
"Peraturannya masih tetap, keluar garis dan menyerah akan dianggap kalah." Jelas sang wasit seraya menggerakan tangannya mengisyaraktkan para peserta untuk menuju ke sudut arena.
Rey sebenarnya tidak bisa merasakan tangannya sama sekali karena suhu dingin pedang teratai sucinya, bahkan sekedar menggerakan jarinya saja dia kesulitan.
'Ini lebih dingin dari pada tubuh Yui, bahkan puluhan kali lipat lebih dingin, kenapa dia memberikan pedang ini kepadaku?' Batin Rey yang penasaran dengan alasan Yui memberikan pedang teratai suci kepadanya, karena pedang tersebut bisa saja membuatnya terluka hanya karena aura dinginnya yang dipancarkannya saja, terutama gagang pedangnya yang ternyata menyamai dinginnya bongkahan es.
Walaupun merasakan ribuan jarum seperti menusuk tangannya Rey tetap tidak menampilkan raut wajah kesakitan karena baginya rasa sakit seperti ini hanyalah camilan sehari-harinya, bahkan tidak ada seperempat dari rasa sakit yang ditimbulkan dari efek penggunaan kekuatan kegelapannya.
"Mulai!" Teriak keras wasit tersebut seraya menyingkir dari arena.
Tanpa diduga, mereka semua langsung menyerang Rey dengan serempak, tentu saja hal itu membuat semua penonton terkejut bukan main. Rey yang melihat itu tersenyum sinis, siapa sangka bahwa keempat lawannya berkerja sama mengalahkannya. Rey melesat maju dan dengan cepat dia menebaskan pedangnya untuk menangkis serangan mereka, tetapi karena kekuatannya terlampau jauh dari keempat lawannya itu membuat pedangnya terlepas dari genggamannya.
Tangan Rey terlihat gemetar namun wajahnya masih terlukis senyuman lebar, tidak dia sangka bahwa ada kalanya sang penghancur yang sangat agung sepertinya terdesak hanya karena 4 orang bocah yang bahkan tidak dia anggap sebagai ancaman sama sekali.
"Mampus kau!"
"Mana sikap sombongmu tadi hah?!"
"Cih, ternyata lemah sekali, kukira dia kuat karena bisa mengalahkan putri kaisar, tapi kenyaataanya adalah dia hanya beruntug saja kemarin."
Rey menunjuk musuhnya dan berkata, "Jadi begini ajar-ajaran sekte kalian, 1 lawan 4 apakah itu adil? Dasar banci, sini maju satu per satu kalau berani, apa gunanya pertandingan jika kalian saja berkerja sama mengalahkanku, ckckck"
Para penonton mengangguk setuju, ini adalah pertandingan satu untuk semua, tidak ada kawan yang ada hanya lawan tetapi bagaimana ke empat peserta tersebut dengan tidak tahu malunya mengeroyok seorang bocah yang bahkan lebih muda dari mereka, apa guru mereka tidak mengajari apa itu pertarungan adil pikir mereka semua.
"Benar, dasar pengecut, beraninya keroyokan!"
"Jika aku memiliki murid seperti kalian pasti akan akan kugantung di hutan biar dimakan setan sekalian!"
"Entah berasal dari sekte mana mereka berempat itu karena sungguh baru kali ini aku melihat seorang kultivator aliran putih melakukan hal yang memalukan, tidak sesuai prinsip mereka yang berkata bertarung dengan adil!"
__ADS_1
Mendengar banyaknya penonton memihaknya membuat Rey tersenyum lebar , dia sebenarnya tadi hanya mencoba memprovokasi penonton saja agar lawannya tidak mengeroyoknya dan ternyata rencana tersebut berhasil, kini terlihat bahwa keempat wajah lawannya memerah menahan malu. Mereka melihat Rey dengan tatapan marah karena telah berani mempermalukan mereka. Rey sendiri hanya menanggapinya dengan senyuman belaka, dia menunjuk ke depan dan berkata, "Majulah."
"Rasakan ini!" Ash Shu menebaskan pedangnya ke arah Rey tanpa mempedulikan lagi mengenai reputasinya, dia pastikan akan membunuh Rey dengan tangannya sendiri.
