Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 68 - Pertemuan Antara Dua Saudara


__ADS_3

Liu Ji tidak tahu harus bagaimana, dia tidak bisa membantah perkataan bocah berambut putih di depannya, dia khawatir jika dirinya nanti akan diburu oleh Kultivator aliran hitam karena telah menghinati mereka meskipun dirinya sama sekali tidak mengiginkan itu.


'Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika para tetua tahu jika sekarang aku menjadi tawanan dan pastinya mereka tidak akan tinggal diam bagi seseorang yang gagal melakukan misi sepertiku.'


Liu Ji tertekan, dia tertekan oleh keadaannya saat ini yang serba salah, di satu sisi dirinya adalah bagian dari Kultivator aliran hitam tetapi dirinya sekarang hanyalah seorang tawanan yang menjadi budak seorang bocah dari aliran putih, pembelaan apapun yang dia lakukan tidak akan ada artinya dan hanya tinggal waktu saja sampai berita tentang dirinya menjadi tawanan tersebar di Kultivator aliran hitam.


Memikirkannya saja sudah membuatnya ketakutan setengah mati, dia berharap bahwa bocah berambut putih itu tidak memperlakukannya seperti apa yang dilakukan oleh Tetua kepadanya, dia sekarang sepenuhnya sadar jika para Tetua hanya menjadikannya sebagai tumbal untuk mengukur kekuatan pria yang membantai pasukannya.


Rey yang melihat Liu Ji murung tersenyum, dia sangat tahu apa yang dipikirkan oleh Liu Ji. “Baru sadar bahwa kau itu hanya menjadi pion belaka? Dasar wanita bodoh, hahaha.”


Mendengar ucapan bocah berambut putih itu membuat Liu Ji tersenyum pahit, dia membenarkan ucapan tersebut karena dirinya mungkin cukup bodoh untuk memahami semuanya.


Tetua Shen Xuan melirik Rey sekilas, pikirannya sama dengan Rey karena pastinya orang bodoh sekalipun akan sadar jika dirinya hanya akan menjadi tumbal saat menjalankan misi yang sama oleh Liu Ji, sudah tahu mustahil malah dilakukan, tapi sepertinya kebodohan Liu Ji sudah mandarah daging karena baru sadar setelah apa yang menimpa dirinya.


Liu Ji menoleh ke arah Rey dan berkata, “Siapa namamu?”


Rey menaikan alisnya, dia tersinggung karena berani sekali budak seperti Liu Ji berkata lancang seperti itu dengan tuannya? Apa dirinya terlalu halus memperlakukan orang lain sampai-sampai seorang budak berani berkata lancang kepadanya? Dia harus menunjukan apa itu arti mendominasi. “Namaku bukanlah sesuatu yang bisa disebut olehmu!” Ucapnya penuh penekanan seraya menoleh ke arah Liu Ji dengan mata iblisnya.


Liu Ji ketakutan, badannya bergetar hebat melihat mata iblis Rey yang layaknya jurang kegelapan tanpa batas tersebut. “Ma-maafkan aku tuan karena telah ber-bersikap lancang” Ucapnya terbata-bata seraya membungkukan badan penuh hormat.


Tetua Shen Xuan memukul kepala Rey dengan gagang pedangnya dan berkata, “Hei bocah, sikapmu ini mengingatkanku pada sifat seseorang yang diceritakan oleh guruku, kesombonganmu itu sangat persis dengannya.”


Rey memegang kepalanya yang sakit, “Mungkin orang itu memang diriku karena aku merupakan orang yang sangat luar biasa sampai-sampai dunia iri dengan diriku ini, hais.” Ucapnya seraya mengibaskan rambut panjangnya berlagak sok cantik.


Tetua Shen Xuan menggelengkan kepalanya pelan, sepertinya urat rasa malu Rey sudah putus bahkan dirinya sangat yakin bahwa Rey sejak lahir tidak mengenal apa itu rasa malu, tingkahnya yang selalu menyanjung dirinya sendiri itu buktinya. Liu Ji sendiri terkejut melihat perubahan sikap bocah yang menjadi tuannya tersebut, sebelumnya bersikap mendominasi kepadanya, tapi sekarang? Sungguh perubahan sikap yang sangat luar biasa pikirnya, tapi mengingat mata hitam tadi membuatnya sadar bahwa bocah yang menjadi tuannya ini tidak sesederhana yang terlihat.


Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara kecuali Rey, entah terbuat dari apa mulut Rey itu karena sejak tadi tidak henti-hentinya berbicara di sepanjang jalan, bahkan angin pun sampai malas mendengar kicauannya. Dalam waktu 1 jam perjalanan mereka telah sampai ke pintu gerbang Kekaisaran Chen, terlihat di depan sana terdapat Yui bersama dengan lainnya, hal itu membuat Rey menelan ludah sebab tatapan mereka seperti seorang tetangga yang memergokinya mencuri celana dalam sang istri.


