Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 3 - Kedatangan Bocah Abnormal (Revisi)


__ADS_3

Diperjalanan, tak sedikit orang-orang yang menatap rendah kepada Rey, tatapan mereka seolah-olah seperti menatap kotoran berjalan. Rey yang melihat itu hanya bersikap bodo amat dan terus berjalan menghiraukan semuanya, akan dia pastikan mereka semua yang menatapnya seperti itu akan kocar-kacir ketika melihat dirinya di masa depan.


Setelah sampai, Rey dikejutkan dengan begitu banyak pemuda yang berpatisipasi mengikuti ujian masuk ke dalam Sekte Biru Laut. Tubuhnya yang kecil membuat dia tidak bisa melihat apa yang ada di depan, dia juga tidak bisa menerobos karena bisa-bisa ditempeleng orang karena badan kecilnya. Jika satu lawan satu saja entah besar ataupun kecil pasti akan dia hadapi, tapi beda lagi jika dia dikeroyok, bisa-bisa mampus dia.


Rey menghela nafas berat sambil berdecak kesal, “Andaikan ini di masa lalu, akan kubuat terbang mereka semua.”


Rey akhirnya memilih untuk duduk dipojokan seperti gelandangan dan memeriksa kondisi tubuhnya untuk keperluan tes nanti. Dia dikejutkan dengan fakta bahwa tubuhnya saat ini memiliki dantian hitam yang biasa disebut sebagai dantian terkutuk. Dantian hitam sangatlah langka, perbandingannya mencapai 1:1.000.000, salah satu orang yang memilikinya adalah Rey.


Disebut sebagai dantian terkutuk juga bukan tanpa alasan, semua itu dikarenakan dantiam hitam ini hanya bisa menyerap Qi negatif. Hal ini sangat beresiko, sebab Qi negatif dapat membuat orang kehilangan kewarasannya dan menjadi gila. Namun, ada satu resiko mengerikan yang harus dihadapi oleh pemilik dantian hitam, sebab jika tubuh mereka dipaksa bersinkornasi dengan Qi positif maka tubuh mereka akan hancur atau bisa saja meledak.


“Entah ini kebetulan atau apa, tapi bisa-bisanya aku selalu memiliki dantian hitam di setiap kehidupan yang kulalui, khuhuhu...” Gumamnya sambil cekikikan sendiri.


Rey tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, dantian hitam sangatlah cocok dengan dirinya, tidak akan ada yang bisa membuatnya tidak waras karena dia sendiri sudah tidak waras dari awal, jadi bisa dikatakan bukan dia yang akan dimakan kekuatannya melainkan dialah yang akan memakan kekuatannya.


“Aku gila dan aku bangga!” Teriaknya dengan sangat keras yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.


Mereka saling berbisik, bahkan ada yang dengan sengaja terang-terangan melontarkan kata hinaan kepada Rey karena menjadi gila di usianya yang masih muda. Beberapa dari mereka terutama para perempuan berjalan menjauh seperti tidak ingin ketularan menjadi gila.


“Bocah ini kenapa coba?”


“Sudah jelas-jelas bocah itu orang gila, apa kau tidak dengar perkatannya tadi?”


“Ah… dia terlalu manis untuk menjadi orang gila, lihatlah wajah imutnya itu.”


“Jika aku menjadi gila sepertinya, apa kau akan mengatakan hal yang sama?”


Rey yang punya pendengaran tajam tentu mendengar percakapan mereka semua yang mengata-ngatai dirinya, tapi dia tidak melakukan tindakan apapun dan hanya bisa menerima semua itu dengan lapang dada walaupun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ingin sekali dia mencekik mereka semua.


“Awas… awas saja kalian bocah-bocah sialan, akan kutekuk-tekuk tubuh kalian semua nanti!” Batinnya penuh amarah.


Bukan Rey namanya jika dia tidak menyiksa musuhnya, di otaknya sekarang sudah terpikirkan berbagai cara untuk menyiksa orang-orang yang menghinanya, dan juga bukan Rey namanya jika tidak tersulut emosi hanya karena masalah sepele, bahkan dia pernah dikejar satu kekaisaran dikarenakan membuat babak belur seorang kaisar di depan rakyatnya saat sedang berpidato, alasannya pun sangat tidak masuk akal, hanya lagi iseng saja katanya.


