Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 11 - Kebrutalan Rey


__ADS_3

Patriak Mo dan Tetua Fengyi segera berlari keluar dengan buru-buru setelah mendengar teriakan tersebut. Rey yang melihat dua orang tua itu lari hanya menggelengkan pelan kepalanya.


“Memang siapa sih yang berteriak tadi? Sampai membuat kedua orang tua itu lari menghampirinya?” Rey tentu tidak tahu siapa yang berteriak tersebut, karena bagaimanapun dirinya masihlah awam terhadap tanah yang tengah ia pijaki saat ini, sehingga ia tidak tahu informasi mengenai kehidupannya saat ini.


Karena rasa penasaran yang begitu tinggi membuat Rey juga menghampiri sumber suara teriakan tersebut.


**


Patriak Mo dan Tetua Fengyi telah sampai di dekat pintu gerbang Sekte Laut Biru, terlihat murid-murid dan para Tetua lainnya berkumpul disana. Nampaknya mereka semua berkumpul disana karena alasan yang sama.


Patriak Mo dan Tetua Fengyi berjalan menerobos para murid dan Tetua tersebut.


Melihat Patriak mereka yang ternyata juga datang ke asal sumber teriakan tadi membuat mereka serentak memberi hormat, kecuali sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 50 orang tersebut.


“Salam Patriak Ling, ada apa gerangan sehingga anda mengunjungi Sekte kami?” Tanya Patriak Mo yang jelas berpura-pura tidak tahu untuk menghindari permasalahan.


“Huh, jangan pura-pura tidak tahu kau tua bangka, salah satu muridmu itu telah membuat anakku sekarat, bahkan Putraku harus menanggung malu karena kini wajahnya telah hancur!”


“Cepat serahkan bocah itu! Jika tidak, jangan salahkan aku yang akan meratakan Sekte Kecil ini!”


Mereka semua hanya diam tak berani membalas perkataan Patriak Klan Ling tersebut, meskipun hati mereka saat ini dipenuhi amarah karena Sekte yang mereka banggakan diancam akan dihancurkan oleh Patriak Klan Ling tersebut.


Patriak Mo dan Tetua Fengyi tidak menyangka jika Patriak Klan Ling ternyata langsung mendatangi Sekte mereka di hari yang sama Rey membuat sekarat Putranya tersebut, dan lebih buruknya mereka membawa kultivator sewaan yang tentu saja kekuatan mereka dapat menghancurkan Sekte Laut Biru dalam hitungan jam.


“Oh, jadi kalian memilih untuk mati dari pada menyerahkan bocah yang telah membuat Putraku hancur itu?,” Ucap sinis Patriak Klan Ling.


Mereka semua bukannya tidak ingin menyerahkan bocah yang dimaksud oleh Patriak Klan Ling tersebut, tapi mereka semua sangat menghormati Patriak Mo yang diamana sosoknya itu seperti pemimpin bagi mereka.


“Jika itu keinginan kalian maka…. Matilah!!!”


Kultivator sewaan Klan Ling tersebut langsung menyerang penghuni Sekte Laut Biru, tetapi baru saja mereka menyentuh masing-masing lawannya, tiba-tiba …


“Hei..hei, ribut-ribut kok malah tidak mengajak sang penghancur ini, seharusnya kalian mengajakku untuk ikut ke dalam pesta yang sangat meriah ini” Ucap Rey yang tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah pertempuran tersebut.


“Sejak kapan?!” Semua orang disana tentu terkejut karena tiba-tiba saja muncul bocah berambut putih yang tidak tahu kapan dan dimana tepatnya ia muncul.


Rey melihat kearah kelompok yang tidak ia ketahui, tapi satu hal yang pasti adalah kelompok asing tersebut terlihat menginginkannya, karena ia sebelumnya telah mendengar semua percakapan diantara mereka.


“Hei, kau orang tua udik disana, kau mencari bocah yang menghajar anakmu itu?” Tanya Rey santai tetapi terlihat menakutkan.


“Benar” Patriak Klan Ling tersentak karena mulutnya bergerak sendiri untuk menjawab pertanyaan bocah berambut putih di depan mereka saat ini.


