
Matahari nampak menjulang sedikit ke atas menandakan bahwa hari sudah pagi. Terlihat masing-masing penghuni Sekte melakukan kegiatan dari berlatih, belajar, dan juga bertarung untuk menentukan siapa yang terkuat di antara mereka.
Di salah satu ruangan terdapat seorang siswa yang sedang belajar sendiri di awasi oleh kedua temannya, siapa lagi jika bukan Rey yang saat ini sudah memasuki hari kedua hukumannya. Jika sebelumnya Rey diharuskan belajar tentang tata krama, maka sekarang dia diharuskan belajar tentang kultivasi dan Alkemis.
Sebenarnya Rey sejak tadi tidak mendengarkan sedikitpun ucapan Guru di depannya, karena memang dia sudah mengetahui tentang semua informasi mengenai kultivasi dari tingkatan sampai tahapan-tahapannya.
Namun karena Rey tidak ingin masa hukumannya bertambah lebih lama lagi, jadi mau tak mau dia harus berpura-pura bersikap seperti seorang murid teladan yang sampai masa hukumannya selesai.
Guru itu sejak tadi sudah tahu bahwa bocah yang sedang diajarnya tidak memperhatikan sedikitpun, melihat dari tatapan matanya yang mengarah pada satu titik saja yaitu ke depan, bahkan matanya saja tidak bergerak sama sekali.
Rey memang sejak tadi hanya fokus pada satu titik yaitu sudut papan tulis, karena dia tidak ingin dilanda kebosanan seperti kemarin yang ujung-ujungnya malah membuatnya kesal.
“Nak, apa kau mendengarkanku?” Guru tersebut bertanya kepada Rey karena sudah tidak tahan lagi melihat ekspresi bodoh murid yang sedang dia ajar saat ini.
“Tentu, aku sangat jelas mendengarkan ocehanmu pak tua.” Rey menjawabnya dengan senyuman.
“Oh, jika begitu coba kau jelaskan kembali semua hal tentang kultivasi yang aku ajarkan padamu tadi.” Terlihat jika Guru tersebut tersenyum sinis karena sepertinya dia sangat ingin menghukum Rey.
Rey berdiri dan langsung menjelaskan semua hal di dengarnya, bahkan dia menirukan semua ucapan guru tersebut tidak melewatkan satu kata pun. Tentunya hal itu membuat Zenith dan Feng Qiuyu terkejut, bahkan Guru tadi sampai terduduk lemas di lantai karena baru kali ini dia memiliki seorang murid yang dapat menjelaskan semuanya dengan benar, bahkan menirukan persis dengan apa yang diucapkannya.
Meskipun tidak memperhatikan, nampaknya Rey yang memang memiliki ingatan kuat secara tidak sadar telah memasukan segala informasi yang didengarnya, bahkan dia bisa dengan mudah menjelaskan dengan detail informasi yang di didengarnya tanpa melewatkan satu kata pun alias sama persis.
“Bagaimana? Aku memang benar-benar hebat bukan?” Rey menyombongkan dirinya dengan berlagak sok pintar, walaupun aslinya memang dia sangat pintar sih.
“Bagus, kau bisa menjelaskan semua hal yang telah ku ajarkan tadi” Guru itu hanya menampilkan wajah datar seolah-olah apa yang Rey lakukan tadi adalah hal biasa, padahal dia saat ini sangatlah bahagia karena menemukan murid yang jenius seperti Rey.
Melihat ekspresi datar guru di depannya membuat Rey kesal, dia sangat ingin membakar wajah udik gurunya tersebut, hanya saja dia sekarang sedang mencoba bersikap baik walaupun kenyataanya adalah dia terpaksa melakukan ini semua.
“Baiklah, sekarang aku akan mengajarkanmu tentang ilmu Alkemis yaitu cara membuat pil. Jika kalian berdua mau mempelajarinya juga tidak apa-apa kemarilah.”
Zenith dan Feng Qiuyu segera mendekat, lalu duduk di belakang Rey.
Mata Rey langsung terbuka lebar, dia tentu sangat antusias jika mengenai pil, karena di kehidupan sebelumnya dia sangatlah pandai membuat pil. Pil yang diciptakan oleh Rey juga beragam, dari yang bisa membuat orang terkena diare sepanjang tahun, sampai bisa membuat tertawa sampai gila, bahkan salah satu pil yang dibuatnya dapat membuat seseorang kesetanan tapi bukan kesetanan lantas menjadi kuat, tapi pil itu benar-benar bisa membuat orang yang meminumya kerasukan seperti setan pada umumnya.
__ADS_1
Guru tersebut menjelaskan tahapan-tahapan membuat pil, dari suhu api yang harus di benar-benar dikontrol alias tidak berubah-ubah walaupun itu sangatlah sulit, karena bagaimana pun mengontrol sebuah api sangatlah sulit.
“Dan juga bahan yang digunakan harus dalam keadaan segar atau bagus, agar kualitas pilmu juga ikut meningkat,” Tambah Guru tersebut seraya mengeluarkan sebuah guci pembuat pil dan beberapa bahan-bahan yang mungkin digunakan untuk membuat pil.
“Sekarang akan ku perlihatkan kepadamu, bagaimana cara membuat pil.” Lanjut Guru tersebut seraya mengambil beberapa bahan-bahan tadi.
Terlihat Jika guru tersebut seperti membersihkan kotoran dari bahan-bahan tadi dengan Qi milikya. Rey yang melihat itu tersentak, karena dia tidak pernah sekalipun membersihkan bahan-bahan yang akan dia gunakan saat membuat pil.
