Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 33 - Korban Pertama


__ADS_3

Pagi telah tiba, semua orang Sekte Laut Biru terlihat berkumpul di depan, sepertinya mereka ingin mengantar para murid yang terpilih untuk mengikuti kompetisi, karena bagaimanapun mereka sangat berharap jika 10 orang tersebut bisa memenangkan turnamen besar tersebut, walaupun kemungkinan mereka untuk masuk ke dalam 10 besar hanya 0,1%.


Saat ini Patriak Mo dan semua Tetua sedang membicarakan menganai Tetua siapa yang akan menjadi pendamping ke 10 murid tersebut. Mereka saling membandingkan mengenai kekuatan dan kemampuan lainnya, mereka menunjuk Tetua Shen Xuan karena memang kekuatan dan pengalaman yang dimiliknya berada di atas mereka semua, namun Tetua Shen Xuan menolak karena dia memiliki beberapa urusan yang tidak bisa dia tinggalkan.


“Jadi siapa yang akan menjadi Tetua pendamping mereka?” Patriak Mo bertanya dengan nada serius.


“Bagaimana jika Tetua Fengyi? Menurutku beliau lebih berkompeten dari kita semua setelah Tetua Shen Xuan.”


Semua Tetua di sana terlihat menganggukan kepala tanda mereka setuju.


“Apa kau mau menjadi pendamping mereka Tetua Fengyi?” Tanya Patriak Mo yang dibalas anggukan oleh Tetua Fengyi.


Tetua Fengyi menyetujui hal tersebut bukan karena dia ditunjuk, alasan dia setuju adalah karena disana juga ada ada putrinya Feng Qiuyu. Sebagai seorang Ayah tentu saja dia ingin melindungi anak perempuan satu-satunya tersebut.


“Baiklah, jadi kita sepakat menunjuk Tetua Fengyi sebagai pendamping para murid tersebut. Karena telah selesai, lebih baik kita semua menuju ke depan pintu gerbang Sekte untuk mengantarkan keberangkatan mereka.” Patriak Mo beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh semua Tetua.


**


Setelah sampai, Patriak Mo bersama seluruh Tetua dibuat bingung, karena ternyata Rey tidak ada di sana, padahal mereka akan berangkat saat ini juga.


“Nak, kemana teman sekamarmu itu?” Tanya Tetua Fengyi kepada Zenith.


“Aku tidak tahu, padahal tadi dia ada di sini.” Jelas Zenith. Terlihat semua murid di sana menganggukan kepalanya, karena mereka tadi memang sempat melihat Rey bersama kesembilan murid lainnya.


Wajah Patriak Mo menjadi jelek, dia sangat ingin meremas kepala bocah tengik yang sehari-harinya hanya membuat rusuh tersebut, namun dia dihentikan oleh Tetua Fengyi.


Melihat wajah Ayahnya yang merah padam membuat Tetua Shen Xuan bertindak.


“Bisa kau tunjukan dimana kamarmu nak?” Tanya Tetua Shen Xuan kepada Zenith.


“Bisa.” Jawab Zenith seraya menganggukan kepala.


Zenith menuju kamarya diikuti Tetua Shen Xuan. Setelah sampai betapa terkejutnya mereka berdua karena melihat Rey yang sedang tidur nyenyak di depan pintu kamar.


Tanpa mencoba membangunkan Rey dengan baik, Tetua Shen Xuan tanpa belas kasihan memegang kaki Rey lalu menyeretnya dengan sadis menuju ke pintu gerbang. Sedangkan Zenith hanya bisa melihat itu semua dengan pandangan tak pecaya, dia pun segera mengikuti Tetua Shen Xuan yang sedang menyeret Rey di belakang.


Entah bagaimana Rey bisa-bisanya masih tertidur pulas walaupun sedang diseret. Namun dia segera terbangun setelah kepalanya menghantam batu.


“Woi, lepaskan! Siapa yang berani menyeret sang penghancur ini?!” Rey melihat siapa orang yang sangat berani menyeret dirinya karena mungkin akan dia tebas semua tangan orang tersebut.


Namun setelah Rey melihat siapa orang tersebut yang ternyata adalah Tetua Shen Xuan membuatnya bungkam, dari sekian banyak orang yang ada di Sekte mengapa harus Tetua Shen Xuan pikir Rey.


Tak berapa lama kemudian akhirnya mereka bertiga telah sampai ke depan pintu gerbang Sekte, tentu saja semua orang di sana terkejut melihat Tetua Shen Xuan yang menyeret Rey seperti sampah.


“Buset, bocah itu diseret begitu, hahaha.”


“Yah, kau tau sendiri Tetua Shen Xuan memang orangnya sangat tegas dan tanpa belas kasih kepada orang yang berbuat salah.”

