
Setelah menyerap seluruh jiwa semua bandit tersebut membuat jiwa psikopat Rey menggelora, nafsu membunuhnya sudah berada di level membahayakan, karena itu dia saat ini tengah mempreteli tubuh mayat-mayat kering di depannya agar dirinya tidak lepas kendali.
“Hahahaha! Akan kubongkar semua tubuh kalian!”
Bukannya tambah sadar Rey malah semakin menggila, dia mencoba sebisa mungkin untuk tidak menoleh ke arah Tetua Fengyi, namun rasa ingin membunuhnya terlalu kuat sehingga tubuhnya otomatis bergerak mendekat ke arah Tetua Fengyi.
Sesaat sebelum tangan Rey menyentuh Tetua Fengyi, tiba-tiba saja dia menggelengkan kepala dengan kuat, inilah yang dia khawatirkan ketika menggunakan kekuatan kegelapannya.
“Hah… tenangkan dirimu Rey, jangan sampai kau dikuasai oleh kekuatanmu sendiri.” Rey berusaha menenangkan dirinya sendiri, karena jika dia menggila maka bukan tidak mungkin nyawanya akan melayang sebab tubuhnya saat ini sudah diambang batas akibat terlalu memaksakan diri.
[Blarrrrrrr]
Rey memukul pohon tepat di belakang Tetua Fengyi hingga tumbang untuk melampiaskan nafsu membunuhnya, dan benar saja karena saat ini aura gelap di tubuhnya perlahan lenyap, mahkota yang awalnya terbentuk di atas kepalanya perlahan juga ikut menghilang.
Mata Rey terlihat kembali normal, hanya saja badannya kini bergetar hebat akibat efek menggunakan kekuatan gelap barusan. Pandangan matanya perlahan mulai menggelap, tetapi sebisa mungkin dia tetap mempertahankan kesadarannya.
Rey mengeluarkan api sucinya dan mengarahkannya kepada Tetua Fengyi, karena bagaimanapun Tetua Fengyi hanyalah seorang manusia normal, berebda dengannya si manusia abnormal anti santet.
Api suci tersebut membungkus semua tubuh Tetua Fengyi, dan hanya dalam 10 menit saja semua luka di tubuh Tetua Fengyi telah sembuh sepenuhnya, bahkan tidak terlihat sama sekali bekas lukanya.
Rey segera menarik kembali api sucinya untuk menyembuhkan semua bagian tubuhnya, karena luka yang dia derita cukup parah walaupun luka tersebut tidak nampak dari luar.
Saat ini, Rey merasa seluruh tubuhnya dicabik-cabik, tidak bisa dipungkiri jika rasa sakit yang dia derita sangatlah menyakitkan, bahkan seluruh pandangannya kini telah sepenuhnya gelap menyisakan sedikit kesadaran saja.
Tetua Fengyi perlahan membuka matanya menandakan dia telah sadar, dia cukup terkejut melihat semua luka ditubuhnya menghilang.
“Ba-bagaimana bisa?!” Tetua Fengyi menampar-nampar pipinya, dia merasa seperti bermimpi karena tidak mungkin sebuah luka akan hilang dalam sekejap saja.
Tetua Fengyi teringat dengan Rey, dia menengok ke sekitarnya untuk mencari Rey, dan betapa terkejutnya dirinya karena melihat Rey dalam keadaan berbaring yang dimana tubuhnya diselimuti oleh benda berwarna putih. Dia lantas melihat ke segala arah untuk mencari bandit-bandit yang menyerangnya tadi, namun dirinya tidak menemukan satu orang bandit pun di sana.
“Kemana bandit-bandit tadi? Ah, sudahlah itu tidak penting, yang lebih penting sekarang adalah bocah itu.”
Tetua Fengyi terkejut melihat benda putih yang awalnya menyelimuti tubuh Rey lenyap, namun dia tidak mempedulikan itu, lalu segera mendekati Rey untuk memeriksa keadaan bocah gila tersebut.
Tetua Fengyi menyentuh tubuh Rey dan tiba-tiba saja mata bocah gila di depannya terbuka, karena terkejut Tetua Fengyi malah menampar kepala Rey dengan keras. Mata Rey tambah melotot, rasa sakit yang dia derita bertambah karena tamparan Tetua Fengyi, walaupun sudah menggunakan api suci tetap saja tubuhnya itu bukan terbuat dari baja anti santet.
“Bo-bocah apa kau baik-baik saja.” Tetua Fengyi sangat khawatir dengan keadaan Rey, karena bagaimanapun bocah yang selalu bertingkah layaknya orang kesurupan sekarang malah berbaring tak berdaya, dan hanya bisa melototkan mata kepadanya.