“Ho, berani sekali kau menyebut sang penghancur ini bocah? Aku bahkan bisa membuatmu masuk kembali ke dalam perut ibumu itu, kau mau?” Ucap Rey kesal karena dirinya disebut bocah oleh seseorang yang bahkan tidak ia kenal.

__ADS_1


Patriak Mo yang awalnya tegang malah menjadi tertawa karena mendengar ucapan Rey.


“Hahahha! Bagaimana cara memasukan kembali dia?! Tubuhnya saja sebesar itu… hahahaha!” Ucap lantang Patriak Mo sambil menunjuk-nunjuk kearah Patriak Klan Ling tersebut.


Semua orang disana tertawa akibat ucapan Patriak Mo yang sangat lucu, bahkan kultivator yang di sewa Klan Ling juga ikutan tertawa karenanya.


Melihat semua orang disana meledeknya membuat dirinya marah, ia melepaskan setengah aura pendekar ditubuhnya yang tentunya membuat semua orang disana berlutut karena tidak kuat menahan auranya, bahkan Patriak Mo sampai mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.


Namun tidak dengar Rey yang kini masih berdiri kokoh tanpa bergeming sedikitpun.


“Heh, aura seperti ini saja sok-sok.an pamer kepada sang penghancur ini?!" Ucap Rey pelan tetapi terdengar jelas di telinga semua orang.


“Gerbang kedua segel kegelapan, terbukalah!”


Tubuh Rey memancarkan aura kematian yang sangat pekat membuat semua orang disana muntah darah dan langsung tak sadarkan diri, kecuali Patriak Ling yang nampaknya masih bisa menahan aura kematian yang dilepaskan oleh Rey.


“Bagaimana bocah ini bisa memiliki aura yang sangat mengerikan seperti ini?!”


Seakan tak mau kalah dari Rey, Patriak Ling kini mengeluarkan seluruh aura pendekarnya yang membuat semua orang disana terhempas, tapi tidak dengan Rey yang bahkan masih berdiri kokoh meskipun mulutnya kini mengeluarkan sedikit darah.


Rey bisa saja membuka segel ketiga gerbang kegelapan miliknya, tapi itu akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar dari pada saat ini.


Rey menunduk ke bawah, nampaknya dia sedang merencanakan sesuatu. Dan benar saja, Mata Rey kini berubah menjadi hitam yang artinya dirinya saat ini tengah serius.


Patriak Klan Ling yang melihat mata hitam milik Rey tiba-tiba tubuhnya langsung tidak bisa bergerak.


“Hmm, tak kuduga cara ini berhasil, ku kira jurus pengendali jiwa ini tidak akan bisa digunakan jika tidak memiliki Qi” Gumam Rey yang kini menggerak-gerakan tubuh Patriak Klan Ling dengan pikirannya.


Jurus pengendali jiwa milik Rey adalah jurus yang ia ciptakan di kehidupan sebelumnya. Awalnya Rey hanya iseng-iseng saja membuat jurus tersebut karena ingin mengendalikan seekor burung elang yang memang sangat ingin ia belai. Namun siapa sangka, bahwa jurus yang ia ciptakan dengan iseng itu sangat efektif untuk membuat lawannya putus asa karena tidak bisa menggerakan tubuhnya.


Rey dengan jahilnya mengendalikan tubuh Patriak Ling untuk menghantam pilar surgawi miliknya sendiri.


[Buakkkkk]


“Uhhh, itu pasti sakit…. Hahahaha!” Rey tertawa sangat lantang melihat ekspresi Patriak Ling yang terlihat seperti menahan buang air kecil selama satu tahun. Tetapi tentu saja Rey tidak akan puas dengan hanya satu pukulan saja.


[Buakkkkk]


[Buakkkkk]


[Buakkkkk]


Rey bahkan sampai mengeluarkan air matanya karena tidak kuat menahan tawa karena melihat Patriak Ling yang kini kakinya gemeteran akibat menahan sakit yang tidak bisa digambarkan meski dengan sejuta kata pun.

__ADS_1


Setelah puas membuat pilar surgawi Patriak Ling bobrok, Rey tiba-tiba saja berjalan mendekati Patriak Ling yang tentunya itu bukanlah hal yang baik.


