
Saat mereka semua sedang bercanda, tiba-tiba saja perut Rey berbunyi yang menandakan bahwa cacing pita di perutnya sudah mulai lapar. Yui tersenyum, lalu mengajak mereka semua sekalian makan di Restoran Bulan Putih kemarin.
Fui awalnya menolak, dia yang sudah mendapatkan kebaikan dari Rey saja sudah bersyukur, dia sama sekali tidak mengharapkan kebaikan lainnya dari Rey ataupun orang lain, tapi karena Rey yang terus memaksanya membuat dirinya tidak bisa menolak, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membantu, menuruti, dan juga menjaga Rey karena tanpa dia malam itu mungkin selamanya dia hanya akan menjadi budak pemuas nafsu.
Saat diperjalanan, tiba-tiba ada sebuah batu melayang hampir mengenai kepala Rey, batu itu berasal dari salah satu di sana, itu dikarenakan Rey mencuri pakaian di toko orang itu untuk digunakan oleh Fui. Fui sendiri sama sekali tidak tahu bahwa Rey mencuri pakaian demi dirinya, itu membuatnya sangat malu pada diri sendiri karena pada akhirnya dia harus menyusahkan penyelamatnya kembali.
Tetua Fengyi, Zenith dan Feng Qiuyu menahan tawanya, andaikan batu tadi kena kepala Rey sungguh mereka akan tertawa sampai tersedak rudal. Yui hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum, menurutnya bocah seperti Rey melakukan hal seperti itu sangatlah bijaksana, mencuri demi kebaikan memang tidak dibenarkan tetapi jika mencuri karena ada seseorang yang membutuhkan itu beda lagi ceritanya.
“A-aku minta maaf, a-aku telah membuatmu kesusahan Rey.” Fui tak kuasa menahan air matanya, selama dia hidup hanya Rey sajalah yang berbuat baik kepadanya, membantunya beberapa kali sampai harus membahayakan nyawanya.
Rey tidak menjawab apapun, dia sangat tahu akan kesengsaraan seperti apa, sudah tak terhitung kehidupan yang dia lalui, bahkan dibeberapa kehidupannya yang lalu dia harus hidup sebagai orang cacat dan itu sangatlah membekas diingatannya, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, mungkin itulah yang dirasakan oleh Fui karena itu dia sangat paham apa itu arti keputusasaan.
“Membuatku kesusahan? Heh, jangan salah sangka, sang penghancur yang sangat agung ini memang mempunyai hobi mencuri, jadi jangan terlalu pede bahwa aku membantumu.” Rey berkilah, dia lebih suka disebut penjahat daripada disebut orang baik, itu membuatnya mual.
Mereka semua yang mendengarkan ingin sekali tertawa, sepertinya Rey tidak ingin disebut baik, mungkin karena malu pikir mereka semua. Namun yang mereka tidak tahu adalah ucapan Rey memanglah kenyataan, dia memang sangat suka mencuri saat di masa jayanya dulu, karena itulah dia tidak membutuhkan uang, dia lewat di depan toko saja semua orang langsung modar, secara teknis itu bukanlah mencuri tetapi karena pemiliknya sudah tidak ada jadi dengan senang hati dia menikmati semua yang ada.
‘Yah, kehidupan memang selalu begitu tetapi aku sangat menikmatinya, bahkan aku sangat kangen di saat-saat aku buta dulu, hahaha!’ Rey tertawa dalam hatinya. Benar, dia sangat menikmati kehidupan yang penuh kesengsaraan, apalagi saat dia buta, itu adalah pengalaman yang paling menakjubkan diseluruh kehidupannya, karena dari pengalaman butanya itulah yang membuat dia bisa melatih pendengarannya seperti sekarang.
‘Apalagi saat jadi orang lumpuh, yah walaupun hanya bisa lola lolo aja sih tetapi enak juga bisa tiduran sepanjang hidup.’ Rey tiba-tiba cekikan yang membuat mereka semua menggelengkan kepalanya pelan.
Mungkin hanya Rey sendirilah yang mengharapkan dirinya cacat, kehidupan yang monoton sangatlah membosankan baginya, dia butuh sesuatu yang sangat ekstrim, menguji nyali, menantang maut, semakin dekat dirinya dengan kematian maka semakin semangatlah dirinya menjalaninya, kehidupan yang seperti itulah yang dia harapkan, tidak bisa dipungkiri karena memikirkannya saja sudah membuat jantungnya berdebar-debar.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di Restoran Bulan Putih. Seperti sebelumnya, mereka disambut oleh beberapa pelayan, dan tamu yang tidak diharapkan oleh Rey muncul, siapa lagi jika bukan si tuyul pucat Bai Luo, melihat tampangnya saja membuat Rey muak.
