
Semua bandit menjadi siaga, meskipun seorang bandit tetapi nampaknya mereka bukanlah orang bodoh yang hanya asal maju tanpa menggunakan otak.
Pandangan bandit-bandit itu terarah kepada Rey yang tengah menginjak kepala ketua mereka dengan hina, mereka ingin sekali menebas bocah cilik di depan mereka saat ini, tetapi mengingat bahwa Rey yang mampu menipu mereka semua, bahkan dapat membunuh sang Ketua membuat mereka segera mengurungkan niatan tersebut.
“Semuanya serang orang tua yang di sampingnya, biarkan aku yang mencabut kepala bocah sinting ini.” Teriak lantang salah satu bandit, sepertinya dia adalah tangan kanan ketua bandit tersebut.
“Baik.” Semua bandit tersebut langsung menyerang Tetua Fengyi seperti arahan Ketua baru mereka.
Tetua Fengyi melihat sekitar 20 bandit mengelilinginya, tidak peduli seberapa besar dia mengeluarkan seluruh kekuatannya tetap mustahil untuk menang, jangankan menang, bertahan selama 5 menit saja sudah mustahil.
“Orang tua jangan sampai mati, karena jika kau mati aku jadi tidak bisa mengikuti turnamen nantinya.” Bukannya peduli dengan Tetua Fengyi, Rey malah lebih peduli tentang turnamen yang diikutinya.
Mendengar itu membuat semua orang tersentak, bahkan semua bandit kini menatap Rey dengan heran, dalam pikiran mereka hanya ada satu, bocah yang membunuh ketua mereka adalah orang gila, tidak ada manusia normal yang lebih mementingkan hal lainnya daripada nyawa orang terdekatnya.
Namun mereka tidak tahu tentang Rey, meskipun ada orang sekarat di depan matanya Rey tidak akan merasa kasihan atau berusaha menolong, entah ngesot-ngesot di tanah ataupun sampai menjilati kakinya sekalipun dia tidak akan pernah peduli dengan orang tersebut.
Rey memiliki prinsip hidup yaitu tidak pernah mengurusi urusan orang lain karena dia sendiri sangat benci jika ada orang yang mengurusi hidupnya, walaupun mereka bermaksud baik.
Tetua Fengyi hanya bisa mengupat, dalam hatinya berkata, “Dasar bocah gila, apa dia pikir bisa keluar hidup-hidup dari situasi hidup dan mati ini?!”
Melihat bawahannya masih diam membuat si tangan kanan bandit tersebut geram, dia berkata, “Kenapa kalian hanya bengong? Cepat serang dia!”
Semua bandit yang mengelilingi Tetua Fengyi langsung melancarkan serangan dengan ganas. Tetua Fengyi awalnya masih bisa mengimbangi para bandit tersebut, namun itu tak berlangsung lama karena beberapa tebasan telah mendarat kepadanya.
Tetua Fengyi berteriak, “Bocah aku akan mengurus mereka semua! Tolong selamatkan teman-temanmu itu!”
Setelah itu Tetua Fengyi menggiring para bandit tersebut menjauh dari sana. Sedangkan Rey hanya menggelengkan kepala pelan, dia sama sekali tidak peduli dengan bocah-bocah pengecut seperti mereka, entah mereka disiksa ataupun mati dia sama seekali tidak peduli.
“Buat apa aku harus melindungi mereka? Mau hidup ya harus usaha, bukannya malah nangis seperti bocah idiot, hidup di dunia yang sangat keras ini haruslah menjadi yang terkuat agar bisa menindas yang lemah, hahahaha.” Rey tertawa seperti orang kesurupan.
Mungkin hanya Rey sendirilah yang mempunyai pemikiran gila tersebut, karena orang waras akan menjadi yang terkuat demi melindungi orang yang dia sayangi, ataupun untuk menjadi yang terkuat agar tidak ditindas.
__ADS_1
Namun berbeda dengan Rey, dia menjadi yang terkuat tentu saja untuk menindas yang lemah, membuat kerusuhan dimana-mana, karena menurutnya orang akan menjadi lemah karena sebuah ikatan, karena itulah dirinya tidak pernah terikat oleh sebuah ikatan keluarga ataupun teman.
Sekarang Rey satu lawan satu dengan komandan baru bandit, sedangkan kawan-kawannya hanya diam dan melihat dia dengan tatapan memelas.
“Kau memang bocah yang sangat gila, aku sangat setuju dengan ucapanmu, tetapi kau mengucapkan hal itu dengan santai seolah-olah akan hidup setelah ini.”
Rey menyeringai, lalu berkata “Coba kau tahan ini.”
Rey mengeluarkan api abadi miliknya, lalu mengarahkannya kearah bandit di depannya. Sedangkan si bandit malah tertawa terpingkal-pingkal karena melihat api yang sebesar genggaman tangan mengarah kepadanya.
“Hahahaha, api sekecil ini paling ditiup saja sudah hilang.” Bandit tersebut tertawa mengejek bahkan sampai mengeluarkan air mata, namun suara tertawa tersebut berganti dengan sebuah teriakan memilukan, karena ternyata api kecil tersebut tidak bisa dia padamkan setelah menyentuh tubuhnya.
