Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 77 - Sosok Misterius


__ADS_3

Rey saat ini mengambang dengan tubuh bercahaya, dia menoleh ke segala arah untuk mencari cahaya tetapi yang dilihatnya hanyalah sebuah kehampaan akan kegelapan tanpa batas, ‘Apakah aku sudah mati?’ Rey mencoba menggerakan tubuhnya tetapi dia sama sekali tidak merasakan apapun.


“Ow, ternyata benar aku sudah mati,” Rey tersenyum sinis, siapa sangka bahwa sang penghancur yang anti mati sepertiya ternyata mati karena jurus yang dia keluarkan sendiri.


"Ck, padahal Qi yang ku pakai sangat sedikit namun tak kusangka ledakannya ternyata begitu besar, jadi mati konyol kan," Rey menggerutu kesal, dia tidak rela mati mati hanya karena sebuah ketidaksengajaan yang dilakukan oleh dirinya, dia ingin mati terhormat atau paling tidak namanya dikenang oleh dunia.


"Sudah lama tidak bertemu," Sebuah suara seorang pria tiba-tiba terdengar menggema di telinga Rey.


Di depan Rey saat ini muncul sosok bocah yang sangat mirip dengan dirinya tetapi matanya berwarna hitam pekat seperti mata iblisnya. Rey tidak takut ataupun panik, dia sudah mati jadi tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, malah dia cukup penasaran dengan sosok tersebut.


“Siapa kau? Kenapa penampilanmu sangat mirip denganku?” Rey menatap tajam mata hitam sosok yang mirip dengan dirinya tersebut.


Sosok itu tersenyum, dia melayang mengelilingi Rey, “Aku adalah dirimu yang sebenarnya, aku adalah perwujudan nyata yang terkubur jauh di dalam dirimu,” Sosok tersebut berhenti tepat di depan wajah Rey.


Saat mata mereka bertatapan, Rey merasakan sebuah perasaan mengerikan yang sangat mirip dengan mata iblisnya, tidak hanya mata iblisnya saja, sebab aura yang dipancarkan oleh sosok tersebut sangat mirip dengan kekuatan gelapnya.


“Tidak kusangka kau akan melupakan jati dirimu sebenarnya,” Sosok tersebut berubah wujud menyerupai Rey saat masih menjadi Riu di dunia abyss.


Tentu saja hal itu membuat Rey terkejut, keterkejutannya bertambah saat dirinya saat ini berdiri dengan gagah menghadap jutaan kultivator. “Apa-apaan ini?! Bukannya ini adalah awal dari pertempuan terakhirku di dunia abyss,” Rey tersentak karena ternyata dirinya bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa, dia bahkan bisa merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya dengan halus.


Entah ini nyata atau tidak dia sudah tidak peduli lagi. Rey mengarahkan pedangnya ke depan, “Pedangku sudah haus akan darah dan daging busuk kalian, sini maju kalian semua!” Rey berlari maju dengan kecepatan luar biasa.


“Harrrrrghhh! Kalian semua, serang dia!!!” Mereka semua maju secara serempak seperti koloni semut yang menyerbu mangsanya.


Rey menyeringai lebar yang membuat wajahnya kian menakutkan untuk dipandang, irama detak jantungnya meningkat seiring jarak antara dirinya dan jutaan musuhnya tersebut semakin dekat. Rey yang sudah sangat menantikan untuk menebas kembali orang-orang yang membuatnya mati tersebut. Tangan kiri Rey terlihat membentuk bom Qi, dia melemparkan bom Qi tersebut ke depan. Mereka semua berhamburan menjauh dari bom Qi tersebut, saling dorong dan menginjak tanpa peduli lagi dengan kawannya karena tentunya nyawa mereka lebih berharga dari orang lain.


