Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 51 - Perubahan Peraturan


__ADS_3

Pertandingan demi pertandingan berlalu, jumlah peserta yang tereliminasi bertambah menjadi 100 orang, kini hanya tersisa 25 peserta diantaranya adalah grup A tersisa 9 peserta, grup C hanya tersisa Rey saja, grup D 7 peserta, dan terakhir grup E 8 peserta.


Peraturan dirubah, jika awalnya pertandingan satu lawan satu, maka kini sebanyak 5 peserta akan dikumpulkan dalam satu arena untuk memperebutkan kemenangan, mereka diharuskan bertarung satu sama lain sampai peserta yang awalnya 25 menjadi 5 peserta saja.


Semua penonton semakin semangat setelah mendengar perubahan peraturan itu, berbeda dengan peserta yang tersisa, beberapa dari mereka yang menang hanya karena mendapat lawan lemah sebelumnya hanya bisa pasrah jika nantinya mereka tersingkirkan.


Tapi andai kata mereka benar-benar kalah mereka tentu masih merasa bangga karena dapat menjadi top 25 besar dari 125 peserta, itu bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan belaka melainkan keringat, perjuangan serta kerja keras mereka lah yang menempatkan mereka di posisi tersebut.


Dari 25 peserta yang tersisa yang paling mencolok adalah Rey, itu dikarenakan dia memenangkan 2 pertandingan berturut-turut tanpa melakukan apa-apa dikarenakan kedua lawannya secara kebetulan cedera parah yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan pertandingan, hal itu membuat semua penonton yang menantikan penampilannya kecewa, tapi kekecewaan itu segera dibayarkan dengan pertandingan free for all ini.


“Panitia memberikan waktu bagi peserta yang tersisa selama 1 jam untuk mempersiapkan segalanya.” Ucap wasit itu seraya pergi dari arena.


Rey sendiri bingung dengan apa yang akan dilakukannya, dia tidak punya uang untuk membeli senjata baru karena senjatanya sendiri sudah menjadi 2 bagian. Rey sebenarnya tidak terlalu membutuhkan senjata karena masih banyak kartu as yang belum dia keluarkan atau lebih tepatnya kemampuannya bukan hanya sekedar itu-itu saja, senjata itu dia perlukan hanya untuk menebas musuh karena sejak kemarin tangannya sudah gatal untuk tidak menebas kepala orang.


Andai mempunyai tenaga dalam, Rey bisa saja memadatkan Qi miliknya menjadi bentuk apapun sesuai keinginannya, keahliannya itu mirip dengan Qiao Feng yang dapat mengubah Qi miliknya menjadi sebuah busur, namun letak perbedaannya adalah Qiao Feng hanya bisa memadatkan Qi di tubuhnya menjadi busur saja sedangkan Rey benar-benar bisa memadatkan Qi di tubuhnya menjadi apapun yang dia mau, bahkan Rey pernah menciptakan kw-nya di kehidupannya dulu, hanya saja Rey kw itu tiba-tiba meledak dikarenakan Qi yang tidak stabil atau kurang sempurna saat proses pembentukannya.


“Hah, andai aku mempunyai tenaga dalam..” Gumam Rey seraya menghela nafas.


Tanpa senjata sekalipun Rey bisa saja memenangkan kompetisi pertama ini dengan mudah karena sejak kemarin dirinya tidak pernah serius menghadapi bocah-bocah yang akan menjadi lawannya.

__ADS_1


Pemikiran seorang bocah berbeda dengan orang dewasa yang sudah menghadapi pahit manisnya kehidupan, jangankan bocah, bahkan leluhur di sana juga akan Rey anggap bocah karena perbedaan umur dan pengalaman yang begitu jauh.


Seperti mengetahui isi pikiran Rey, Feng Qiuyu tiba-tiba memberikan belatinya dan berkata, “Pakailah, aku tidak tahu apa kau bisa menggunakannya atau tidak tetapi yang pasti kau lebih membutuhkannya daripada aku.”


Rey tersentak, dia sejak tadi sudah melirik belati Feng Qiuyu, terbesit keinginan untuk meminjamnya tetapi dia terlalu gengsi untuk melakukannya karena itu sama saja seperti dirinya memohon, bagaimana mungkin sang penghancur yang sangat agung sepertinya memohon? Itu sangatlah mustahil.