Perhatian mereka semua teralihkan oleh seorang pria paruh baya yang membuka gerbang sekte Biru Laut. Namun, berbeda dengan Rey, dia malah sibuk dengan pikirannya sambil cekikikan sendiri di pojokan, sebab dia sama sekali tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh orang-orang dikarenakan tingginya yang pendek.


Pria paruh baya itu tiba-tiba mengeluarkan auranya yang membuat semua orang di sana jatuh dalam posisi berlutut karena tidak siap. Rey yang sedang asik-asik cekikan sendiri hampir saja wajahnya mencium tanah andaikan dia tangannya tidak reflek menahan tubuhnya.

__ADS_1


“Ukhh… tekanan macam apa ini?!”


“Aku sama sekali tidak bisa bergerak! Tubuhku seperti ditindih sesuatu yang sangat berat!”


“Ini sangat gila!”


Beberapa dari mereka ada yang berhasil berdiri walaupun hanya sebentar, bola mata mereka seakan-akan mau keluar karena terlalu memaksakan diri. Tekanan dari aura yang dikeluarkan pria paruh baya itu cukup membuat mereka tidak berdaya, tapi tidak dengan Rey, dia malah dengan mudahnya berdiri lalu mengibas-ngibaskan tangannya yang kotor setelah menyentuh tanah.


Pria paruh baya menggelengkan kepalanya nampak kecewa dengan orang-orang di hadapannya, tapi kemudian dia melototkan matanya ketika melihat seorang bocah yang berada di pojokan sendirian dapat berdiri dengan mudahnya seakan-akan kebal terhadap tekanan auranya. Namun dia menyembunyikan keterkejutannya untuk menjaga kewibawannya di depan orang-orang.


Pria paruh baya itu menarik kembali auranya yang membuat semua orang bisa bernafas lega. Dia memberikan waktu untuk mereka semua bernafas, tapi itu tidak berlangsung sebab tiba-tiba saja tangannya menunjuk-nunjuk.


“Kau… kau… kau… kau… kau… dan kau! Pulang sana!”


Semua orang menjadi bingung sambil menunjuk diri sendiri untuk memastikan apa yang mereka dengar. Melihat semua orang yang menunjuk diri sambil menatap ke arahnya membuatnya naik pitam, “Pergi!” Teriaknya dengan sangat keras sampai-sampai urat di lehernya menonjol keluar.


Mereka yang mendengar perkataan kasar tersebut tersulut emosi, mereka seakan-akan dianggap kotoran, padahal mereka kemari juga untuk menjadi bagian dari Sekte Biru Laut. Mereka semua lantas menatap pria paruh baya itu dengan tajam.


Mendapat tatapan tajam dari orang-orang membuatnya kesal bukan main, “Apa lihat-lihat?!” Saat mengatakannya, ekspresinya seakan-akan memakan semua orang, begitu banyak urat yang menonjol di wajahnya.


Mereka semua membuang muka, terlalu takut dengan ekspresi wajah pria paruh baya tersebut. Akhirnya dengan perasaan campur aduk antara kesal, marah, kecewa, dan sedih mereka berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut, di dalam hati mereka bersumpah untuk tidak akan pernah lagi menginjakan kaki di Sekte Biru Laut.


“Hei nak…”


“Hei…”


“Hoiiii!"


Pria paruh baya itu memanggil-manggil Rey dengan sangat keras, tapi bocah yang mendapat perhatiannya itu seakan-akan pura-pura buta dan tuli. Kesal karena tidak dihiraukan, dia mengambil batu seukuran kepalan tangan lalu melemparkannya dengan sangat keras kepada bocah tersebut.


Batu itu melesat dengan sangat cepat seperti sebuah peluru, tapi Rey yang memiliki insting layaknya setan purba jaman dahulu kala menangkap batu tersebut dengan mudah. Tatapan mata Rey berubah, dia menatap pria paruh baya itu dengan sangat tajam.


“Andaikan batu ini mengenai wajahku, akan kutimpuk wajahnya dengan gunung.” Rey mengalirkan Qi gelap ke tangannya hingga batu tersebut hancur menjadi pasir halus.


Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya melihat seorang bocah yang dengan mudahnya menangkap batu yang dilemparkannnya, padahal dia sangat yakin jika bocah itu hanya menatap ke bawah dan sama sekali tidak melihat arah datangnya batu tersebut, yang membuatnya lebih terkejut lagi ketika matanya melihat bagaimana bocah tersebut menghancurkan batu di tangannya sampai menjadi pasir halus.

