
Melihat tornado api yang sudah lenyap membuat semua panitia, penjaga serta para jendral langsung memasuki arena, mereka panik saat melihat arena yang sudah luluh lantah, kepanikan mereka semakin bertambah saat melihat Chen Shui yang tengah terbaring tak sadarkan diri tepat di pangkuan Rey.
“Putri!”
Mereka semua bergegas lari ke arah Chen Shui, setelah diperiksa ternyata Chen Shui hanya sekedar kelelahan dan kehabisan tenaga dalam saja, hal itu membuat semua orang di sana menghela nafas lega.
“Terima kasih nak, karena tidak melukainya.” Jendral Chen berterima kasih seraya mengusap kepala Rey pelan.
Rey yang diusap sebenarnya marah, berani sekali bocah tua di depannya ini mengusap kepala mahluk agung sepertinya, namun entah kenapa dirinya sekarang dapat mengendalikan emosi, meskipun kadang-kadang emosinya masih meledak-ledak tetapi itu merupakan pencapaian besar dalam hidupnya.
Jendral Chen menggendong Chen Shui menuju istana, sebelum itu dia mengudang Rey untuk makan malam bersama dengannya nanti, Rey tentu saja menyetujui hal itu tanpa pikir panjang, perut one packnya membutuhkan makanan lezat agar nantinya tumbuh menjadi two pack.
“Tapi apa boleh aku membawa temanku? Tentu aku tidak bisa meninggalkan mereka sendiri.”
“Boleh, kau boleh membawa mereka, aku pun ingin mengenal sektemu anak muda.”
Rey bersama panitia keluar arena, melihat Rey yang baik-baik saja membuat mereka semua terkejut, panitia mengumumkan bahwa Rey lah pemenangnya, itu disebabkan karena mereka tidak ada di sana saat pertandingan berlangsung, bahkan sang wasit menghilang entah kemana, mungkin digotong jin pikir mereka.
“Gila, bocah itu menang lagi?!”
“Gila? Aku mengaggap dia mahluk tergila yang pernah ada!”
“Aku saja yang sudah gila kalah gilanya dengan bocah itu.”
Mereka semua bersorak atas kemenangan Rey, senggol-senggolan layaknya orang rusuh, Rey sendiri di peluk oleh Yui yang entah datang dari mana, tapi mendapat pelukan dari wanita secantik Yui tidak buruk juga, mereka berdua berpelukan dengan sangat mesra sampai-sampai tidak menyadari bahwa semua orang sedang memandang mereka berdua.
__ADS_1
“Ehem..” Tetua berdehem yang membuat Yui langsung melepaskan pelukannya.
Zenith, Feng Qiuyu dan Tetua Fengyi mengucapkan selamat kepada Rey. Rey mengadahkan tangannya seperti meminta hadiah atas kemenangannya, hal itu membuat mereka bingung harus memberikan Rey hadiah apa, uang tidak punya, apalagi benda berharga.
“Heh.. dasar orang-orang kere, tenang saja aku tidak akan meminta hadiah apapun dari kalian.”
“Dasar bocah gila, kau membuatku panik tadi.” Tetua Fengyi memukul kepala Rey, entah kenapa dirinya bisa sangat khawatir dengan bocah yang sehari-harinya membuatnya susah tersebut.
Rey memegangi kepalanya yang sedikit benjol, meskipun kesal dia sama sekali tidak marah atas perlakuan mereka, malah hatinya sedikit menjadi hangat.
“Eh, tunggu apa benar aku punya hati?” Gumam Rey seraya tersenyum, meskipun tidak punya hati sekalipun dia tetaplah mahluk hidup yang mempunya perasaan.
Melihat Rey yang tersenyum membuat mereka semua tersenyum, sepertinya mereka sudah ketularan akan kegilaan Rey, keberadaan Rey secara tidak langsung mengubah kehidupan mereka dari yang awalnya membosankan menjadi berwarna, meskipun warnanya berlebihan tetapi itu lebih baik daripada monokrom.
“Oh iya, kita ada acara makan malam setelah ini.” Ucap Rey tiba-tiba yang membuat mereka berempat bingung.
“Oh, itu Jendral Chen, dia mengundangku makan malam nanti, dan aku diperbolehkan mengajak kalian juga.”
