
Pagi hari telah tiba, biasanya para murid sudah mulai melakukan aktivitas masing-masing, namun hari ini berbeda karena semua murid disuruh berkumpul di Aula Sekte oleh Patriak Mo. Sedangkan Rey ternyata malah asik tidur di tanah, mungkin dia kelelahan karena terus-menerus berteriak semalaman seperti orang kerasukan.
Rey adalah spesies mahluk yang sangat langka, dia biasa melakukan apapun yang dia mau, tidak ada seorang pun yang bisa melarangnya ataupun menghalanginya, dia juga mempunyai dua kebiasaan gila yaitu senggol bacok dan bacot santet.
Rey sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya, namun jika dia merasa terganggu meskipun yang mengganggunya adalah setan pasti akan dia cari sampai ketemu, mau orang kek, dedemit kek jika mengganggunya pasti besok harinya bagian tubuh mereka tidak akan utuh lagi.
Meski sedang terjadi peperangan sekalipun Rey tidak akan bergerak jika dia sedang malas ataupun sedang mengantuk (alias karepe dewe).
“Ayah, mengapa belum dimulai?”
“Ayah merasa ada sesuatu yang kurang, tapi entah apa itu.”
Patriak Mo merasa bahwa ada yang kurang tapi entah apa itu. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Patriak Mo menyadari jika diantara para murid di depannya tidak ada si bocah gila alias Rey.
“Shen, dimana bocah gila itu?”
“Jika maksud Ayah adalah bocah yang kubuat lumpuh kemarin seharusnya dia sudah berada di sini, karena jurus yang ku pakai untuk melumpuhkannya itu mempunyai batas maksimal 6 jam.” Jelas Tetua Shen Xuan kepada Patriak Mo.
Karena tidak ingin membuat semua orang menunggu hanya karena bocah yang dia hukum kemarin membuat Tetua Shen Xuan segera menuju ke tempat Rey sebelumnya. Setelah sampai betapa terkejutnya dia melihat bocah yang dihukumnya kemarin ternyata malah asik tidur di tanah.
“Bagaimana dia bisa tidur dengan sangat nyenyak di bawah sinar matahari ini? Ku rasa bocah ini memang benar-benar bukan manusia.” Gumam Tetua Shen Xuan seraya mengambil satu ember air di dekat sana.
[Blassssssssssh]
“Setan mana yang berani menganggu sang penghancur ini?! Ku tebas kau!” Rey menunjuk-nunjuk ke segala arah karena nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya.
Setelah beberapa saat akhirnya penglihatan Rey menjadi jelas, dia melihat ada seseorang yang berdiri tepat di depannya, Rey pun menoleh ke atas untuk melihat wajah orang tersebut.
“Oh, kau bocah? Apa kau kesini untuk meminta maaf kepada sang penghancur ini?”
Tetua Shen Xuan melihat Rey dengan seksama, dia sungguh tidak tahu lagi menyebut bocah di depannya ini sebagai apa, karena baru kali ini dia menemukan seorang pemuda yang tidak tahu malu, banyak bacot, apalagi kelakuannya yang seperti setan.
“Cepat berdiri, lalu ikut denganku menuju Aula, karena nanti akan diadakan pemilihan beberapa kandidat murid untuk mengikuti kompetisi salah satunya adalah memburu siluman.” Jelas Tetua Shen Xuan seraya berjalan kembali menuju Aula.
__ADS_1
Mata Rey terbuka lebar, dia saat ini membutuhkan inti siluman yang sangat banyak untuk memperkuat fondasi tubuhnya, bahkan bukan tidak mungkin dia dapat membunuh beberapa orang nantinya.
“Hahahaha, inilah yang kunanti-nanti!” Rey tertawa seperti orang kesurupan.
“Hm? Sepertinya tubuhku telah kembali normal, kurasa jurus aneh bocah itu memiliki rentan waktu beberapa jam saja.”
Rey segera berdiri dan berlari menuju Aula tanpa mempedulikan penampilannya yang benar-benar seperti orang gila. Bagaimana tidak gila? Rambut putih yang berubah coklat karena ngesot-ngesot di tanah semalaman, wajah yang kotor, apalagi bajunya yang telah basah kuyup karena disiram oleh Tetua Shen Xuan.
Semua orang tentu terkejut melihat bocah berpenampilan ala orang gila menuju ke arah mereka. Setelah diperhatikan lebih seksama ternyata bocah itu adalah Rey si bocah gila yang mereka kenal.
“Bagaimana bisa penampilan bocah itu aneh begitu?”
“Entahlah, memang tak betul tuh bocah, mungkin waktu lahir langsung dibanting bapaknya, karena itu kelakuannya gak pernah beres.”
“Kau benar, kurasa otaknya sedikit bergeser dari tempatnya.”
Patriak Mo melihat ke arah Tetua Shen Xuan, tentu saja untuk meminta sebuah penjelasan bagaimana si bocah gila penampilannya sampai bobrok seperti itu.
“Dia tidur, jadi kusiram dia dengan air agar bangun, apa ada yang salah?” Tanya balik Tetua Shen Xuan.
“Tidak, malahan bagus, ke depannya siram dia dengan air panas sekalian.”
Karena semua telah berkumpul membuat Patriak Mo memulai pidatonya.
