Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 29 - Ditaklukannya Rey


__ADS_3

Tetua Shen Xuan yang sangat penasaran dengan identitas bocah yang dilihatnya tadi akhirnya memilih untuk bertanya kepada Ayahnya, karena ini pertama kalinya dia merasakan adanya bahaya hanya dengan melihat bola mata seseorang.


“Ayah, siapa bocah berambut putih tadi?”


“Oh? namaku Rey sang penghancur.” Rey tiba-tiba saja ada di jendela yang membuat mereka bertiga terkejut bukan main.


“Sejak kapan kau berada di situ bocah gila?!” Andai tidak ada putranya Shen Xuan, pasti Patriak Mo akan beradu mulut kembali dengan Rey seperti biasanya.


“Hm? Aku sejak tadi sudah duduk disini mendengarkan ocehan kalian semua.” Jawab Rey seraya turun dari jendela.


Tetua Shen Xuan semakin yakin dengan asumsinya, dirinya yang telah melewati berbagai macam keadaan hidup dan mati tentu memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi pada sekitarnya, namun dia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan Rey di jendela tersebut.


Inting Tetua Shen Xuan mengatakan jika Rey merupakan orang yang sangat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari kata bahaya sendiri.


Rey lantas melihat ke arah Tetua Shen Xuan, melihat sorot mata yang sangat tenang namun tajam itu memiliki kesan tersendiri baginya. Sedangkan Tetua Shen Xuan yang merasa jika dirinya ditatap terus oleh Rey menjadi risih, menurut dia sangatlah tidak sopan jika seseorang menatap orang lain secara terus menerus.


Tetua Shen Xuan lantas mendekat ke arah Rey yang dimana hal itu menarik perhatian Patriak Mo dan Tetua Fengyi.


“Nak, apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?” Tetua Shen Xuan berkata dengan nada dingin bahkan sorot matanya kini berubah sangat tajam.


Rey sedikit merasa tertekan dengan ucapan Tetua Shen Xuan yang penuh intimidasi tersebut, seumur hidupnya baru pertama kali dia merasa tertekan oleh hanya karena sebuah ucapan belaka.


Tertekan bukan berarti takut, apalagi jika orang yang tertekan seperti Rey yang dimana otaknya sedikit bergeser, karena itulah kelakuannya sangatlah berbeda dengan manusia pada umumnya, bahkan setan pun salut dengan tingkah laku Rey yang kesetanannya mengalahkan mereka para setan asli.


“Gak pernah diajarin tuh, harusnya kau yang harus bersikap sopan kepadaku bocah!” Rey menjawab dengan nada ejekan tentu saja untuk memancing emosi Tetua Shen Xuan.


Patriak Mo dan Tetua Fengyi melihat mereka berdua dengan serius, mereka sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Tetua Shen Xuan yang dimana sejak dulu terkenal akan ketenangannya dalam menghadapi situasi apapun termasuk provokasi lawan.


Tetua Shen Xuan tidak menjawab ucapan Rey melainkan hanya menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi seperti biasa.


Rey yang melihat Tetua Shen Xuan tidak menampilkan ekspresi apapun melotokan matanya dengan lebar, karena selama hidupnya baru kali ini ada seseorang yang tidak terpengaruh oleh murut beracunnya.


?!


Rey terkejut karena tiba-tiba saja pundaknya ditepuk oleh Tetua Shen Xuan, dan saat itu juga semua kekuatan dalam tubuhnya lenyap, bahkan kekuatan gelap yang tersegel di dalam tubuhnya juga ikut lenyap.


“Ka-kau apakan tubuhku sialan?!” Mata Rey berubah menjadi hitam tanda dirinya serius sekarang.

__ADS_1


Rey melihat mata Tetua Shen Xuan, tujuannya tak lain adalah untuk mengendalikan tubuh Tetua Shen Xuan dengan jurus pengendali jiwa miliknya. Patriak Mo dan Tetua Fengyi langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Rey, andai bocah di depan mereka saat ini berbuat sesuatu hal yang gila, maka dengan terpaksa mereka membuat sekarat Rey.


5 menit berlalu dan tidak terjadi apapun.


"Hm.... Mata hitammu sangat menarik." Ucap Tetua Shen Xuan dengan dingin.


Betapa terkejutnya Rey karena jurus pengendali jiwanya ternyata sama sekali tidak berpengaruh pada Tetua Shen Xuan.


“Bocah liar, kau sepertinya harus diberi hukuman agar jera.”


Tetua Shen Xuan menepuk pundak Rey sekali lagi, dan tiba-tiba saja tubuh Rey ambruk ke lantai.


“A-apa yang kau lakukan pada tubuhku?!” Rey mencoba menggerakan tubuhnya sekuat tenaga, namun hasilnya nihil, bahkan menggerakan jarinya sedikit pun tidak bisa.


Tanpa menjawab celotehan Rey, Tetua Shen Xuan menyeret Rey keluar dari ruangan dan melemparkannya seperti membuang sampah.


“Woy bocah sialan! Awas kau! Berani sekali kau memperlakukan sang penghancur yang sangat agung seperti ini!” Rey memaki-maki Tetua Shen Xuan dengan kata-kata kasar.


"Siapa itu yang berteriak?"


"Ayo kesana, sepertinya bocah gila itu akan berulah lagi."


Mereka semua segera menuju ke asal sumber teriakan tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka melihat Rey yang tengah terbaring di tanah seraya memaki-maki Tetua Shen Xuan.