“Apa?!” Mereka berempat sontak berteriak, pikiran mereka hanya satu yaitu bagaimana bisa Jendral Chen mengundang Rey secara pribadi, apa Jendral Chen tidak tahu bahwa yang beliau undang itu merupakan bocah ghoib yang kelakuannya sangatlah angker.
Rey tersenyum melihat keempat orang terkejut, dia saja sebelumnya juga terkejut, tapi menurutnya sih wajar saja Jendral Chen mengundangnya, kan dia merupakan mahluk teragung sejagat raya, tidak ada lagi mahluk seagung seperti dirinya, menurutnya malah Jendral Chen yang seharusnya bangga karena telah mendapat kesempatan makan bersama dengannya.
Tanpa bertanya lagi, Yui langsung mengajak keempat orang itu menuju Toko pakaian, mereka tidak menolak ajakan Yui itu karena tidak mungkin bagi mereka makan malam dengan pakaian lusuh, apalagi Rey yang hanya memakai jubah sederhana pemberian panitia.
Setelah sampai, mereka langsung memilih-milih pakaian, semua kawannya memikirkan untuk mengenakan pakaian yang terlihat berwibawa, namun tidak dengan Rey yang malah memikirkan pakaian keren, sebab sang penghancur yang sangat agung sepertinya membutuhkan pakaian super duper keren yang terlihat berkelas di mata semua orang. Mata Rey tertuju pada jubah putih yang sangat bagus, tapi setelah melihat harga yang tertera membuatnya lemas seketika.
__ADS_1
“175 koin emas? Hais, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi tanpa uang juga menyusahkan.” Gumam Rey seraya menghela nafas.
Yui yang sejak tadi mengintip Rey tersenyum ketika melihat wajah menggemaskan Rey saat mengharapkan sesuatu yang mustahil didapatkannya.
Yui menghampiri Rey yang tengah melihat jubah putih itu dan berkata, “Ambil saja, aku yang akan membayarnya.”
Sontak saja Rey langsung tersenyum, dia berkali-kali berterima kasih kepada Yui, sungguh Yui adalah penyelamat orang kere sepertinya, Yui bagaikan malaikat yang sengaja mendatanginya untuk menutupi kekurangannya tersebut.
Melihat Rey yang kegirangan layaknya bocah membuat Yui tersenyum, kelakuan bocah Rey seperti menghilangkan segala kesetanawinya, dan itu merupakan anugrah bagi Yui karena dapat melihat orang yang dia sukai tersenyum.
“Tu-tunggu, apa aku barusan berpikiran seperti itu?!” Wajah Yui memerah karena sepertinya dia telah menyadari perasaannya sendiri yang menyukai Rey, dia sama sekali tidak peduli jika Rey masih bocah, karena 8 tahun kemudian Rey sudah menjadi dewasa dan juga tidak ada larangan sama sekali untuk tidak memperbolehkan wanita dewasa sepertinya menyukai seorang bocah.
Rey dan Yui menunggu ketiga orang yang masih memilih pakaian di depan meja kasir, Yui sendiri sama sekali tidak membeli pakaian karena pakaian yang diakenakan bahkan melebihi para bangsawan, semua orang yang memandangnya pasti akan berpikiran bahwa dia adalah seorang putri, dia benar-benar seorang putri, dialah putri satu-satunya Patriak Mo.
Tak lama kemudian tiga orang yang mereka tunggu muncul, di belakang mereka terlihat 3 orang pelayan yang membawa pakaian pilihan mereka.
“Berapa totalnya?” Tanya Tetua Fengyi.
“215 Koin emas.” Jawab pelayan yang menjaga meja kasir dengan senyuman.
Deg..
Beberapa saat jantung mereka seperti berhenti berdetak, itu dikarenakan mereka lupa bahwa mereka sama sekali tidak punya uang, sedangkan pakaian yang mereka pilih merupakan pakaian termahal di toko itu, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka semua sangat panik, Tetua Fengyi bahkan berpikiran menjual ginjal atau otaknya untuk membayar pakaian yang mereka beli.
Seakan tahu apa yang tengah dipikirkan ketiga orang itu, Yui langsung memberikan 215 koin emas pada pelayan itu, tentu saja hal itu membuat Tetua Fengyi menghela nafas lega, padahal dia sudah bersiap-siap menggadaikan ginjal dan otaknya tadi, meskipun begitu dia juga merasa malu karena sudah merepotkan Yui, karena dia tahu 215 koin emas itu bukanlah jumlah uang yang sedikit.
__ADS_1