Namun, siapa sangka jika Feng Qiuyu ternyata sangatlah peka dengan kondisinya, tentu saja dengan senang hati Rey menerima belati itu tanpa peduli lagi dengan rasa malunya, kan bukan dirinya yang memintanya melainkan Feng Qiuyu sendirilah yang memberikannya.


“Terima kasih.”


Feng Qiuyu hanya tersenyum sebagai balasannya, meskipun baru mengenal sosok Rey selama beberapa hari tetapi dia sudah paham mengenai sikap arogan dan sombong Rey yang sudah mendarah daging itu, orang seperti Rey sangatlah sulit untuk meminta tolong kepada orang lain karena dia merasa bahwa dirinya bisa mengatasi semuanya sendirian atau bisa disebut (Jual mahal), namun entah kenapa dirinya sama sekali tidak merasakan kearoganan berlebihan pada diri Rey .


Rey memang sangat suka merendahkan orang lain yang dia anggap lemah, lemah dalam pandangan Rey juga sangatlah berbeda dengan orang lain, Rey akan menganggap semua orang lebih lemah darinya, hal itu menjadi patokan Rey agar dirinya tidak takut menghadapi apapun, karena itu dia selalu nekat melawan seseorang yang jelas-jelas lebih kuat darinya, menganggap lemah lawan bukan berarti dirinya merasa kuat, semua itu bertujuan untuk membentuk karakternya menjadi The One And Only.


Tidak pernah sekalipun Rey merasa bahwa dirinya lah yang terbaik walaupun dia menganggap bahwa dirinya bak dewa, dia yang telah hidup sangat lama tentu tahu seluk beluk kehidupan karena di atas langit masih ada langit, atau bisa disebut jika sikap arogannya itu selalu pada tempatnya.


Tak terasa 1 jam telah berlalu, terlihat sang wasit berjalan kembali ke tengah arena, semua peserta yang tersisa tak terkecuali Rey tengah bersiap-siap andai saja nama mereka disebut.


“Baiklah, nama-nama yang akan saya panggil diharapkan segera maju ke arena.” Ucap lantang wasit itu.

__ADS_1


Deggg.. deggg.. degg..


Dari penonton hingga peserta semuanya membisu, mereka semua menantikan siapakah nama-nama yang akan bertanding pertama kali, bahkan Tetua Fengyi dan Zenith saja sampai menahan nafasnya andai kata nama si bocah tukang rusuh disebut.


“Rey, Chen Shui, Gouming, Shunjimey, Kung Lao.” Teriak wasit itu dengan lantang.


Rey menggerak-gerakan badannya seperti petinju yang akan bertanding sampai-sampai terdengar suara krek-krak-krek-krok. Dengan penuh gaya Rey melemparkan belatinya dengan sangat keras lalu berlari ke tengah arena seraya menangkap belatinya tersebut sebelum menyentuh tanah, tentu saja hal itu membuat semua orang melotot karena belati itu terjun bebas tepat di depan wajah putri kaisar Chen Shui.


“Apa kau lihat itu?! Apa kau lihat bagaimana bocah itu melempar belatinya ke arah putri kaisar?!” Ucap Tetua Fengyi yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Zenith sendiri hanya tersenyum melihat tindakan kawannya itu, sungguh dia tidak memahami jalan pikiran Rey yang menurutnya sangatlah di luar nalar manusia, tapi hal itu juga yang membuatnya kagum dengan Rey.


“Apa kau sudah gila?!” Teriak Chen Shui geram, baru saja dirinya dibuat kagum oleh Rey yang mampu memasuki 25 besar, tetapi kekaguman itu langsung sirna saat melihat sebuah belati yang dilemparkan oleh Rey jatuh tepat di depan wajahnya.


"Jadi selama ini kau mengaggapku waras? Aku saja menganggap diriku sendiri kurang waras." Jawab Rey santai seolah-olah bangga akan ketidakwarasannya tersebut.


Karena tindakannya itu membuat Rey harus terkena omelan wasit, namun omelan itu tak berlangsung lama karena terlihat 3 peserta dari berbagai arah menuju ke tengah arena, mereka tak lain adalah Guoming, Kung Lao, dan Shunjimey.


Quote Rey : "Karakter terbentuk dari kebiasaan, mempunyai kebiasaan nekat sepertiku akan membuatmu cepat mati! Hahaha!"

__ADS_1


 


__ADS_2