__ADS_1


Namun kemudian dia sadar jika bocah itu sama sekali tidak takut dengannya, bahkan malah menatap tajam ke arahnya. “Tatapan matanya yang tajam seakan-akan menantangku, kemampuannya yang dapat menahan tekanan auraku serta menghancurkan batu menjadi pasir halus bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh seorang bocah seumurannya, bahkan pemuda jenius pun belum tentu dapat melakukannya.” Di dalam hatinya dia sangat kagum dengan bocah tersebut, karena dia seperti melihat dirinya pada bocah tersebut.


Dia tersentak saat melihat sebuah batu yang cukup besar melayang ke arahnya. Dengan tenang dia mengalirkan Qi pada tangannya dan menahan batu tersebut dengan mudah, tapi betapa terkejutnya dirinya saat melihat sebuah tangan menembus batu di depannya dan hampir mengenai wajahnya andaikan dia tidak dengan cepat mencengkramnya.


Matanya melotot ketika dia menyadari jika tangan yang dicengkramnya saat ini ternyata bocah yang ada di pojokan sebelumnya, dia menduga jika bocah itulah yang melemparkan batu kepadanya, tapi yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana seorang bocah bisa melemparkan batu yang memiliki bobot beberapa kali lipat dari tubuhnya dan juga dari mana asal batu besar yang dia lemparkan.


“Lepaskan sialan atau kugosok wajahmu ke tanah sampai rata!” Rey mengancam pria paruh baya yang mencengkram tangannya tanpa mempedulikan tubuh mungilnya.


Mendengar ancaman dari mulut mungil bocah di depannya membuatnya kesal bukan main, “Apa yang kau bilang barusan?”


"Aku bilang-" Ucapan Rey terhenti karena tiba-tiba saja tangannya di tarik lalu dengan brutalnya tubuhnya dibanting-banting seperti mainan.


Setelah cukup puas, dia akhirnya menghentikan kegiatannya lalu melepaskan cengkraman tangannya membiarkan bocah di hadapannya berbaring dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Rey menatap wajah kriput yang tengah memandangnya lalu meringis penuh ejekan, “Segini saja? Aku bahkan bisa melakukan ini seharian penuh, kekeke...."


“Dengan senang hati…” Dia menarik kaki bocah di hadapannya lalu kembali membanting-bantingnya dengan brutal, tapi kali ini lebih keras daripada yang sebelumnya.


Suara ketika tubuh Rey menghantam tanah terdengar cukup keras. Seorang pria paruh baya lainnya muncul entah dari mana, wajahnya terlihat sangat panik ketika melihat patriaknya memabanting-banting tubuh seorang bocah dengan brutal.


“Patriak! Apa yang kau lakukan!”


Dia menghentikan kegiatannya lalu melemparkan bocah di tangannya ke arah gerbang memasuki Sekte Biru Kaut. Rey mendarat di hadapan murid-murid perempuan yang sedang melakukan latihan dengan posisi tubuh terbalik.


Pria paruh baya yang membanting Rey sebelumnya adalah Patriak Mo, pemimpin Sekte Biru Laut. Sedangkan orang yang berteriak barusan adalah salah satu tetua di sekte tersebut, Tetua Feng Yi.


Tetua Feng Yi melototkan matanya ketika melihat patriaknya melemparkan anak orang setelah membantingnya dengan brutal. Dengan panik dia berlari menuju bocah tersebut. Namun, setelah sampai dia hanya bisa menatap tak percaya, sebab bocah yang dikhawatirkannya ternyata malah duduk santai sambil menggurutu tidak jelas.


Dari belakang Tetua Feng Yi muncul Patriak Mo. Melihat bocah yang dibantingnya masih bisa menggurutu membuatnya cukup bingung sekaligus kagum, “Kurasa bocah ini abnormal, dia masih bisa berdiri bahkan setelah kubanting seperti itu?”


“Feng Yi…”


“Y-ya?”


“Bocah itu akan menjadi bagian dari Sekte Biru Laut."

__ADS_1


Tetua Fengyi memiringkan kepalanya keheranan, tapi kemudian dia tertawa kecil setelah menahami maksud ucapan Patriak Mo, "Sepertinya sekte kita kedatangan orang gila ya?”


Patriak Mo hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.


__ADS_2