Mereka tersentak kala melihat Tetua Shen Xuan, sedangkan Yui hanya fokus kepada Rey dengan seorang wanita di belakangnya karena dia tidak tahu tampang Tetua Shen Xuan sekarang. Yui menatap Rey tajam dan berkata, “Siapa wanita di belakangmu Rey?”

__ADS_1


“Dia tawananku, nama dia Liu Ji,” Rey berusaha menjelaskan tanpa menampilkan kegugupannya.


“Hm…” Yui hanya mendehem menahan kecewa, dia mengalihkan pandangannya kepada pria tampan bersama dengan Rey dan berkata, “Siapa pria ini Rey?”


Tetua Shen Xuan pun penasaran dengan wanita bercadar di depannya, mereka berdua sama-sama merasakan perasaan tidak asing.


“Ah dia..”


“Dia Tetua Shen Xuan, kakak yang kau rindukan selama ini Yui.” Potong Tetua Fengyi dengan cepat.


Tetua Shen Xuan melihat Yui dengan pandangan sedu, dia merentangkan tangannya dan berkata, “Kemarilah adikku.”


Dengan cepat Yui langsung masuk ke dalam pelukan Tetua Shen Xuan seraya menangis bahagia, kakak yang selalu dia rindukan selama beberapa tahun akhirnya kembali. Mereka melepas kerinduan dengan perasaan bahagia, bahkan membuat Tetua Fengyi menahan air matanya agar tidak jatuh.


Rey terkejut, dia melihat kedua orang itu dengan seksama tapi tidak menemukan satu kemiripan pun kecuali ketampanan dan kecantikannya yang mereka punya. Rey mendekat ke arah Tetua Fengyi dan berkata, “Hei pak tua, jika mereka bersaudara kenapa tidak ada mirip-miripnya sama sekali?”


“Benar, aku sama sekali tidak mengetahui jika Tetua Shen Xuan dan nona Yui bersaudara,” Feng Qiuyu ikut nimbrung.


Tetua Fengyi mengerutkan dahinya, dia lupa bahwa ketiga bocah ini sama sekali tidak tahu tentang kisah keluarga Patriak Mo, dia juga tidak pernah bercerita sama sekali kepada putrinya, Feng Qiuyu. “Mereka berdua memang bukan saudara kandung, Tetua Shen Xuan itu sebelumnya adalah anak jalanan yang dibawa oleh Patriak Mo dan istrinya dan menjadikannya sebagai kakak Yui,” Jelasnya to the point.


Rey, Feng Qiuyu dan Zenith mengangguk-ngangguk paham, terutama Rey, dia tidak akan percaya jika Patriak Mo bertampang burik itu melahirkan anak setampan Tetua Shen Xuan, bahkan dia tidak percaya andaikan tidak diberitahu jika Yui merupakan anak Patriak Mo. Pemikiran Rey tidaklah salah, sebab semua orang tidak akan percaya bahkan orang buta pun sulit percaya jika Yui merupakan benih yang berasal dari Patriak Mo. Fui sendiri hanya diam, dia bukanlah bagian dari mereka jadi orang asing sepertinya lebih baik diam dan melihat semuanya dengan tenang.


“Ah benar, kenapa kalian bisa berada di sini?” Tanya Rey.


“Karena kau itu merupakan biang masalah!” Jawab mereka bertiga serempak sampai-sampai mengejutkan semua orang yang ada disana tak terkecuali Yui dan Tetua Shen Xuan.


“Ck, bilang saja kalian itu rindu denganku, hais… memang susah menjadi orang baik, bahkan sudah dirindukan hanya karena pergi sebentar,” Rey menghela nafas kasar, dia tahu bahwa dirinya ini merupakan mahluk hidup ter-wow yang pernah ada, tapi sungguh dia tidak menyangka jika menjadi baik akan membuat dirinya dirindukan.


Mereka semua kesal mendengarnya bahkan urat pelipis Tetua Fengyi sampai terlihat menonjol keluar. Liu Ji tersenyum melihat tingkah laku bocah yang menjadi tuannya itu yang menurutnya sangatlah lucu, tapi senyumnya seketika sirna saat mengingat mata hitam tadi, memikirkannya saja membuat bulu kuduknya berdiri.

__ADS_1


Tetua Shen Xuan menepuk kepala Yui pelan dan berkata, “Adik kecilku ini ternyata kini sudah tumbuh menjadi wanita cantik.”


“Ah.. kakak juga sama, ketampanan kakak akan membuat wanita manapun jatuh hati saat melihatnya,” Yui tersenyum manis seraya memegang tangan kakaknya tersebut.


