
Di sebuah rumah yang bisa dibilang sangat sederhana terdapat sepasang suami istri yang dimana sang istri saat ini sedang dalam proses melahirkan dibantu oleh seorang tabib perempuan.
“Kamu harus selamat beserta bayi kita Ruo’er,” batin sang suami cemas. Dia menunggu di luar kamar persalinan sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu.
Oekkkkk…
Setelah lama menunggu akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Sang suami yang mendengar itu langsung bergegas masuk menghampiri istrinya. Di dalam kamar, nampak seorang bayi laki-laki mungil di samping istrinya. Dengan penuh perasaan bahagia sang suami mendekati istrinya yang sedang terbaring lemah di ranjang setelah melahirkan.
“Syukurlah kamu dan bayi kita baik-baik saja Ruo'er.” Dengan penuh rasa syukur dia mencium kening istrinya penuh kasih sayang dan setelah itu berganti mencium kening putranya yang baru lahir tersebut.
Sang istri hanya tersenyum lemas sebagai jawaban, sebab dirinya saat ini sangat kelelahan setelah melahirkan putra pertamanya.
“Apa kau sudah menemukan nama yang bagus untuk anak kita?” tanya sang suami dengan lembut seraya memandang wajah putranya.
Sang istri mengangguk pelan, “Sudah, aku beri nama dia Rey... yang artinya penguasa.”
10 tahun kemudian...
Rey si bayi kecil tumbuh menjadi pemuda rupawan berambut putih, sifatnya lemah lembut dan sangat santun. Namun, semua itu tidak membuatnya menjadi permata di mata orang, sebab Rey kecil tidak bisa berkultivasi dikarenakan dantiannya didiagnosis cacat oleh tabib-tabib yang pernah memeriksa tubuhnya.
Hal ini membuat Rey kecil menjadi bahan ejek serta bullyan oleh orang-orang. Seperti saat ini, di sebuah jalanan sepi penduduk, Rey sedang dibully oleh sekumpulan pemuda yang nampak sedikit lebih tua darinya.
“Dasar cacat! berani sekali orang cacat sepertimu mendekati nona Yui?” Salah satu pemuda bernama Ling Zuo menendang kepala Rey lalu menginjaknya dengan keras.
Rey mengernyit kesakitan, dia hanyalah seorang manusia biasa dan tentunya injakan Ling Zuo membuat wajahnya kesakitan. “Ta-ta-tapi tadi aku hanya mengobrol dengannya.” Dengan suara yang bergetar Rey mencoba membela dirinya karena memang apa yang dilakukannya tidaklah melanggar hukum.
Mendengar pembelaan yang keluar dari mulut Rey membuat Ling Zuo marah. Ling Zuo menarik rambut Rey hingga tubuhnya terangkat ke atas. Rey berteriak kesakitan, dia berusaha melepaskan diri, tapi tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di perutnya dengan sangat keras hingga membuatnya memuntahkan darah segar dari mulut.
Rey menatap Ling Zuo dengan lemas, matanya seperti memohon belas kasihan, tapi apalah daya, bukannya mendapat simpati, dia malah mendapatkan pukulan kembali tepat di perutnya. Ling Zuo melemparkan tubuh Rey ke dinding layaknya melempar sebuah sampah lalu menginjak tangannya hingga terdengar suara patah tulang.
Karena rasa sakit yang luar biasa membuat Rey tidak bisa mengeluarkan suara lagi dan hanya bisa meringkuk kesakitan, entah bagaimana dirinya menjelaskan keadaannya saat bertemu dengan ibunya di rumah nanti. Selama ini dirinya selalu berhasil menyembunyikan penderitaannya dari orang tuanya karena tidak ingin membuat mereka malu, tapi sepertinya kali ini dia tidak akan bisa menyembunyikannya lagi.
“Kalian semua hajar dia, aku akan memberikan 10 keping emas kepada siapapun yang dapat membuat si cacat ini sekarat.”
