Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 9 - Pilihan Sulit


__ADS_3

Saat ini Patriak Mo dan Tetua Fengyi sedang membahas perihal masalah Rey. Sedangkan Tetua lainnya memilih untuk melanjutkan aktivitas masing-masing, karena bagaimanapun mereka semua tidak bisa masuk ke kediaman Patriak Mo yang memang cukup kecil.


“Jadi bocah gila itu telah membuat sekarat Ling Qieng?” Tanya Patriak Mo serius.


“Benar Patriak, jadi apa yang harus kita lakukan?”


Patriak Mo tidak langsung menjawab pertanyaan Tetua Fengyi, dia nampak ragu untuk membantu Rey karena itu akan membuat Sektenya hancur. Ia sesekali memejamkan mata untuk menemukan solusi yang bagus untuk masalah ini, bahkan terlihat kerutan di dahinya semakin jelas.


“Hah, meskipun aku pribadi sendiri tidak ingin membantu bocah gila itu, karena bagaimanapun dia itu masihlah murid baru yang bahkan belum memberikan konstribusi di dalam Sekte ini, tapi aku sebagai seorang Patriak juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena bagaimanapun dia adalah bagian dari Sekte Laut Biru meskipun bocah itu baru diterima kemarin…” Batin Patriak Mo yang bingung untuk mengambil keputusan apa.


Patriak Mo tidak bisa membiarkan Sektenya hancur akibat seorang bocah yang ia bela, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang Patriak.


Sama halnya dengan Pariak Mo, raut wajah Tetua Fengyi bahkan jauh lebih buruk lagi, karena Ling Qieng itu merupakan tunangan dari keponakannya Feng Qiuyu. Ia tidak tahu harus berada di pihak mana, tapi jika diharuskan memilih nantinya, dirinya pasti akan memilih Sekte Laut Biru, karena bagaimanapun Sekte Laut Biru lebih berarti dari pada hidupnya sekalipun.


“Hah, sebaiknya kita bantu saja bocah itu, meskipun itu artinya Sekte ini akan hancur nantinya…” Ucap Patriak Mo yang nampaknya sudah memantapkan pilihannya untuk membantu Rey keluar dari masalahnya.


“Apa anda siap kehilangan Sekte Laut Biru anda ini? Bukan hanya akan hilang, tapi mungkin anggota kita akan dibunuh oleh mereka”


Patriak Mo menatap Tetua Fengyi yang sebenarnya adalah sahabat kecilnya itu.


“Fengyi, aku dan kau sudah berteman selama 70 tahun lebih, kita sudah mengetahui sifat masing-masing…” Ucap Patriak Mo yang kini beranjak dari tempat duduknya menuju kejendela.


“Apa kau masih ingat janji kita dulu yang akan selalu melindungi orang-orang kita meskipun itu artinya mengorbankan nyawa kita sendiri, tidak peduli orang yang kita lindungi itu baik atau tidak, selama dia merupakan bagian dari kita, kita tidak akan pernah mengabaikannya… Itulah yang dinamakan kesetiaan”


“Aku tidak ingin kesalahan yang kita lakukan sebelumnya terulang kembali…” Ucap Patriak Mo halus sambil memandang langit dengan seutas senyuman.


Tetua Fengyi tertegun mendengar ucapan Patriak Mo, dia hampir saja lupa dengan tujuan Sekte Laut Biru dibentuk. Sekte Laut Biru ia bentuk bersama dengan Patriak Mo setelah kejadian pahit yang menimpa mereka berdua, kejadian yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.


“Hais, aku sampai lupa dengan tujuan kita membentuk Sekte ini Patriak, karena terlalu panik sampai-sampai aku hampir saja melakukan hal yang sama…” Tetua Fengyi beranjak dari tempat duduknya menghampiri Patriak Mo.


“Jadi kita akan membantu bocah itu Patriak?”

__ADS_1


“Jangan Panggil aku Patriak lagi Fengyi, mungkin ini adalah hari terakhir kita sebelum mati”


“Hahaha, kau tidak pernah berubah Mo”


“Hahaha, kau pun sama Fengyi”


Kedua sahabat itu saling melepaskan tawa yang mungkin akan menjadi tawa terakhir mereka. Mereka berdua mempunyai pikiran yang sama, yaitu “Buatlah hari ini sebahagia mungkin, meskipun kau tau bahwa tidak akan ada lagi hari esok”.


