Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 41 - Mencari Gara-gara


__ADS_3

Saat ini, Rey, Zenith, dan Feng Qiuyu sedang menunggu Tetua Fengyi yang sedang berbicara dengan panitia mengenai kekurangan anggota tim mereka. Tak lama kemudian Tetua Fengyi menghampiri mereka bertiga dengan senyuman, nampaknya pembicaraan barusan membuahkan hasil.


“Panitia tidak melarang sekte yang kekurangan anggota tim, jadi kalian masih boleh mengikuti turnamen ini,”


“Ingat, jangan sampai terbunuh, nyawa kalian lebih penting dari apapun.” Ucap Tetua Fengyi yang khawatir dengan ketiga muridnya tersebut terutama putrinya Feng Qiuyu, dia tentu tidak ingin pulang sendirian membawa kabar duka ke Sekte Laut Biru.


“Heh, biasa aja dong orang tua, jika sang penghancur ini mati pasti kau yang akan kutemui setiap malam, hahaha!” Rey malah tertawa riang seperti tidak takut akan kematian, berbeda dengan Zenith dan Feng Qiuyu yang malah berusaha menenangkan diri masing-masing sebab mereka akan memasuki medan kematian.


“Feng Qiuyu, sebaiknya kau selamat.” Ucap Tetua Fengyi seraya mengusap pelan kepala putrinya Feng Qiuyu.


“Baik Ayah.”


Akhirnya mereka bertiga melangkah pergi menuju asrama yang telah disiapkan oleh panitia, di sana mereka akan istirahat sebelum mengikuti turnamen besok, sedangkan Tetua Fengyi hanya bisa melihat ketiga muridnya tersebut dengan pandangan penuh harap.


Flashback


Rey yang tak sadarkan diri membuat Feng Qiuyu panik bukan main, apalagi suhu tubuh Rey yang semakin dingin layaknya mayat membuat Feng Qiuyu bingung harus melakukan apa.


“Ba-bagaimana ini?!” Feng Qiuyu tidak tahu harus menghangatkan Rey memakai apa, jadi dia hanya bisa memeluk Rey dengan erat karena mungkin suhu tubuhnya bisa membuat tubuh Rey sedikit hangat.


Namun, ternyata apa yang dilakukannya tidak membuahkan hasil, sebab suhu tubuh Rey semakin lama semakin dingin. Melihat ketiga orang yang sedang tak sadarkan diri membuat Feng Qiuyu tak bisa menahan air matanya, dia seorang diri tak tahu harus melakukan apa agar ketiga orang itu sadar, apalagi Rey yang keadaannya sangatlah buruk.


“Hiks… hiks, aku mohon bangunglah.”


Pegasus berusaha menenangkan Feng Qiuyu dengan cara menggosok-gosoan kepalanya ke wajah Feng Qiuyu, tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil sama sekali.


Tak lama kemudian Tetua Fengyi akhirnya sadar disusul oleh Zenith, mereka berdua saling pandang karena mereka tidak ingat apapun termasuk bagaimana mereka bisa tak sadarkan diri. Tetua Fengyi merasakan sakit di bagian wajah dan lehernya, entah apa penyebabnya tetapi yang pasti dia merasakan nyeri dikedua bagian tersebut.


Sedangkan Zenith samar-samar mendengar suara tangisan perempuan, dia pun berdiri untuk memeriksa keadaan, dan betapa terkejutnya dia melihat Feng Qiuyu yang sedang memeluk Rey berada tak jauh dari mereka.


“Tetua Fengyi putrimu?!” Zenith menunjuk ke suatu arah yang membuat Tetua Fengyi terkejut bukan main.


Mereka berdua langsung berlari menghampiri Feng Qiuyu. Setelah sampai mereka berdua dikejutkan dengan Rey dalam kondisi kritis.


“Putriku, apa yang sebenarnya terjadi?! Mengapa dia sampai seperti ini?! Kemana murid-murid lainnya?! Dan juga mengapa juga Ayah dan Zenith tidak sadarkan diri tadi?!” Tetua Fengyi menghujani pertanyaan demi pertanyaan kepada Feng Qiuyu.


Feng Qiuyu tidak menjawab sebab dia terlalu terkejut dengan semua hal yang menimpanya, bahkan dia tidak sadar jika Ayahnya dan Zenith telah berada di sampingnya.