Segera setelah itu mereka semua dengan beringas langsung menghajar Rey tanpa ampun, mereka bahkan tidak segan-segan menggunakan Qi saat memukul Rey. Walaupun penggunaan Qi mereka saat menghajar Rey termasuk rendah tetapi yang mereka lupakan adalah bocah yang mereka pukuli sekarang hanyalah manusia biasa atau dalam arti lain bukanlah seorang kultivator.
Rey hanya bisa pasrah, pukulan dan tendangan mendarat mulus di wajah serta tubuhnya, bukannya merasa sakit, dia malah merasakan hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka semua berhenti menghajar Rey karena salah satu dari mereka menyadari sesuatu. Pemuda tersebut mengecek denyut nadi Rey dan betapa terkejutnya dia saat tidak bisa merasakan denyut nadi Rey, bahkan sekedar hembusan nafas saja tidak ada.
Badan pemuda itu bergetar, dia menoleh ke arah Ling Zuo.“Bos, bocah ini sudah mati!”
Mereka semua yang mendengar itu tentu saja panik bukan main, mereka sungguh tidak menyangka jika pukulan main-main mereka dapat membunuh Rey.
“Apa?!” Ling Zuo tidak percaya begitu saja dan segera mengecek tubuh Rey secara langsung, tapi ternyata dugaannya salah karena dia sama sekali tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan Rey yang artinya dia benar-benar telah membunuh seseorang kali ini.
Ling Zuo panik, wajahnya memucat, walaupun berusaha untuk tenang tetap dapat terlihat dengan jelas jika saat ini tubuhnya tengah bergetar. Ling Zuo melihat ke sekitarnya dan menyadari bahwa tidak ada seorang pun di sana, jadi jika tidak ada yang menjadi saksi maka tidak ada orang yang akan melaporkan mereka pikirnya.
“Bi-biarkan saja dia di sini, mari kita pergi sebelum ada yang melihat.”
Lupakan mengenai tanggung jawab, ketakutan di dalam hati mengisyaratkan mereka untuk lari menghindari masalah. Tanpa pertimbangan atau merasa bersalah, mereka semua mengangguk setuju dan segera beranjak pergi meninggalkan Rey yang tergelatak tak bernyawa di jalanan sepi tersebut.
Namun, keanehan terjadi, Rey yang semula sudah dinyatakan tewas ternyata kini membuka kembali matanya. Dengan posisi yang masih terlentang di tanah Rey menatap kosong ke arah langit yang cerah, ekspresi wajahnya nampak biasa saja seolah-olah dia pernah mengalami hal serupa.
Beberapa saat kemudian Rey mengambil posisi duduk, dia melihat ke arah tangannya yang sangat kecil, “Hm… sudah kuduga aku hidup kembali, jadi sekarang aku kembali hidup di tubuh seorang bocah?”
Rey menoleh ke sekelilingnya, dia merasa cukup asing dengan tempat dimana dirinya berada saat ini, tapi tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit, lalu semua kepingan memori tubuh pemuda yang ditempatinya perlahan-lahan menyatu dengan ingatannya.
“Jadi tubuhku ini bernama Rey? yah, apapun namanya tidak masalah, selama itu adalah nama yang kupakai maka semua hal yang awalnya biasa akan menjadi luar biasa,”gumam Rey sambil cengengesan sendiri membayangkan betapa luar biasanya dirinya.
Rey mengernyit kesakitan saat merasakan beberapa tulang rusuknya retak, dia juga baru menyadari jika tangan kirinya patah.
__ADS_1
Rey menghela nafas kasar, ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak menyenangkan untuk dipandang, “Kenapa… kenapa setiap aku hidup kembali selalu saja sial?! Kenapa tubuh yang kutempati selalu babak belur? Apa aku sudah dikutuk?”
