
Setelah semedinya selesai ternyata Rey memilih untuk berdiam diri saja di kamar, tidak keluar ataupun kelayapan seperti orang kesurupan seperti sebelumnya.
Terlihat sesekali Rey melirik ke arah Zenith yang kini sedang membaca sebuah buku.
“Hei bocah, apa yang sedang kau baca itu?”
Zenith tak menghiraukan pertanyaan Rey, dirinya saat ini tengah fokus memperhatikan langkah-langkah jurus Pedang Membelah Angin.
“Hoi bocah, berani sekali kau tidak menghiraukan ucapan sang penghancur ini!” Rey tentu sangat kesal karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Zenith. Di kehidupannya yang lalu jika ada seseorang yang tidak menjawab pertanyaannya, maka sudah bisa di pastikan bagaimana nasib orang tersebut.
“Diamlah! Aku sedang mempelajari Jurus Pedang Membelah Angin saat ini”
Medengar itu Rey cukup tertarik, dirinya tidak pernah mempelajari jurus pedang atau apalah itu. Saat menggunakan pedang, ia hanya menebas-nebas ngawur saja tubuh lawannya sudah serentelan semua.
Rey nampaknya tidak menyadari jika ilmu pedangnya sudah berada di tingkat tinggi, meskipun ia hanya menggunakan pola dasar ilmu berpedang, yaitu menangkis, menebas, dan menusuk.
Dari 3 pola ilmu berpedang, Rey hanya menggunakan pola menebas dan menusuk, ia tidak perlu menangkis serangan lawan, karena apa? Ia nebas ngawur saja musuhnya sudah serentelan, jadi buat apa menangkis serangan mereka? Itu sangatlah sia-sia. Jika mereka menyerang dia juga ikut menyerang juga, jadi tidak perlu menangkis bukan?.
“Dasar bocah, kau lihat nanti cara berpedangku, jangankan membelah Angin, membelah setan saja aku bisa!” Ucap Rey dengan sombong.
Tiba-tiba saja di otak licik Rey terbesit ide nyeleneh, ia akan menantang Zenith beradu pedang dengannya, karena ia sudah lama tidak menebas tubuh orang menggunakan pedang.
“Hei bocah, bagaimana jika kita berduel menggunakan pedang? Pemenangnya bisa melakukan apapun pada yang kalah” Ucap Rey disertai senyuman licik.
Zenith yang mendengar itu cukup tertarik, ia memang membutuhkan seseorang untuk mengetes kemampuan berpedanganya.
“Baiklah, kita bertanding dimana?” Tanya Zenith.
“Di Aula, tapi kita tidak memiliki pedang sama sekali”
“Itu mudah, kita curi saja beberapa pedang di Gudang Sekte” Ucap Zenith yang ternyata memiliki pemikiran yang sama gilanya dengan Rey.
Mereka berdua nampaknya memiliki kesamaan yaitu sama-sama gilanya. Jika kegilaan Rey memang tidak diragukan lagi, ia bahkan lebih gila dari pada orang gila itu sendiri, sedangkan Zenith adalah orang yang sangat kalem, tapi jika sifat gilanya sudah muncul itu akan menyamai kegilaan Rey.
Sekarang ini mereka sedang mengendap-endap di sekitar Gudang Sekte, tapi itu hanya berlaku untuk Zenith, sedangkan Rey sejak tadi hanya jalan seperti biasa karena memang tidak ada orang lain di sekitar Gudang.
“Hei, tinggal masuk aja susah amat, buat apa coba kau ngendap-ngendap seperti orang sinting?”
__ADS_1
“Ini namanya teknik kamuflase”
Rey yang mendengar itu sudah tidak tahan lagi, dengan segera ia menendang Pintu Gudang dengan keras.
[Bruakkkk]
Akibat tendangan Rey yang sangat keras membuat Gudang Sektenya hancur, karena memang bangunan Gudang itu sudah sangat tua.
“Apa yang kau lakukan!?”
Zenith tak habis pikir dengan Rey, ia sudah mengendap-ngendap dengan sangat hati-hati, bukannya mengikuti dirinya Rey malah menendang Pintu Gudang hingga Gudangnya pun ikut hancur.
Karena kekacauan yang di timbulkan Rey membuat seluruh penghuni Sekte menuju kearah Gudang. Mereka semua terkejut karena melihat Gudang Sekte mereka yang hancur, bahkan Patriak Mo dan para Tetua juga terlihat disana.
“Ini? Siapa yang bertanggung jawab atas ini semua?!”