Ledakan yang sangat dahsyat terjadi, mereka yang berada dalam jangkauan jarak ledakan bom Qi tersebut mati dengan tubuh hancur berkeping-keping hingga menghasilkan kabut darah, sedangkan orang-orang yang berada di luar jangkauan ledakan bom Qi terpental jauh bahkan tak sedikit yang meninggal karena tekanan angin yang dihasilkan dari ledakan tersebut ternyata sangat kuat seperti sebuah jurus tingkat tinggi. Tanpa menunggu ledakan mereda, Rey melapisi tubuhnya dengan Qi dan menerobos ledakan tersebut.


Di dalam ledakan itu, Rey tidak bisa melihat apapun kecuali kabut api bercampur darah. Namun, setiap kakinya melangkah, suara musuh di depannya semakin jelas terdengar. Rey menarik pedangnya saat matanya samar-samar melihat kumpulan musuh yang terlihat siaga akan kedatangannya.


Rey mengambil momentum yang tepat lalu terbang dengan kecepatan luar biasa. Mereka samar-samar melihat sebuah bayangan di dalam kabut, bayangan itu semakin jelas hingga bayangan tersebut muncul sepenuhnya menampakan sosok Rey yang sedang melesat ke arah mereka.


“Awas!” Teriak salah satu dari mereka tetapi mereka terlambat menyadari karena Rey melesat dengan kecepatan yang sudah diikuti oleh mata.


Ledakan terjadi saat Rey bertubrukan dengan mereka. Ledakan itu menghasilkan debu tanah yang membumbung tinggi ke udara, karena tidak bisa melihat apapun membuat mereka semua panik dan menyerang apapun di dekat mereka. Rey tersenyum sini lalu menutup matanya agar matanya tidak kemasukan debu, tiba-tiba saa dia mengayunkan pedangnya ke belakang dan tanpa disuga ternyata pedangnya menusuk seseorang yang mencoba membelakinya.


“Sial dimana dia?!”


“Aku tidak bisa melihat apapun!”


“Jangan panik dan juga jangan menyerang asal-asal sialan!”


Mereka semua menghentikan serangannya, tetapi tiba-tiba sebuah kepala menggelinding diikuti oleh sebuah tangan dan kaki melayang tak tentu arah, hal itu membuat mereka ketakutan. Mereka mencoba untuk tidak panik, namun lagi-lagi bagian tubuh kawan mereka terlempar ke sana kemari, tentu saja hal itu membuat mereka semua panik dan membabi buta menyerang orang di dekat mereka yang mereka kira sebagai Rey.


Satu per satu dari mereka mati entah karena itu terbunuh akibat serangan Rey atau karena serangan mereka sendiri. Beberapa saat kemudian, debu-debu yang bertebaran sirna tertiup angin, mereka yang berada berada di luar kepulan debu melotot saat melihat ribuan kawan mereka mati dengan tubuh yang sudah tak utuh lagi. Terlihat Rey yang sedang duduk di atas tubuh mayat dengan pedang yang menancap di punggung mayat tersebut. Mereka yang melihat itu ketakutan tetapi tetap tidak meninggalkan pertempuran atau mencoba lari, sebab mereka terlalu takut dengan pemimpin mereka.


“Dasar mahluk durjana! Monster macam apa kau ini hah?!”


“Manusia laknat! Kau lebih mirip iblis dibanding manusia seperti kami!"


Rey mencabut pedangnya dari punggung mayat tersebut, dia menatap tajam mereka dengan mata iblisnya. Tiba-tiba saja Rey berada tepat di depan mereka dan memegang kedua wajah orang yang menghinanya tadi, “Hisap!”


“Arrrgghhhhh!” Teriakan terdengar saat tubuh mereka terhisap habis hingga menyisakan kulit dan tulang saja.


Semua itu terjadi dengan begitu cepat sampai-sampai mereka hanya bisa menahan nafas saat menyaksikan kawan mereka mati dengan sangat mengenaskan. Rey membanting mayat yang sudah jadi tulang belulang tersebut ke tanah hingga hancur, dia melirik orang di sampingnya, “Selanjutnya.”


