
Rey membuka matanya dan menemukan dirinya sedang berbaring di atas ranjang sebuah ruangan antah berantah. “Di mana ini? Apa yang sudah terjadi?” Rey memegangi kepalanya yang terasa sakit, dia juga beberapa kali menggerak-gerakan tubuhnya.
Tak lama kemudian, ingatan tentang kejadian sebelumnya terlukis jelas di kepalanya. “Cih, orang tua itu! Awas saja kau, kucabut semua janggutmu nanti, berani sekali membanting tubuh sang penghancur yang sangat agung ini, hmph!”
Rey menoleh ke sekitarnya, terlihat beberapa ranjang kosong di ruangan tersebut. Ruangan itu memiliki bau obat yang cukup menyengat, tapi yang lebih menyengat adalah bau kain ranjang tempatnya tidur yang mirip seperti bau kotoran biawak.
“Huekkkk… sialan, bau sekali!” Rey langsung beranjak bangun dan menjauh, dia lebih memilih tidur di atas lava gunung berapi daripada tidur di ranjang tersebut.
Pintu terbuka, nampak seorang pemuda membawa nampan berisikan obat-obatan. Pemuda itu tersentak ketika melihat bocah yang dirawatnya sudah sadar. Rey memandangi pemuda yang tak dikenalinya itu dari atas sampai bawah, “Siapa kau?”
Pemuda itu berjalan mendekati Rey lalu mengulurkan tangannya, “Namaku Jun Hui , aku yang bertanggung jawab merawatmu atas perintah Tetua Feng Yi.”
Rey menatap tangan Jun Hui dengan bingung, “Apa maksudnya? Apa dia mengajakku adu cengkraman tangan?” Rey yang tidak pernah berjabat tangan dengan seorang teman karena memang dia tidak pernah memiliki teman membalas uluran tangan itu dengan cengkraman yang sangat kuat hingga mengeluarkan bunyi.
Jun Hui melototkan matanya, bocah yang nampak lemah dan polos di depannya ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. “Apa ini caranya berkenalan?” Batin Jun Hui, dia pun membalasnya dengan mencengkram tangan Rey yang tentu saja membuat psikopat sinting tersebut semakin bersemangat.
Sayang perbedaan kekuatan fisik di antara mereka berdua cukup besar. Rey yang masih bocah tentu tidak akan bisa mengalahkan Jun Hui yang sudah remaja, meski kekuatan fisik dapat ditingkatkan dengan berkultivasi tetapi itu semua tidak semudah yang dibayangkan.
Namun hal ini tidak semerta-merta membuat Rey menyerah, meski tangannya copot sekalipun dirinya tidak akan pernah mengakui kekalahan. Rey tidak akan pernah membiarkan dirinya kalah meskipun itu dengan seekor monyet, baginya kekalahan adalah sebuah aib, jika ada seseorang yang mampu mengalahkannya dalam hal apapun maka akan dia tantang balik hingga berhasil menang, entah itu adu bacot, adu panco, adu kekuatan ataupun adu ketampanan, dia akan selalu bersaing.
Kebanyakan dari mereka yang bersaing dengan Rey dikehidupan yang lalu pada akhirnya lebih memilih mengaku kalah, mereka dibuat gila dengan tantangan dari si psikopat sinting ini yang secara terus-menerus datang sampai membuat mereka semua bermimpi buruk. Jangankan manusia, bahkan seekor badak saja dia ajak adu ketahanan kepala, tentu tidak ada orang waras yang mau melakukan hal semacam itu kecuali Rey.
Jun Hui yang menyadari betapa keras keras kepalanya bocah di depannya justru memperkuat cengkramannya. Wajah Rey memerah, dia mengeluarkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk tidak kalah. Namun itu semua tidak berlangsung lama, sebab Jun Hui tiba-tiba melepaskan cengkramannya.
“Kenapa nyerah? Segitu saja kemampuanmu?” Rey menatap Jun Hui dengan angkuh walaupun sudah jelas jika Jun Hui hanyalah mengalah kepadanya.
Satu alis Jun Hui terangkat, “Nyerah apanya? Jika kuteruskan tanganmu itu bisa putus tau.”
“Halah, tinggal ngaku saja kalah apa susahnya, banyak alesan jadi orang,” Cibir Rey.
Jun Hui pura-pura batuk mendengar ucapan bocah kecil di depannya, “Kurasa ada yang salah dengan otaknya, pantas saja bocah ini dibanting patriak tadi, mulutnya sangat bar bar.”
Di dalam hatinya Jun Hui merasa tertarik dengan bocah berambut putih tersebut, bukan karena kemampuannya yang di atas rata-rata bocah seusianya melainkan kelakuannya yang mirip monyet.
__ADS_1
Jun Hui mengangkat kedua tangannya, “Baik-baik, kau menang bocah.”
Mendengar kata bocah dari bocah bau kencur di depannya membuat Rey kesal, “Asal kau tahu saja, aku sudah ada sebelum orang tuamu membuatmu disemak-semak, bahkan aku sudah lahir sebelum nenek moyang kalian belajar merangkak.”
Itu semua tidaklah salah, Rey bisa dikatakan sebagai fosil berjalan yang masih hidup hingga saat ini, dia sudah mati ribuan kali dan hidup kembali ribuan kali juga, manusia berbagai macam bentuk juga sudah pernah dilihatnya, bahkan nenek moyang tertua di dunia yang masih hidup sekalipun pasti tahu mengenai si psikopat sinting tersebut.
