Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 24 - Menyadarkan Zenith


__ADS_3

Setengah jam berlalu, namun nampaknya pelukan Yui di tubuh Rey sama sekali belum terlepas, dan itu tentu saja membuat Patriak Mo kesal bukan main.


“Bocah gila, kau terlihat sangat keenakan di peluk Putriku ya?!” Geram Patriak Mo.


Rey yang mendengar itu tersentak, tetapi kali ini dia tidak membalas dengan mulut berbisanya, melainkan membelai pelan wajah Yui sambil tersenyum mengejek kearah Patriak Mo.


Yui yang mendapat perlakuan lembut dari Rey tentu sangat senang sekaligus malu, ia semakin membenamkan wajahnya ke dada Rey.


“Sudah-sudah Patriak, mereka itu masih muda, jadi wajar saja berbuat hal begitu.” Ucap Tetua Fengyi.


“Wajar bapakmu! Dia berpelukan di depan kita, kau enak sudah mempunyai keluarga, lah kami para jomblokers? Kami tentu merasa sakit hati melihat kemesraan mereka.” Ucap salah satu Tetua.


“Apalagi bocah itu masih muda begitu, ternyata selera Putri anda yang muda-muda ya Patriak?” Ejek salah satu Tetua di sana yang membuat Patriak Mo kesal bukan main.


Mendengar itu Rey mendekatkan kepalanya ke wajah Yui seakan-akan ingin menciumnya. Ia melakukan itu tak lain adalah untuk membuat semua orang disana kesal, menatap wajah para jomblokers disana membuat dirinya senang.


Namun, kemesraan itu tak berlangsung lama karena Rey tiba-tiba melepaskan pelukan Yui dari tubuhnya, lalu segera menghampiri Zenith yang tengah tidak sadarkan diri di samping kanannya.


Patriak Mo segera menjelaskan kondisi Zenith kepada Rey. “Kondisi bocah itu baik, dia saat ini hanya tak sadarkan diri saja, berbeda denganmu yang malah sekarat, untung aja kau tidak mati, jika mati pasti akan ku buatkan kau peti mati yang sangat mewah.”


Rey tak menanggapi ucapan Patriak Mo, memang kondisi tubuh Zenith dari luar terlihat normal seperti orang sehat pada umumnya. Ia sangat terkejut saat mengecek tubuh Zenith dengan mata iblisnya yang ternyata kekuatan gelap yang dia segel tadi mengamuk. Jika dibiarkan lebih lama lagi mungkin kesadaran Zenith akan ditelan oleh kekuatan gelap tersebut.


“Kalian semua yang ada disini keluarlah, kecuali kau pak tua, kau sebaiknya tetap di sini untuk membantuku.” Ucap Rey sambil menatap semua orang di dalam ruangan tersebut.


Melihat mata hitam Rey membuat mereka semua takut, tanpa menuggu lama mereka semua dengan segera keluar dari ruangan itu, bahkan Yui sendiri segera lari keluar dari ruangan akibat terlalu takut setelah melihat mata hitam Rey.


“Pak tua, jangan berdiri seperti patung saja, buatlah segel di ruangan ini, karena sepertinya teriakan bocah ini akan keras.” Ucap Rey yang membuat Patriak Mo tersadar dari rasa takutnya.


“Apa yang akan kau lakukan kepadanya bocah gila?”

__ADS_1


“Nanti akan ku jelaskan, tapi sebelum itu cepatlah segel ruangan ini sebelum bocah ini menggila seperti tadi.”


Patriak Mo yang mendengar itu bingung, tapi ia dengan segera menyegel ruangan di tempatnya karena dia merasa jika ucapan bocah gila di depannya bukanlah sesuatu yang remeh.


Rey yang melihat Patriak Mo masih yang ternyata berada di dalam segel yang dibuatnya membuat ia terkejut.


“Hoi pak tua, kau ini bodoh atau kenapa sih? Kenapa kau berada di dalam segel yang kau buat? Kau ingin badanmu bobrok ya?!” Ucap Rey kesal.


“Apa?! Kau yang bodoh bocah setan, kau tidak bilang jika aku harus berada di luar segel!”


Mereka berdua kembali berdebat, bahkan kini mereka berdua terlihat bergulat di lantai seperti bocah. Karena keasikan bergulat sampai-sampai mereka tidak menyadari jika Zenith yang menatap mereka dengan mata hitamnya.


“Sini kau orang tua udik! Ku buat wajah kau pindah ke pantat!”


“Yang ada kepalamu ku buat menyerupai pantat!”


