Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 44 - Mabuk


__ADS_3

Setelah selesai makan, datanglah seorang pelayan yang menghampiri meja mereka berempat, Tetua Fengyi terlihat bersiap-siap supaya tidak kena serangan jantung saat mendengar tagihannya.


“Tuan dan nona, karena anda pelanggan yang kesepuluh ribu kami, maka kami memberikan diskon 90% untuk tagihan makanan yang tuan dan nona pesan.”


Bagaikan bisikan janda kembang desa yang sangat halus seperti alunan melodi yang begitu indah, mereka berempat girang bukan main, berbeda dengan Tetua Fengyi yang wajahnya terlihat biasa saja, namun tidak dengan hatinya yang sedang menari-nari di tengah gunung berapi.


Dengan nada datar sok cool, Tetua Fengyi bertanya, “Jadi berapa total tagihannya?”


Pelayan itu tersenyum dan berkata, “7500 Koin Emas.”


Rey, Zenith, dan Feng Qiuyu secara serempak menoleh ke arah Tetua Fengyi jika saja orang tua itu terkena serangan jantung, namun kekhawatiran mereka lenyap saat melihat Tetua Fengyi masih terlihat berwajah tenang, padahal kenyataannya adalah jantungnya memang sempat berhenti tadi.


Tetua Fengyi melepaskan cincin semestanya dari jari tangannya, dan menyerahkannya kepada pelayan itu, “Ambil ini, kurasa harta di dalam cincin ini cukup untuk membayar tagihan itu."


Pelayan itu tidak percaya langsung percaya begitu saja, dia mencoba mengecek terlebih dahulu apa memang yang dikatakan oleh orang tua di depannya benar. Tak berapa lama kemudian, akhirnya pelayan itu tersenyum lebar.


“Di dalam cincin ini terdapat 50 ribu koin perak, 100 ribu koin perunggu, 2000 koin emas, dan 5 butir Pil Makanan yang setara dengan 50 perak, di dalam cincin ini juga ada pedang tingkat tinggi yang setara dengan 500 koin emas, apa anda ingin menggadaikan semuanya?”


Tetua Fengyi membalasnya dengan anggukan lemas, hasil kerja kerasnya selama hidup 70 tahun lebih musnah seketika hanya karena makanan belaka, dia bahkan belum sempat menikmatinya.


“Kami hanya mengambil seperlunya saja, jadi di dalam cincin ini masih tersisa 50 koin perak, terimakasih telah memesan makanan di Restoran Bulan Putih, semoga tuan dan nona datang ke sini lagi.”


Tetua Fengyi hanya diam saja, dia memasang kembali cincin semestanya ke jari tangannya, dengan pandangan penuh amarah dia menatap Rey dengan ganas. Sedangkan Rey terlihat pura-pura bodoh, dia akui jika dirinya kali ini sedikit berlebihan, dia menjadi sedikit kasihan dengan Tetua Fengyi yang seperti kehilangan jiwanya tersebut.


“Heh, nanti kukembalikan 2x lipat, santai saja pak tua.” Ucap Rey yang dibalas anggukan malas oleh Tetua Fengyi.


Zenith dan Feng Qiuyu di dalam hatinya bersumpah akan bersama-sama mengembalikan uang Tetua Fengyi bersama dengan Rey, bagaimanapun mereka berdua juga ikut menyantap makanan tadi.


Mereka berempat akhirnya keluar dari Restoran bulan putih, karena tidak ada tujuan membuat mereka berjalan-jalan menikmati pemandangan Kota Chenzu, Kota Chenzu sendiri di ambil dari nama keluarga kekaisaran karena memang merekalah yang membangung kota itu.


Kota yang sangat indah dan damai, terlihat banyaknya pedagang yang masuk ke Kota Chenzu untuk menjual dagangannya, tidak hanya pedagang saja, bahkan terlihat banyaknya orang-orang yang berasal dari kota lainnya mengunjungi Kota Chenzu, sepertinya mereka semua kemari karena ingin menonton turnamen yang berlangsung esok hari.

__ADS_1


“Mengapa mereka semua melihat kita dengan pandangan aneh?” Tanya Feng Qiuyu yang keheranan melihat semua orang menatap mereka berempat.


“Itu karena kau cantik, jadi mereka semua terpukau oleh pesonamu.” Jawab Rey asal, dia hanya asal ucap aja karena sejak tadi mulutnya gatal untuk tidak berbicara.


“Ehem.” Tetua Fengyi berdehem keras seraya melirik ke arah Rey, berani sekali bocah abnormal ini menggoda putrinya tepat di depannya, jika dia punya menantu seperti Rey, dia pasti akan jadi gila.


Zenith tersenyum saat melihat wajah Feng Qiuyu yang memerah karena ucapan Rey, dia sungguh kagum dengan Rey yang mampu menarik perhatian semua perempuan, bahkan yang sekelas nona Yui dan Nona Chen Shui pun tak luput akan daya tarik Rey.


Sebenarnya alasan orang-orang melihat ke arah mereka karena penampilan mereka yang nyentrik, Rey yang memakai baju lengan panjang berwarna putih yang terlihat menyatu dengan rambut putih panjangnya.


Feng Qiuyu yang memakai baju sekte Rey berwarna biru walaupun kebesaran tetapi itu menambah kesan keimutan bagi siapapun yang melihatnya.