Saat Tetua Fengyi sedang berusaha menenangkan putrinya Feng Qiuyu, Zenith melihat seekor kuda yang mirip seperti kemarin, ia lantas mendekati kuda tersebut.


“Bukannya kau kuda yang kemarin? Sedang apa kau di sini?”


Pegasus tidak menjawab pertanyaan Zenith karena memang dia tidak bisa bicara, dia hanya menoleh sebentar ke arah Zenith lalu kembali menoleh ke depan.


Zenith penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh kuda di dekatnya saat ini, ia mengikuti pandangan kuda di sampingnya dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat bagian tubuh yang bertebaran dimana-mana.


“Huekkkkkk..” Zenith muntah-muntah karena tak kuat melihat pemandangan menjijikan di depannya tersebut.


Zenith dengan wajah pucatnya berjalan sempoyongan ke arah Tetua Fengyi. Setelah sampai, Zenith langsung menceritakan apa yang dilihatnya, tentu saja ucapannya itu membuat mata Tetua Fengyi melotot.


Dengan segera Tetua Fengyi berlari ke arah yang ditunjuk oleh Zenith, dan betapa terkejutnya dia melihat bagian tubuh manusia yang bertebaran dimana-mana.


Tetua Fengyi berjalan mendekati mayat-mayat itu untuk mencari informasi, dia tekejut saat melihat orang tanpa kaki dan tangan tengah melotot kearahnya, namun saat dia periksa ternyata orang tersebut telah tewas, mungkin kehabisan darah pikirnya.

__ADS_1


“Hm, sunguh kejam.” Batin tetua Fengyi sambil memeriksa baju mayat tersebut.


Tetua Fengyi mencoba membersihkan darah yang menempel di baju mayat itu, dia dikejutkan dengan simbol yang terukir di baju mayat tersebut.


“Simbol ini?! Bukannya ini simbol Sekte Darah?!”


Sekte Darah adalah salah satu sekte besar aliran hitam yang sudah terkenal akan kekejamannya, mereka membantai apapun yang dilihatnya, mereka sangat disegani oleh sekte aliran hitam lainnya, sedangkan bagi sekte aliran putih mereka adalah momok menakutkan yang patut dihindari, bahkan tak sedikit sekte aliran putih yang harus hancur karena berselisih dengan mereka.


“Siapa yang berani melakukan ini? Apa dia tidak takut diburu oleh Sekte Darah?” Batin Tetua Fengyi sambil berjalan kembali menuju Putrinya Feng Qiuyu.


“Putriku, apa yang sebenarnya terjadi? Dan dimana teman-temanmu?” Tanya Tetua Fengyi untuk memastikan bahwa diantara mayat-mayat tadi bukanlah murid-muridnya, karena dia tidak bisa mengidentifikasi wajah mayat-mayat tadi, sebab wajah mereka sudah hancur lebur seperti habis diparut.


Pikiran Tetua Fengyi tidak salah sebab Rey memang menggosok-gosokan wajah mereka semua ke tanah sampai wujudnya berubah menjadi Slenderman yang terkenal dengan wajah ratanya, entah ngidam apa emaknya sampai-sampai Rey besarnya menjadi psinolep(Psikopat Nolep).


“Mereka semua mati disambar petir, kau pun sama, jika bukan sang penghancur ini yang menyelamatkan kalian, pasti kalian sekarang jadi santapan mahluk besar itu.” Tiba-tiba saja Rey yang tengah tak sadarkan diri mengoceh yang membuat Feng Qiuyu girang bukan main.


“Rey, a-aku kira kau tidak akan pernah bangun lagi.” Feng Qiuyu menangis bahagia, bahkan ayahnya sadar saja tidak dia pedulikan sama sekali.


Rey sendiri bingung, bagaimana dirinya bisa tiba-tiba sadar? Dia sudah memperhatikan mulai kemarin, semakin banyak dirinya membunuh maka semakin kuat juga dirinya. Rey tidak sadar jika dia bisa menghisap jiwa-jiwa orang mati, mungkin hanya roh saja yang dapat melihat sosok asli Rey sangatlah mengerikan.


