
Sulit percaya bahwa bocah yang membuatnya kena mental ternyata merupakan sosok perempuan bertubuh mungil. “Tubuh kecil dan imut begini kok kelakuannya seperti kecoak? Apa dia perempuan jadi-jadian?” batin Jun Hui sambil memandang heran ke arah Rey.
Rey yang mendapat tatapan tersebut memandang jijik Jun Hui. “Oi bocah tengkurap, katakan apa tujuanmu ke sini? Dan juga itu mata minta dicabut atau gimana? Berani sekali kau lirak lirik sang penghancur yang sangat agung ini, hmph!”
Jun Hui langsung sadar begitu mendengar ucapan kasar Rey. “Ehem… aku ke sini karena ini merupakan kamarku juga, dan…” Dia memandang Rey sejenak sebelum melanjutkan perkataanya. “Kau ini sebenarnya laki-laki atau perempuan?”
Mendengar pertanyaan tersebut membuat harga diri Rey sebagai pria barbar terlaknat di dunia sedikit terluka. Sudah tak terkira lagi bagaimana brutal dan gilanya kelakuannya di masa lalu, dia lebih suka disebut sebagai orang gila atau bocah jahanam daripada diragukan sisi prianya.
Mata Rey berkedut-kedut menahan kesal. “Tsk, lihat ini baik-baik ya bocah! Buka lebar kedua matamu itu!”
Rey menarik simpul pakaiannya yang membuat pakaiannya jatuh ke lantai. Kini dia sepenuhnya telanjang bulat yang secara langsung memperlihatkan ular piton mungil di kedua celah selangkangannya. Mata Jun Hui membulat sempurna, hancur sudah fantasi di otaknya begitu melihat belalai mungil bocah di depannya. “Ku-kurasa aku harus mencuci mataku,” batin Jun Hui sambil berjalan keluar ruangan dengan perasaan campur aduk layaknya adonan.
Namun, ternyata bukan hanya Jun Hui saja yang terkejut karena Rey sendiri nampaknya lebih terkejut melihat ular piton kebanggannya menjadi ciut seperti cacing. “Ke-kemana piton kebangganku?! Kenapa berubah menjadi cacing perkutut seperti ini!?”
Rey terduduk lemas, kakinya serasa tak mampu menopang berat tubuhnya, salah satu hal yang bisa dia banggakan setelah kekuatannya kini telah hilang digantikan burung perkutut walaupun sebenarnya dia tidak pernah menggunakannya untuk tabur-tabur benih.
Rey menghela nafas kasar mencoba menerima kenyataan asin tersebut. “Hais, walaupun kecil tetetapi setidaknya ini lebih baik daripada tidak punya sama sakali, tidak bisa kubayangkan hidupku tanpa belalai ini.” Badannya merinding ketika memikirkan hal tersebut.
Akhirnya Rey memakai kembali pakaiannya lalu duduk bermeditasi. Namun, tanpa diduga perutnya tiba-tiba berbunyi menandakan minta di isi, hal ini membuat Rey mengingat masa lalunya saat menjadi buronan. Rey pernah tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar ataupun kecil, semua itu dikarenakan dirinya dikejar satu kekaisaran gara-gara membuat babak belur seorang kaisar saat berpidato di depan rakyatnya.
Rey berjalan keluar ruangan, dia dengan santai berkeliling Sekte Biru Laut mencari makanan yang bisa dimakan tanpa harus memakannya. Dia tidak mempedulikan tatapan jelalatan murid laki-laki di sana, nampaknya dia tidak sadar jika memakai pakaian perempuan disertai wajah imutnya membuat seluruh pria terpesona.
Salah satu siswa yang terbuai akan keimutan bocah biadab tersebut memberanikan diri mendekati Rey. Dengan sok ganteng padahal tampang pas-pasan dia berdiri di depan Rey. “Lagi nyari apa adik manis? Mau kakak tolong?”
Rey yang mendapat perlakuan tersebut memasang ekspresi jijik. “Hei pantat monyet, minggir sebelum kuhancurkan wajahmu!” Rey mengangkat tangan mungilnya ke depan wajah siswa tersebut.
Namun, sayangnya siswa itu menanggapi ancaman Rey sebagai candaan. “Uhhh takutnya, mau dong dipukul adik manis, sini-sini pukul di sini.” Siswa itu menunjuk pipinya yang dipenuhi kutil dan jerawat asmbil memejamkan matanya.
Rey menghela nafas kecil lalu tersenyum semanis mungkin. “Kakak pilih yang mana? Tangan kanan kuburan atau tangan kiri rumah sakit?”
“Hah?” Sebelum menyadari maksud pertanyaan tersebut, sebuah pukulan mendarat di wajahnya dengan sangat keras.
Buak… Rey memukul siswa tersebut tepat di wajahnya yang membuat tubuhnya melayang ke udara. Semua orang yang melihatnya melotot tak percaya jika Wanita imut bertubuh kecil yang Nampak lemah itu membuat tubuh teman mereka melayang.
Terdapat bekas tinjuan di wajahnya yang menjorok ke dalam, gigi depannya pun rontok tak tersisa. Dengan kesadaran yang tersisa sedikit dia melihat seorang perempuan imut yang menghajarnya duduk tepat di atas dadanya sambil memasang wajah angker.
__ADS_1
Plak…. Rey menampar wajah siswa itu dengan keras. “Apa kau tau kesalahanmu apa?” tanya Rey sambil menarik kerah pakaian siswa tersebut.
“A-ampun….”
Plak… Rey tidak mempedulikan hal tersebut dan sekali lagi melayangkan tamparannya. “Kutanya sekali lagi, apa kau tau kenapa aku memukulmu?”