Rey tiba-tiba mengingat sesuatu sebelum kematiannya, dia mengingat sesosok pria dengan mata merah darah menyeringai tepat di depannya, sosok itu selalu muncul tepat sebelum kematiannya, tapi anehnya tidak ada satupun orang yang melihat atau paling tidak menyadari kehadirannya.
“Mata merah itu… siapa dia sebenarnya? kenapa darahku selalu mendidih ketika mengingatnya?” Gumam Rey sambil mengepalkan tangannya.
Rey dikejutkan dengan kehadiran sosok pria bermata merah darah yang baru saja dia pikirkan tepat di depannya. Sosok tersebut menatap tajam mata Rey, “Kau sama sekali tidak berubah setelah melewati semua ini… mengapa kau tidak menerima saja bahwa kenyataan tidak seindah ilusi.”
Rey kebingungan, dia ingin sekali mengeluarkan segala pertanyaan yang selalu ada di pikirannya tentang mengapa sosok bermata merah itu selalu menghantui pikirannya,tentang mengapa dia selalu hidup kembali setelah kematian menimpanya, tentang mengapa dia selalu bermimpi hal-hal aneh yang sama sekali tidak pernah dia lakukan,
Rey menatap sosok tersebut dengan tajam tanpa merasa takut sama sekali, "Siapa sebenarnya kau ini sialan!? Mengapa kau selalu muncul dan membuatku muak, kenapa kau-" Saat akan berbicara lagi-tiba-tiba saja seluruh tubuhnya kaku tanpa bisa dia gerakan sama sekali.
Ekspresi sangar sosok tersebut digantikan dengan ekspresi sendu yang terlihat mengandung penyesalan begitu dalam.“Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku mengingat sesuatu yang tidak ingin kuingat kembali...”
Beberapa kali sosok tersebut menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. “Aku tahu apa yang ingin kau katakan, karena itu aku mengunci mulutmu karena kau itu selalu berisik."
Rey menatap tajam sosok tersebut, seperti dugaannya bahwa sosok di depannya saat ini mengetahui sesuatu mengenai dirinya, itu seperti dia sudah mengenalinya dalam waktu yang cukup lama.
“Aku tidak akan melakukan semua ini jika pada akhirnya sia-sia, tapi kurasa kau akan menemukan jawabannya karena terdapat sesuatu yang istimewa nantinya…” Sosok itu berbicara sendiri tanpa mempedulikan Rey yang sama sekali tidak memahami maksud perkataannya.
Sosok tersebut membalikan tubuhnya membelakangi Rey.“Pertemuan ini tidak akan pernah terjadi karena ini hanyalah sebuah ilusi yang kuciptakan semata, tapi ingatlah perkataan ini, kenyataan dan ilusi selalu bergandengan tangan, mata dan hati merupakan cerminan agar dapat melihat segala kepalsuan.”
Rey melototkan matanya saat mulut sosok tersebut bergerak tanpa bersuara seperti mengatakan sesuatu kepadanya. Namun, itu semua hanya berlangsung sesaat karena sosok tersebut tiba-tiba menghilang diikuti dengan Rey yang terlihat seperti orang linglung.
Tak lama kemudian Rey tiba-tiba berdiri lalu mengibas-ngibaskan pakaiannya yang kotor. “Baiklah, sekarang tubuh ini milikku, karena kau sudah mati ya mati saja tidak usah bangun..." Rey menyeringai lebar. "Akan kuperlihatkan kepadamu bagaimana sang penghancur ini menghancurkan semua musuhmu ataupun musuhku!”
Rey nampak tidak mengingat apapun mengenai kejadian sebelumnya seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.
Rey berjalan keluar dari jalanan sepi tersebut dan menuju ke tempat tinggalnya sesuai dengan ingatan di otaknya sekarang. Rey nampaknya tidak mempedulikan pakaiannya yang terdapat banyak sekali bercak darah, bahkan wajahnya terlihat biasa-biasa saja dengan banyak luka di tubuhnya, tapi itu adalah hal yang lumrah sebab sakit semacam itu merupakan hal biasa di kehidupannya dulu.
