Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 52 - Pengendali Angin Vs Pengendali Api


__ADS_3

Wasit menjelaskan kembali peraturan yang ada, peraturan itu sama sekali tidak berubah, jadi kelima peserta itu langsung mengerti tanpa harus dijelaskan panjang lebar.


“Baiklah, kalian silahkan mundur sampai ke sudut arena.”


Dengan segera mereka berlima berjalan sampai ke sudut arena. Pandangan ketiga peserta kecuali Chen Shui mengarah kepada Rey, mereka nampaknya memiliki pemikiran yang sama yaitu untuk menyingkirkan Rey terlebih dahulu, itu dikarenakan penampilan Rey yang mampu mengalahkan kultivator tingkat bumi tahap awal sebelumnya membuat mereka menjadi waspada sebab mereka semua berada di tahapan yang sama dengan orang yang dikalahkan Rey tersebut.


“Mulai!”


Semua penonton terkejut melihat Guoming, Shunjimey, dan Kung Lao tiba-tiba berada di luar garis pembatas setelah wasit mengatakan kata mulai, mereka bertiga terlalu fokus dengan Rey sampai-sampai mereka lupa bahwa Chen Shui juga tak kalah hebatnya dengan Rey, kemampuan aneh yang dimiliki Chen Shui tidak dapat disadari oleh mereka semua.


“Kemampuan aneh macam apa yang dimiliki oleh putri kaisar itu?”


“Aku tidak tahu, tapi kejadian ini sama persis saat dia mengeluarkan lawannya dengan tiba-tiba seperti sebelumnya.”


“Sungguh kemampuan yang sangat mengerikan.”


Rey sendiri masih berdiri kokoh seraya tersenyum, hal itu tentu saja membuat Chen Shui terkejut karena ternyata Rey dapat menyadari serangan tak kasat matanya.


“Hah, percuma aku memakai belati jika musuhnya saja tinggal dia.” Rey menggerutu kesal karena ketiga lawannya sudah tersingkirkan, padahal dia sudah bersiap-siap untuk menebas mereka semua.


Melihat Rey yang lengah dengan segera Chen Shui melancarkan serangannya, dia mengibaskan tangannya dengan lembut, hal itu terlihat seperti dirinya sedang menari-nari di mata penonton, tapi tidak dengan Rey karena matanya dapat melihat jelas udara yang membentuk lengkungan tipis seperti pedang melaju dengan kecepatan luar biasa ke arahnya.


Rey menundukan kepalanya dan samar-samar terlihat udara yang membungkus tipis berwarna putih melewati wajahnya memotong seutas rambutnya. Chen Shui tersenyum, baru kali ini ada seseorang yang dapat menghindari serangannya, hal itu membuatnya semakin kagum dengan Rey.


“Aku tidak tahu bagaimana caramu dapat menghindari seranganku, tapi kau mustahil bisa mengalahkanku.” Chen Shui menekankan kata mustahil, itu terdengar sombong tapi memang itulah kenyataannya, tapi sepertinya dia tidak tahu bahwa Rey adalah mahluk terangker yang dapat membuat hal mustahil menjadi mungkin baginya.

__ADS_1


“Mustahil?”


Mata Rey berubah menjadi hitam yang membuat Chen Shui terkejut bukan main, aura gelap di tubuhnya samar-samar keluar, satu hal yang tidak boleh dilakukan yaitu jangan pernah memperovokasi Rey ataupun merendahkannya, sesungguhnya dia adalah mahluk terbrutal yang akan membongkar tubuh siapapun yang berani merendahkannya, berani sombong di depan kesombongan itu sendiri? Berapa banyak nyawa Chen Shui pikir Rey.


Melihat mata hitam Rey yang sangatlah mengerikan itu membuat Chen Shui secara tidak sadar melangkah mundur. Rey yang dikuasai emosi membuat segel keempat gerbang kegelapannya bocor, perlahan-lahan di atas kepalanya terbentuk sebuah mahkota yang membuat semua orang terkejut bukan main.


Namun tiba-tiba mata Rey kembali normal diikuti oleh lenyapnya mahkota di atas kepalanya, hal itu membuat Tetua Fengyi lega, dia tadi hampir saja lompat menuju arena andai saja Rey kembali menggila, bahkan Zenith sendiri sebenarnya hampir saja terpengaruh oleh aura gelap Rey, ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak saat merasakan aura gelap Rey tadi.


“Heh, gitu saja udah takut.” Ejek Rey yang sudah sepenuhnya sadar.


Chen Shui sungguh tidak bisa memahami Rey, sebelumnya Rey bersikap manis kepadanya, tapi entah kenapa kemanisan tersebut hanyalah sebuah kedok untuk menutupi sesuatu yang mengetikan terkubur di dalam dirinya, hal itu membuatnya semakin bingung dengan tingkah laku Rey, Rey sangat berbeda dengan pria-pria yang melamarnya, entah mengapa bocah berambut putih yang baru ditemuinya selama 2 hari ini dapat membuatnya kagum dan terkejut secara terus-menerus.


“Kamu sangat kuat Rey, tetapi sudah aku bilang bahwa kau mustahil memenangkan pertandingan ini selama masih ada aku.” Ucap Chen Shui yang sepertinya mulai serius.