__ADS_1


“Kau benar, aku saja pernah disuruh sujud kepada semua murid perempuan karena ketahuan mengintip mereka saat mandi.”


Tetua Shen Xuan segera melepaskan kaki Rey dari tangannya.


Patriak Mo mendekati putranya Tetua Shen Xuan dan bertanya, “Mengapa kau menyeret bocah ini Shen?”


“Dia ternyata sedang tidur Ayah.” Jawab Tetua Shen Xuan singkat.


Rey yang merasa dirinya dibicarakan hanya bisa menggerutu, “Orang lagi tidur malah diseret, awas aja kau, kupastikan dirimu akan kuseret juga sebagai balasan nantinya.”


Patriak Mo melihat kesembilan murid tersebut dengan pandangan teduh kecuali Rey, dia tidak akan menatap bocah yang selalu membuat dirinya setres dengan pandangan teduh.


“Aku tidak menuntut kalian untuk menang, sebagai Patriak, aku hanya ingin kalian melakukan yang terbaik tanpa harus membahayakan nyawa, kalian berangkat hidup maka harus pulang dalam keadaan hidup juga.”


“Baik Patriak, kami tidak akan mengecewakanmu.” Ucap mereka secara serempak, namun tidak dengan Rey yang malah tertawa mengejek di dalam hatinya.


“Tetua Fengyi kuharap kau dapat menjaga dan membimbing mereka selama diperjalanan.” Patriak Mo menepuk pundak Tetua Fengyi seraya tersenyum.


Tetua Fengyi hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Dengan hati penuh tekad mereka bersebelas melangkah pergi dari Sekte menuju Istana Kekaisaran Chen. Semua orang di sana menyorakan kata-kata penyemangat kepada rombongan Tetua Fengyi, mereka berharap penuh kepada kesepuluh murid tersebut.


Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai ke gerbang kota, Rey melihat papan nama di atas kota yang bertuliskan Kota Bambu Kuning, dia baru tau nama kota tempat tinggalnya, karena di dalam ingatannya sama sekali tidak ada informasi mengenai nama kota ataupun hal-hal umum yang seharusnya diketahui sebagai penduduk.


“Dasar bocah, jika aku jadi ibumu sudah ku cekik kau dari lahir... bukannya menjadi berguna malah besarnya menjadi bocah bodoh, idiot, lemah, dan juga pengecut.” Rey mencibir pemilik tubuh yang dia tempati sekarang, karena menurutnya sangatlah kebangetan jika seseorang tidak mengetahui nama kota tempat tinggalnya.


Selama diperjalanan mereka saling bercanda satu sama lain, bahkan Rey sesekali menggoda Tetua Fengyi yang sejak tadi hanya diam saja. Namun karena Rey yang terus-terusan ngoceh membuat Tetua Fengyi kesal juga.


Mendengar ucapan Tetua Fengyi membuat mereka semua tertawa, bahkan Rey sendiri ikutan tertawa karenanya.


“Nah gitu dong ngegas, sejak tadi kulihat wajahmu seperti menahan mulas, santai dikit dong jangan serius mulu, kau tau? Wajah tuamu itu seperti ini sejak tadi.” Rey menirukan wajah serius Tetua Fengyi.


Mereka semua tertegun melihat wajah serius Rey yang ternyata sangat mengintimidasi, padahal mereka hanya sekedar menatapnya saja, tapi siapa sangka wajah bocah yang sehari-harinya ketawa-ketiwi seperti orang gila ternyata mampu berekspresi seperti itu.


Rey tidak sadar jika dirinya sekarang tengah menampilkan ekspresi penguasa dikehidupan sebelumnya, jika saat ini memang tidak menakutkan tetapi jika dewasa pasti ekspresi tersebut akan membuat semua orang berlutut kepadanya.


“Hoi bocah, ekspesimu itu membuatku merinding, dan juga ekspresi wajahku tidaklah seperti itu.” Ucap Tetua Fengyi yang membuat Rey ketawa.


Di dalam hati mereka semua hanya ada satu, bahwa bocah gila yang sedang bersama mereka saat ini bukanlah orang biasa, bahkan Zenith tadi secara tidak sadar mencengkram baju Feng Qiuyu karena ketakutan melihat wajah Rey.


Saat mereka sedang larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba saja ada sekelompok bandit berjumlah 20 orang mencegat mereka.


“Berhenti! Serahkan semua harta kalian semua!” Ucap salah satu bandit, sepertinya dia merupakan pemimpin dari kelompok bandit tersebut.


