
Yui ingin sekali menghampiri Rey yang tengah tak sadarkan diri tersebut, namun ayahnya tak memperbolehkannya.
“Jangan mendekat Yui, apa kau tidak melihat aura gelap di sekitar tubuhnya membuat rumput dan tumbuhan mati? Bahkan batu besar itu sampai terkikis akibat aura gelap yang di keluarkan bocah itu” Ucap Patrik Mo yang berusaha mencegah Putrinya agar tidak berbuat hal bodoh.
Semua orang menelan ludah karena melihat aura gelap di sekitar Rey membuat kehidupan apapun perlahan hancur, bahkan batu saja sampai terkikis dibuatnya.
Karena teralu fokus melihat aura gelap Rey membuat mereka semua tidak menyadari bahwa Zenith juga mengeluarkan aura gelap juga. Perlahan namun pasti aura gelap di tubuh Zenith membesar, bahkan sampai membuat segel pelindung hancur seketika.
“Apa yang?!” Ucapan Patriak Mo terhenti karena melihat Zenith yang ternyata kini sudah di selimuti aura gelap yang sangat pekat.
Mereka semua segera mengambil jarak dari Zenith, bahkan para tetua juga mengambil ancang-ancang menyerang.
“Semuanya menjauh!” Teriak Patriak Mo karena mata Zenith tiba-tiba berubah menjadi hitam.
Tentu saja semua orang langsung berhamburan tak tentu arah. Untung saja mereka semua segera menjauh, karena saat ini aura gelap yang menyelimuti tubuh Zenith perlahan-lahan membuat hancur sekitarnya.
“Bagaimana bisa...?!” Patriak Mo tersentak karena tiba-tiba saja Rey berdiri dengan mata yang berubah menjadi hitam sama dengan kondisi mata Zenitih saat ini.
Mereka semua yang memandang mata hitam Rey seketika saja mengalami ketakutan yang luar biasa, seakan-akan mereka mesuk ke dalam jurang kegelapan tanpa batas.
“A-apa-apaan mata itu?!”
“Semuanya menyingkir dari sini! Jika bisa keluarlah dari Sekte ini segera!” Teriak Patriak Mo yang dimana badannya saat ini bergetar hebat karena melihat mata hitam milik Rey.
Mereka semua segera lari menjauh tak tentu arah, tak peduli lagi jika Sekte mereka akan hancur nantinya, karena saat ini nyawa lebih penting dari itu semua. Namun, tidak dengan para Tetua disana, mereka tentu tidak akan membiarkan Patriak Mo berjuang sendiri.
Yui ingin menyadarkan Rey, namun ia tidak bisa karena Ayahnya yang menghalangi dirinya. Dengan terpaksa ia akhirnya menurut ayahnya untuk pergi dari sana mengikuti lainnya.
“Kenapa kalian masih disini?!” Teriak Patriak Mo marah.
“Kami tentu tidak bisa meninggalkan Patriak disini sendiri” Ucap Tetua Fengyi yang di balas anggukan oleh semua Tetua.
__ADS_1
Patriak Mo ingin marah tapi tak bisa, situasi saat ini sangatlah mengerikan karena Rey dan Zenith bisa menghancurkan Sekte mereka, bahkan bukan tidak mungkin kerusakan yang mereka berdua timbulkan meluas sampai ke luar Sekte.
“Kalian semua bantu aku membuat segel penghalang di seluruh Sekte ini, aura mengerikan kedua bocah gila ini dapat membuat semua orang dalam bahaya!” Teriak Patriak Mo dengan keras.
Patriak Mo dibantu oleh semua Tetua disana membuat segel penghalang yang sangat kuat, bahkan mereka sendiri dibuat takjub karena ternyata segel yang mereka buat sangatlah kuat.
Namun, rasa takjub mereka langsung sirna ketika segel penghalang yang mereka buat ternyata tidak dapat menahan aura mengerikan dari Rey dan Zenith.
“Hah, kalian para orang tua di sana, cepat larilah, biar sang penghancur ini yang akan menyadarkan bocah itu” Ucap Rey tiba-tiba yang tentunya membuat mereka semua terkejut.
Melihat mata hitam Rey membuat mental mereka semua terganggu, bahkan Patriak Mo sendiri sampai tak sadar jika kakinya saat ini melangkah ke belakang.
“Apa yang kalian tunggu?! Cepat pergi!” Teriak Rey marah.