Rey menghindari serangan itu hanya dengan meggerakan kepalanya ke belakang, serangan tersebut melewati wajahnya begitu saja, dia bahkan bisa melihat kilauan pedang tersebut. Ash Shu terkejut, dia ingin menarik kembali pedangnya tetapi responnya sungguh lambat karena Rey tiba-tiba saja meninju tangannya hingga pedangnya terlepas dari genggamannya. Tak berhenti sampai disitu saja, Rey melanjutkan serangannya dengan memegang tangan kanan Ash Shu, memelintirnya, lalu memukul keras sikut tangan kanan Ash Shu sampai terdengar keras bunyi khas patah tulang.
"Arrgggghhhh!" Teriak Ash Shu kesakitan, dia memegang tangan kanannya yang telah patah seraya berguling-guling tanah karena rasa sakit yang tak tertahankan tersebut.
Tanpa mempedulikan teriakan Ash Shu, Rey langsung menendangnya dengan keras hingga keluar garis. Ash Shu pingsan karena tendangan Rey barusan dan dengan segera sang wasit memeriksa keadannya.
'Astaga, semua tulang rusuknya patah begini,' Wasit itu menatap Rey, 'bocah gila ini memperlakukan tubuh anak orang seperti boneka kayu, sampai patah separah ini,' Batinnya sambil mengangkat Ash Shu untuk dibawa ke ruang pemulihan.
Semua penonton terkejut akan tindakan Rey yang dengan brutalnya mematahkan tangan lawannya, tetapi yang lebih mengejutkan bagi mereka adalah kejadian tersebut begitu cepat, bahkan mereka yang seoarng kultivator senior saja tidak bisa menebak serangan Rey, jangankan menebak, menganalisa saja mereka tidak bisa, itu seperti serangan tersebut asal-asalan atau tidak direncakan sama sekali.
Di bangku penonton terdapat 2 orang pria tua, pria tua yang pertama berpenampilan lusuh seperti pengemis, sedangkan yang satunya lagi berpenampilan mewah seperti bangsawan. Mereka berdua sedang mengamati Rey, karena penampilan pertama Rey sebelumnya telah membuat mereka tertarik.
"Bocah itu sama sekali tidak memperkirakan gerakan musuh ataupun serangan yang akan dilakukannya, semua yang dilakukannya itu murni karena insting dan refleknya." Pengemis tua itu mengelus janggut panjangnya.
"Anak itu sangat berbakat, insting dan refleknya dalam pertarungan sangat luar biasa, bahkan melebihiku."
"Bocah itu melebihi kita berdua dan juga bagaimana kau tidak panik saat melihat tangan murid sektemu patah? Apa kau tidak mempunyai rasa simpati sama sekali kepadanya?" Pria tua bangsawan itu menggelengkan kepalanya pelan karena tidak bisa menebak isi pikiran kawannya tersebut.
"Biar dia merasakan apa itu rasa sakit, dia akan belajar untuk tidak terpangaruh akan provokasi lawan karena dia bisa saja mati jika itu pertarungan hidup dan mati." Jawab pengemis tua tersebut.
Pria tua bangsawan itu menaikan satu alisnya dan berkata, "Bukannya ini memang pertarungan hidup dan mati ya? Kan tidak ada larangan membunuh lawannya."
Pengems tua itu mengerutkan dahinya, "Memang siapa yang berani melakukan pembunuhan disini? Jika dia mau menjadi target pembuhan murid sekte yang mereka bunuh ya silahkan, tapi kurasa tidak ada peserta yang akan senekat itu."
Pria tua bangsawan itu menoleh ke arah kawannya dan berkata, "Aku sendiri sebenarnya sangat kagum dengan panitia penyelanggara turnamen ini, mereka cukup pintar untuk menyembunyikan nama sekte para peserta yang ada untuk membuat mereka tidak melakukan pembunuhan karena pastinya para peserta itu harus berpikir ulang untuk melakukan pembunuhan."
__ADS_1
"Sebentar, aku baru sadar jika murid sekte kita ternyata dikalahkan oleh orang yang sama, murid kita sama-sama dibuat sekarat, hahaha."
"Kau benar, muridku Qiao Feng adalah pemuda terjenius yang pernah kulihat, bakatnya dalam mengolah Qi sangat luar biasa, dia bahkan memiliki keberanian yang patut diacungi jempol, tapi saat dia sadar dari sekaratnya tiba-tiba saja dia berteriak histeris dan meracau tidak jelas seraya menangis, aku masih ingat perkataannya saat itu yang mengatakan bahwa dia melihat seorang monster dalam wujud manusia." Tunjuk pria tua bangsawan itu ke arah Rey.
"Mari kita lihat, apa yang akan dilakukan bocah itu menghadapi ketiga lawannya tersebut."