Tetua Shen Xuan tersenyum kecil seraya memejamkan matanya, senyum itu merupakan senyum tulus yang pernah diperlihatkan olehnya, bahkan membuat Fui, Feng Qiuyu dan Liu Ji terpesona. Rey mengerutkan dahi, semua perhatian semua orang teralih kepada Tetua Shen Xuan dan membuat dirinya menjadi sesepah saja, tetapi dibandingkan dirinya Tetua Shen Xuan hanyalah kuku kakinya karena bagaimanapun dirinya merupakan sang penghancur yang sangat agung yang dapat membuat dunia bergetar hanya karena mendengar namanya saja, bahkan syaiton-syaiton yang terkutuk saja kalah ketenaran dengannya.


“Tetua Shen, bagaimana kau bisa bersama bocah ini? Dan juga bagaimana bisa wanita bernama Liu Ji ini menjadi tawanan kalian?” Tanya Tetua Fengyi.


Wajah Liu Ji terlihat pucat, dia sangat ketakutan sekarang karena dirinya pasti akan menjadi samsak hidup oleh semua orang jika tahu dirinya dari Kultivator aliran hitam.


Tetua Shen Xuan melirik Liu Ji dan berkata, “Kita bicarakan di tempat lain saja, jangan di sini.”


Liu Ji menghela nafas lega, andaikan dirinya nanti dibunuh tetapi dapat hidup lebih lama beberapa saat saja sudah merupakan anugrah baginya karena orang mati tidak akan bisa menikmati kehidupan. Yui menyarankan mereka ke Restoran Bulan Putih karena di sana mereka dapat berbicara tanpa takut ada yang menguping. Selama diperjalanan, semua orang berdecak kagum kearah mereka, bahkan tidak sedikit perempuan yang tiba-tiba menerobos dan memeluk Tetua Shen Xuan, Rey juga tak luput dari pelukan para perempuan, andaikan dia membawa pedang pasti sudah dia tebas perempuan yang lancang mencubit pipinya.


Yui, Fui, Feng Qiuyu dan Liu Ji juga tak luput dari sanjungan para pria di sana, hanya saja para pria itu tidak berani mendekat karena melihat mata Tetua Shen Xuan dan Rey yang sangat menakukan mengarah kepada mereka, bahkan Tetua Fengyi yang sudah tua saja tak luput dari sorakan para gadis dan janda disana.


Zenith yang mempunyai wajah biasa saja bahkan terkesan burik hanya menjadi angin lewat dan hal itu membuat Rey tertawa. Rey menepuk pundak Zenith dan berkata, “Ganteng itu pilihan, jelek itu takdir.”


“Ho…?!” Urat leher Zenith menonjol, dia sungguh kesal atas ejekan Rey yang begitu menusuk hati tersebut.


Setelah beberapa saat menghadapi wanita yang berkerumun, akhirnya mereka sampai di Restoran Bulan  Putih. Yui memanggil pelayan dan memesan ruangan Vip di lantai 2 dan dengan segera mereka langsung diantarkan menuju salah satu ruangan Vip di lantai 2. Setelah sampai Tetua Fengyi langsung bertanya kembali tentang siapa wanita yang menjadi tawanan mereka itu.


“Dia adalah Kultivator aliran hitam…” Jawab Tetua Shen Xuan.


Begitu mendengar jawaban Tetua Shen Xuan, mereka semua langsung mengarakan senjatanya kepada Liu Ji, hal itu membuat Liu Ji ketakutan setengah mati. Tetua Shen Xuan menghela nafas dan melanjutkan perkatannya, “...Dia tidak berbahaya sama sekali”


Mereka semua masih tidak menurunkan senjatanya karena bagaimanapun Kultivator aliran hitam telah membawa trauma dan duka yang mendalam bagi mereka, tidak terhitung lagi jumlah korban dari pihak mereka saat melawan Kultivator aliran hitam. Rey bisa melihat kebencian diantara kedua belah pihak tersebut tetapi itu semua tidak bisa menjadi alasan bagi mereka untuk membenci.


“Ck, dasar manusia, otak dan dengkul bersatu, kalian itu membenci tanpa alasan yang pasti, menurutku kalian itu sama sama saja, hitam dan putih tidak akan bisa bersatu kecuali jika kalian mau menjadi abu-abu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Rey membuat mereka semua tersentak, mereka berpikir bahwa apa yang dikatakan Rey benar karena mereka hanya saling membenci keberadaan masing-masing tanpa tahu yang mekeka benci apa, apa karena kematian? Tapi Kultivator aliran hitam pastinya jatuh korban juga saat melawan mereka yang berasal dari aliran putih, mereka dibutakan oleh rasa benci sampai-sampai membuat mereka tidak mau mengerti satu sama lain.


__ADS_2