Rey tersenyum sinis dan tanpa diduga dia langsung menendang keras belati yang dijatuhkannya tadi ke arah Chen Shui, tetapi serangan kejutan itu dapat dihentikan dengan mudah oleh angin Chen Shui. Rey semakin bersemangat, inilah kedua kalinya dia bertarung melawan pengendali angin, bedanya adalah Chen Shui seperti memang menjadi bagian dari angin itu sendiri sedangkan orang dikehidupannya lalu hanya bisa mengubah udara menjadi senjatanya, meskipun sama tapi ada perbedaan yang sangat jelas diantara keduanya.


“Aku mengalahkannya hanya dengan sebuah api.”


Setelah mengatakan hal itu, Rey tiba-tiba menjentikan jarinya dan keluarlah api tepat di atas jari telunjuknya, Chen Shui yang melihat itu hanya diam, apa Rey bermaksud mengalahkannya dengan api sekecil itu? Apa Rey tidak tahu bahwa dia bisa mengendalikan angin untuk membuat api yang ada ditangannya itu membesar sampai melahap dirinya.


“Kau pasti menganggapku bodoh karena melawan angin dengan sebuah api, akan kutunjukan bagaimana caraku mengendalikan angin dengan api abadiku.”


Tanpa menjawab, Chen Shui langsung mengendalikan angin untuk membuat besar api kecil di tangan Rey.


[Whussshhhhhh]

__ADS_1


Tangan Rey terbakar, tapi jika dilihat dari dekat maka api itu hanya mengelilingi tangan Rey. Melihat tangan Rey yang terbakar membuatnya senang, sepertinya Rey tadi hanya omong kosong saja pikir Chen Shui seraya tersenyum, namun itu hanya sebentar, karena tidak terlihat sedikitpun ekspresi Rey yang menunjukan rasa sakit karena tangannya terbakar itu.


“Kau bisa mengendalikan angin, sedangkan aku bisa mengendalikan api!” Teriak Rey dengan sangat keras.


Rey mengibaskan tangannya yang menciptakan tebasan api yang begitu besar, hal itu membuat Chen Shui dengan segera melapisi dirinya dengan angin untuk menangkis serangan itu, dan disitu lah letak kesalahannya.


Rey tersenyum lebar dan tanpa belas kasih dia langsung membakar angin yang membungkus tubuh Chen Shui, api itu melahap Chen Shui dengan ganas, bahkan wasit serta para jendral hampir saja turun ke arena untuk menyelamatkannya, namun tindakan itu segera mereka urungkan saat melihat Chen Shui yang melayang di udara dalam keadaaan baik-baik saja, hanya jubahnya saja yang sebagian terbakar.


“Kau membuat jubah pemberian mendiang ibuku terbakar, kau tidak akan kumaafkan!” Teriak Chen Shui dengan lantang.


Tiba-tiba saja awan di atas arena menggumpal yang perlahan-lahan membentuk sebuah tornado, Rey merasa bahwa tidak seharusnya dia membangunkan singa yang sedang tidur, tetapi hanya singa saja tidak akan pernah bisa membuatnya takut, karena dialah bapaknya singa.


Tornado itu perlahan membesar yang membuat kacau seluruh arena, semua penonton diungsikan keluar arena oleh para panitia dan penjaga, bahkan para jendral sendiri sampai harus turun tangan membantu membuat segel di luar arena agar tornado itu tidak menghancurkan hal-hal di luar arena.


Rey saat ini tengah duduk manis melihat tornado besar di atas arena, tidak peduli lagi dengan garis pembatas karena sudah hilang dilahap tornado itu. Chen Shui semakin geram melihat Rey yang memandanginya dengan wajah lugu, dia mengendalikan tornadonya menuju ke arah Rey, Rey sendiri hanya diam tak bergeming melihat tornado yang menuju ke arahnya itu.


Rey tersenyum dan tiba-tiba saja tornado itu terbakar hebat, tornado itu berubah menjadi tornado api yang membuat siapapun melihatnya merinding. Adegan adu kekuatan tak terelakan, Rey mengendalikan tornado itu dengan apinya, sedangkan Chen Shui mengendalikan tornado itu dengan kemampuan pengendali anginnya.


Tornado itu bergerak maju mundur seperti bingung mau mengarah kemana, serong sana serong sini seperti sedang bermain tarik ulur dengan gebetannya. Seperti tidak mau kalah, Chen Shui membuat besar tornado itu sampai melahap Rey sepenuhnya, tetapi apa Rey kalah? Tentu saja tidak, karena Rey masih dengan santainya duduk manis seraya meringis penuh ejekan ke arah Chen Shui, bahkan tidak terlihat sedikit pun api di tubuhnya, itu seperti api itu sengaja menghindarinya.


Perlahan-lahan tornado itu mengecil diikuti Chen Shui yang juga perlahan-lahan turun, itu dikarenakan tenaga dalam Chen Shui terkuras habis, hal itu dimanfaatkan Rey untuk mendekati Chen Shui, dan tanpa diduga Rey dengan romantisnya menggendong Chen Shui layaknya pangeran kodok yang menggendong seekor badak, itu dikarenakan tubuh Rey yang sangat kecil sedangkan tubuh Chen Shui lebih besar darinya.


“Untung belatiku hilang, jika tidak sudah kutebas kau karena telah berani mencoba membunuhku.” Ucap Rey seraya melihat wajah cantik Chen Shui yang sudah tidak tertutupi cadar.


Chen Shui samar-samar melihat Rey yang sedang menatapnya, tetapi itu tak berlangsung lama karena perlahan-lahan pandangannya menggelap.

__ADS_1


 


 


__ADS_2