
Gadis itu ketakutan melihat Tetua Shen Xuan, dia mencoba tenang tapi tubuhnya menolak, ingin rasanya mengucapkan kata ampunan tetapi mulutnya sama sekali tidak mengikuti kemauannya, jangankan bersuara, bahkan untuk melihat mata Tetua Shen Xuan saja dia tidak berani.
Tetua Shen Xuan sendiri terlihat cuek-cuek saja terhadap gadis muda di depannya, dia melihat tajam ke arah kanan, tepatnya dia melihat ke arah pepohonan yang cukup jauh dari tempatnya. Tetua Shen Xuan sangat tahu bahwa dirinya sekarang tengah diawasi oleh seseorang di pepohonan itu, meskipun samar, dirinya masih bisa merasakan hawa pembunuh yang kental dari pepohonan itu.
Insting Tetua Shen Xuan benar, karena di pepohonan itu terdapat seorang pria misterius yang menggunakan penutup wajah sejak tadi mengawasinya dari kejauhan.
‘Bagaimana bisa dia mengetahui keberadaanku yang sangat jauh darinya?! Kurasa informasi itu benar bahwa ada orang kuat yang menjaga alas purwo, kurasa orang itu penjaganya, melihat dia menghabisi kultivator tingkat emas dan bumi seperti membelah kapas.’ Batin pria misterius itu seraya mengeluarkan keringat dingin.
‘Aku harus melaporkan ini ke markas pusat, para pemimpin harus tahu mengenai kekuatan orang itu.’ Pria itu tiba-tiba menghilang dalam bayangan.
Tetua Shen Xuan yang tak merasakan lagi hawa pembunuh di pepohonan itu segera memalingkan wajahnya kembali untuk melihat gadis di depannya. Badan gadis itu ternyata masih bergetar, bahkan air matanya terlihat mengalir deras di pipinya.
‘Hm, kurasa aku harus menunggu gadis ini sampai tenang.’ Tetua Shen Xuan memilih duduk tak jauh dari gadis itu seraya memejamkan matanya. Dia sangat yakin bahwa gadis itu tidak akan berani melarikan diri darinya.
**
Di kota Chenzu, terlihat perlahan-lahan hujan mulai mereda, hal itu membuat aktivitas kota kembali normal. Rey yang merasakan firasat buruk hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, sesekali dia menghela nafas, dia sama sekali tidak peduli akan bahaya tetapi dirinya sekarang mempunyai keluarga, ikatan seperti itu membuatnya bimbang, dia memang sangat mengharapkan mempunyai keluarga utuh, namun dia tidak menyangkan jika ternyata ikatan keluarga itu membuatnya kebingungan hanya karena adanya bahaya belaka.
__ADS_1
Yui yang melihat Rey menghela nafas memilih bertanya. “Ada apa Rey?” Yui menunjukan ekspresi khawatir, “Apa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?” Lanjutnya.
Rey melihat Yui, dia menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, “Tidak ada.” Entah mengapa melihat ekspresi khawatir di wajah Yui membuatnya senang, yah mungkin karena dirinya tidak pernah mendapatkan perhatian di kehidupan sebelumnya, jadi perhatian perhatian dari orang-orang di kehidupannya sekarang membuatnya merasakan kehangatan.
Zenith dan Feng Qiuyu saling pandang, mereka memikirkan hal yang sama yaitu bagaimana bisa kedua mahluk berbeda kelamin ini menunjukan kemesraan di depan mereka? Apa tidak ada tempat lain apa pikir mereka semua. Fui dan Tetua Fengyi yang notabennya seorang dewasa hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan Rey dan Yui yang tak tahu tempat, tapi mereka memaklumi karena bagaimanapun anak muda seusia Yui dan Rey yang sudah mulai menunjukan ketertarikan pada lawan jenis mereka selalu bersikap seperti itu, bahkan mereka berdua juga pernah mengalaminya saat muda dulu.
“Aku ada urusan, aku akan kembali nanti malam di penginapan sebelumnya.” Rey langsung melangkah pergi dari restoran. Dia tidak peduli dengan teriakan orang-orang yang bertanya mengenai tujuannya, dia perlu memastikan sesuatu yang mengganjal di pikirannya dan tentu saja dia sama sekali tidak ingin urusannya diganggu oleh siapapun.
