Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 28 - Kembalinya Tetua Ke 21


__ADS_3

Saat mereka semua sedang ribut karena ulah Rey, tiba-tiba saja ada seorang pemuda tampan tepat di samping Rey. Entah kapan dan bagaimana bisa pemuda tampan tersebut tiba-tiba saja berada di situ yang tentunya membuat mereka semua terkejut bukan main.


Rey segera melompat ke arah Patriak Mo dan memandangi pemuda tampan yang tidak di ketahuinya tersebut, Rey yang selalu waspada pada sekitarnya saja sampai tidak mengetahui bagaimana pemuda tampan itu tiba-tiba saja berada di sampingnya.


Patriak Mo dan para Tetua melihat pemuda tampan itu dengan seksama, mereka sepertinya mengenali pemuda tampan tersebut, namun entah kapan dan dimana tepatnya mereka pernah bertemu. Semua murid di sana nampak mengingat-ngingat siapa pemuda tampan di depan mereka, karena mereka merasa pernah melihat rupa yang sama persis dengan pemuda tersebut.


Sedangkan Rey, Zenith, dan Feng Qiuyu hanya memasang tampang keheranan melihat semua orang di sana yang sepertinya mengenali pemuda tersebut, karena bagaimana pun mereka bertiga masihlah murid baru yang tentu saja tidak mengetahui tentang informasi yang ada di Sekte Laut Biru.


“Sudah 5 tahun aku tidak kembali, sepertinya telah banyak hal yang berubah selama aku tidak di sini.”


Ucapan pemuda tampan itu membuat semua orang di sana melototkan matanya, suara yang telah lama tidak mereka dengar, sosok yang membuat Sekte Laut Biru jaya sebelumnya, sosok yang menjadi idola bagi mereka semua.


“Su-suara itu?!”


“Tidak salah lagi, dia pasti….”


“Tetua Ke 21, Shen Xuan!”


Mereka semua berbondong-bondong mendekati Tetua Shen Xuan bahkan para murid elit perempuan di sana berebutan memeluk Tetua Shen Xuan yang sangatlah tampan itu. Sedangkan Patriak Mo dan para Tetua hanya tersenyum bahagia, mereka semua tentu ingin memeluk Tetua Shen Xuan juga, hanya saja mereka malu karena mengingat umur mereka yang tak lagi muda.


“Kyaaaa! Aku berhasil memeluk Tetua Shen Xuan!”


“Akhirnya Tetua Shen Xuan pulang!”


“Aku berhasil memegang wajahnya!”

__ADS_1


“A-aku berhasil membelai itu-nya!!!! Kyaaaa!”


Terlihat wajah Tetua Shen Xuan kusut karena dia merupakan orang yang pendiam, suka menyendiri dan tidak suka keramaian. Semua orang yang mengerumuninya membuat Tetua Shen Xuan kesal, apalagi ada murid perempuan yang tadi dengan lancang memegang pilar surgawinya, tentu hal tersebut membuatnya malu sekaligus marah.


Patriak Mo yang melihat raut kusut Tetua ke Shen Xuan segera membubarkan kerumunan, “Sudah cukup kangen-kangenannya, Tetua Shen Xuan baru saja pulang dari misinya, jadi dia pasti kelelahan.”


Mendengar ucapan Patriak Mo membuat mereka semua kecewa, padahal mereka masih ingin memeluk Tetua Shen Xuan. Namun, perkataan Patriak Mo benar, karena bagaimana pun Tetua Shen Xuan pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, dengan segera mereka semua menyingkir dari sana.


Patriak Mo mengajak Tetua Shen Xuan menuju ke ruangannya diikuti oleh semua Tetua. Namun, mereka semau tak tahu jika Rey dan Tetua Shen Xuan sejak tadi saling pandang, sepertinya ada beberapa hal yang menarik perhatian satu sama lain di antara mereka.


“Anak itu sungguh berbahaya…Hm” Gumam Tetua Shen Xuan seraya mengalihkan pandangannya dari Rey.


Rey tentu tertarik dengan Tetua Shen Xuan, karena baru kali ini dia menemukan sorot mata yang sangat tenang, bahkan dia sendiri sedikit terpengaruh tadi. Rey juga menemukan tentang keanehan yang lain seperti tidak bisa merasakan aura kehadiran Tetua Shen Xuan, dan dia bahkan tidak bisa mengukur kekuatan Tetua Shen Xuan.


“Bocah itu sangat kuat.” Batin Rey yang masih melihat kea rah Tetua Shen Xuan.


**


Terlihat jika Patriak Mo, Tetua Shen Xuan, dan Tetua Fengyi sedang mengobrol di dalam sebuah ruangan yang sudah di siapkan oleh Patriak Mo. Sedangkan para Tetua lainnya tidak di perbolehkan bergabung dengan mereka, karena bagaimanapun ruangannya cukup kecil dan tentunya tidak akan muat untuk menampung 20 orang sekaligus.


“Shen, aku tidak menyangka jika kau saat ini telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, pasti mendiang Ibumu bahagia melihat Putranya saat ini.” Ekspresi wajah Patriak Mo terlihat sedih karena sepertinya dia mengingat akan kenangan bersama mendiang Istrinya dulu.


Seperti sifatnya yang pendiam, Tetua Shen Xuan hanya tersenyum menanggapi perkataan Ayah angkatnya Patriak Mo.


