Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Spesial Edition


__ADS_3

Di sebuah panggung besar nan megah terdapat seorang pria yang berdiri di atas panggung seraya memegang microphone di tangannya, pria itu tak lain adalah si penyanyi terkenal Rey sang penghancur telinga.


Dijuluki sang penghancur telinga bukan karena suaranya jelek melainkan sangat bagus sampai-sampai membuat telinga tuli karenanya.


Rey menatap seluruh penonton di depannya seraya tersenyum manis yang membuat mereka semua berteriak histeris, sebab kebanyakan penontonnya adalah fans-fans wanitanya.


"Kyaaaaa, senyumannya sangat mempesona."


"Aku padamu mas!"


"Aku rela di madu olehmu Rey!"


Rey mengangkat tangannya yang membuat semua penonton seketika hening.


"Kemarin adalah hari ibu, meskipun saya telat mengucapkannya tetapi apa salahnya jika baru mengucapkannya hari ini," Rey berbicara dengan lantang, ekspresinya saat mengatakan hal itu tidak bisa digambarkan oleh kata-kata belaka.


"Saya sebenarnya tidak peduli sama sekali dengan hari ibu, karena saya selalu menganggap semua hari yang ada adalah hari ibu, saya hidup karena ibu, saya ada karena ibu, jadi hidup saya juga untuk ibu,"


Para penonton seketika berkaca-kaca mendengar ucapan Rey yang begitu tulus seperti berasal dari lubuk hati yang terdalam.


"Untuk ibuku yang sedang menontonku dari jauh sana, maafkan anakmu ini yang tidak bisa memelukmu ibu disaat hari ibu tiba, tiada hari tanpa mengingat ibu, bahkan tidurpun selalu mengingat ibu."


Sang ibu Ruo'er menitihkan air mata melihat putra kebanggaannya yang sedang tampil di televisi dengan senyuman, tidak hanya dia saja sebab Yui juga berada di sisinya sedang menemaninya kini.


"Rey sudah dewasa ibu." Ucap Yui seraya memeluk Ruo'er dengan erat, karena bagaimanapun dia sudah menganggap Ruo'er sebagai ibunya.


Kembali lagi ke panggung, Rey sang vokalis bersama dengan bandnya yaitu Zenith sang gitaris, Feng Qiuyu sang piano kini berada di masing-masing standnya tanda mereka bersiap siap.


"Ini untuk ibu kita, bagi kalian ibunya yang telah tiada, percayalah bahwa ibumu sedang melihat kita dari suatu tempat yang jauh dengan senyuman,"


"Hari ini saya akan menyanyikan lagu ciptaan iwan fals yang berjudul ibu."


Rey menatap Feng Qiuyu dan Zenith bergantian, setelah itu Zenith memainkan gitarnya yang di ikuti oleh alunan melodi piano Feng Qiuyu.


Rey menghembuskan nafasnya perlahan seraya menutup matanya. Tak lama kemudian dia membuka matanya dan mulai bernyanyi dengan nada yang membuat siapapun menangis.


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

__ADS_1


Lewati rintang untuk aku anakmu


Ibuku sayang masih terus berjalan


Walau tapak kaki


Penuh darah penuh nanah


Seperti udara


Kasih yang engkau berikan


Tak mampu 'ku membalas


Ibu


Ibu


Ingin kudekap


Dan menangis di pangkuanmu


Bagai masa kecil dulu


Lalu doa-doa


Baluri sekujur tubuhku


Dengan apa membalas


Ibu


Ibu


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh


Lewati rintang untuk aku anakmu

__ADS_1


Ibuku sayang masih terus berjalan


Walau tapak kaki


Penuh darah penuh nanah


Seperti udara


Kasih yang engkau berikan


Tak mampu 'ku membalas


Ibu..


Ibu..


Rey yang sudah menyelesaikan lagunya kini menatap semua penonton di depannya dengan mata yang tengah berkaca-kaca.


"Waaaaaaaa... Aku jadi ingat ibuku yang telah tiada."


"Ibu, maafkan anakmu ini yang tidak bisa membahagianmu sampai akhir hayat."


"Hiks.. hiks, ibu.."


Mereka semua bertepuk tangan seraya menangis, mereka semua saling berpelukan seraya meneriakan kata 'ibu aku cinta kamu'.


Rey yang melihat itu tersenyum, tanpa di duga Zenith dan Feng Qiuyu memeluknya dari belakang seraya menangis.


"Heh kalian ini sungguh cengeng, hiks.."


Mereka bertiga berpelukan tanpa mengeluarkan satu katapun, perasaan mereka semua mengalir apa adanya ditemani oleh hiliran angin yang menerpa pelan wajah serta air mata mereka.


Ruo'er bersama dengan Yui tak bisa lagi membendung air mata melihat pertunjukan Rey yang sangat menyentuh hati itu.


Saya sendiri sama sekali tidak merayakan hari ibu, sebab asalkan bersama dengan ibu semua hari adalah hari spesial bagi saya begitu juga dengan ibu.


Saya hidup karena ibu, saya lahir karena ibu, jadi saya hidup juga untuk ibu.

__ADS_1


Setiap hari akan menjadi spesial jika kalian menikmati setiap moment yang ada, nikmatilah moment bersama keluarga terutama ibu, karena jika ibu telah tiada maka hari ibu akan menjadi kenangan yang sangat menyakitkan.


__ADS_2