‘Si banci sialan ini pakai muncul segala, ingin sekali kuparut wajahnya itu, kucongkel-congkel matanya, kucincang-cincang tubuhnya, lalu kubakar semuanya!’ Rey menatap Bai Luo tajam seperti mengatakan Pegang-pegang tanganku modar kau!.
__ADS_1
Mendapat tatapan tajam dari Rey membuat Bai Luo ketakutan, sepertinya dia menyadari arti tatapan tajam Rey dan hal itu membuatnya mengurungkan niat untuk bersalaman.
“Bai Luo, perkenalkan ini teman baru kami, namanya Fui.” Ucap Yui.
“Hai cantik, salam kenal.” Bai Luo mengulurkan tangannya kepada Fui.
Bukannya mendapat balasan, badan Fui malah bergetar hebat, dengan cepat Rey menarik tangan Fui ke arahnya dan berkata, “Dia tidak suka disentuh oleh laki-laki terutama laki-laki abnormal sepertimu!”
Mereka semua tersentak, bagaimana bisa mereka lupa dengan kejadian yang menimpa Fui, dia pasti ketakutan sekarang pikir mereka.
“Ah, Bai Luo, aku memesan makanan yang sama seperti sebelumnya, berikan 6 porsi ya.” Yui mengatakan itu untuk menghindari kecanggungan di antara mereka karena kesalahannya barusan.
Bai Luo menarik kembali tangannya dan berkata, “Baiklah, tunggu sebentar, khusus hari ini aku akan memasak dengan tanganku sendiri untuk kalian.”
“Maaf, aku lupa bahwa kamu memiliki trauma terhadap laki-laki.” Raut wajah Yui terlihat menunjukan penyesalan yang begitu dalam karena telah membuat Fui ketakutan.
“Tidak apa-apa, itu bukanlah kesalahanmu, karena cepat atau lambat aku harus bisa menghilangkan semua trauma ini.” Jawab Fui seraya tersenyum. Perlahan-lahan tubuhnya berhenti bergetar, hal itu membuat mereka semua menghela nafas lega.
Mereka memilih duduk di dekat jendela. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membuat pemandangan semakin indah, tiba-tiba saja Rey merasakan kepalanya kesakitan dan secara tiba-tiba sebuah gambaran di otaknya muncul, gambaran dirinya bersama perempuan berlarian di tengah hujan dengan girangnya
Di dalam ingatannya sekarang dirinya bersama seorang perempuan sedang bermain air hujan, tangannya digenggam oleh wanita itu dengan erat, wanita itu hampir saja menoleh ke arahnya, namun ada sebuah suara yang sedang memanggil-manggil namanya.
“Rey.. Rey..”
[Plakkkkkk]
__ADS_1
Tetua Fengyi menampar wajah Rey dengan keras yang membuat Rey melotot ke arahnya.
“Hei orang tua udik, berani sekali kau menamparku hah?!” Rey tentu marah itu karena dia hampir melihat wajah sosok perempuan yang selalu ada dalam ingatannya, tapi karena mahluk udik yang hampir mokad di depannya sekarang membuatnya kehilangan kesempatan langka barusan.
“Hei bocah sinting, kau itu sudah melamun selama hampir setengah jam, dipanggil-panggil tidak mempan, ya terpaksa tangan torpedoku bergerak untuk menyadarkanmu.” Jawab Tetua Fengyi kesal, untung-untung sudah dibuat sadar dengan tempelengan surgawinya, bukannya terima kasih malah ngelunjak pikirnya.
Rey menatap Yui, Fui, Feng Qiuyu dan Zenith secara bergantian seperti meminta penjelasan, mereka semua mengangguk membenarkan ucapan Tetua Fengyi.
“Yang dikatakan ayahku benar Rey.” Ucap Feng Qiuyu.
“Itu benar, karena sejak tadi kau hanya menatap kosong ke arah depan.” Sahut Zenith.
‘Bagaimana aku bisa melamun selama itu hanya karena gambaran barusan.’ Batin Rey keheranan karena perasaan dia hanya sebentar saja.
“Rey, apa kau tidak apa-apa?” Tanya Yui dan Fui serempak.
“Hm, aku tidak apa-apa” Jawab Rey singkat yang membuat mereka berdua menghela nafas lega.
Feng Qiuyu dan Zenith saling tatap, sepertinya ada sesuatu diantara nona Yui, nona Fui dan Rey pikir mereka, bahkan Tetua Fengyi sendiri tersenyum melihat reaksi Yui dan Fui barusan.
‘Ah, sungguh masa-masa muda.’ Batin Tetua Fengyi seraya mengingat-ngingat masa muda bersama istrinya dulu saat sedang melakukan skidipap ehem-uhuk-uhuk-uhuy di tempat gelap nan sepi.
Note : Saya sebentar lagi uas, tanpa saya jelasin pasti kalian sudah paham. Novel ini tetap update tetapi tidak menentu dan di bawah ini merupakan merupakan visual Yui.
__ADS_1