Shen adalah nama yang diberikan oleh Patriak Mo, sedangkan Xuan diberikan oleh mendiang istrinya . Sebelumnya, Shen Xuan adalah seorang anak jalanan yang dimana kondisinya sangatlah buruk, kurus, kering, bahkan jika tidak sengaja terkena senggol pasti tulangnya patah.

__ADS_1


Saat itu, Patriak Mo bersama Istrinya sedang berjalan-jalan di taman yang ada di tengah-tengah kota, melihat taman yang ternyata sangatlah sepi membuat Patriak Mo mengajak istrinya di bawah pohon besar, tentu saja tujuan Patriak Mo tak lain adalah untuk skidipapap uhuy-uhuy bersama Istrinya.


Sang Istri pun tidak menolak ajakan dari suaminya Patriak Mo, karena dia ingin menjadi istri yang baik. Namun, baru saja mereka akan menjalankan ritual sakral tersebut, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil nan kurus berada tepat di samping pohon yang mereka tempati.


Patriak Mo dan Istrinya merasa iba melihat melihat anak kecil kurus tersebut, Istri Patriak Mo lantas bertanya tentang tempat tinggal anak kecil kurus itu, anak kecil itu tidak menjawab, dan hanya menoleh kearah pohon di sampingnya.


Patriak Mo dan Istrinya seperti mengetahui maksud anak kecil tersebut secara tidak langsung mengatakan bahwa pohon yang di samping mereka saat ini adalah tempat tinggalnya. Akhirnya Patriak Mo dan istrinya menawarkan anak kecil tersebut menjadi putra angkat mereka dan juga sebagai kakak dari Putri mereka Yui yang dimana saat itu masih berumur 3 tahun, terlihat jika anak kecil mengangguk dengan antusias.


Patriak Mo dan istrinya memberikan nama Shen Xuan kepada anak kecil tersebut. Anak kecil itu tersenyum, karena sepertinya dia sangat senang dengan nama barunya yaitu Shen Xuan. Akhirnya mereka bertiga kembali menuju Sekte Laut Biru.


Namun, siapa sangka? Anak kecil nan kurus itu tumbuh menjadi pemuda yang sangat kuat dan tampan, dia bahkan selalu memenangkan pertandingan atau kompetisi apapun yang diikutinya. Tentu saja hal tersebut membuat Sekte Laut Biru mendapatkan pujian yang berlimpah karena mempunyai murid berbakat seperti Shen Xuan.


Setelah 5 tahun berlalu Istri Patriak Mo tiba-tiba jatuh sakit, dan hanya dalam 2 bulan saja Istri Patriak Mo meninggal karena penyakit yang dideritanya tersebut. Sejak saat itu, Yui yang awalnya anak yang ceria seketika menjadi pendiam, Patriak Mo yang tengah bersedih semakin dilanda kesedihan karena melihat putri satu-satunya menjadi pemurung.


Sedangkan Shen Xuan yang saat itu telah berumur 18 ditawari oleh Kaisar Chen sendiri untuk melakukan sebuah misi, tanpa pikir panjang dia langsung menerima tawaran tersebut. Walaupun ekspresinya datar dan cenderung cuek sebenarnya Shen Xuan lah yang paling sedih diantara mereka semua, karena bagaimanapun Istri Patriak Mo lah yang telah merawatnya tanpa pilih kasih hingga dia dewasa.


Patriak Mo meminta kaisar untuk menunda keberangkatan Shen Xuan hanya dalam 2 minggu saja, karena dia ingin mengangkat Shen Xuan menjadi salah satu Tetua di Sektenya. Kaisar Chen tidak keberatan akan hal itu, dan tentu saja kesempatan itu tidak dilewatkan begitu saja oleh Patriak Mo, dia lantas langsung mengangkat Shen Xuan menjadi Tetua ke 21, semua orang di sana sedih karena idola mereka akan pergi menjalankan misi yang tak diketahui kapan selesainya tersebut.


Mereka semua memanfaatkan moment-moment terakhir itu sebaik mungkin. Mereka menggelar acara perpisahan yang sangat mewah hingga memakan biaya yang sangat besar, namun nampaknya mereka semua tidak peduli akan hal itu, menurut mereka uang tidak bisa membeli kebahagiaan yang mereka dapatkan.


Hari demi hari mereka lalui dengan perasaan bahagia, Shen Xuan juga melakukan kewajibannya saat menjadi Tetua dengan baik seperti mengajar para murid, bahkan beberapa beberapa murid perempuan juga menyatakan cinta kepadanya, karena bagaimana pun Shen Xuan masih sangat muda meskipun sudah menjabat sebagai Tetua.


Tak terasa 2 minggu berlalu yang dimana saatnya bagi Shen Xuan untuk berangkat menjalankan misinya. Semua orang disana sedih bercampur dengan perasaan bahagia, karena mereka tentu tidak menyangka jika Shen Xuan akan menjadi seorang yang dipilih untuk menjalankan misi oleh Kaisar Chen sendiri.


Saat itu Patriak Mo seminggu mogok makan karena kesedihannya yang ditinggal oleh sang istri dan juga Putra angkatnya Shen Xuan, apalagi melihat kondisi mental Yui yang semakin hari semakin buruk.

__ADS_1


Namun, karena dia tidak mau melihat Yui sakit, akhirnya membuat Patriak Mo perlahan bangkit dan mulai menghilangkan semua perasaan sedih yang telah menghantuinya tersebut.


__ADS_2