
Seminggu telah berlalu. Sejak kedatangan Rey di Sekte Laut Biru membuat Sekte tersebut kacau, tiada hari tanpa kekacauan, bahkan yang lebih parahnya lagi Gudang Sekte yang baru selesai di perbaiki hancur kembali karena perbuat Rey.
Karena kelakuannya tersebut orang-orang di Sekte Laut Biru memberi beberapa julukan aneh kepada Rey seperti bocah gila, si pengacau, bocah iblis, bocah setan. Namun, segala kekacauan yang dibuat Rey membuat Sekte Laut Biru yang awalnya redup kini mulai berwarna kembali, mereka semua tersenyum bahagia melupakan semua cacian dan hinaan yang selalu dilimpahkan oleh Sekte mereka.
Rey kadang-kadang juga menceritakan tentang pengalamannya, mulai dari peperangan, pertempuran, pembantaian, bagaimana dia mendapat juluka sang penghancur, tidak terkecuali saat dia di keroyok jutaan Kultivator.
Mereka semua sangatlah antusias mendengar cerita Rey meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang mempercayai cerita tersebut. Semua cerita Rey sangatlah menarik walaupun beberapa cerita itu kadang-kadang membuat mereka merinding, yang membuat mereka tertarik adalah Rey menceritakannya seperti benar-benar mengalami itu semua, padahal semua cerita Rey memanglah kenyataan.
Perlahan namun pasti, Rey menjadi akrab oleh semua orang di Sekte Laut Biru, bahkan dia merupakan seorang idola di sana karena memiliki bakat yang melimpah dan juga sangat unik.Seperti saat ini, Rey sedang membuat pil di depan para murid di sana.
Awalnya Patriak Mo dan semua Tetua di sana menolak karena tidak ingin kejadian Rey yang meledakan salah satu ruangan kelas terulang kembali, namun karena desakan semua murid membuat mereka terpaksa menyetujui permintaan mereka asalkan dilakukan di Aula.
Patriak Mo dan semua Tetua juga juga menyaksikan Rey yang sedang membuat pil tersebut, mereka cukup penasaran dengan bakat Alkemis yang dimiliki Rey, karena membuat pil adalah salah satu hal yang sangat sulit dilakukan.
“Bocah gila itu sangatlah berbakat, dia bisa membuat pil kualitas tinggi hanya dengan menggunakan bahan-bahan seadanya, meskipun pil buatannya itu sangatlah aneh, bahkan aku sendiri sampai kesurupan karena memakan salah satu pil bocah itu.” Tetua Fengyi mengingat-ngingat kejadian yang menimpanya seminggu yang lalu.
Semua Tetua di sana tak kuasa menahan tawanya karena mengingat kejadian absurd Tetua Fengyi yang kesurupan seperti orang kesetanan, bahkan Patriak Mo yang sejak tadi serius melihat proses pembuatan pil oleh Rey tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal karena mengingat hal tersebut.
Flashback
Rey yang berhasil menyelesaikan tantangan dari Gurunya untuk membuat Pil tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, walaupun ruang kelasnya menjadi hancyr. Namun, menurut Rey semua itu sebanding dengan yang dia dapatkan, bahkan dia sudah tak sabar untuk mendapat panggilan Kakek dari Gurunya tersebut.
“Hoi, pak tua, aku berhasil menyelesaikan tantanganmu, sekarang panggil aku Kakek Rey!” Rey nampaknya sangat ingin di panggil Kakek, dia bahkan tak terlihat malu sedikitpun.
Mendengar ucapan Rey yang ditunjukan kepada Guru tersebut membuat Patriak Mo tersentak.
Tiba-tiba saja Patriak Mo mencengkram kerah baju Guru tersebut dan mencangkingnya seperti ayam, “Jadi kau yang mengajarinya membuat pil?! Sudah ku katakan untuk tidak berbuat hal aneh-aneh, kelakuan bocah itu sungguh di luar nalar! Karena perbuatanmu ini telah membuat salah satu ruangan Sekteku hancur idiot!”
Karena kesal Patriak Mo menyeret Guru tersebut dan melemparkannya keluar Sekte dengan brutal. Rey yang melihat itu tentu kesal, padahal dia sudah sangat menanti-nanti untuk dipanggil Kakek oleh cucu barunya tersebut.
Patriak Mo kembali ke kerumunan dengan ekspresi garang yang membuat semua orang yang melihatnya menelan ludah. Namun, setelah melihat tangan Rey yang menunjukan 3 pil membuat Patriak Mo terkejut bukan main.
__ADS_1
“Bo-bocah gila, itu pil buatanmu?!” Ujar Patriak Mo seraya menunjuk ke arah tangan kanan Rey.
Perkataan Patriak Mo membuat semua orang di sana serentak menoleh ke arah tangan kanan Rey, dan betapa terkejutnya mereka karena melihat 3 buah pil yang sangat berkilau seperti permata.
“Tentu saja, mau coba?” Rey melemparkan ketiga pil buatannya ke arah Patriak Mo.
Patriak Mo dengan sigap langsung menangkap ketiga pil tersebut, dan betapa terkejutnya dia karena ternyata pil buatan Rey berkilau seperti permata, bahkan yang lebih mengejutkannya lagi adalah ketiga pil tersebut mengeluarkan bau harum seperti susu.