Rey berjalan menyusuri rumah demi rumah, dia tidak mempedulikan tatapan orang-orang yang mengarah kepadanya. Tak selang berapa lama kemudian, langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang lebih terkesan seperti sebuah gubuk yang akan roboh jika tidak sengaja kesenggol badak.
Seorang wanita cantik yang terlihat berumur 30 tahunan berjalan keluar dari rumah itu, dia terlihat syok saat melihat keadaan Rey yang begitu mengkhawatirkan.
Wanita itu berlari menghampiri Rey dengan tergesa-gesa. “Kenapa tubuhmu dipenuhi luka Rey?” tanyanya sambil memeriksa keadaan Rey. Wanita itu nampak panik saat tangannya merasakan retakan tulang di dada putranya tersebut.
Rey memandang wajah wanita itu dengan seksama, dia tahu jika wanita yang tengah memeriksa tubuhnya saat ini merupakan ibu dari tubuh yang dia tempati sekarang, “Apa itu artinya dia sekarang menjadi ibuku?” batinnya bertanya-tanya.
Rey ingin sebenarnya sekali mencekik leher ibunya sekarang karena telah lancang menyentuh tubuhnya tanpa seizin dirinya, tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya bahkan seekor nyamuk pun harus mendapatkan izinnya sebelum berani menghisap darahnya.
Namun, hati Rey melunak saat melihat ekspresi khawatir ibunya yang entah kenapa membuatnya senang.“Bukannya aku menyukai ini, tapi dikhawatirkan seperti ini tidak buruk juga.” Pikirannya menolak perlakuan ibunya tapi hatinya malah berkata sebaliknya.
Rey di Tarik masuk ke dalam rumah oleh ibunya lalu dipaksa duduk. Ruoer menarik baju Rey hingga sobek dan betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh putranya tersebut penuh dengan luka lebam.
Dengan gemetar tangan Ruoer menyentuh pelan tubuh Rey, air matanya tidak bisa dibendung ketika melihat anak laki-lakinya tersebut mendapati luka yang sangat mengerikan disekujur tubuhnya.
Rey hanya melihat itu dalam diam, dia tidak pandai menghibur seseorang karena di kehidupan sebelumnya dalam mimpi pun orang-orang sama sekali tidak menginginkan dirinya muncul, bahkan dia dapat mempercepat kematian orang sekarat hanya dengan menghampirinya saja.
“Tidak ada salahnya mencoba," batin Rey. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan berkata, “Ehem… aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini, jadi tidak perlu khawatir.”
Perkataan Rey bukannya menenangkan hati malah membuat ibunya tambah merasa bersalah. Tanpa di duga Ruoer mengiris jarinya hingga keluar darah lalu meneteskan darahnya pada tubuh Rey. Keajaiban terjadi, darah tersebut meresap masuk ke dalam kulit dan seketika saja semua luka dari kepala hingga kaki sembuh total tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.
Rey berpura-pura biasa saja, namun sebenarnya dia mengetahui fakta jika ibunya memiliki tubuh langka bernama Lotus Merah yang di mana darah pemilik tubuh tersebut dapat menyembuhkan semua luka ringan-berat luar-dalam dalam waktu singkat.
“Kurasa ibu menyembunyikan kemampuannya, andai saja orang-orang tahu mengenai hal ini pastinya mereka rela membunuh satu sama lain demi mendapatkan tubuh langka Lotus Merah, bukan tidak mungkin akan terjadi peperangan untuk memperebutkannya...” Di dalam hatinya Rey tertawa. “Tapi yah... semua itu tidak berlaku bagi sang penghancur yang sangat agung ini, api suciku bahkan dapat menumbuhkan bagian tubuh yang sudah hancur atau putus walaupun menguras Qi cukup banyak juga sih saat menggunakannya.”
