
Rey yang tidak tahu di mana apapun mengenai Sekte Biru Laut memilih menelusuri ruangan demi ruangan. Sampai beberapa menit akhirnya dia menemukan ruangan alkimia. “Jika tidak salah, perempuan tadi mengatakan jika kamarku ada di belakangnya.” Rey yang memang tidak mempunyai adab langsung menendang pintu ruangan alkimia yang di mana pada saat itu sedang diadakan pelatihan.
Buakk… Pandangan semua orang seketika langsung terpaku pada pintu masuk yang terbuka, beberapa dari mereka berwajah hitam disebabkan tungku mereka meledak. Dengan santai Rey memasuki ruangan tanpa menghiraukan mata yang mengarah kepadanya. Semua orang bertanya-tanya, siapakah bocah kurang ajar yang mengganggu kegiatan mereka.
Seorang pria tua berjalan mendekati Rey. “Nak, siapa kau ini? apa kau tidak tahu jika mengganggu pelatihan akan dihukum?”
Rey memandang pria tua yang bicara kepadanya dengan pandangan heran. “Lah, kau sendiri siapa? dan juga aku sama sekali tidak tahu jika ruangan ini sedang digunakan, pintunya saja tertutup gitu.”
Pria tua itu menaikan satu alisnya. “Ditanya bukannya dijawab malah nanya balik! jika pintu tertutup itu pastinya sedang digunakan, bocah!”
Rey yang sekali lagi disebut bocah tersulut emosi. “Bocah matamu, aku lebih tua dari kakekmu sialan! dan juga, bagaimana aku tahu ruangan ini digunakan atau tidak jika pintunya saja tertutup?” Rey berkacak pinggang, matanya melotot seakan menantang pria tua di depannya.
“Jika pintunya tertutup kau bisa mengetuknya, bocah! astaga… anak siapa kau ini? di mana tata kramamu? apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun kepada yang lebih tua? dan… bagaimana kau bisa berada di sini?” Pak tua itu mendekatkan wajahnya ke bocah di depannya, urat pelipisnya nampak menonjol keluar tanda dirinya sedang emosi tinggi.
Rey memundurkan kepalanya sambil menutupi hidungnya. “Hih… jangan dekat-dekat nafasmu bau. Aku anak siapa apa urusanmu? dan juga apa itu tata krama? aku lebih tua darimu jadi buat apa aku sopan kepadamu? seharusnya kau lah yang sopan kepadaku. Jika kau bertanya mengapa aku di sini ya karena aku ingin ke sini, memang siapa kau yang berani melarang sang penghancur ini? mentang-mentang sudah bau tanah jadi sok tua kau?!”
Semua orang yang mendengar perkataan si psikopat sinting itu hanya bisa melebarkan kedua matanya, mereka tidak percaya jika ada seorang bocah yang luar biasa gila sampai-sampai mengaku lebih tua dari orang yang lebih tua darinya, mulut dan kelakuannya saja seperti orang yang tidak memiliki etika.
“Hoi bocah! mulutmu sangat kotor! sini kuberi pelajaran kau!”
“Lebih kotor mulutmu! ayo sini, kupercepat-“
Dari belakang muncul sosok Tetua Feng Yi yang langsung membungkam mulut Rey. “Etss… tenang paman, jangan hiraukan bocah ini, dia hanya bercanda kok,” jelas Tetua Fengyi sambil mencengkram mulut Rey dengan sangat kuat karena terus memberontak.
Beberapa waktu sebelum kejadian, Tetua Feng Yi awalnya sedang berjalan-jalan mengitari sekte untuk melihat kegiatan murid-murid seperti yang dia lakukan setiap harinya, namun tiba-tiba saja telinganya mendengar suara keributan. Sontak saja hal itu membuatnya berlari ke sumber suara keribuatan. Matanya terbuka lebar ketika melihat bocah yang tadi pagi ribut dengan Patriak Mo kini hampir adu jotos dengan Tetua Feng Gu.
Kembali lagi pada saat ini. Mata Rey nampak melotot, dia menarik-narik tangan Tetua Feng Yi agar cengkraman pada mulutnya terlepas. “Hmpppphhh… hmpphhhh…”
__ADS_1
Tetua Feng Yi kian memperkuat cengkramannya hingga mengeluarkan bunyi yang membuat semua orang secara serentak mengelus mulutnya seakan ikut merasa nyeri saat melihatnya. “Diamlah!” bisik Tetua Feng Yi di telinga Rey.
“Hehehe, silahkan lanjutkan pelajarannya paman, biarkan aku yang mengatasi bocah sinting ini.” Perlahan-lahan Tetua Feng Yi berjalan mundur hingga sepenuhnya keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Rey. Dia membawa si psikopat sinting itu menjauh mungkin dari ruangan alkimia hingga tak lama kemudian dia melepaskan cengkraman tangannya.'
“Puahhhhhh….” Rey memegangi rahangnya, beberapa kali dia menggerak-gerakan rahangnya yang terasa kaku.
“Rahangku seperti mau copot…” Rey menatap Tetua Feng Yi dengan tajam. “Apa kau sudah gila? bagaimana jika rahangku bergeser? apa kau mau bertangung jawab jika aku tidak bisa bicara lagi?!”
Buakk… Tetua Feng Yi memukul kepala Rey dari atas. “Kau yang sudah gila, bocah sinting. Akan lebih baik jika kau tidak bisa bicara sekalian! belum setengah hari di sini dan kau sudah membuat berbagai masalah? apakah kau ini benar-benar anak manusia?!”
Rey mengelus-elus kepalanya. "Bukan salahku… mereka sendirilah yang mencari masalah duluan denganku,” gerutu Rey sambil mengerucutkan bibirnya.