!!

__ADS_1


Mereka semua merinding, mereka berhamburan berlari tak tentu arah tanpa peduli lagi dengan pemimpin mereka, sebab nyawa mereka hanya satu andaikan nyawa mereka sembilan tentu saja mereka tidak akan lari layaknya seorang pengecut.


Di dalam batinnya Rey tersenyum puas melihat sorot mata penuh ketakutan para musuhnya tersebut. Matanya berkedip dan tiba-tiba saja dia sudah berada di tempat berbeda yang dimana saat ini dirinya sedang duduk di atas singasana.


“Apa-apaan ini?!” Rey menoleh ke sekelilingnya dan menemukan semua orang membungkuk penuh hormat kepadanya.


Rey memejamkan matanya karena merasa apa yang dilihatnya adalah ilusi belaka tetapi saat dirinya membuka mata, ternyata dirinya sudah berada di tempat berbeda bersama dengan seorang perempuan yang menggandeng tangannya seraya berlari di tengah air hujan.


“I-ini?” Rey terkejut karena apa yang dilihatnya sekarang sangat persis dengan gambaran yang selalu dia lihat di dalam pikirannya.


Rey melihat tangannya yang sedang digandeng wanita tersebut, dia merasakan sebuah perasaan mengalir di dalam dirinya. Rey melihat wanita itu dengan perasaan campur aduk, saat wanita itu akan menoleh kepadanya, tiba-tiba saja penglihatannya berubah. Rey terduduk lemas saat menyaksikan wanita yang menggandengnya tadi mati tepat di pelukannya. Rey menangis seraya mencium kening wanita tersebut, dia merasakan sebuah peraasaan sedih yang begitu dalam padahal dirinya tidak mengenal wanita tersebut.


Perlahan-lahan gambaran tersebut hancur menjadi fragment kecil-kecil, Rey melihat ke sekelilingnya, dia tersentak kala melihat lautan darah manusia tepat di depan matanya, dia melihat langit yang ternyata sedang menangis darah.


“Apa arti semua ini?” Rey mentatap langit dan membiarkan hujan darah membasahi wajahnya.


“Rey…” Sebuah suara terdengar di belakangnya tetapi saat dirinya menoleh ternyata dirinya sudah berada di tempat awal yaitu sebuah kegelapan tanpa batas yang berisikan kehampaaan belaka.


Sosok yang mirip dengan Rey muncul kembali, “Aku tidak mengerti mengapa kau bisa melupakan jati dirimu sendiri hanya karena sebuah perasaan belaka, padahal seharusnya kau itu tidak bisa merasakan apapun karena kau itu bukanlah mahluk hidup melainkan sebuah perwujudan nyata dari diriku,” Sosok tersebut mendekati Rey.


“Apa maksudmu?!” Rey berteriak keras, dia marah karena merasa dipermainkan oleh sosok yang mirip dengan dirinya tersebut.


Sosok itu tersenyum, “Ada saatnya kau akan kembali menjadi sosok yang sebenarnya atau memilih untuk melepaskan diriku dan menjadi seorang mahluk hidup pada umumnya,” Sosok itu menatap Rey dengan mata iblisnya, “Ingatlah bahwa aku dan kau itu sama, jika kau membuang diriku maka kau akan lenyap dan jika kau tetap mempertahankan diriku maka dirimu akan menjadi sosok yang sebenarnya, aku harap kau tidak salah pilih ke depannya, bahkan aku sangat berharap bahwa kau dapat menemukan jawaban tanpa harus memilih.”


Rey nampak kebingungan dengan ucapan sosok tersebut, tetapi tiba-tiba saja dirinya merasakan sakit di seluruh tubuh, “Bukannya aku sudah mati ya? Kenapa aku masih bisa merasakan sakit?!” Perlahan-lahan pandangannya menggelap dan saat dirinya membuka mata, ternyata dia sudah tidak berada di dalam kegelapan sebelumnya, melainkan di sebuah ruangan yang cukup asing.