Setelah beberapa saat bercanda tawa, mereka berdua akhirnya membahas kembali perihal masalah yang ditimbulkan Rey.


“Kita berdua sudah pasti tidak akan pernah takut menghadapi kematian, tapi bagaimana dengan kedua putri kita? Apa lagi putriku itu merupakan tunangan Ling Qieng… Dan juga bukannya putrimu Yui itu juga disukai oleh putra dari istri sah Patriak Klan Ling?”


Patriak Mo tersentak, ia sampai lupa mengenai putri satu-satunya tersebut.


“Ah, aku sampai lupa dengan mereka berdua, bagaimana menurutmu?”


?!


“Tidak usah repot-repot membantuku, sang penghancur ini tidak suka jika orang lain mencampuri permasalahannya"


“Kau?!”


Mereka berdua jelas terkejut melihat Rey yang tiba-tiba saja sudah berada belakang mereka, bahkan mereka tidak menyadari kapan tepatnya Rey berjalan masuk ke tempat mereka.


“Jangan melihatku seperti itu orang tua…. Cepat duduklah, nanti punggung kalian patah jika berdiri terus”


Patriak Mo dan Tetua Fengyi saling pandang satu sama lain, nampaknya mereka berdua memiliki pemikiran yang sama bahwa bocah gila di depan mereka saat ini mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.


“Hei bocah gila, bagaimana kau bisa masuk di dalam ruangan ini?! Seharusnya aku dapat merasakan kehadiranmu” Tanya Patriak Mo yang sangat penasaran dengan kemampuan Rey yang bahkan kehadirannya saja tidak bisa ia rasakan.


“Benar, bahkan aku sendiri tidak mendengar suara langkah kaki ataupun suara nafas” Sahut Tetua Fengyi yang nampaknya sama penasarannya dengan Patriak Mo.

__ADS_1


“Umur kalian berdua ini kan sudah hampir kadaluwarsa, jadi wajar saja jika semua indera di tubuh kalian sudah dalam keadaan rusak” Ucap Rey santai tetapi kata-katanya sangat menusuk.


Patriak Mo tidak bisa menahan kesalnya lagi, dengan cepat ia menghantam kepala Rey dengan keras.


[Buakkkkk]


“Oy, mau ku cabut tanganmu itu orang tua? Berani sekali kau memukul kepala sang penghancur yang sangat agung ini!” Ucap Rey marah sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit benjol tersebut.


“Dasar bocah gila, untung-untung tidak kubuat pecah kepalamu itu!”


“Kau yang beruntung orang tua udik! Jika bukan kekuatanku sekarang sangat lemah sudah ku tendang kepalamu itu sampai copot sekalian!”


Patriak Mo dan Rey cekcok seperti anak kecil, sifat mereka berdua itu sangatlah persis, sama-sama tidak mau kalah dan juga sama-sama keras kepala.


Ucapan mereka berdua itu bukanlah main-main belaka, mereka berdua sangat serius, masing-masing dari mereka ingin sekali menghancurkan kepala lawannya saat ini.


Namun, mereka terkendala situasi yang tidak bisa membuat mereka menghancurkan masing-masing kepala lawannya, dengan Rey yang terkendala kekuatannya yang saat ini sangatlah lemah, sedangkan Patriak Mo terkendala dengan tanggung jawabnya sebagai Patriak.


“Kenapa takut?!” Ejek Rey.


Meskipun saat ini kekuatannya sangatlah lemah, tapi dirinya masih memiliki mulut berbisa yang bahkan lebih berbisa dari pada king kobra sekalipun.


“Arghhhh, sini kau bocah sialan!!!!!” Patriak Mo dengan cepat mengarahkan tinjunya kearah Rey, tapi dia di hentikan oleh Tetua Fengyi.


“Apa yang kau lakukan Patriak?! Kau beneran ingin membuat bocah ini koma?!”


“Huh, bocah gila ini yang memancing ku duluan, ingin sekali ku remukan kepala kecilnya itu” Ucap Patriak Mo dengan geram, bahkan tangannya tak henti-hentinya meremas satu sama lain.


“Halah… Bilang saja kau tidak mampu! Gitu aja susah amat!” Cibir Rey yang membuat Patriak Mo kembali murka.


Saat mereka betiga saling ribut, tiba-tiba saja terdengar suara perempuan yang tentunya membuat jantung Rey langsung berdetak kencang.

__ADS_1


“Ada apa ini?!”


Perempuan tersebut tak lain adalah Yui.


__ADS_2