Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 23 - Sekarat


__ADS_3

Di dalam ruang pemulihan Rey dan Zenith terbaring tak sadarkan diri di awasi oleh Patriak Mo dan para Tetua lainnya. Mereka semua memiliki alasan yang sama saat ini yaitu untuk melihat keadaan Rey yang semakin lama semakin lemah.


Tetua Fengyi yang memiliki kemampuan medis terbaik di Sekte Laut Biru kini tengah bersusah payah membuat kondisi tubuh Rey membaik. Namun, nampaknya usahanya tersebut ternyata tidak membuahkan hasil, bahkan kini Rey sudah tidak bernafas sama sekali.


“Patriak, bagaimana ini?! Detak jantung bocah ini ada meskipun sangat lemah, tapi anehnya adalah dia sama sekali tidak bernafas!” Tetua Fengyi tentu panik melihat Rey yang bahkan tidak menghembuskan nafas sama sekali.


Mereka semua terkejut yang mendengar itu terkejut bukan main, jantung tetap berdetak walaupun tidak bernafas? Mungkin hanya Rey satu-satunya sajalah yang mengalami kondisi demikian.


“Apa yang kau maksud dengan dia tidak bernafas tetapi jantungnya masih tetap berdetak?” Tanya Patriak Mo dengan ekspresi datar.


Meskipun Patriak Mo sangat tidak menyukai sifat dan perilaku Rey, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu selalu saja bertengkar, berdebat, dan juga saling menghina. Namun, kenyataannya adalah dia sendirilah yang paling panik saat mengetahui kondisi Rey yang tak kunjung baik meskipun ekspresinya tidak menunjukan kekhawatiran sama sekali.


"Aku tidak bisa menjelaskan kondisinya, karena ini adalah pertama kalinya juga aku melihat kondisi seseorang seperti ini." Ucap Tetua Fengyi.


“Apa kalian tidak memiliki pil atau apapun yang bisa membuat keadaan bocah gila ini membaik? Bahkan wajahnya sekarang sampai pucat pasi seperti itu.” Ucap Patriak Mo seraya menunjuk kearah Rey yang kini wajahnya sangat pucat seperti kehilangan semua darahnya, bahkan tangannya sendiri sudah membiru seperti mayat.


Saat Rey lepas kendali segel kegelapan di tubuhnya ternyata ikut melemah, karena itulah dia tadi secara tidak sadar dia tadi membuat segel ketiga gerbang kegelapan di tubuhnya bocor. Kekuatan gelap yang dia segel sangatlah membahayakan nyawanya, karena itu bukan sekedar kekuatan gelap biasa, itu adalah kegelapan yang sesungguhnya.


Rey menyegel kekuatan gelapnya tak lain adalah agar tubuhnya tidak meledak karena kekuatan kegelapan yang meluap-luap tersebut. Dia meyegel kekuatan gelapnya menjadi 7 bagian yaitu segel pertama memiliki 5% dari total kekuatan kekuatan gelapnya, segel kedua 10%, segel ketiga 10%, segel keempat 10%, segel kelima 10%, segel keenam 20%, dan yang terakhir segel ketujuh yang memilik kekuatan gelap terbanyak yaitu 35℅.


Ketika segel ketujuh lepas, maka sudah bisa dipastikan jika seluruh kekuatan kegelapan tersebut akan memakan kehidupan apapun di sekitarnya, bahkan tanah sekalipun akan mati dibuatnya.


Namun, nampaknya Rey tidak sadar jika segelnya tersebut memiliki kelemahan yang sangat fatal yaitu semakin dirinya emosi maka semakin lemah pula segel tersebut, bahkan bukan tidak mungkin jika segel yang dia pasang dapat hancur saat dia kehilangan kendali seperti yang terjadi di Gudang Sekte sebelumnya.

__ADS_1


Setiap Rey membuka segel kegelapan sebenarnya tubuhnya juga ikut terbebani kekuatan yang sangat besar, semakin banyak dia membuka segel maka semakin banyak pula jumlah kekuatan gelap yang membebani tubuhnya.


Seperti saat ini, kondisi tubuh Rey sangatlah buruk karena terbebani kekuatan kegelapan yang melebihi kemampuannya. Jika kondisi tubuhnya tidak kunjung membaik dalam waktu 1 jam saja, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa melihat matahari esok hari.


Rey sebenarnya masih sadar, dia bahkan masih bisa mendengar percakapan orang-orang di sekitarnya, hanya saja kondisi tubuhnya saat ini sangatlah buruk, sampai-sampai dia tidak bisa mengunakan api sucinya untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


Namun, siapa sangka? Saat mereka sudah putus asa tiba-tiba saja ada seseorang yang mendobrak masuk ke dalam ruang pemulihan, orang itu tak lain adalah Yui.