‘Dimana ini?' Rey menoleh ke samping dan menemukan Yui yang sedang tertidur dengan posisi duduk.


Rey tersenyum karena entah mengapa saat dia beraama Yui, dia merasakan sebuah perasaan hangat nan bahagia yang sama dengan wanuta yang ada di ingatannya. Rey merasa lega melihat Yui baik-baik saja walaupun dirinya masih tidak tahu bagaimana caranya mereka selamat dari ledakan bom Qi sebelumnya, dia masih ingat dengan api yang melahapnya.


Yui membuka matanya, dia mengusap matanya perlahan karena rasa kantuk masih menyerangnya, sebab dia sudah tidak tidur beberapa hari karena menjaga Rey. Mata Rey dan Yui bertemu, Yui menutup mulutnya karena terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Rey tersenyum canggung, “Ahh, hai Yui,”


Yui menangis, dia langsung memeluk Rey dengan erat seperti tidak ingin sosok Rey pergi dari hidupnya. Rey merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, dia ingin menghentikan Yui tetapi melihat kelegaan yang tergambar di wajah Yui membuat dirinya tidak tega, jadi dirinya hanya bisa mengabaikan rasa sakit tersebut.


“Ehem…” Suara deheman terdengar keras yang membuat mereka berdua terkejut. Yui dengan wajah memerah langsung melepaskan pelukannya, sedangkan Rey yang hanya bisa mengerakan kepalanya hanya bisa menerka-nerka saja.


Beberapa suara langkah kaki terdengar jelas seperti mendekat, Yui melangkah kesamping yang membuat Rey dengan jelas melihat orang yang mendehem tersebut karena ternyata itu adalah Tetua Shen Xuan Bersama dengan Zenith, Feng Qiuyu, Tetua Fengyi, Fui dan Liu Ji. Rey cukup terkejut melihat Liu Ji yang terlihat baik-baik saja, tetapi dibandingkan itu dia cukup kebingungan dengan kedatangan mereka semua.


Mereka semua langsung berhamburan memeluk Rey kecuali Liu Ji, tetapi mereka langsung dihentikan oleh seseorang, “Hentikan! Kalian bisa membunuhnya,”


Mata Rey melotot, dia sangat tahu suara itu, suara yang sudah lama tidak dia dengar, bisa dibilang suara itu merupakan suara sosok seseorang yang menjadi teman bicaranya. Perlahan-lahan sesosok orang tua berjalan mendekat, Rey yang melihat tampang orang tersebut terkejut bukan main, “Ka-kau!!!” Tunjuk Rey.


Orang tua tersebut mengangkat tangannya, “Yo, manusia laknat, kita bertemu kembali, ” Orang tua itu tersenyum sinis seraya melipat tangannya.


Rey terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihiatnya, sedangkan yang lainnya terlihat kebingungan sebab mereka berdua seperti sudah mengenal satu sama lain, yang paling bingung adalah Tetua Shen Xuan. Orang tua tersebut merupakan guru Tetua Shen Xuan yang tinggal di Alas Purwo.


“Aku sangat terkejut, bagaimana bisa kau masih hidup sampai sekarang?” Rey menatap tak percaya guru Tetua Shen Xuan tersebut.


“Yang seharusnya terkejut itu aku, bagaimana kau bisa berada di dunia ini dan juga bagaimana bisa tampangmu berubah menjadi seorang bocah?”


“Akan kuceritakan nanti, yang lebih penting sekarang adalah bagaimana bisa kau hidup masih hidup sampai sekarang? Karena sudah ribuan tahun berlalu sejak dirimu menghilang saat itu,” Rey memaksakan dirinya duduk, dia tidak peduli lagi akan rasa sakit karena sosok di depannya ini cukup berpengaruh pada kehidupannya di masa lalu.