Mereka berdua saling mencengkram wajah satu sama lain, namun tiba-tiba..


Mereka berdua terpental jauh karena tekanan aura di tubuh Zenith yang meluap-luap.


“Aduduh, sialan bokongku sepertinya terbelah.” Ucap Rey sambil mengusap-usap bokongnya yang tengah sakit karena terkena gagang pintu.


“Ya memang aslinya terbelah bodoh!” Ucap Patriak Mo kesal.


Mereka berdua menatap Zenith dengan siaga. Rey sebenarnya dapat menekan aura di tubuh Zenith dengan aura gelap miliknya, tapi kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkannya untuk melakukan hal tersebut.


“Bocah gila, apa yang harus kita lakukan?! Aura bocah itu perlahan membuat rambutku berwarna putih, bahkan wajahku kini tambah keriput!” Ucap Patriak Mo absurd yang membuat Rey kesal karenanya.


“Memang rambutmu itu sudah putih! Dan juga wajahmu itu memang sudah keriput sialan! Ck, sebisa mungkin kau jaga kesadaranmu, jangan sampai terpengaruh oleh aura gelap bocah itu. Aku memiliki sebuah rencana.”

__ADS_1


Mata Rey kini berubah menjadi hitam, ia lantas menatap mata hitam Zenith, lalu dengan segera dirinya menggunakan jurus pengendali Jiwa miliknya untuk mengontrol tubuh Zenith.


Nampaknya jurus pengendali jiwa milik Rey berhasil, namun dia cukup kesulitan menahan tubuh Zenith agar tidak bergerak.


“Pak tua! Cepat kau serang bocah itu sampai sadar! Aku hampir tidak sanggup menahannya lebih lama lagi” Teriak Rey dengan keras seraya mengeluarkan api sucinya dan mengarahkannya ke tubuh Patriak Mo.


Patriak Mo tersentak karena seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki di selimuti oleh benda putih milik Rey. Ia merasakan jika tubuhnya tiba-tiba merasa bertenaga, bahkan aura gelap Zenith tidak dapat menyentuh tubuhnya sama sekali.


“Woi, cepatlah!” Teriak Rey kesal karena melihat Patriak Mo yang malah asik memandangi tubuhnya sendiri.


Mendengar teriakan Rey membuat Patriak Mo tersentak, dengan segera ia bergerak cepat kearah Zenith, lalu menampar keras kepala Zenith.


[Plaakkkkkkk]


[Bummmmm]


Nampaknya tamparan Patriak Mo berhasil membuat Zenith tersadar, terlihat dari aura gelap Zenith yang telah hilang sepenuhnya.


Setelah merasa aman, dengan segera Rey menarik kembali api sucinya pada tubuh Patriak Mo, lalu ia menghampiri Zenith yang tengah terbaring tanda merah bekas tamparan keras Patriak Mo tadi.


“Pak tua, aku menyuruhmu untuk menyerangnya bukan menamparnya sampai giginya rontok!” Ucap Rey seraya menunjuk beberapa gigi Zenith yang berserakan di lantai.


“Kau tidak bilang harus menyerang bocah itu seperti apa, jadi ku tampar saja dia, tapi nampaknya tamparanku itu berhasil membuat bocah itu pingsan.” Jawab Patriak Mo tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Jika nanti bocah itu bangun dengan pipi dan gigi yang telah bobrok itu, ku jamin dia pasti akan teriak-teriak seperti orang gila.”


Setelah merasa telah selesai, Patriak Mo segera melepaskan segel ruangan tersebut, lalu meminta Rey untuk menggunakan benda putih miliknya untuk menyembuhkan pipi Zenith. Tentu saja Rey dengan cepat menolak permintaan tersebut, karena bukan dirinya lah yang menampar Zenith.


“Hoi bocah! Aku sudah baik-baik memintamu untuk menyembuhkan dia dengan benda putih milikmu itu, tapi kau sama sekali tidak memberiku muka!”

__ADS_1


“Halah, emang kau mempunyai muka? Dan juga kau sendirilah yang telah menampar bocah itu, jadi itu adalah tanggung jawabmu bukan tanggung jawabku.” Ucap Rey acuh tak acuh.


Tidak berhenti sampai di situ, Patriak Mo malah terus-terusan menceramahi Rey agar peduli dengan sesamanya. Rey akhirnya dengan terpaksa menyembuhkan pipi Zenith karena sudah tak tahan mendengar ocehan Patriak Mo yang membuat telinganya panas.


__ADS_2