Tentu saja mereka semua tidak terima dengan ucapan Rey yang memaki-maki idola mereka Tetua Shen Xuan. Mereka semua lantas melempari Rey dengan batu, kayu, bahkan golok pun juga ikut mereka lemparkan.


“Woy bocah-bocah setan! Berani sekali kalian melempari sang penghancur ini?!”


“Awas kalian! Tunggu sang penghancur ini lepas, pasti akan ku bacok kalian semua!”


Rey memaki semua orang di sana, mulutnya tak berhenti mengeluarkan kata-kata kasar dari A-Z.


Tetua Shen Xuan nampaknya tidak peduli dengan Rey yang sedang dilempari bermacam-macam benda tersebut, menurutnya itu semua diperlukan agar membuat seseorang jera.


Mendengar keributan di luar membuat Patriak Mo dan Tetua Fengyi beranjak dari tempat duduknya, dan betapa terkejutnya mereka melihat Rey yang sedang terbaring di tanah seraya dilempari berbagai macam benda oleh semua orang. Bukannya menolong, Patriak Mo malah mengambil kursi ke dalam ruangan dan melemparkannya ke arah Rey.


Mata Rey melotot karena melihat sebuah kursi yang melayang ke arahnya.

__ADS_1


[Brakkkkkkk]


Hening… Mereka semua tentu terkejut melihat Patriak Mo yang dengan gilanya melemparkan kursi ke arah Rey. Mereka semua tahu jika Patriak Mo selalu di buat kesal oleh Rey, namun mereka tidak menyangka jika Patriak Mo melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan sebuah kursi kepada Rey.


Rey melirik ke samping yang ternyata kursi yang melayang kearahnya tadi tidak sampai terkena wajah tampannya.


"Hah, untung gak kena." Rey bernapas lega, karena jika kursi itu mendarat di wajahnya dia pasti akan sekarat saat itu juga, karena dirinya saat ini hanyalah manusia biasa sebab semua kekuatan ditubuhnya lenyap.


“Woi orang tua udik sialan! Awas kau! Ku buat wajahmu pindah ke pantat nanti!” Rey memaki-maki Patriak Mo dengan kasar, dia tidak peduli lagi jika mulutnya benar-benar berbisa karena terus berteriak.


Meskipun Tetua Shen Xuan masih menampilkan tampang bodo amat, namun di dalam hatinya dia cukup terkejut melihat Ayah angkatnya Patriak Mo yang ternyata ikut-ikutan melempari Rey, yang lebih parahnya Ayahnya itu menggunakan sebuah kursi yang lumayan besar untuk dilemparkan kepada Rey.


“Ayah, apa yang kau lakukan?” Tetua Shen Xuan bertanya dengan nada halus, dia tentu tidak akan marah dengan Ayahnya meskipun tindakan Ayah angkatnya itu terbilang ekstrim.


“Ayah hanya ikut-ikutan melempari bocah itu saja.” Ucap Patriak Mo tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Ya tapi jangan pakai kursi juga sialan! Jika saja kursi tadi mengenaiku, maka sudah dipastikan malaikat pencabut nyawa langsung menemuimu.” Rey tentu kesal dengan Patriak Mo yang dengan brutal melemparkan kursi kepadanya.


Tetua Shen Xuan melirik ke arah Rey, dia sedikit tersinggung dengan perkataan Rey yang sangat tidak sopan kepada Ayahnya.


“Kalian semua bisa bubar, jangan ada yang menolongnya, saya akan menghukum siapa saja yang menolong dia, ku harap dia akan merenungkan kesalahannya dan dia meminta maaf kepada kalian semua.” Ujar Tetua Shen Xuan dengan tegas.


Mereka semua pun pergi dari sana meninggalkan Rey seorang diri dengan posisi ngesot di tanah. Tetua Shen Xuan mengajak Patriak Mo dan Tetua Fengyi masuk ke dalam karena ingin membicarakan tentang misi yang diberikan oleh Kaisar Chen kepadanya.


Zenith dan Feng Qiuyu ternyata sejak tadi melihat Rey yang sedang ditindas di atas salah satu bangunan Sekte, mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal melihat Rey teriak-teriak seperti orang gila.


“Apa kau akan membantunya?” Tanya Feng Qiuyu.


“Tentu saja tidak, aku lebih suka melihatnya disiksa seperti itu, hahaha.”


“Kau benar, aku tidak menyangka jika Rey akan ditaklukan oleh seseorang, ku pikir tidak ada satu orang pun yang bisa membuatnya jera, namun sepertinya pikiranku salah, karena menurutku Tetua Shen Xuan itu pasti bisa membuat Rey menjadi manusia normal nantinya.”


Mereka berdua turun dari atap dan kembali ke kamar masing-masing karena hari sudah gelap. Sedangkan Rey yang ditinggalkan sendiri mengumpat semua orang di sana tanpa merasa lelah sedikit pun.


“KU SUMPAHIN KALIAN SEMUA DIARE SEUMUR HIDUP!”


Di dalam ruangan, Patriak Mo dan Tetua Fengyi saling pandang lalu tersenyum, sepertinya mereka telah menemukan seorang pawang yang bisa menjinakan Rey dan membuatnya menjadi seperti manusia normal, orang itu tak lain adalah Tetua Shen Xuan.

__ADS_1


__ADS_2