Guru tetua Shen Xuan melirik orang-orang di sekitarnya, “Bisakah kalian keluar terlebih dahulu? Ada yang ingin kubicarakan dengan dia.”


Meskipun bingung dan heran tetapi mereka menurut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, Tetua Shen Xuan terakhir keluar seraya menutup pintu ruangan tersebut. Setelah semua orang pergi, guru Tetua Shen Xuan itu langsung memasang wajah serius, “Aku masih hidup karena diselamatkan oleh pedang kematian milikmu itu.”

__ADS_1


Mata Rey melotot saat mendengar pedang kematiannya disebutkan, “Dimana pedang itu sekarang?!” Rey tiba-tiba berdiri dan menarik kerah baju Guru Tetua Shen Xuan tersebut.


‘Eh buset, aku sangat yakin seluruh tulang ditubuhnya sudah remuk, bahkan aku sangat yakin dia tidak bergerak selama 1 sampai 2 bulan lagi, aku lupa bahwa dia ini abnormal, dasar psikopat barbar.’ Dengan cepat tangannya menampar punggung Rey dan seketika saja Rey tersungkur kesakitan.


“Dasar bocah sialan! Awas kau nanti, berani sekali kau menampar punggungku!” Teriak Rey seraya memegang punggungnya.


“Hohoho, aku sudah lama menantikan ini, saat dimana giliran aku yang menyiksamu,” Guru Tetua Shen Xuan tertawa mengejek.


Rey geram tetapi tiba-tiba dia teringat kembali akan pedang kematiannya, “Hei Tia Zhu, dimana pedang itu sekarang?”


“Wow, kebentur apa otakmu itu sampai memanggil nama lengkapku? Bukannya selama ini kau hanya memanggilku Hei, Hoi, bocah ya?” Tia Zhu mengelus jenggot panjangnya seraya tersenyum lebar.


Rey nampak geram dengan Tai Zhu, jika kondisi dirinya sekarang baik-baik saja pasti tubuh Tia Zhu sudah bengkok semua. Rey menghela nafas panjang, dia mencoba untuk tidak terpancing emosi karena bisa dibilang kelakuan Tia Zhu berasal dari dirinya.


Tia Zhu melirik Rey sekilas, dia sebenarnya terkejut saat melihat mahluk barbar terlaknat itu menahan emosinya, sebab saat dirinya Bersama Rey dulu, emosi Rey meledak-ledak, bahkan saat kakinya tersandung sebuah batu kecil saja Rey mengamuk dan meledakan batu kecil tersebut dengan bom Qi, tentu saja ledakan bom Qi itu cukup besar karena sampai membuat kawah sedalam 1 kilometer dan berdiameter 7 kilometer, bahkan dia sangat ingat saat Rey yang meratakan seluruh gunung karena digigit oleh nyamuk belaka.


‘Aku masih ingat saat dia melemparkanku ke udara hanya karena aku batuk saat dia tidur.’


“Pedang itu berada di Alas Purwo, aku tidak berani mendekatinya karena hawa kematian yang dipancarkan bahkan siluman tingkat kaisar pun tidak berani mendekati pedangmu itu,” Badan Tia Zhu terlihat merinding saat menjelaskan pedang kematian.


Rey menghela nafas lega karena pedang itu merupakan sahabat hidup dan matinya, meskipun hanya sebuah benda mati tetapi roh yang ada di dalam pedang itu bisa berbicara dengannya dan tentu saja bisa menampakan wujud walaupun hanya seperkian detik saja.


“Apa kau tidak penasaran bagaimana kau tidak mati setelah ledakan yang kau ciptakan itu?” Tanya Tia Zhu.


Rey mengangkat alisnya, dia tidak tahu bagamana Tia Zhu bisa mengetahui kejadian saat dirinya hampir membunuh diri sendiri karena bom Qi miliknya, tetapi setelah dipikir-pikir lagi mungkin Yui atau yang lainnya sudah menceritakan kepada Tia Zhu.