Sebenarnya Rey bisa melihat roh dengan mata iblisnya. Saat Rey berkata mengenai setan, roh, dan dedemit lari saat bertemu dengannya bukanlah omong kosong, mereka benar-benar lari saat bertemu dengannya.


Entah apa penyebabnya, Rey selalu berpikir tidak mungkin mereka takut dengan kekuatannya, sebab dia saja tidak bisa menyentuh mereka begitu juga sebaliknya, ya bagaimana bisa disentuh? Itu Dedemit coy.


Tetua Fengyi tentu tidak langsung percaya begitu saja dengan ucapan Rey, begitu juga dengan Zenith, tapi mereka berdua percaya bahwa otak Rey memang sudah konslet sejak lahir.


“Ngelantur apa sih kau ini Rey, jangan bercanda lah.” Ucap Zenith seraya menepuk-nepuk pundak Rey dengan keras, tentu saja kelakukannya itu membuat mata Rey melotot.


Rey lalu menceritakan sedetail-detailnya mengenai yang terjadi, tak luput dari pembantaian yang dia lakukan gara-gara burungnya lepas(Burung benaran, bukan burung yang dibawah sono). Rey tidak menutupi apapun karena memang otaknya sedikit konslet, jadi apapun akan dia jelaskan, bahkan saat dia melihat tubuh Feng Qiuyu yang Wow.


Tetua Fengyi terduduk lemas, dia tidak percaya jika murid-murid yang kemarin tidur bersama dengannya kini telah tiada, apa yang akan dia katakan pada Patriak Mo nantinya? Tapi yang jelas dia tidak bisa pulang begitu saja tanpa membawa apapun selain kabar duka. Sedangkan Zenith biasa saja, sebab dia memang tidak peduli dengan mereka semua, kenal aja enggak pikirnya.


Tetua Fengyi menghirup nafas pelan, lalu mengeluarkannya perlahan, “Aku memberikan kalian dua pilihan, pertama kita tetap mengikuti turnamen atau kita akan pulang.”


“Heh, tentu saja lanjut! Enak saja langsung pulang, sang penghancur ini hampir mokad 2 kali, kalian saja sudah disambar petir kemarin, sudah menghadapi kematian demi mencapai tujuan terus kalian ingin pulang? Kusumpahin kesambar petir lagi kalian.” Ucap Rey kesal.


Zentih dan Feng Qiuyu mengangguk setuju, sepertinya mereka berdua termakan ucapan Rey, padahal Rey hanya asal ucap aja, tidak jadi mengacau di turnamen pasti dirinya akan mengacau di tempat lain.


Ora rusuh... ora party, begitulah pikiran Rey.


“Hah… baiklah, aku pun setuju dengan kalian, karena bagaimanapun kita harus pulang membawa sesuatu, tidak mungkin bagi kita hanya pulang membawa kabar duka belaka.”


Akhirnya mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan Rey yang menaiki pegasus. Pegasus sebenarnya ingin kabur dari sana, tetapi dia terlalu takut untuk bertemu dengan mahluk besar kemarin (Naga), disamber gledek seperti kemarin auto mokad pikirnya.


Karena tidak ada halangan berarti saat diperjalanan, membuat mereka berempat + pegasus sampai ke Istana Kekaisaran Chen dalam waktu 1 hari saja.


Flashback selesai


Mereka cukup terkejut saat memasuki asrama yang ternyata peserta turnamen sangatlah banyak, bahkan kekuatan orang-orang itu melebihi mereka semua.


Rey melihat-lihat semua orang yang ada di sana, tentu saja tujuannya satu yaitu membuat kerusuhan agar dirinya tidak perlu mencari musuh lagi nantinya.


“Rey, apa kau tidak takut?”  Tanya Feng Qiuyu, Zenith juga ikut mengangguk sebab dia cukup penasaran dengan Rey yang hobi membuat kerusuhan dimana-dimana.

__ADS_1


“Tidak.”


“Apa kau tidak gugup sedikitpun?” Tanya Zenith.


“Tidak.” Jawab Rey singkat.


“Apa kau..”


“Tidak! Sang penghancur ini anti gugup, anti takut, anti mokad, anti santet, anti bacok, intinya anti semuanyalah, jadi berhentilah bertanya hal yang tidak penting, kalian membuat telingaku tuli.” Ucap Rey kesal, padahal dia sedang berpikir mengenai rencananya untuk membuat kerusuhan nanti, tetapi kedua bocah yang sejak tadi ngerocos membuatnya kesulitan berpikir.