“A-ampun, a-aku ti-tidak akan mengganggumu lagi!”
Plak… Rey Kembali menampar wajah siswa tersebut. “Jawab! Apa kau tau kenapa aku memukulmu?”
Siswa itu diam tidak tau harus menjawab apa, sudah wajah berubah wujud masih masih ditampar-tampar pula, dijawab salah gak dijawab salah. Plak… nyatanya diam saja tidak membuat tamparan yang mendarat di wajahnya berhenti.
“Masih tidak mau menjawab? Aku bisa melakukan ini selama seharian penuh!”
Tamparan demi tamparan mendarat di wajah siswa tersebut hingga tak lama kemudian dia menyilangkan kedua tangannya menutupi wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. “Akfu tfidak twafu, fangan tfampar akfhu lagfi, huhuhu.”
Rey mengerutkan dahinya tak suka akan pemandangan tersebut, dia paling benci pria cengeng. “Tsk, berhenti menangis atau kupindahkan lubang hidungmu ke pantat! Dan ingat dua hal ini baik-baik, bocah!” Rey mengisyaratkan angka 2 pada jarinya walaupun dia akan mengatakan 3 hal.
Plak… “Pertama, karena kau jelek!”
Plak… “Dan ketiga…” Rey mendekatkan wajahnya ke telinga siswa tersebut. “karena kau… j-e-l-e-k!” bisiknya sambil menyeringai seperti psikopat.
Tak puas dengan hal tersebut, Rey mencengkram kerah leher pakaian siswa tersebut dengan satu tangan lalu membantingnya dengan sangat kuat.
Setelah membuat anak orang sekarat sampai wajahnya berubah bentuk, Rey dengan santai menginjak wajah siswa tersebut dan berjalan melewati kerumunan dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
Semua orang nampak tak percaya bahwa tubuh ramping dan kecil Rey memiliki kekuatan yang sangat abnormal dan tentu saja mereka tak lupa akan kebrutalan yang dia tunjukan walaupun mereka rasa siswa tersebut memang perlu diberi pelajaran karena tindakannya.
Rey yang juga memiliki julukan lain sebagai Peroasting terbrutal sepanjang sejarah nampaknya tidak ingin menyia-nyiakan bakatnya tersebut untuk membuat satu per satu orang di sekitarnya menjadi sinting karenanya.
Jelek, kata inilah yang terngiang-ngiang di telinga siswa tersebut yang tak lama kemudian dia pingsan dengan wajah penyok dan leher bengkok. Keributan tersebut nampaknya memancing baik para tetua ataupun pengurus Sekte Biru Laut ke sana. Mereka hanya bisa mematung tak percaya jika salah satu siswa senior kebanggan Sekte Biru Laut babak belur.
"Astaga wajahnya sampai hancur! siapa yang melakukan ini?!"
"Kau masih mementingkan wajahnya?! Coba kau buka matamu yang rabun itu lebar-lebar! lehernya itu astaga... bengkok! lehernya bengkok!"
__ADS_1
Salah satu tetua akhirnya turun tangan memeriksa keadaan siswa tersebut. Dia menekan pergelangan tangan siswa itu dan menemukan fakta yang mengejutkan bahwa masih ada denyut nadi yang terasa.
Tetua itu mengangguk memberitahukan bahwa siswa tersebut masih hidup.
"Wah, ini gila. bagaimana bisa dia masih hidup do saat lehernya berubah bentuk jadi huruf L?"
"Bagaimaana cara kita menjelaskan perubahan drastis tubuh anak ini kepada orang tuanya?"
"Katakan saja dia terluka saat latihan."
"Apa kau pikir mereka akan percaya jika kukatakan leher putra mereka bengkok saat latihan?"
"Ya terus kau mau aku menjelaskan apa? dia jatuh terpeleset sampai lehernya bengkok? kau kira dia terpeleset dari gunung gitu?!"
"ya gak usah nyolot!"
"siapa yang nyolot?!"
Terjadi keributan antar tetua yang membuat suasana semakin runyam. Kedua tetua yabg bertengkar saling menarim jenggot satu sama lain seperti anak kecil. Namun, hal itu tak berlangsung lama dikarenakan kedatangan Tetua Feng Yi yang membuat situasi kembali kondusif.
"Siapa yang melakukan ini?" Tetua Feng Yi bertanya dengan halus.
Melihat tidak ada yang mengaku membuatnya menghela nafas kasar. Dia lantas menoleh ke sana ke mari seakan mencari pelaku utama keributan tersebut. Dia menyipitkan matanya ketika melihat seorang siswa yang tak jauh dari tkp sendirian seakan-akan keributan di sana tidak menarik baginya.
Tentu saja Tetua Feng Yi mengetahui identitas siswa tersebut yang tak lain adalah Rey. "Ini pasti kelakuan bocah gila itu, tidak salah lagi!" Di dalam hatinya dia sangat yakin dengan hal tersebut.
"Bakat dan otaknya sama-sama rusak!” batin Tetua Feng Yi.
“Kalian serahkan masalah ini kepadaku, aku tau siapa dalang dibalik senua ini. Bawa yang tidak sadarkan diri ke ruang pengobatan, sisanya bubar!"
Mereka semua bubar begitu mendengar instruksi dari Tetua Feng Yi. Siswa yang tergelatak tak sadarkan diri langsung segera dilarikan ke ruang pengobatan, sedangkan Rey? Jangan di tanya lagi, dia diseret paksa oleh Tetua Feng Yi untuk menjelaskan tindakan gilanya tanpa bisa melawan.
__ADS_1