“Arrghhhhh, kenapa api ini tidak mau padam?! Tolong!” Bandit menggeliat-geliat di tanah untuk memadamkan api, tapi na’as api di tubuhnya bukannya padam malah semakin lama semakin membesar.
Rey melihat itu tersenyum, dia lalu memperbesar api abadinya sampai membakar seluruh badan bandit tersebut. Tentu saja kobaran api yang membakar tubuh bandit tersebut membuat Zenith dan semua murid di sana melototkan matanya.
“Arghhhhhh!”
Tak lama kemudian, akhirnya tubuh bandit tadi telah hangus menyisakan tulang belulang saja, karena panas api abadi milik Rey itu sekitar 5 kali lebih panas dari api biasa.
Rey memfokuskan indra pendengarannya untuk mencari dimana Tetua Fengyi berada, dia mendengar suara benturan pedang tak jauh dari tempatnya, dengan segera dia menuju sumber suara tersebut, karena jika orang tua tersebut tewas dia tidak akan bisa mengikuti turnamen nantinya.
**
Di sisi lain atau lebih tepatnya di sebuah hutan tak jauh dari tempat Rey, Tetua Fengyi kini berada dalam keadaan terdesak, seluruh tubuhnya bermandikan darah segar karena luka-luka yang menganga akibat serangan para bandit. Dia saat ini sudah diambang batas, namun dirinya teringat akan putrinya Feng Qiuyu, karena putrinya itulah dia saat ini masih bisa berdiri melawan walaupun kedua kaki dan tangannya bergetar hebat.
“Hah, mungkin ini akhir dariku, maafkan aku putriku, Ayahmu ini mungkin tidak bisa berada disisimu lagi.” Pandangannya perlahan memburam, telinganya kini hanya bisa menangkap samar-samar suara para bandit di depannya yang ternyata sedang tertawa.
“Cepat kita bunuh dia, karena setelah ini kita akan menikmati ketiga wanita cantik tadi.” Ucap salah satu bandit yang kini pandangannya berubah menjadi mesum.
[Slebbb]
__ADS_1
Sebuah pedang besar menembus leher bandit yang berbicara tadi, tentu saja hal itu membuat shock kawanan bandit di sana.
Dari kejauhan terlihat seseorang berjalan mendekati mereka, mereka semua menggengam senjata masing-masing, dan betapa terkejutnya mereka karena ternyata orang tersebut tak lain adalah bocah yang membunuh ketua mereka tadi.
“Ketemu, hahahaha!” Rey tertawa lantang seraya menyeret pedang besar miliknya.
Rey melihat Tetua Fengyi, dan berkata, “Hoy orang tua, kau cukup hebat juga bisa bertahan selama ini, yah meskipun tubuh tuamu itu hampir bobrok sih.”
Meskipun samar-samar mendengar suara Rey, entah kenapa membuat dirinya kesal walaupun dia tidak tahu apa yang tengah diucapkan bocah gila itu. Namun rasa kesalnya digantikan oleh perasaan lega, karena jika bocah gila itu berada di sini artinya dia telah mengalahkan musuhnya.
“Bocah gila, entah mengapa kau sangat mirip dengan sahabatku Mo.” Batin Tetua Fengyi tersenyum kecil.
Rey mengalihkan pandangannya ke arah bandit tersebut, dan bergumam, “Segel ketiga gerbang kegelapan, terbukalah!”
[Blashhhhhh]
Aura gelap menyelimuti tubuh Rey, samar-samar terlihat aura gelap itu membentuk sebuah mahkota di atas kepalanya. Semua bandit mematung, badan mereka semua bergetar hebat karena merasakan aura gelap yang sangat mengerikan yang dikeluarkan oleh Rey.
Mata Rey berubah hitam, dia berjalan mendekat menuju bandit tersebut. Setiap Rey berjalan membuat rumput-rumput yang dilewatinya layu, bahkan tak sedikit burung-burung yang jatuh dari langit akibat aura gelap yang dia keluarkan.
Semua bandit tiba-tiba saja ambruk ke tanah, karena tidak kuat menahan aura gelap yang di keluarkan oleh Rey, bahkan sekedar bersuara saja mereka tidak bisa.
Rey memegang salah satu kepala bandit, dan berkata pelan, “Teknik penghisap jiwa, sang dewa kematian.”
“Arrghhhhh!” Badan bandit tersebut menjadi kering, dan hanya memperlihatkan kulit dan tulang saja.
Melihat tubuh salah satu bandit mengering membuat mereka semua ketakutan bukan main. Mereka ingin lari, namun sekuat apapun mereka berusaha untuk bergerak hasilnya tetap nihil, karena menggerakan jari tangan sedikit pun tidak bisa.
Rey tersenyum seperti psikopat dan berkata, “Selanjutnya.”
Berikutnya hanya terdengar suara-suara teriakan menyayat hati yang menggema dari bandit-bandit tersebut. Tetua Fengyi yang masih dalam keadaan sadar saat ini tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, meskipun samar dia masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.
__ADS_1