Mereka semua yang ada di sana merasa tenang karena aroma yang berasal dari pil buatan Rey.
“Pi-pil apa ini?” Patriak Mo bertanya dengan serius, karena baru kali ini dia melihat pil yang sangatlah murni dan juga mempunyai bau harum seperti susu.
“Itu adalah Pil penyembuh tingkat tinggi.” Rey menjawab asal karena sebenarnya dia sendiri tidak tahu akan khasiat dari pil yang baru dibuatnya tersebut.
Semua orang di sana terkejut bukan main, mereka semua tahu jika Pil Penyembuh Tingkat Tinggi mempunyai harga yang cukup mahal yaitu 750 keping emas setiap satu butirnya.
Patriak Mo terlihat mempercayai ucapan Rey, karena dia sendiri telah merasakan aura pil ditangannya itu sangat mirip seperti Pil kualitas tinggi yang pernah dia rasakan.
Untuk memastikan bahwa pil yang di tangannya benar-benar Pil Penyembuh Tingkat Tinggi, Patriak Mo memberikan salah satu pil kepada Tetua Fengyi karena kawan lamanya tersebut terkena racun siluman ular level 3 beberapa bulan yang lalu.
“Fengyi ini ambilah, siapa tahu jika pil buatan bocah ini dapat menetralisir racun siluman ular yang ada di dalam tubuhmu.”
Tetua Fengyi merasakan jika pil yang ada ditangannya memanglah pil tingkat tinggi karena aura yang dipancarkannya sangaah kuat. Meskipun begitu Tetua Fengyi terlihat sangat ragu untuk mencobanya, karena dia melihat bocah gila di depannya sedang tersenyum dengan wajah hitamnya.
Namun, setelah diyakinkan oleh Patriak Mo akhirnya Tetua Fengyi may menelan pil tersebut.
Dan keanehan pun terjadi. Persis setelah Tetua Fengyi menelan pil buatan Rey, tiba-tiba saja dia ngesot-ngesot seperti orang kesurupan.
Dengan tangan dan kaki yang menempel di tanah seperti harimau membuat semua orang di sana terkejut bukan main. Patriak Mo dan semua Tetua di sana terlihat memasang segel di sekitar Tetua Fengyi karena merasa jika Tetua Fengyi saat ini sedang di kendalikan oleh roh jahat.
Namun tiba-tiba saja Tetua Fengyi berteriak.
__ADS_1
“Arrrrrrrrrrghhhhh! Aing Maung!”
"Kopiiiiiii!!!"
"Udutttttt!!!"
Rey melototkan matanya karena melihat Tetua Fengyi kesurupan. Rey merasa jika perilaku aneh yang dialami Tetua Fengyi mirip dengan seseorang yang pernah mencoba pil buatannya di kehidupannya lalu.
Flashback Selesai
Setengah jam berlalu, terlihat jika Rey telah selesai membuat beberapa Pil. Mereka semua yang melihat itu berdecak kagum, apalagi saat Rey mengeluarkan jurus apinya yang sangatlah panas walaupun sebenarnya itu bukanlah jurus melainkan benar-benar api yang memiliki jiwa.
“Baiklah, siapa yang mau mencoba pil buatanku?” Teriak Rey dengan lantang.
Hening… Meskipun mereka kagum dengan kemampuan Rey dalam membuat pil, tapi tetap saja mereka semua tidak berani mencobanya karena mereka semua tentu tidak ingin menjadi kesurupan seperti Tetua Fengyi seminggu yang lalu.
Rey yang melihat itu kesal, dengan segera dia menelan salah satu pil buatannya sendiri yang membuat semua orang mendelik ke arahnya, bahkan Patriak Mo dan semua Tetua di sana mengeluarkan senjatanya untuk menghalau Rey jika akan menggila kembali.
“Hahahahahaha!” Rey tiba-tiba tertawa seperti orang kerasukan yang tentunya membuat semua orang di sana jantungan. Sepertinya mereka semua trauma dengan suara tawa Rey, karena setiap Rey tertawa pasti dia akan menggila.
“Semuanya pergi dari sini! Sepertinya bocah gila itu akan mengamuk lagi!” Patriak Mo berseru lantang karena tidak ingin jatuh korban karena kegilaan Rey.
Mereka semua lari kocar-kacir tak tentu arah, namun tiba-tiba saja …
“Hei, mau kemana kalian, orang lagi tertawa malah kocar kacir, ckckck.”
Mereka semua sungguh tidak bisa membedakan antara tawa gila dengan tawa biasa Rey, karena menurut mereka suara tawa Rey seperti iblis yang membuat mereka semua jantungan.
“Dasar bocah setan! Jika ketawa seperti itu lagi akan ku tebas kepalamu!” Wajah Patriak Mo merah padam karena merasa jika mereka semua dipermainkan oleh Rey.
Rey hanya tersenyum menanggapi itu semua, dia tentu sengaja membuat semua orang di sana takut hanya karena mendengar suaranya saja, yang tentu saja tujuannya itu tak lain adalah membuat semua orang takut kepadanya kelak.
__ADS_1
Rey tidak menyadari jika ketakutan yang disebarnya tidak membuat mereka semua takut dengan keberadaanya tetapi mereka semua hanya takut akan kegilaanya bukan kehadirannya.