Dengan segera Zenith menunjuk ke arah Rey yang tentunya membuat semua orang disana menatap tajam kearah Rey. Sedangkan Rey hanya memasang muka bodo amat andalannya, ia sama sekali tidak merasa bersalah karena menurutnya kondisi Gudang Sekte itulah yang memang sangat buruk.
“Kau! Apa yang kau lakukan bocah setan?!” Teriak marah Patriak Mo, bahkan sampai terlihat urat-urat di wajahnya.
“Aku tidak melakukan apapun, Gudang itu saja yang memang sudah bobrok, ditendang sekali saja udah roboh” Ucap Rey tanpa dosa.
“Sini kau bocah setan!!!” Teriak Patriak Mo marah, bahkan di tangannya sudah ada api.
Melihat Patriak Mo marah, dengan segera Para Tetua sana melindungi Rey sambil menenangkan Partriak Mo.
“Tenang Patriak, jangan di bunuh bocah gila ini”
“Benar, bocah itu adalah satu-satunya jalan keluar kita Patriak, jangan dibuat sekarat anak orang!”
“Diam kalian! Bocah gila ini memang perlu dihukum”
Patriak Mo mengeluarkan seluruh kekuatannya hingga membuat seluruh orang disana mental, namun tidak dengan Rey yang kini matanya sudah berubah menjadi hitam.
“Ayo sini kau pak tua! Ku buat sekarat kau, Hahaha!” Sifat gila Rey nampaknya sudah berada di tahap akhir. Ia sudah lama tidak ditantang oleh seseorang, karena itulah dirinya saat ini sangatlah bersemangat.
“Sini kau bocah tengik!”
__ADS_1
Baru saja mereka mulai bergerak, namun tiba-tiba saja …
“Kalian berdua hentikan! Apa kalian ingin membuat hancur Sekte ini?!” Teriak Yui
Mendengar teriakan Yui membuat Patriak Mo mengentikan serangannya, namun tidak dengan Rey yang kini mengarahkan tinjunya ke kepala Patriak Mo dengan sangat kuat.
[Buakkkkk]
Mereka semua yang melihat itu tidak bisa menahan nafasnya, bahkan Yui sendiri sampai menutup mulutnya. Patriak Mo tidak bergeser sedikitpun walau di hantam keras oleh Rey, dia sebisa mungkin untuk menahan emosinya, tapi nampaknya itu tidak bisa.
“Bocah gila….” Ucap Patriak Mo pelan seraya menatap kearah Rey.
“Ayah jangan!”
[Plakkkkkkkkk]
[Bummmmm]
Semuanya sudah terlambat, karena Rey sudah di tampar keras oleh Patriak Mo hingga terpelanting menabrak batu besar di sekitar aula. Namun, apa itu semua bisa menghentikan Rey? Tentu saja tidak, karena Rey kini malah tertawa seperti orang gila.
“Hahahaha, pak tua berani sekali kau menampar sang penghancur yang sangat agung ini!” Teriak Rey dengan sangat lantang.
Rey nampaknya sudah kehilangan kendali, terlihat jika kini tubuhnya di penuhi oleh aura gelap yang bahkan membuat tumbuhan di sekitarnya layu seketika.
Patriak Mo yang melihat itu langsung waspada, bahkan Para Tetua di sana sudah membuat segel untuk melindungi murid-murid disana.
“Hahahaha!”
Rey tertawa lantang seraya mendekat ke arah Patriak Mo, bahkan auranya kini membentuk sebuah mahkota di atas kepalanya.
“I-ini, kekuatan gelap yang sama seperti mahluk itu!” Batin Patriak Mo yang kini terlihat bersiap-siap menyerang Rey.
Tidak hanya Patriak saja yang bersiap-siap menyerang Rey, bahkan para Tetua disana sudah mengeluarkan senjata masing-masing.
Melihat Rey semakin mendekati mereka, membuat jantung mereka berdetak keras tak karuan, bahkan murid-murid yang telah di lindungi oleh segel tak kuasa menahan aura gelap yang dikeluarkan Rey.
Namun, tiba-tiba saja Rey roboh tak sadarkan diri karena terlalu memasakan mengeluarkan kekuatan gelap yang melebihi kemampuannya saat ini.
__ADS_1
“Apa yang terjadi!”
Mereka semua tentu bingung sekaligus terkejut melihat Rey yang tiba-tiba roboh tepat di depan mereka, bahkan Patriak Mo sendiri sampai jantungan karena mengira Rey akan menyerangnya.