Zenith yang mukanya biasa-biasa saja tetapi wajahnya yang kalem membuat orang-orang tenang saat melihatnya.


Walaupun usianya tak lagi muda tetapi wajah Tetua Fengyi masih terlihat tampan karena memang saat masih muda dulu dia sangatlah tampan, hal itu membuatnya jadi kakek tampan di mata orang-orang, apalagi dengan wajah kakunya membuat dia terlihat sangat badass.


“Siapa mereka?”


“Aku tidak tahu, tapi yang pasti bocah berambut putih itu sangatlah menggemaskan.”


Perempuan-perempuan di sana memuji-muji ketampanan Rey, apalagi matanya birunya yang sangat indah membuat penampilannya semakin menarik layaknya malaikat yang turun dari surga, tapi siapa sangka jika wajah yang terlihat layaknya malaikat itu tersimpan jiwa sinting-gila-miring layaknya dedemit yang kesurupan di dalamnya.


Saat Rey sedang melihat-lihat ke sekitarnya, dia sekilas melihat Yui di tengah-tengah kerumunan


“Apa aku salah lihat?” Batinnya.


Rey menggelengkan kepalanya pelan, tapi setelah mengingat-ngingat wajah perempuan tadi memang sangat mirip dengan Yui, “99,99% mirip, kurasa itu memang benar-benar Yui.”


Karena penasaran akhirnya dia memilih menanyakannya kepada Tetua Fengyi, “Hei orang tua, aku tadi sekilas melihat Yui di sekitar sini.”


Ucapan Rey membuat mata Tetua Fengyi melotot, dia tidak percaya bahwa sahabatnya Patriak Mo memberikan misi tanpa dilihat terlebih dahulu, jika mereka terlihat oleh Yui bisa gawat pikirnya.

__ADS_1


“Kalian bertiga ikuti aku, kita pergi dari sini.”


Mereka bertiga tersentak saat Tetua Fengyi yang tiba-tiba berjalan cepat, mereka ingin bertanya tetapi karena terlihat terburu-buru jadi mereka memilih untuk diam seraya mengikuti Tetua Fengyi dari belakang.


Mereka berempat berhenti tepat di salah satu rumah makan kecil-kecilan, Tetua Fengyi tanpa ragu langsung mengajak ketiga muridnya masuk dalam rumah makan itu. Tetua Fengyi memesan minuman kepada pelayan rumah makan itu, lalu menyuruh ketiga muridnya untuk duduk di salah satu meja kosong.


“Mengapa kau terlihat seperti dikejar-kejar setan pak tua? Jalanmu seperti orang terbang saja.” Ucap Rey yang meminta penjelasan kepada Tetua Fengyi.


Zenith dan Feng Qiuyu mengangguk tanda setuju dengan ucapan Rey, mereka merasa aneh saja dengan Tetua Fengyi yang tiba-tiba mengajak mereka pergi setelah mendengar ucapan Rey yang melihat nona Yui.


“Jadi begini..”


Tetua Fengyi menjelaskan tentang maksudnya bersembunyi seperti sekarang, dia menceritakan tentang Yui yang selalu diberikan misi pada saat turnamen besar ini berlangsung, tujuan Patriak Mo adalah agar Yui putri satu-satunya itu mengetahui tentang turnamen besar ini.


Rey mengangguk-nganggukan kepalanya tanda dia mengerti, tapi menurutnya tindakan Patriak Mo sendiri membuat Yui tidak bisa berkembang, namun dia juga memaklumi Patriak Mo yang notabennya merupakan ayah dari Yui.


Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang membawa pesanan mereka, namun yang dikejutkan adalah ternyata minuman yang disuguhkan merupakan arak dengan kandungan alkohol begitu tinggi.


“Jangan diminum, ini ar…?!”


Ucapan Tetua Fengyi terhenti saat melihat Rey telah meminum habis satu gelas besar arak dengan sekali teguk.


“Ahhhh, ini baru mantap!” Ucap Rey seraya mengacungkan jempolnya.


Tetua Fengyi, Zenith, dan Feng Qiuyu merasa jika Rey ini bukanlah seorang bocah, melainkan orang tua yang menggunakan tubuh bocah, bagaimana tidak? Itu arak satu tegukan beres, bocah mana yang bisa meminum arak satu kali teguk pikir mereka.


Yang lebih mengejutkannya lagi arak itu memiliki kandungan alkohol begitu tinggi, tentunya itu dapat membuat usus dan lambung seorang bocah jebol, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh bagi Rey yang terlihat baik-baik saja.


Namun, itu hanya sebentar saja, sebab Rey mulai meracau tidak jelas dikarenakan mabuk, secara tidak sadar dia menceritakan masa lalunya, pembantaian yang dia lakukan saat lagi gabut, sampai dengan memenggal semua penduduk kota karena dikatai jelmaan iblis, padahalkan dia 100% produk ori bikinan emak bapaknya di kamar setiap malam hari.


“Sa-sang penghancur yang sangat agung ini ditakuti oleh semua orang, tapi kenapa kalian semua tidak ada yang takut hah?”

__ADS_1


Mereka bertiga tentu tidak ada yang percaya dengan ucapan tidak jelas Rey, sekarang mereka 100% yakin bahwa Rey merupakan bocah setres yang kewarasannya patut dipertanyakan, mungkin kedua orang tuanya menemukan Rey saat digotong oleh monyet, karena kelakuannya melebihi dedemit kesurupan pikir mereka.


__ADS_2