“Oh, bisa kau jelaskan, aku sangat yakin bahwa ledakan itu dapat merengut nywaku kapan saja tetapi entah bagaimana aku bisa selamat.”


“Ada sosok yang merasukimu saat itu…”


Tia Zhu melanjutkan penjelasannya, saat itu dia sedang bermeditasi tetapi tiba-tiba saja dirinya merasakan sebuah kekuatan yang cukup familiar dan kekuatan itu semakin lama semakin membesar hingga dirinya yakin bahwa kekuatan itu berasal dari tubuh Rey.


“…Aku langsung menghampiri sumber kekuatan itu, ternyata sumber kekuatan itu berada di Kota Chenzu, aku cukup terkejut melihat Kota Chenzu luluh lantah, aku melihatmu melayang di udara dengan hawa gelap yang begitu kental dengan mayat-mayat di bawahmu, aku sangat yakin bahwa itu bukanlah dirimu, aku tidak bisa mendekat karena sosok yang mengendalikan tubuhmu itu menahan gerakanku.”


Rey mengerutkan dahinya, dia tidak ingat bahwa dirinya melayang tetapi tiba-tiba dia teringat akan sosok yang menyerupai dirinya tersebut, ‘Apa itu dia?’ Rey sangat yakin bahwa sosok itu yang mengendalikan dirinya sebab sosok tersebut tiba-tiba muncul begitu saja.


“Aku tidak mengerti tetapi dia mengatakan jika aku merupakan perwujudan nyata dari dirinya,” Rey menggaruk kepalanya dengan Kasar karena frustasi dengan hal yang menimpanya.


Tia Zhu tersentak, “Kau pernah bertemu dengannya? Kapan? Dimana? Bagaimana?”


“Aku bertemu dengan sosok itu di dalam sebuah kegelapan tanpa batas, jika di tanya kapan dan bagaimananya aku tidak tahu, tetapi sosok itu mampu membuat diriku seperti kembali ke masa lalu, bahkan aku diperlihatkan sebuah gambaran yang tidak ku ketahui dan yang lebih anehnya aku bisa merasakan bahwa diriku itu hidup di dalam gambaran tersebut,” Ekspresi Rey menjadi rumit, gambaran itu seperti sebuah ilusi tetapi terasa sangat nyata baginya, itu terbukti karena ada beberapa ilusi yang mirip dengan kehidupan dirinya di masa lalu.


Tia Zhu menelan ludah, jika orang lain yang bercerita mungkin dirinya tidak akan percaya sama sekali tetapi beda lagi jika Rey yang bercerita karena Rey tidak akan mengada-ngada sebuah hal yang sebenarnya tidak ada.


“Bagaimana rupanya?”


“Mirip denganku, bahkan dia memiliki mata iblis yang sama denganku,”


“Apa jangan-jangan mata iblisnya itu adalah mata iblismu atau sebaliknya?!”


Rey tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri, Tia Zhu tidak panik karena dia tahu bahwa sebenarnya Rey hanya memaksakan dirinya, “Ternyata sifat nekat dan gilanya itu tidak berubah sama sekali.”


Tia Zhu tersenyum kecil lalu berjalan keluar, saat membuka pintu dirinya dibuat bingung saat melihat orang-orang tadi ternyata masih dengan setia menunggu di depan pintu ruangan, “Kalian semua bisa masuk, usahakan untuk tidak membangunkannya karena dia butuh waktu yang cukup lama sampai tubuhnya pulih sepenuhnya.” Tia Zhu melangkah pergi diikuti oleh Tetua Shen Xuan di belakangnya.


Yui dan lainnya segera melangkah masuk, mereka merasa nyaman dan tenang saat melihat wajah polos Rey tertidur dengan lelap, entah ada yang menyadari atau tidak tetapi beberapa helai rambut Rey berubah menjadi hitam.


__ADS_1


__ADS_2