Mereka berdua duduk dalam diam, Ruoer berusaha menghapus air matanya. Sementara Rey terlihat bodoh amat dan cuek amat andalannya.
Rey melihat ke sekelilingnya, dia tidak melihat atau merasakan kehadiran orang lain selain dirinya dan ibunya sekarang, tapi dia dengan jelas mengingat jika tubuhnya saat ini memiliki seorang ayah. “Dimana Ayah sekarang?”
“Ayahmu sedang berkerja, Rey.” Ruo'er menjelaskan dengan suara yang sangat lembut.
__ADS_1
“Kenapa dia masih belum pulang setelah satu bulan lamanya, memang apa pekerjaannya?” Rey cukup penasaran dengan perkerjaan ayahnya, karena tidak ada informasi apapun mengenai ayahnya di ingatannya sama sekali.
RuoEr tersentak, dia cukup terkejut saat mendengar pertanyaan Rey yang bertanya mengenai ayahnya, “Ah... kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang ayahmu? seingat ibu, kau bahkan tidak mau tau mengenai apapun yang dilakukan oleh ayahmu itu.”
“Ah... hehehe” Rey tertawa canggung sambil menggaruk pipinya.“Anak biadab, dia bahkan tidak mengetahui sama sekali mengenai ayahnya, andai saja dia anakku, akan kugantung di tengah hutan! Aku bahkan rela membatalkan proses pembuatannya jika itu memungkinkan!”batinnya kesal. Rey berpikiran jika pemilik tubuhnya sepertinya tidak menyukai ayahnya.
“Ayahmu diangkat menjadi penata taman di Keluarga Ling tepat sebulan yang lalu karena itu dia tidak pulang sampai sekarang.”Ruo'er dengan halus menjelaskan mengenai suaminya kepada Rey sambil tersenyum, nampaknya dia tidak sedikitpun malu mengenai pekerjaan suaminya.
Rey mencoba mengingat-ngingat mengenai Klan Ling.“Jika tidak salah ingat, bocah bernama Ling Zuo yang menghajar bocah ini berasal dari Klan Ling. Hmm, menarik, akan kumulai dari Klan Ling!” batin Rey sambil senyum-senyum sendiri seperti orang sinting.
Melihat putranya yang kini sedang tersenyum aneh sendirian membuatnya takut karena sepertinya mental anaknya kacau setelah luka-luka yang dia dapatkan. “Ada apa Rey? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyanya dengan cemas.
“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya sedang mengingat sesuatu yang lucu," jawab Rey dengan asal.
Ruoer menghela nafas kecil lalu tersenyum manis.“Sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahatlah, ibu ada di depan rumah jika kau memerlukan sesuatu.” Ruo'er mengelus pelan kepala Rey lalu pergi.
Rey dengan perasaan bahagia mendapat perlakuan hangat tersebut langsung bergegas menuju ke kamarnya dan segera tidur tanpa mempedulikan alas tempat tidurnya yang keras seperti kayu. Dia tidur bukan hanya karena disuruh ibunya melainkan karena tubuhnya saat ini masihlah seorang bocah yang membutuhkan istirahat yang cukup.
**
Pagi hari pun tiba, Rey nampak tertidur sangat pulas, bahkan dia sampai tidak sadar telah tertidur sepanjang malam.
Ruoer berjalan pelan memasuki kamar putranya.“Rey, bangun nak, bukannya hari ini kamu akan mengikuti tes menjadi murid di Sekte Laut Biru?” Ruo'er mengusap pelan kepala Rey untuk membangunkannya.
Rey seketika langsung membuka matanya saat merasakan kepalanya yang tengah diusap. Rey menghela nafas lega saat meliat orang yang tengah mengusap kepalanya ternyata Ruo'er, andaikan itu orang pasti saat itu juga kepala orang itu akan lepas. "Untung saja aku tidak langsung bertindak... bagus Rey, jangan sampai kau membunuh orang tua sendiri walaupun aku sama sekali tidak pedulijuga sih." batinnya.