Patriak Ling hanya bisa pasrah jika memang Rey berniat membunuhnya. Ia saat ini sudah tidak bisa merasakan pilar surgawi miliknya, karena mungkin sudah hancur akibat terus-terusan dihantam.


“Matamu itu cukup bagus”


?!


Patriak Ling berusaha semaksimal mungkin untuk menggerakan tubuhnya karena tangan Rey saat ini menyentuh bola matanya. Ia meronta-ronta sekuat tenaga tetapi na’as tubuhnya nampaknya tidak mengikuti kemauannya untuk bergerak seinci pun.


Rey dengan perlahan mencabut mata kanan Patriak Ling, tentu saja ia sangat menyukai ekspresi kesakitan orang tua tersebut.


“Kenapa? Gak bisa berteriak? Kasian… Hahahaha!”


Setelah sepenuhnya tercabut Rey dengan sadisnya memperlihatkan mata tersebut ke Patriak Klan Ling, setelah itu ia dengan kasarnya memasang kembali mata tersebut ke dalam kelopak mata orang tua tersebut.


“Kesalahanmu yang terbesar adalah berani menantangku, jika saja kau tadi tidak melawan diriku saat mengeluarkan aura kematian tadi, mungkin kau masih bisa hidup dengan tenang,”


“Karena sang penghancur ini saat ini suasana hatinya sedang dalam keadaan baik-baik saja, jadi kau akan ku bunuh” Ucap Rey.


Ekspresi Patriak Ling terlihat sangat lega, sepertinya ia lebih baik mati dari pada harus hidup dengan kondisi yang bisa dibilang sangatlah buruk. Namun, sepertinya Rey memiliki ide yang lebih bagus dari pada harus membunuh orang tua di depannya saat ini.


“Ck, kau tahu ayahku? Ayahku itu bekerja sebagai penata taman di Klan Ling milikmu itu, sebaiknya berikan gaji dia sebanyak mungkin, jika tidak keluargamu yang akan ku bantai,”


“Sebagai gantinya akan ku sembuhkan dirimu”


Tanpa menunggu jawaban Patriak Ling, Rey langsung mengeluarkan api sucinya lalu mengarahkan api sucinya untuk menyembuhkan seluruh luka di tubuh orang tua tersebut, terutama pilar surgawinya.


Setelah beberapa saat akhirnya semua luka di tubuh Patriak Ling telah sembuh sepenuhnya, bahkan mata dan pilar surgawi yang sebelumnya telah hancur sekarang telah berfungsi kembali dengan normal.


Rey melepas jurus pengendali jiwa miliknya agar orang tua di depannya ini dapat bicara.


“Jadi bagaimana? Apa kau menyetujui usulanku? Jika tidak akan kubuat kau mengalami siksaan seperti tadi, bahkan mungkin lebih buruk” Ucap Rey yang membuat tubuh Patriak Ling bergetar hebat, bahkan terlihat jika air mata orang tua tersebut sedikit keluar.


“Ba-baik, a-aku a-a-akan me-melaksanakan perintah anda” Ucap Patriak Ling terbata-bata karena kini mentalnya terganggu akibat siksaan Rey sebelumnya.


“Bagus, dan juga jangan pernah membicarakan mengenai apapun yang telah terjadi saat ini, karena jika kau membocorkannya akan kupastikan semua bagian tubuhmu ku bongkar” Ucap Rey yang kini menyeringai seperti psikopat.


“Dan juga sadarkan mereka semua, jika mereka mencariku katakan saja bahwa aku sedang sibuk”


Setelah mengatakan beberapa hal tersebut, Rey segera melangkah pergi meninggalkan kekacauan yang telah ia buat dan menuju ke Rumahnya untuk menemui ibunya, karena sejak kemarin ia belum memberi kabar mengenai keberhasilannya menjadi murid di Sekte Laut Biru.


Persis setelah Rey pergi, Patriak Ling langsung terduduk lemas, jangankan berdiri, bergerak seinci saja ia tidak mampu karena ketakutan yang ia rasakan tadi membuat tubuhnya seperti kehilangan seluruh tenaganya.

__ADS_1


__ADS_2