“Awas kau orang tua udik, kuparut wajahmu nanti.” Rey sangat ingin mencabut lidah orang tua udik di depannya, namun karena tubuhnya saat ini dalam keadaan kritis, bahkan untuk berbicara saja tidak bisa, jadi dia hanya bisa melototkan matanya saja.
Karena tidak ingin membuat murid-murid lainnya khawatir dengan mereka, membuat Tetua Fengyi menggotong tubuh Rey, lalu segera kembali ke tempat sebelumnya. Tentu saja kelakuannya itu membuat mata Rey berair, jangankan di pegang, bahkan jika sekedar disentuh saja maka Rey akan merasakan kesakitan yang luar biasa.
__ADS_1
Namun, Tetua Fengyi tidak tahu akan hal itu, dan terus menggendong tubuh Rey dengan santai tanpa tahu jika yang dia gendong tengah menatap dirinya dengan ganas.
**
Semua murid terlihat kalang kabut karena tak kunjung melihat Rey dan Tetua Fengyi kembali, Feng Qiuyu sejak tadi menangis tak henti-hentinya walaupun sudah dibujuk oleh Zenith dan murid-murid lainnya.
“Hiks… hiks, Ayah kumohon kembalilah dengan selamat.” Feng Qiuyu hanya bisa berharap jika semuanya akan baik-baik saja, karena dia pasti akan menjadi gila jika ayahnya tersebut terbunuh karena melindungi dirinya.
Zenith sendiri sangat mengkhawatirkan keadaan Tetua Fengyi dan Rey, dia bersumpah untuk tidak akan takut menghadapi apapun ke depannya, karena tidak ingin kejadian saat ini terulang kembali yang dimana dia hanya bisa melihat saja tanpa berusaha bertindak layaknya laki-laki sejati.
Namun, rasa kekhawatiran mereka segera sirna karena melihat dua orang yang sejak tadi mereka khawatirkan. Mereka semua segera berlari mendekati Tetua Fengyi yang sedang menggendong tubuh Rey, mereka tentu terkejut melihat mata Rey yang melotot tajam layaknya orang anti berkedip.
Feng Qiuyu ingin memeluk sang ayah, namun ayahnya itu mengghentikannya dan berkata, “Lebih baik kita melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari sini ada sebuah desa kecil bernama Desa Air Hujan, karena hari sudah semakin gelap,”
“Kita akan mencari penginapan di sana nanti, karena bocah gila ini dalam keadaan sekarat sekarang.” Lanjut Tetua Fengyi.
Mereka semua ingin bertanya mengenai para bandit sebelumnya namun mereka langsung mengyrungkan niatan tersebut saat melihat mata Rey yang melotot dengan ganas.
Dalam perjalanan, mereka semua tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun, karena saat ini mereka tengah memikirkan kembali ucapan Rey sebelumnya yang menyebut mereka pengecut. Mereka tentu tidak ingin disebut sebagai pengecut, tetapi kenyataannya adalah mereka semua memanglah seorang pengecut yang sok berani.
Berbeda dengan Feng Qiuyu dan Zenith, karena dipikiran mereka saat ini adalah bagaimana caranya agar mereka menjadi seperti Rey yang tidak takut pada apapun. Meskipun Rey adalah bocah gila yang kewarasannya patut dipertanyakan, tetapi semua tindakan yang dia lakukan sangatlah berani, tidak peduli sebesar apapun resiko yang dia hadapi Rey tidak akan pernah mundur, itulah yang membuat Feng Qiuyu dan Zenith menjadikan dia sebagai contoh.
**
“Hah, harus mencari kemana lagi ini?” Gumam Tetua Fengyi yang saat ini merasa lelah, bahkan punggunya sendiri sudah encok akibat menggendong Rey seharian, tetapi bagaimanapun juga dia harus menemukan sebuah penginapan saat ini.
Mereka semua akhirnya melanjutkan pencarian, dan betapa girangnya mereka saat menemukan sebuah penginapan kecil yang ternyata masih buka.
Tetua Fengyi membunyikan lonceng, lalu muncul seorang pria tua seumurannya menghampirnya.
“Apa anda pemilik penginapan ini?” Tanya Tetua Fengyi dengan sopan.
“Benar, apa tuan ingin memesan penginapan ini?” Jawab pria tua tersebut seraya balik bertanya.
“Ah, kebetulan sekali, jika begitu kami menyewa 5 kamar untuk satu malam.”