Rey tidak tahu apa memang dirinya yang saat ini tengah senang atau karena respon tubuhnya, tapi yang pasti Rey nampak tidak mempedulikan hal itu dan menikmati semua perhatian dari ibunya sekarang.
“Mantap...”batin Rey seraya memandangi wajah ibunya yang sangat cantik.
“Nak? apa kau tidak apa-apa?” tanya Ruoer sambil menatap teduh Rey.
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Rey kelabakan sambil beranjak bangun.”Aku akan berangkat sekarang.”
“Sebaiknya kau sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.”
"Sekte ya? Ck, tubuh ini bahkan sama sekali tidak terlatih kecuali kelebihan tahan bantingnya, apa bocah ini bodoh? Apa dikiranya tes menjadi murid sebuah sekte itu modal bisa cengar-cengir sajakah?" Di dalam hatinya Rey cukup kesal walaupun ekspresinya tidak menunjukan hal tersebut.
Meskipun tubuhnya tidak terlatih baik dalam segi bela diri ataupun mengolah Qi bukan berarti saat tes nanti dia akan gagal, karena dia memiliki pengalaman hidup dan mati melebihi siapapun dan juga tidak ada orang yang seluar biasa dirinya dalam segi apapun terutama dalam menghancurkan sesuatu.
"Yah apapun itu sepertinya lebih baik aku mengikuti semua ini dengan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan." Rey akhirnya memilih untuk menuruti perkataan ibunya.
Namun, setelah sampai di meja makan dia cukup terkejut melihat makanan yang seadanya, tidak ada kata mewah sedikitpun karena makanan di depannya saat ini hanya sekedar sayuran hijau dan roti kering.
“Mana dagingnya? Arak atau semacamnya? Kenapa cuman sayuran dan roti kering saja?” Batin Rey tanpa menunjukan keterkejutannya.
Meskipun tidak pernah memilih-milih makanan yang akan dimakannya, tapi melihat makanan yang disuguhkan di depannya saat ini membuatnya marah sekaligus kesal, tidak ada daging saja membuatnya kesal bukan main, apalagi tidak ada minuman favoritnya arak? Itu seperti bencana baginya.
“Bukannya Klan Ling itu adalah cukup besar? Tapi mengapa keluargaku sampai tidak bisa membeli daging untuk dimakan atau setidaknya arak untuk minuman pagi hari? Sebenarnya berapa gaji ayahku di sana?”batin Rey sambil memikirkan nasib keluarganya karena sepertinya gaji ayahnya cukup kecil untuk seorang penata taman di sebuah keluarga yang cukup terkenal.
“Kenapa masih belum dimakan? Nanti kau telat jika masih menunda-nunda waktu.”
“Ah, baiklah”
Rey makan dengan lahap tanpa memikirkan rasa makanan hambar yang tengah dimakannya itu. Sedangkan Ruo'er yang melihat putranya yang makannya sangat lahap menjadi sedih, karena dia tidak bisa memberikan apa yang putranya butuhkan untuk menunjang kekuatannya.
Seusai makan Ruo'er nampaknya ingin berbicara dengan putranya. “Rey, kau tidak perlu memaksakan dirimu, ibu tidak mengharapkan apapun, cukup kau baik-baik saja sudah cukup.” Ruo'er memeluk Rey dengan sangat erat.
“Tentu saja. Baiklah, aku berangkat sekarang.” Rey melangkah pergi meninggalkan rumahnya dengan seringai lebar di wajahnya, sebab dipikirannya sekarang tengah berkumpul segala ide brilian yang tentunya bukanlah sebuah ide baik.
“Semoga berhasil nak,” teriak Ruo'er sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1