Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 12 - Pulang


__ADS_3

Zenith yang sudah sadar menjadi bingung, dengan pandangan buram ia melihat ke sekelilingnya yang ternyata adalah dia sekarang berada di dalam kamarnya.


“Bukannya aku tadi kesini untuk mencari Rey? Lantas mengapa aku bisa tertidur di sini?”


Sepertinya Zenith tidak ingat saat kejadian yang membuatnya tidak sadar sebelumnya. Ia melihat kesegala sudut di dalam kamarnya untuk mencari Rey, tapi nampaknya kawan barunya itu tidak ada disana.


Setelah beberapa saat akhirnya Zenith memilih keluar untuk mencari Rey, mungkin kawan barunya tersebut masih berada di dalam Sekte, karena bagaimanapun seorang murid tidak di izinkan keluar, kecuali saat menjalankan misi ataupun dalam hal penting lainnya.


Saat sedang mencari Rey ia cukup terkejut karena tidak ada satupun penghuni Sekte yang terlihat di matanya, tapi ia mengabaikan itu semua dan terus mencari Rey.


“Sial, kemana mereka semua?!”


Zenith frustasi karena tidak kunjung menemukan Rey, ia ingin bertanya tetapi bertanya dengan siapa karena tidak ada 1 orang pun yang ia lihat. Namun, tiba-tiba saja ia mendapat pencerahan yang mungkin dapat memberikan jawaban atas kebingungannya tersebut.


“Ah... Aku tahu, kenapa tidak bertanya kepada penjaga gerbang saja?!”


Zenith dengan segera langsung berlari menuju gerbang Sektenya. Namun setelah sampai betapa terkejutnya dirinya karena melihat ratusan orang tergeletak tidak sadarkan diri di depan gerbang sektenya, bahkan Patriak Mo juga ikutan tidak sadarkan diri.


“Apa-apaan ini?!”


**


Rey saat ini tengah berjalan pelan menuju rumahnya, ia berjalan pelan karena dirinya cukup menikmati kehidupannya saat ini, melihat orang-orang yang menyapanya meskipun menyebutnya sampah membuat ia cukup terhibur.


Dikehidupannya sebelumnya semua orang akan lari jika bertemu dengan dirinya, jangankan manusia, bahkan seekor semut pun memilih bunuh diri dari pada bertemu dengannya.


“Hah, sampai sekarang aku masih ingat, pedagang tua yang tidak sengaja berpapasan denganku bahkan sampai kejang-kejang, padahal sang penghancur ini hanya lewat saja,"


"Memang aku sangat mengerikan seperti itu ya? Bahkan aku masih ingat saat dimana aku bertemu dengan seorang perempuan, perempuan itu malah memilih bunuh diri, padahal sang penghancur ini hanya ingin bertanya jalan saja, ckckck”


Di kehidupannya sebelumnya Rey sebenarnya orang yang sangat baik, dia selalu membantu menghentikan pertempuran ataupun peperangan, hanya saja caranya agak gila, karena dia membabat semua orang yang ada di pertempuran itu.

__ADS_1


Namun, menurut Rey itu semua adalah kebaikan yang pernah dilakukannya, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan peperangan seorang diri sepertinya, dirinya tinggal masuk udah kelar, gak usah ribet memikirkan ini itu, tinggal tebas-tebas ngawur saja sudah beres.


Rey mengingat itu sedikit tertawa sampai-sampai dia tak sadar jika di depannya ada Yui.


“Ahhhh” Teriak Yui yang terkejut.


Rey yang masih bernostalgia menjadi tersentak karena sepertinya ia barusan telah menabrak seseorang. Rey tidak pernah sekalipun mengucapkan kata kramat yaitu Maaf, tetapi saat ia melihat orang yang ditabraknya adalah Yui, tanpa sadar ia mengucapkan kata-kata yang ia anggap kramat tersebut.


“Ah, Maaf” Ucap Rey yang sepertinya tulus meminta maaf.


Rey membantu Yui yang terjatuh karena ia tabrak barusan, tapi sepertinya cara Rey membantu Yui sangat salah. Rey memegang pinggang Yui dan langsung mengangkatnya, yang tentu saja membuat Yui terkejut bukan main.


“R-Rey apa yang kau lakukan?!” Teriak Yui yang kini wajahnya memerah karena malu. Namun entah kenapa mendapat perlakuan seperti itu dari Rey dirinya tidak bisa marah.


“Tentu saja membantumu Yui” Ucap Rey polos.


Sebenarnya Rey cukup mengulurkan tangannya saja kepada Yui, tapi nampaknya cara tersebut sudah kuno karena nyatanya menolong dengan cara seperti yang ia lakukan sekarang jauh lebih efektif.