Rey saat ini tengah susah payah mengendalikan dirinya agar tidak membunuh siapapun, karena jika dirinya lepas kendali, bukan tidak mungkin dia akan membunuh semua orang yang dilihatnya, tak terkecuali itu ibunya sendiri.
Dengan segera Patriak Mo dan semua Tetua menjauh dari sana. Mereka semua merasakan hal yang sama, yaitu ketakutan yang luar biasa, karena itulah mereka memilih untuk mematuhi perintah Rey.
Aura gelap di tubuh Zenith semakin besar, bahkan sampai membentuk seperti sosok harimau setinggi 1 setengah meter. Aura gelap milik Zenith nampak seperti menantang aura gelap milik Rey,
“Heh, berani sekali kucing kecil sepertimu muncul di depanku!”
Aura gelap di tubuh Rey kembali membentuk mahkota di atas kepalanya, bahkan di belakangnya kini berdiri sosok hitam berzirah setinggi 2 meter.
Sosok hitam berzirah di belakang Rey membuat sosok harimau di tubuh Zenith perlahan memudar, sepertinya sosok harimau tersebut ketakutan melihat sosok hitam mengerikan di belakang Rey.
Rey yang melihat itu tersenyum puas meskipun saat ini dirinya bisa tumbang kapanpun juga. Dia saat ini hanya bermodalkan kenekatan dan kegilannya saja, bahkan tubuhnya dapat tumbang hanya dengan sehelai daun saja.
Semakin Rey mendekat maka semakin pudar pula aura gelap di tubuh Zenith.
Setelah sampai, dengan cepat tangan kiri Rey menyambar leher Zenith, dan memaksanya untuk melihat ke arahnya.
__ADS_1
“Tatap mataku!” Ucap Rey keras.
Zenith memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat mata hitam di depannya, namun dengan segera tangan kanan Rey mencengkram wajah Zenith, dan mengarahkan ke depan wajahnya.
Zenith yang melihat mata hitam Rey langsung tak sadarkan diri seketika, di ikuti oleh lenyapnya aura gelap ditubuhnya.
Ternyata Rey menyegel kekuatan gelap di dalam tubuh Zenith agar tidak membuatnya kerepotan nantinya. Ia bisa saja membunuh Zenith, tapi dia cukup penasaran dengan keberadaan kekuatan gelap tersebut.
Rey melepaskan cengkraman tangannya dari leher Zenith, lalu segera berjalan ke pojokan dan segera duduk sambil menyendehkan badannya.
“Hah, kurasa aku harus mengendalikan nafsu membunuhku di kehidupan kali ini” Batin Rey yang kini matanya perlahan-lahan mulai gelap.
Patriak Mo dan para Tetua tadi segera mendekat kearah Zenith dan Rey. Ternyata mereka sejak tadi memantau keadaan Rey dan Zenith dari atas bangunan Sekte, mereka semua tentu tidak akan melepaskan tanggung jawab begitu saja, mereka semua lebih memilih mati dari pada kabur dari masalah.
“Kedua bocah gila ini mempunyai kekuatan yang sangat mengerikan!” Ucap Patriak Mo.
“Bagaimana ini Patriak? Apa kita bunuh saja mereka? Karena jika dibiarkan pasti akan membuat semua orang dalam bahaya”
“Benar, mereka berdua itu bahkan lebih mengerikan dari pada kultivator aliran hitam sekalipun!”
Semua tetua disana nampaknya setuju untuk membunuh Rey dan Zenith. Mereka semua tentu tidak ingin membuat keadaan semakin parah jika membiarkan kedua bocah gila tersebut tetap hidup.
Namun, nampaknya Patriak Mo tidak menyetujui tentang usulan mereka, karena bagaimanapun Rey dan Zenith adalah bagian dari Sektenya.
“Tidak-tidak, aku tidak mengizinkan kalian untuk membunuh kedua bocah ini, karena bagaimanapun mereka berdua tetaplah bagian dari sekte kita”
“Tapi Patriak…” Salah satu Tetua disana nampak keberatan dengan keputusan Patriaknya. Namun, nampaknya semuanya semua Tetua disana juga keberatan dengan keputusan Patriak Mo yang membiarkan Rey dan Zenith tetap hidup.
“Sudahlah, bawa mereka berdua menuju ruang pemulihan, setelah itu kita akan membahas mengenai ini lebih lanjut”
Meskipun enggan tetapi nampaknya mereka semua tidak ada yang berani membantah keputusan Patriak mereka, dengan segera mereka mengotong tubuh Rey dan Zenith menuju ke ruang pemulihan.
__ADS_1