Rey berjalan santai melewati rumah demi rumah, tujuannya adalah pintu gerbang Kota Chenzu. Saat di perjalanan dia secara kebetulan melewati kediaman walikota Yi Fan tempat dimana dia membunuh orang yang memperkosa Fui. Terlihat kediaman kota Yi Fan di padati oleh pasukan kekaisara, Rey yang penasaran dengan apa yang tengah terjadi memilih mendekat ke arah bangunan megah itu.
“Ada apa ini?” Tanyanya pada salah satu orang di sana.
Mata Rey terlihat melotot, perlahan-lahan dia mundur dari kerumuman, dia tidak menyangka bahwa yang dia bunuh semalam adalah Walikota kota Chenzu itu sendiri. Rey memang sangat suka kerusuhan bahkan dia sangat suka diburu, namun kekuatannya sekarang masih lemah yang dimana itu bisa berakibat fatal jika dirinya benar-benar jadi target buruan oleh 1 kekaisaran.
Namun entah mengapa, padahal dirinya sekarang dalam bahaya tetapi jantungnya berdetak keras, tubuhnya berkeringat dingin, bibirnya tersenyum sendiri. Benar, dia sangat menantikan saat-saat ini, saat dimana dia menjadi buronan 1 kekaisaran, jadi dirinya tidak perlu lagi membuat kerusuhan nantinya, namun tiba-tiba saja senyumnya menghilang.
‘Ahh, benar.. aku masih punya keluarga, mereka pasti akan terkena imbas jika aku menjadi buronan, bahkan mungkin Yui juga terkena imbasnya, hais.’ Rey menggelengkan kepalanya pelan seraya menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia baru tahu jika mempunyai ikatan ternyata berdampak akan kebebasannya, mau tak mau dirinya harus menjadi kuat terlebih dahulu agar bisa membasmi orang-orang yang dia anggap musuh seraya melindungi orang-orang yang menjalin ikatan dengannya.
__ADS_1
Rey melanjukan perjalanannya, tapi kali ini dia lompat dari rumah ke rumah agar lebih cepat, itu dikarenakan jalanan yang dipadati oleh orang-orang. Rey sama sekali tidak peduli akan teriakan orang-orang dibawahnya, bahkan sesekali dia menginjak kepala orang saat dirinya terpeleset dari atap.
Setengah jam berlalu, akhirnya dia sampai ke pintu gerbang, dia melewati pemeriksaan dengan sangat cepat, itu karena memang dirinya tidak membawa apapun. Seharusnya Rey bisa saja melompati tembok pembatas Kota Chenzu, hanya saja karena saat ini siang hari jadi dia tidak ingin terlihat mencolok, berbeda dengan kemarin malam yang memang sama sekali tidak ada orang lalu lalang.
Rey berjalan menuju ke dataran tinggi yang terletak cukup jauh dari Kota Kekaisaran. Tujuannya adalah melihat situasi dari ketinggian, karena bagaimanapun dataran tinggi membuatnya dapat melihat hal-hal di sekitarnya dengan jelas. Saat di perjalanan, Rey tak sengaja berpapasan dengan pegasus, tentu saja hal itu membuat pegasus itu tersedak batu yang dia makan.
“Khihihihik?!” Translate \= “Orang gila ini lagi?!”
“Hei kuda bobrok, siapa sangka kita akan bertemu lagi, kukira kau sudah kembali ke kawananmu.” Rey berjalan mendekat ke arah pegasus. Terlihat bibir Rey membentuk lengkungan, hal itu membuat pegasus merinding, entah mengapa melihat senyuman di bibir Rey membuatnya merasakan firasat buruk.
Tanpa diduga, Rey tiba-tiba menaiki punggung pegasus, pegasus itu sendiri hanya bisa pasrah, ras demigod memang sangat kasar tetapi kebrutalan mahluk yang bernama Rey ini melebihi batas, tidak hanya brutal, bahkan kegilaannya sendiri sudah di luar batas akal sehat, kuda sepertinya saja di ajak balapan, manusia mana yang beradu kecepatan dengan seekor kuda?.
“Kau antarkan sang penghancur ini ke bukit itu.” Tunjuk Rey ke bukit tujuannya tadi.
“Khihihik.” Translate \= “Baiklah.”
Pegasus dan Rey terbang tinggi dengan kecepatan rendah menuju bukit itu. Rey sendiri terlihat menikmati angin sejuk yang menerpanya, dia menghidup udara itu pelan lalu menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
‘Memang udara setelah hujan memang yang terbaik.’
Note : Saya masih ada praktikum sampai minggu depan, saya menjainjikan crazy up tapi setelah selesai praktikum saja ya, jadi satu minggu ke depan saya hanya bisa mengupdate 1-2x perhari.