Tetua Feng Yi menghela nafas berat sambil mengusap wajahnya. “Memang apa yang membuatmu bertengkar dengan Tetua Feng Gu? asal kau tahu saja, dia itu merupakan pamanku, kekuatannya jauh di atasku, bahkan Patriak Mo sendiri adalah muridnya.”
“Dia menyebutku bocah, dia juga melarangku-“
Rey tersentak, si psikopat sinting itu baru saja menyadari jika dirinya sekarang hidup di tubuh seorang bocah. “Sial, aku lupa… pantas saja orang-orang menyebutku bocah,” batin Rey sambil menggigit ibu jarinya.
Tetua Feng Yi yang melihat bocah di depannya seperti sedang berpikir berat mengenai dirinya bocah atau tidak hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Aku yakin jika bocah ini waktu lahir kakinya dulu yang keluar, dia baru benar-benar akan menggunakan otaknya belakangan,” batin Tetua Feng Yi.
Rey menatap pria paruh baya di depannya dengan heran. “Kenapa masih di sini?”
“Eh, benar juga. Sebelum aku pergi, sebaiknya kau ingat baik-baik perkataanku ini ya bocah, jangan mencari masalah jika kau tidak ingin terkena hukuman oleh Patriak Mo.” Setelah mengatakan hal itu Tetua Feng Yi berjalan pergi meninggalkan bocah biadab tersebut sendirian.
Rey menaikan satu alisnya. “Masalah? dilarang? Hehe, sayang sekali… aku ke sini memang untuk mencari masalah. Siap-siap saja kalian, sang penghancur yang sangat agung ini akan membuat hidup kalian lebih berwarna, khuhuhuhu….” Rey menggosok-gosokan kedua tanganya sambil cengengesan sendiri, tangannya sudah sangat gatal untuk melancarkan aksi-aksi setres yang ada di otaknya sekarang.
“Eh, benar juga… aku belum menemukan kamarku ya?” Rey yang teringat dengan tujuannya langsung bergegas menemukan kamarnya. Dikarenakan letak kamarnya yang berada di belakang ruang alkimia membuat Rey secara tidak sengaja berpapasan dengan Tetua Feng Gu. “Awas kau…” batin Rey sambil menatap sinis Tetua Feng Gu, tangannya pun bergantian menunjuk antara matanya dengan pria tua tersebut.
__ADS_1
“Cih, bocah itu… jika bertemu dikelasku nanti, akan kuberi kau pelajaran, hmph!” Tetua Feng Gu yang masih kesal dengan bocah biadab itu merencakan pembalasan atas penghinaan sebelumnya.
Tak lama kemudian, akhirnya Rey menemukan kamar nomer 42. Dia melihat ke sekelilingnya yang teryata cukup ribun, banyak tumbuhan hijau tepat di depan kamar para murid. “Kurasa aku akan bentah di sini… kehidupan baruku, aku datang....”
Srekk… Rey menggeser pintu kamarnya. Pintu kamar itu ternyata sama sekali tidak terkunci sama sekali. Bocah itu pun melangkah masuk dan tidak menemukan apapun selain dirinya bersama dengan dua ranjang kosong.
“Ada dua ranjang? Heh.. bodo amat…” Rey melemparkan dirinya ke salah satu ranjang. Dia menatap pakaian perempuan yang dibawanya sejak tadi. “Apa benar aku harus benar-benar memakai ini? huhuhu, sial sekali hidupku…”
Rey beranjak bangun untuk mencoba pakaian barunya. Tak lupa juga dia menutup pintu terlebih dahulu, setelah itu dia membuka seluruh pakaiannya hingga tubuhnya telanjang bulat. Karena tubuhnya yang cukup kecil seperti gadis membuat Rey dengan mudah mengenakan pakaian perempuan tersebut, tak kebesaran ataupun kekecilan, sangat pas di tubuh kecilnya.
“Eh, tidak seburuk yang kukira...” Rey mengikat rambut putih panjangnya.
Srekkkk… pintu terbuka, muncul Jun Hui memasuki kamar. “Sial, bocah tadi benar-benar membuat emosiku memun-? Jun Hui melebarkan kedua matanya ketika melihat seorang perempuan berambut putih berada di kamarnya. “Aaaaaaaa!!!”
“Kyaaaaaa….” Rey seketika ikut berteriak sambil menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.
“Aaaaaaaa!!!”
“Kyaaaaaaa….” Teriakan Rey semakin keras layaknya seorang perempuan, dia sebenarnya tidak tau mengapa dirinya ikut berteriak.
“Aaaaaaa!!!”
“Sudah cukup, bangsat! bikin telinga sakit saja,” keluh Rey sambil menggorek kedua telinganya secara bergantian.
“Aaaaaa… eh?” Jun Hui tersentak kala mendengar suara perempuan kecil yang ada di depannya, dia memperhatikan perempuan itu dari atas sampai bawah yang membuatnya menyadari sesuatu. “Ka-kau bocah tadi?” Tangan Jun Hui menunjuk Rey.
“Tsk, kau yang bocah, sialan,” jawab Rey sambil menunjuk Jun Hui.
__ADS_1
Seakan terkejut dengan kenyataan di depannya, mulut Jun Hui terbuka lebar sehingga batu bata pun bisa masuk dengan mudah. Jun Hui nampak tidak percaya jika bocah yang membuatnya emosi tadi ternyata seorang perempuan cantik, padahal dia sangat yakin jika bocah tadi seorang laki-laki walaupun tidak bisa dia pungkiri jika wajahnya cukup manis. Ya setidaknya itulah yang dipikirkan Jun Hui terlepas dari kenyataan aslinya.