“Ah, aku baru saja memesan sebuah pedang di salah satu penempa di sini”


“Setelah ini kau akan kemana?” Tanya Rey kembali untuk memastikan Yui menuju ke Sektenya atau bukan.


“Pulang, kau sendiri sedang apa disini?” Tanya balik Yui.


Rey yang mendengar itu tersentak, ia dengan segara memikirkan cara agar Yui untuk tidak kembali ke Sektenya. Hanya dalam sekejap saja dia telah menemukan sebuah cara untuk membuat Yui tidak kembali ke Sektenya, yaitu dengan mengajaknya ke rumahnya.


“Aku saat ini ingin pulang ke rumahku, apa kau mau ikut?”


Mendengar ajakan Rey yang tiba-tiba membuat Yui berfikir sejenak, tapi karena sekarang ia tidak mempunyai kegiatan lain jadi sepertinya menerima ajakan Rey bukanlah ide yang buruk.


“Baiklah, ayo”

__ADS_1


Mendengar itu Rey cukup lega, karena ia tidak ingin terkena tamparan dari Yui lagi.


Saat dalam perjalanan, Rey sedikit merasakan jika jantungnya berdetak kencang, ia tidak tahu mengapa bisa seperti ini.


“Apa menyukai seseorang bisa membuat jantungan? Aish, semoga saja sang penghancur ini tidak mati nantinya” Batin Rey.


Tidak berbeda jauh dengan Rey, Yui juga mengalami hal yang sama dengan Rey, berada di dekat Rey membuatnya jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan sampai membuat dirinya gugup, padahal sebelumnya ia tidak pernah sekalipun gugup saat bertemu dengan Rey.


“Aku tidak tahu kenapa Rey memanggilku dengan namaku langsung, bukannya sebelumnya ia selalu memanggilku nona? Dan juga kenapa sekarang hatiku berbunga-bunga jika berdekatan dengannya”


Yui bertemu dengan Rey sekitar 3 tahun lalu, saat itu Yui sedang berjalan-jalan tetapi dia segera berhenti karena melihat seorang pemuda yang sedang di pukuli orang pemuda lainnya, karena kasian ia akhirnya memilih untuk membantu pemuda tersebut yang tak lain adalah Rey sendiri.


Sejak saat itu Rey selalu mengikuti dirinya jika keluar dari Sekte, Rey selalu memanggil dirinya dengan sebutan nona karena perbedaan umur yang lumayan jauh yaitu 8 tahun.


Rey yang dulu adalah sosok yang pemalu dan pendiam, dan juga ia sangatlah sopan, tapi entah kenapa Rey yang ia kenal sekarang malah berbanding kebalik dengan sebelumnya, yang dimana Rey sekarang malah terkesan tak tahu malu, dan juga sangat tidak sopan.


Namun entah mengapa dia sangat menyukai sikap Rey yang seperti sekarang, bahkan ia sendiri sampai menyukai Rey yang sebelumnya ia anggap sebagai adik.


Sebenarnya mereka berdua sudah terikat sebuah takdir yang mungkin tidak akan mereka sadari hingga saatnya telah tiba nantinya, karena itulah mereka saat ini merasakan perasaan yang sama satu sama lain. Perasaan mereka akan saling terhubung satu sama lain, bahkan jika salah satu dari mereka terluka maka yang lainnya akan merasakan juga walaupun luka tersebut tidak dirasakan oleh fisik tetapi tetapi oleh perasaan mereka.


Mereka berdua berjalan dengan hening, bahkan Rey yang terkenal sangat cerewet sekarang malah tidak bisa berucap sepatah katapun. Sedangkan Yui sangat ingin mengobrol dengan Rey, tapi karena dirinya sangat gugup jadi dia memilih untuk diam dari pada mengucapkan kata yang akan membuatnya malu nantinya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berdua telah sampai di depan Rumah Rey. Ibu Rey yang melihat putranya kembali sangat senang, dengan segera ia berlari menghampiri putranya tersebut.


“Rey!”


Rey yang melihat ibunya berlari ke arahnya terkejut, dengan sigap ia segera menghampiri ibunya agar tidak terjatuh. Rey cukup tersentak ketika ibunya memeluk dirinya dengan erat, bahkan ibunya kini tengah menangis di dalam pelukannya.


“Rey, syukurlah kau pulang nak, ibu sangat khawatir denganmu Rey”


Rey hanya diam saja mendengar ucapan ibunya, ia tidak membalas sedikitpun ucapan ibunya, tapi tangannya dengan perlahan bergerak dan membelai pelan kepala ibunya tersebut. Sedangkan Yui tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak ingin mengganggu ibu dan anak tersebut, jadi dia memilih untuk diam sambil memperhatikan kedua orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2