Zenith dan Feng Qiuyu tersenyum, ternyata ada kalanya Rey si mahluk penuh bacot diam, tentu saja mereka memanfaatkan hal itu untuk menganggunya.


[Brakkkkk]


Rey dengan sengaja menabrak pemuda berbadan besar di depannya, biasa cari gara-gara terlebih dahulu untuk kerusuhan nantinya.


“Hey bocah sinting, berani sekali kau menabrakku?” Ucap pemuda berbadan besar itu dengan sombong.


Rey tersenyum lebar, lalu berkata, “Oh, terus kenapa jika aku memang menabrakmu? Mau nangis? Kau ngadu saja sana sama bapakmu!”


Ucapan Rey membuat seluruh orang di dalam asrama tertawa terpingkal-pingkal, namun tidak dengan Zenith dan Feng Qiuyu yang malah ketakutan sebab mereka bisa jadi ayam geprek jika melawan orang-orang tersebut.


“Kau?!” Pemuda itu mengeluarkan pedang dipinggannya lalu mengarahkannya ke leher Rey hingga lehernya sedikit berdarah.


Rey tersenyum, jiwa psikopat sintingnya terbangun, tapi baru saja dia akan mengeluarkan pedangnya, tiba-tiba saja seorang pria paruh baya menghentikannya.


“Dasar bocah, nanti saja kalian saling tebas, jangan di sini.” Ucap Pria paruh baya itu yang tak lain adalah Jendral Chen, beliau ke asrama karena penasaran dengan peserta turnamen tahun ini.


Namun, mereka semua tidak tahu jika yang berbicara dengan mereka saat ini adalah Jendral Chen, karena memang hanya generasi tua saja yang mengetahui tentangnya, sebab dia tidak pernah tampil di depan publik.


Sudah bisa di tebak apa yang terjadi bukan? Rey dan pemuda tersebut saling menyerang tanpa peduli dengen Jendral Chen sama sekali.


Sedangkan Jendral Chen hanya melihat itu semua dengan pandangan penuh kekaguman, apalagi saat melihat Rey dengan pedang besarnya ternyata mampu mengimbangi pemuda berbadan besar yang jelas-jelas mempunyai kekuatan jauh diatasnya.


“Bacok coy!”


“Sikatttttttt!”


“Hajarrrrrrr!”


Melihat situasi yang mulai memanas, Jendral Chen langsung mengeluarkan auranya untuk menghentikan keributan yang terjadi, tentu saja auranya itu membuat semua orang di dalam asrama bertekuk lutut, bahkan Rey sendiri sampai muntah darah.


“Simpan tenaga kalian untuk besok.” Ucap singkat Jendral Chen seraya melangkah pergi dari asrama.


Rey dan pemuda berbadan besar itu saling pandang, di dalam hati masing-masing sudah menentukan target yang akan mereka habisi.


Rey tidak tahu jika pemuda yang dilawannya barusan sebenarnya hanya menggunakan kekuatan fisik saja saat melawannya, Rey juga menggunakan kekuatan fisik saja tanpa embel-embel kekuatan gelapnya.


Perbedaannya adalah Rey memang tidak mempunyai tenaga dalam, sedangkan pemuda itu mempunyai tenaga dalam, bayangkan saja jika pemuda tadi menggunakan tenaga dalam, sudah bisa dipastikan bahwa Rey akan menjadi pihak yang dirugikan.


Namun, apa Rey sudah bisa dikatakan sebagai pihak yang akan kalah? Tentu saja tidak, karena bermacam-macam ide gila di otaknya mampu membuat situasi apapun berpihak kepadanya.


Belum lagi Rey memilik kartu As yang belum dikeluarkannya seperti sifat sinting-gila-miring dan kekuatan gelapnya, hanya dengan mengeluarkan kedua kartu Asnya itu saja dapat membuat Rey layaknya gladiator anti santet, apalagi jika mengeluarkan semuanya? Pasti dia akan menjadi gatot kaca anti rudal, bahkan mungkin anti nuklir.

__ADS_1


__ADS_2