya datang ke Kota Chenzu, dia ingin langsung pergi tetapi sepertinya itu hanya akan menimbulkan pertanyaan bagi mereka, jadi lebih baik dirinya menjawab pertanyaan tersebut. "Aku mempunyai urusan di sini dan secara kebetulan aku berpapasan dengan bocah ini saat diperjalanan tadi," Jawabnya bohong seraya menatap ke arah Rey. Semua itu dia lakukan untuk mencegah informasi tersebut tersebar ke masyarakat karena jika informasi tersebut bocor ke publik pastinya akan terjadi kekacuan yang sangat besar.
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami? Jika kau memberi tahu pastinya kami akan dengan senang hati membantumu mencari pemberian ibumu itu," Ucap Tetua Fengyi.
"Benar Rey, kami pasti akan membantumu jika kau mengatakannya pada kami," Yui tersenyum manis di balik cadarnya.
"Hahaha, jika kau mencari barang hilang lagi katakan saja padaku, karena aku adalah ahlinya mencari barang," Zenith menunjuk dirinya sendiri dengan percaya diri.
"Meskipun aku tidak peduli dengan jimatmu itu tetapi karena kau adalah rekan kami maka dengan senang hati aku akan membantumu," Feng Qiuyu tersenyum kecil seraya menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"A-aku juga akan membantumu Rey," Fui yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara, dia juga tidak akan tinggal diam bila penyelamat hidupnya memerlukan bantuan ataupun kesusahan.
__ADS_1
Mendengar ucapan tulus tersebut membuat Rey ingin muntah karena selama hidupnya hanya dirinya sajalah yang dapat di andalkan dan jika ada yang membantunya pasti mereka mempunyai maksud tersembunyi, seperti saat itu yang dimana dirinya harus menerima tusukan tepat di jantung saat dirinya lengah karena percaya pada orang yang terlihat tulus membantunya. 'Yah, jika mereka berani melakukan hal itu padaku akan kukuliti mereka seperti orang yang menusukku sebelumnya,' Pikir Rey seraya tersenyum kecil.
"Errrrr... Yah, aku tidak berpikiran sampai meminta bantuan kalian hanya karena untuk mencari barang kecil seperti ini." Rey menggaruk pipinya pelan karena tidak yakin akan jawaban yang dia katakan.
"Dasar bocah, kau adalah bagian dari kami, tentu saja kami akan membantumu jika kau kesusahan, begitu juga sebaliknya, jika kami kesusahan kau pun juga harus membantu kami," Tetua Fengyi sekali lagi memukul kepala Rey yang membuat Rey mendengus kesal.
Di dalam hatinya Rey tertawa karena bisa-bisanya hatinya sekali lagi tergerak hanya karena perlakuan baik orang-orang tersebut yang mungkin saja akan dia sesali kelak, tetapi sepertinya tidak buruk juga mendapatkan perlakuan baik oleh orang-orang yang disebut sebagai ikatan.
'Apa rasa kepercayaanku tumbuh hanya karena perlakuan kecil ini? Hah, kurasa sisi manusiawiku kembali hidup setelah sekian lama mati.'
'Sisi lain dari kepercayaan ya? Hm, sungguh sangat mengerikan,' Batin Rey.
Karena merasa sudah menjawab pertanyaan mereka, Tetua Shen Xuan langsung pamit undur diri. Yui yang masih ingin bertukar sapa dengan kakaknya ingin sekali menyusul tetapi dia juga tidak bisa mengganggu kakaknya hanya karena alasan kecil tersebut, nanti juga dirinya punya waktu bersama kakaknya setelah urusan kakaknya selesai.
Note :
Karena ssd yang saya pesan ada di jakarta dan karena 70% wilayah jakarta terendam banjir membuat pesanan saya terhambat, hal itu tentu saja membuat novel ini akan lebih lama hiatus, karena itu saya memakai Phoenix os di laptop saya dengan cara menginstalnya pada flashdisk, karena flashdisk yang memiliki keterbatasan pada kecepatan membaca suatu perintah atau file membuatnya lambat merespon berbeda dengan hdd dan ssd yang dapat merespon sesuatu sangat cepat.
1 chapter yang biasanya saya selesaikan dalam waktu 2 jam saja bertambah menjadi 3-4 jam, itupun jumlah katanya berkurang 100-200 kata menjadi 1300.an kata, jika pendek harap dimaklumi, yah meskipun saya tidak peduli juga sih karena saya tidak dibayar juga, hahaha.
Jika kalian ingin tahu apa itu Phoenix Os, kalian bisa mencarinya diinternet.
__ADS_1