“Rey!” Yui berteriak keras seraya berlari menghampiri Rey yang terbujur kaku di tempat tidur.


Yui menangis tersedu-sedu di dekat tubuh Rey yang dimana sikapnya itu membuat semua orang disana bingung. Mereka semua tidak mengerti mengapa Yui sampai menangisi bocah gila yang tengah sekarat itu, bahkan Patriak Mo sendiri tidak percaya bahwa Putri cantiknya ternyata bisa menangis, karena seingatnya Yui itu tidak pernah sekalipun menangis setelah kepergian Ibunya.


“Ayah, cepat lakukan sesuatu!” Yui tentu sedih sekaligus panik karena merasakan suhu tubuh Rey yang sangat dingin, bahkan wajahnya saja sudah memutih.


“Rey jangan pergi, aku mohon, hiks… hiks.” Ucap Yui pelan disela-sela tangisannya.


Keajaiban pun terjadi saat air mata Yui jatuh tepat ke wajah Rey, tiba-tiba saja mata Rey terbuka yang sontak saja membuat semua orang di sana terkejut, bahkan beberapa Tetua sampai lari keluar ruangan seperti sehabis melihat hantu.


Yui nampaknya tidak sadar jika Rey yang tengah di peluknya sudah sadar. Sedangkan Rey terlihat melirik-lirik semua orang disana, dia juga melirik kearah Yui yang tengah menangis sambil memeluk tubuhnya.


Saat ini Rey tidak bisa merasakan tubuhnya sama sekali, bahkan sekedar menggerakan jari tangan pun tidak bisa. Namun, entah bagaimana bisa tiba-tiba saja tubuhnya sedikit mempunyai kekuatan, padahal sebelumnya dia sangat yakin jika tubuhnya tadi sudah di ambang batas, bahkan dia bisa mati kapanpun.


“Yui, bisa kau menyingkir dulu?” Ucap Rey sangat pelan, bahkan hampir nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


Yui nyatanya tidak mendengar ucapan Rey sama sekali, dengan terpaksa dia melirik kearah Patriak Mo, dan memberi isyarat mata. Seperti mengerti arti isyarat mata Rey, Patriak Mo dengan segera menghampiri Putrinya.


“Yui, bocah gila itu sudah sadar, tapi kau harus menyingkir terlebih dahulu, karena sepertinya dia ingin melakukan sesuatu dengan tubuhnya itu.” Ucap pelan Patriak Mo tapi dapat terdengar jelas di telinga Yui.


Yui lantas menoleh kearah wajah Rey, dan betapa tak percayanya dirinya karena melihat Rey yang sudah membuka matanya walaupun kondisinya masih belum baik sedikitpun.


“R-Rey?!”


“Yui, bisa kau menyingkir dulu, aku ingin mengobati lukaku.”


Yui tidak mengerti ucapan Rey sedikitpun, namun juga tidak menolaknya. Dengan segera ia melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya sejauh 1 meter dari tubuh Rey.


Melihat itu, Rey dengan cepat mengeluarkan api sucinya, dan memperbaiki tubuhnya yang sudah hampir kaku seperti mayat tersebut.


Yui tentu terkejut melihat sebuah benda putih yang menyelimuti seluruh tubuh Rey, dan tidak membutuhkan waktu lama sampai tubuh Rey telah sepenuhnya pulih kembali.


Sedangkan Patriak Mo yang memang dari awal sudah pernah melihat api suci Rey walaupun hanya dalam sekejap saja tetap merasa terkejut, samar-samar dia tersenyum karena ternyata penglihatnnya waktu itu tidaklah salah.


“Hais, ku kira aku akan mati.” Ucap Rey pelan sambil menggerak-gerakan tangannya yang masih sedikit kaku meskipun telah pulih.


Yui tak bisa menahan kegembiraanya lagi, dengan cepat dia memeluk Rey dengan erat. Sedangkan Patriak Mo yang melihat Putrinya memeluk bocah gila tepat di depannya sedikit emosi, namun dia tidak melakukan tindakan apapun dan hanya menampilkan wajah garangnya saja seolah-olah ingin mencekik Rey.


Rey tidak membalas pelukan Yui karena tangannya saja masih sedikit kaku. Ia cukup tersentak karena ternyata Patriak Mo memilih mempertahankannya walaupun dia tadi berniat membunuhnya.

__ADS_1


Samar-samar Rey tersenyum karena menurutnya kehidupannya kali ini dia memiliki beberapa orang yang sangatlah menjunjung arti kesetiaan dan yang lebih mengejutkan ternyata mereka sangat peduli dengan dirinya.


__ADS_2