Mereka terkejut sekaligus ketakutan, namun tidak dengan Rey yang kini tersenyum, sepertinya pembunuhan pertamanya akan terjadi hari ini, betapa girang dirinya karena tidak perlu susah payah mencari korban yang hendak dia bunuh.


Tetua Fengyi memeriksa tingkatan kultivasi sekelompok bandit di depannya, dan betapa terkejutnya dirinya karena ternyata kekuatan bandit di depannya saat ini ternyata melebihi para murid yang sedang dibawanya, apalagi si Ketua Bandit yang ternyata tingkatan kultivasinya sama dengannya.


“Sial, rata-rata dari mereka merupakan Kultivator tingkat emas, apalagi ketua mereka yang ternyata adalah kultivator tingkat bumi sepertiku, walaupun dia masih berada ditahap awal sedangkan aku sudah berada berada ditahap menengah, tetapi jika mereka semua menyerangku pasti aku akan kalah.” Batin Tetua Fengyi yang dimana tubuhnya sekarang berkeringat dingin.

__ADS_1


“Kalian semua larilah, aku akan menahan mereka di sini!” Teriak Tetua Fengyi tanpa mengalihkan pandangannya dari ketua bandit tersebut.


Hening, mereka semua tidak ada yang berani bergerak sedikitpun karena terlalu takut, kecuali Rey yang malah tersenyum melihat itu semua.


“Hahahaha, lihatlah, mereka semua tidak ada yang berani lari karena terlalu takut!” Ucap ketua bandit itu seraya menunjuk ke arah belakang Tetua Fengyi.


Tetua Fengyi menengok ke belakang, dan betapa terkejutnya dirinya karena melihat murid-murid yang dia bawa malah diam di tempat, bahkan terlihat jika badan mereka bergetar terutama murid-murid perempuan.


“Aku akan membiarkanmu hidup jika kau menyerahkan ketiga wanita cantik di belakangmu itu, karena mereka akan menjadi penghangat ranjang ku nantinya, hahahaha.”


Ucapan Ketua bandit tersebut membuat semua murid perempuan histeris, bahkan Feng Qiuyu sendiri saat ini menangis seraya mencengkram baju Zenith dan Rey.


“Kalian cepat bunuh semua bocah laki-laki itu tapi sisakan yang wanita, nanti akan kuberikan satu untuk kalian nikmati.”


"Baik bos!"


Semua bandit tersebut dengan pandangan mesum mendekat ke arah kelompok Rey.


[Slashhhh]


Tetua Fengyi menggaris tanah dengan pedangnya dan berkata, “Tidak akan kubiarkan kalian melewati garis ini sedikitpun!”


Tetua Fengyi mengarahkan pedangnya ke depan, walaupun dirinya tewas nantinya tetapi akan dia pastikan tidak ada satu bandit pun yang dapat menyentuh murid-muridnya terutama Putrinya Feng Qiuyu.


“Hahahahaha! Kalian semua ini menganggapku setan ya? Mau kucabut mata kalian itu?” Rey mendekat ke arah Tetua bandit seraya menyeret pedang besar yang dia bawa layaknya preman pasar.


Zenith ingin menghentikan Rey tetapi dirinya terlalu takut untuk itu, dia hanya bisa berharap kawan tidak warasnya itu tidak akan dibunuh.


Semua bandit tersebut tertawa terpingkal-pingkal melihat bocah berambut putih yang sok berani, padahal mengangkat pedangnya saja tidak kuat.


“Itu apa?” Rey menunjuk ke atas.


Mendengar ucapan Rey membuat semua bandit itu melihat ke atas yang ditunjuk Rey, namun tidak ada apapun di atas mereka.


Rey tersenyum lebar karena melihat sekumpulan orang idiot yang dengan mudahnya mempercayai ucapannya. Dengan segera dia melemparkan pedangnya sekuat tenaga ke arah Ketua bandit tersebut.


“Tidak ada ap….” Ucapan Ketua bandit terhenti karena sebuah pedang besar berada tepat di depan matanya.


[Slashhhhh]


Kepala ketua bandit tersebut jatuh dan menggelinding di tanah yang tentu saja membuat semua bandit tersebut terkejut bukan main.


“Ketua?!”


Melihat sebuah kepala seseorang menggelinding membuat wajah Zenith pucat pasti, tidak hanya Zentih saja, bahkan seluruh murid kini wajahnya pucat pasi seperti tidak memiliki darah.


Sedangkan Tetua Fengyi hanya bisa melototkan matanya karena melihat ketua bandit tersebut tewas dengan kepala terpenggal akibat lemparan pedang besar Rey tadi.

__ADS_1


Rey menginjak kepala ketua bandit itu layaknya bola dan berkata, “Selanjutnya, hahahaha!”


__ADS_2