Guo Blok yang melihat saudara seperguruannya tak sadarkan diri dengan kondisi buruk tidak bisa membendung lagi emosinya, aura pembunuh yang sangat kuat terpancar keluar dari tubuhnya, hal itu membuat Xiao Dre dan Jian Cho berlutut karena tak kuat menahan aura tersebut. Rey yang melihat kemarahan di mata Guo Blok tersenyum dan berkata, "Kenapa kau marah? Apa yang kubuat sekarat tadi saudaramu? Jika aku tahu sebelumnya maka aku akan mematahkan seluruh tulang di tubuhnya, jika perlu aku akan membunuhnya tepat di hadapanmu, hahaha!"
Aura pembunuh yang dipancarkan di tubuh Guo Blok semakin kuat yang membuat Xiao Dre dan Jian Cho tak sadarkan diri. Guo Blok menatap Rey penuh kebencian dan berkata, "Akan kubunuh kau!"
"Uuu... takutnya, hahaha!" Rey berpura-pura takut untuk mengejek Guo Blok. Siapa yang bisa membuatnya takut? Orang yang membuatnya takut masih belum lahir ke dunia ini, mungkin tidak akan pernah lahir karena memang tidak ada satupun orang yang membuat dirinya merasakan takut.
Guo Blok yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mencincang tubuh Rey langsung melancarkan serangan, dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mulutnya komat-kamit mengucapkan mantra. Rey menjadi waspada karena pedang itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata, "Kemampuan yang menarik," Ucapnya sambil tersenyum.
Guo Blok tak menghiraukan ucapan Rey dan hal itu membuat Rey kesal. Rey tersenyum lebar, "Sambil komat-kami mulut mbah dukun baca mantra, dengan segelas air putih lalu pasien disembur, Hahahaha!" Ucapnya yang jelas-jelas sedang mengejek Guo Blok.
Rey yang melihat Guo Blok masih komat-kamit mendekat dan tanpa banyak bicara dia langsung memukul wajah Guo Blok hingga terpental keluar garis pembatas. Guo Blok memegang hidungnya yang berdarah, dia menatap Rey penuh amarah dan berkata, "Kau curang! Kenapa kau menyerangku selagi aku tidak siap hah?!"
Rey menaikan alisnya, "Kurasa otakmu itu cukup bodoh, mana ada orang yang senantiasa menunggu musuhnya mengeluarkan jurus terkuatnya terlebih dahulu? Kau pikir aku orang idiot yang akan menunggumu siap? Dasar payah, dasar lemah!" Ucapnya seraya mengarahkan jempolnya ke bawah.
Guo Blok ingin marah tetapi yang dikatakan oleh Rey sangatlah benar, mungkin ini akibat kesombongannya karena telah meremehkan Rey tadi, jadi yang bisa dia lakukan hanya menahan rasa malu.
Wasit itu turun ke tengah arena dan berkata, "Pemenangnya adalah Rey!"
Rey mengambil Pedang Teratai Suci yang ada di lantai karena terlempar sebelumnya, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah penonton seraya melompat-lompat seperti orang gila. Semua penonton bersorak karena mereka sungguh tidak menyangka bahwa seorang bocah bisa keluar menjadi pemenang padahal dikeroyok 4 lawannya sekaligus. Yui dan alinnya juga tak kalah senangnya, terutama Fui, air matanya sampai menetes karena melihat kemenangan yang diperoleh penyelamat hidupnya.
Tiba-tiba Rey diam lalu menoleh ke arah bangku penonton, sekilas barusan dia merasakan aura pembunuh yang sangat kuat terfokus kepadanya dan aura pembunuh itu bukan main-main kuatnya, bahkan tubuhnya sempat kaku hanya karena merasakan sepersekian detik saja.
"Siapa itu? Mau apa dia?" Gumam Rey seraya menggerak-gerakan tubuhnya yang sedikit kaku akibat aura pembunuh barusan. Tidak bisa dia pungkiri lagi bahwa orang yang mengeluarkan aura pembunuh kepadanya barusan merupakan orang yang sudah melakukan pembunuhan dengan jumlah yang fantastis, bahkan dia sangat yakin bahwa orang tersebut belum mengeluarkan seluruh aura pembunuhnya.
__ADS_1
Note : ini dua eps jadi satu dan maaf karena telat upload, saya habis bermain ps sama teman sampai larut malam, biasalah... laki-laki kalo sudah bermain ps pasti lupa segalanya... hahaha.