“Hm, aku tidak pernah sekalipun membersihkan bahan-bahan yang akan ku gunakan. Apa karena itu semua pil yang ku ciptakan mempunyai khasiat aneh-aneh? Bahkan aku sendiri pernah mengalami kejang-kejang karena mencoba pil yang ku ciptakan sendiri, hais.” Rey hanya bisa menggelengkan kepala karena mengingat itu semua.
Rey sebenarnya sangatlah jenius meskipun semua pil ciptaanya absurd, karena bagaimanapun dia tidak pernah belajar membuat pil sama sekali, bahkan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pil saja tidak dia pedulikan, tinggal asal memasukan beres.
Hanya dalam beberapa saat saja bahan-bahan yang sebelumnya kotor sekarang menjadi murni bersih.
“Kini bagian proses mengolah bahan ini menjadi sebuah pil.”
Bahan-bahan tadi lantas dimasukan ke dalam tungku, dengan segera tungku tersebut dibakar menggunakan jurus api milik Guru tersebut. Sebenarnya menggunakan api apapun juga bisa, hanya saja meggunakan jurus api tentu lebih mudah untuk dikontrol karena memang itu adalah sebuah jurus.
Pikiran Guru tersebut tengah fokus mengontrol api yang di gunakan untuk memanaskan tungku, karena jika apinya tidak stabil maka akan berdampak pada kualitas pilnya, bahkan bisa saja gagal.
Setengah jam berlalu, terlihat jika api yang membakar tungku tadi telah padam.
“Ini adalah bagian terpenting saat membuat pil yaitu proses pembentukan pil.”
Proses pembentukan pil sangatlah sulit, karena jika kehilangan fokus sedikit saja maka tungku yang digunakan akan meledak, alhasil bahan-bahan yang digunakan bisa hancur yang artinya gagal. Seperti saat ini yang dimana Guru tersebut sedang memfokuskan Qi miliknya untuk membentuk bahan-bahan tadi agar menjadi bulat seperti sebuah pil pada umumnya.
Setelah selesai dengan segera Guru tersebut menghentikan kegiatannya dan segera membuka penutup tungku, lalu mengeluarkan hasil pil buatannya.
“Ini adalah Pil Penyembuh tingkat rendah yang khasiatnya hanya 10% saja sisanya adalah racun atau kotoran.” Ucap Guru tersebut seraya menyerahkan pil buatannya kepada Rey.
“Ck, buruk sekali, hanya 10%? Ini sih bukan pil namanya, tapi kotoran!” Ucap Rey kesal yang membuat Guru tersebut terkejut, bahkan kedua teman yang sedang mengawasinya yang sejak tadi diam memperhatikan juga ikut-ikutan terkejut.
“Apa?!” Teriak Zenith dan Feng Qiuyu serempak. Mereka berdua tak habis pikir dengan Rey yang dengan mudahnya mengatakan jika pil buatan Gurunya dengan sebutan kotoran.
__ADS_1
“Nak, meskipun pil buatanku memang kualitasnya sangatlah rendah, tapi tetap saja membuat pil itu tidak semudah yang kau bayangkan!”
“Jika kau bisa membuat kualitas pil yang melebihi pil buatanku! Tidak-tidak itu mustahil, jadi aku tantang kau untuk membuat satu buah pil apapun itu. Jika berhasil maka aku akan memanggilmu Kakek!” Wajah Guru tersebut merah padam karena merasa diremehkan oleh bocah yang baru berhasil dicetak 10 tahun yang lalu.
Mendengar itu Rey tanpa menjawab langsung mengambil semua bahan-bahan tadi, lalu memasukan semua bahan tersebut ke dalam tungku.
“Apa yang kau lakukan bocah?!” Guru itu tentu terkejut melihat tindakan Rey yang memasukan semua bahan ke dalam tungku.
Tanpa menjawab Rey segera mengeluarkan api abadinya dan mengarahkannya ke tungku tersebut.
[Whussssh]
Api abadi Rey yang sangatlah panas ternyata merambat ke benda-benda di sampingnya sampai akhirnya membakar separuh kelas. Tentu saja tindakannya itu membuat semua orang di Sekte berbondong-bondong memadankan api tersebut.
Rey yang melihat itu hanya diam saja, dia tidak peduli sedikitpun dengan teriakan semua orang di sekitarnya, yang dia pedulikan hanyalah bagaimana pil yang dia buat berhasil.
“Woi! Bocil gila! Keluarlah bodoh, kau akan terbakar di sana!”
“Gila! Bocah itu masih diam di situ!"
"Mungkin dia benar-benar setan, karena itulah dia tidak takut api."
Namun, tiba-tiba saja…
[Blarrrrrrrr]
Tungku tersebut meledak yang membuat ruangan kelas hancur lebur menindihi Rey yang ada di dalamnya. Namun, bukan Rey namanya jika mati hanya karena ledakan begitu saja, terlihat jika dia melangkah keluar dari reruntuhan dengan muka hitam karena ledakan tungku tadi.
“Hahaha! Berhasil!” Rey menyeringai menunjukan gigi putihnya yang terlihat mencolok karena wajah hitamnya sambil menunjukan 3 buah pil buatannya.
Semua orang di sana terkejut, Patriak Mo yang ada di situ hanya bisa menggelengkan kepalanya saja karena dia sudah tidak kuat lagi mengurus bocah gila alias Rey, bahkan Guru tersebut sampai duduk lemas karena menyaksikan kegilaan dari Rey.
“Duh, bocah gila itu waktu bayi makan apa sih?! Menyan? Karena kelakuannya seperti orang kesetanan!” Gumam Patriak Mo kesal sekaligus marah, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Rey bisa waras seperti manusia pada umumnya.
__ADS_1