“Jadi begini, 7 hari setelah hari ini ini akan diadakan sebuah turnamen besar yang selalu diadakan oleh Kaisar Chen dalam waktu 5 tahun sekali, setiap Sekte akan mengirim minimal 5 murid, maksimal 10 murid. Turnamen besar ini memiliki 3 macam….”
Patriak Mo melanjutkan penjelasannya tentang semua Turnamen yang akan diadakan besok. Pertama adalah berburu siluman di hutan terlarang Alas Purwo, kedua merupakan pertandingan antar grup murid Sekte di sebuah Arena yang sudah disediakan oleh Kaisar Chen sendiri, sedangkan yang terakhir adalah pertandingan individu antar murid Sekte.
Semua murid di sana terkejut karena mendengar tentang tempat kompetisi pertama yaitu Alas Purwo, mereka semua tahu jika Alas Purwo merupakan tempat para siluman dan hewan-hewan buas lainnya.
Mereka semua tidak hanya takut dengan Alas Purwo yang terkenal sebagai rumah bagi ratusan ribu siluman, tetapi mereka juga takut kepada murid Sekte lainnya, karena setiap kompetisi hanya memiliki 1 aturan, aturan itu adalah siapa yang bertahan maka dia pemenangnya (Artinya mereka dibebaskan untuk membunuh satu sama lain), belum lagi jika mereka bertemu dengan orang-orang Kekaisaran Qin, nyawa mereka bisa saja melayang karena letak Alas Purwo yang berada di dekat perbatasan antara Kekaisaran Chen dan Kekaisaran Qin.
Mereka semua ketakutan, bahkan Patriak Mo sendiri juga terkejut saat melihat lampiran dari Kekaisaran Chen kemarin, dia tahu tentang kengerian Alas Purwo yang disebut sebagai hutan terlarang.
__ADS_1
Alas Purwo disebut sebagai hutan terlarang karena memang hutan itu merupakan momok menakutkan bagi semua orang.
Tetua Shen Xuan juga merasakan jika kompetisi kali ini berlebihan, karena dia sendiri hampir terbunuh oleh siluman level 5 dulu, padahal saat itu dia merupakan pemuda terkuat yang bahkan bisa membunuh Kultivator yang berada 2 tingkat di atasnya.
“Ayah, apa menurutmu turnamen kali ini tidak berlebihan? Melihat murid-murid Sekte kita yang sangatlah lemah dibanding Sekte lainnya. Jangankan Sekte kecil kita, Sekte menengah pun mungkin akan berpikir ulang untuk mengirim murid terbaik mereka ke Alas Purwo.” Tetua Shen Xuan nampaknya tidak setuju jika Sekte Laut Biru mengikuti kompetisi berbahaya tersebut.
“Kau benar, saat itu juga kau bahkan hampir mati karena bertarung dengan siluman level 5 di Alas Purwo. Menurut Ayah kompetisi kali ini sama saja dengan bunuh diri.”
Patriak Mo bimbang, nalurinya mengatakan untuk tidak mengirim murid Sektenya untuk mengikuti kompetisi berbahaya tersebut. Namun, dia juga tidak bisa melarang muridnya untuk mengikuti kompetisi besok, jadi dia memilih untuk memberikan keputusan kepada muridnya sendiri untuk mengikuti turnamen besar itu atau tidak.
“Hadiah turnamen ini juga sangat besar, jika kalian menang maka hadiah itu seutuhnya hak kalian, kami tidak akan mengambil sepersen pun. Kami tidak akan memaksa kalian untuk mengikuti kompetisi itu, tetapi jika kalian ingin mengikuti kompetisi ini harap maju ke depan.” Jelas Patriak Mo.
Hening, tidak ada yang bergerak sama sekali, mereka semua tentu lebih memilih nyawa daripada hadiah yang belum tentu mereka dapatkan, karena mungkin mereka akan terbunuh sebelum menyelesaikan turnamen pertama.
“Hah, sudah kuduga.” Gumam Patriak Mo seraya menghembuskan nafas pelan.
Ditengah-tengah keheningan tiba-tiba saja ada orang tertawa seperti setan, orang itu tak lain adalah Rey.
“Hahahahaha! Kalian semua takut hanya dengan itu semua? Ckckck.”
Rey berjalan maju dengan gagah seperti orang anti santet, dia bahkan menunjukan senyuman sombong ke semua orang di sana.
“Aku ikut!” Ucap Rey lantang yang membuat semua orang disana terkejut bukan main, bahkan Patriak Mo sampai tersedak ludahnya sendiri.
“Meskipun tingkah lakunya sangat buruk, tetapi keberanian yang dimilikinya ternyata bukan main-main.” Tetua Shen Xuan tersenyum, sudut bibirnya melengkung 0,1 milimeter, jadi tidak ada yang menyadari bahwa dia sedang tersenyum sekarang.
Tetua Shen Xuan tidak tahu jika Rey sama sekali tidak memiliki rasa takut, hanya keberanian dan kegilaan saja yang menyertainya, jangankan siluman, setan atau bahkan malaikat pencabut nyawa sekalipun akan Rey tantang jika berani mencabut nyawanya.
Quote Rey :
Ketakutan akan membuat diri kalian lemah,
jadilah sepertiku yang tidak takut pada apapun, bahkan malaikat pencabut nyawa sekalipun akan ku cabut nyawanya jika berani mencabut nyawaku.
__ADS_1