“Maaf tuan, tapi penginapan ini hanya memiliki 2 kamar saja, apa tuan masih ingin menyewanya?”
Tetua Fengyi tidak langsung menjawab pertanyaan pria tua itu, dia saat ini tengah bimbang karena tidak mungkin baginya membiarkan murid-muridnya tidur di luar. Dia bisa saja mencari penginapan lainnya tetapi dia sendiri ragu jika ada penginapan yang masih buka selain penginapan ini.
Tetua Fengyi menengok ke arah Rey yang ternyata tengah tertidur dipunggungnya, sebenarnya Rey tengah dalam keadaan tak sadarkan diri karena tidak kuat menahan rasa sakit ditubuhnya.
__ADS_1
“Baiklah, berapa biaya sewa 2 kamar itu?” Tetua Fengyi memutuskan untuk memesan 2 kamar itu, 1 untuk Rey, dan 1 lagi untuk putrinya bersama dengan murid-murid perempuan lainnya.
“20 koin perak tuan.”
Tetua Fengyi menyerahkan 20 koin perak tanpa basa basi meskipun dia tahu jika harga tersebut tidaklah wajar, karena sebuah penginapan mewah saja hanya membutuhkan hanya membutuhkan 5 koin perak per malamnya, namun karena dia tidak ingin membuat murid-muridnya tidur di jalan akhirnya mau tak mau dia harus membayar mahal untuk sebuah penginapan bobrok tersebut.
“Ini tuan kuncinya, kamarnya berada di lantai 2 tepat berada di samping tangga.” Pria tua itu menyerahkan kunci kamar seraya tersenyum cerah, dia tentu sangat bahagia karena bisa mendapat 20 koin perak karena 2 buah kamar bobrok yang harganya tak seberapa itu.
“Sebentar, apa kami bisa menggunakan ruangan ini untuk beristirahat sampai pagi hari?” Tanya Tetua Fengyi.
“Silahkan tuan, saya akan memberikan beberapa selimut untuk menghangatkan tubuh kalian.” Jawab pria tua tersebut.
Tetua Fengyi memanggil putrinya, dan berkata, “Putriku, kau ajak kedua teman perempuanmu menuju ke kamar, ini kuncinya.”
“Untuk sisanya, kalian akan tidur bersamaku di ruangan ini, apa kalian keberatan?” Tanya Tetua Fengyi yang dibalas gelengan kepala oleh semua muridnya.
“Baiklah, kalian semua silahkan tidur terlebih dahulu, karena aku akan membawa bocah ini ke kamarnya.” Ucap Tetua Fengyi seraya membawa Rey menuju ke kamar.
Karena pinggangnya encok membuat Tetua Fengyi langsung melemparkan Rey seperti sampah ke tempat tidur, lalu segera pergi dari sana tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Tetua Fengyi tidak tahu jika mata Rey kini terbuka lebar, bahkan terlihat tubuhnya saat ini bergetar hebat karena harus kembali merasakan rasa sakit yang tidak bisa digambarkan oleh sejuta kata sekalipun.
"Awas kau nanti orang tua udik!" Batin Rey marah yang dimana ekspresinya saat ini seperti orang yang menahan mulas selama setahun.
Tak lama kemudian akhirnya Tetua Fengyi turun dari tangga, dia tersentak ketika melihat semua murid-muridnya tengah tertidur pulas.
“Hah, dasar bocah, padahal umur mereka sudah beranjak remaja.” Tetua Fengyi menggelengkan kepala pelan.
Tetua Fengyi mengambi posisi berbaring karena punggungnya saat ini tengah encok parah akibat menggenong Rey seharian. Mata Tetua Fengyi tetap terbuka, dia memang tidak membutuhkan tidur karena dapat mengolah Qi di tubuhnya agar dirinya tetap terjaga semalaman.
“Pergilah!”
“Jangan bunuh kami!”
“Tidak!”
Tetua Fengyi tentu terkejut karena mendengar teriakan murid-muridnya, meskipun begitu dia tetap tenang karena dia tahu jika murid-muridnya tersebut tengah bermimpi buruk akibat kejadian tadi.
Dia tiba-tiba saja teringat akan kenangannya dulu saat bersama sahabatnya Patriak Mo, karena dia dulu juga pernah mengalami mimpi buruk setelah membunuh orang, namun bedanya adalah dia tidak berteriak seperti murid-muridnya sekarang melainkan membacok kaki Patriak Mo dengan golok karena mimpinya tersebut.
“Hahaha, sungguh masa-masa indah.”
__ADS_1