Kelakuannya yang sangat sensasional membuat kehadirannya langsung menjadi buah bibir di seluruh penjuru. Sekali muncul pasti akan selalu ada kekacauan besar, misalnya saja dia pernah nempeleng seorang kaisar sampai kepalanya lepas, pernah memporak-porandakan beberapa kekaisaran, pernah menenggelamkan satu kekaisaran karena meledakan Samudra menggunakan bom Qi, bahkan dia pernah membuat seluruh penduduk kota kejang-kejang karena tidur di jalanan. Jika ditanya jumlah catatan kriminalnya pastinya dia akan menjadi penjahat terjahat di antara penjahat yang paling jahat sekalipun.
Jun Hui menghela nafas, “Yang waras ngalah, ampun dah. Karena kau sekarang sudah sadar, mari ikuti aku ke bagian administrasi.”
Rey menaikan satu alisnya, “Buat apa?”
“Apa kau mau jadi penyusup di sini? Di sana kau akan di data, diberikan pakaian murid dan ruangan tempat tinggal, serta kegiatan-kegiatanmu di sini nantinya.”
Rey mengangguk-nganggukan kepalanya meski dia sama sekali tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Jun Hui. “Kenapa diam saja? Katanya mau menunjukan jalan?” Rey menepuk kedua tangannya, “Cepat cepat, sang penghancur ini masih memiliki kesibukan.”
“Sibuk apa?”
Jun Hui yang mendengar hal itu emosi bukan main, ingin sekali dia mencabut lidah bocah di depannya yang baru beberapa menit bertemu saja sudah membuatnya setres. Namun, pada akhirnya Jun Hui hanya bisa mengatur nafas untuk meredam emosinya.
**
Di perjalanan, Rey yang tadi pagi dibanting oleh Patriak Mo menjadi bintang utama di sana, tak sedikit murid perempuan yang tertawa kecil ketika melihatnya. Nampaknya kejadian tadi pagi yang di mana Rey mendarat di depan murid perempuan ternyata langsung menjadi bahan gossip di kalangan murid perempuan.
“Hei hei.. bocah itu yang berani menantang Patriak tadi ya?”
“Iya benar, itu dia.”
“Psssttt psttt, dia datang… beri hormat… beri hormat.”
Beberapa murid laki-laki nakal di sana memberikan hormat kepada Rey. Bagi mereka, Rey merupakan sebuah panutan yang patut dicontoh kenakalannya karena berani mempertaruhkan nyawanya dengan menantang Patriak Mo yang dikenal temperamental.
Jun Hui yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Rey malah tersenyum lebar sambil mengarahkan kedua jempolnya ke arah murid-murid bermasalah tersebut, nampaknya dia sudah menemukan kawanan sefrequensi.
__ADS_1
Setelah sampai, Jun Hui langsung berjalan pergi meninggalkan Rey karena dia ingin meluapkan emosinya di tempat sepi. Rey yang tidak tahu apapun lantas bertanya kepada salah satu murid perempuan yang ada di tempat itu, “Hei, di mana orang yang menjaga tempat ini?”
Murid perempuan itu menundukan kepalanya menatap wajah Rey dengan seksama. “Oh, ternyata kau bocah yang dibanting patriak tadi pag ya?” Dia mencubit pipi bocah itu dengan gemas, “Kau manis sekali…”
Emosi Rey sedikit meluap-luap karena perempuan di depannya berani mencubit pipinya, tapi dia tidak ingin membuat masalah untuk sekarang karena masih membutuhkan perempuan tersebut. “Hah, sekali ini saja tidak apa-apalah,” Batin Rey sambil menghela nafas dan membiarkan murid perempuan itu melakukan apapun kepada pipinya.
“Orang yang kau cari sedang tidak ada di sini, tapi aku bisa menggantikannya untuk sementara waktu. Jadi, apa keperluanmu dik?”
“Yang bocahlah, yang adiklah, aku ini lebih tua daripada bapak kalian bocah-bocah sialan!” Di dalam hatinya Rey berteriak kesal, tubuhnya memang bocah tapi usianya sudah melebihi batas maksimal mahluk hidup, jika dirinya saja disebut bocah lantas siapa yang berani mengaku tua.
Rey menghela nafas kecil, “Aku belum mengisi identitas, belum diberi pakaian dan ruangan tempat tinggal, dan juga aku belum tahu mengenai kegiatan apa yang harus kulakukan selama aku menjadi murid di sini.”
“Tunggu sebentar…”
Murid perempuan masuk ke dalam ruangan. Tak lama kemudian, dia keluar sambil membawa secarik kertas serta pakaian. Dia memberikan keras itu dan sebuah alat tulis kepada bocah di depannya, “Baca ketentuan yang berlaku di kertas itu, isi identitasmu di bagian yang kosong, setelah itu tanda tangan di bawahnya.”
Seperti sifat bodo amatnya, Rey sama sekali tidak membaca apapun mengenai ketentuan yang berlaku dan langsung mengisi identitasnya. Jangan tanya bagaimana tanda tangannya karena dengan brutalnya dia mematahkan alat tulis itu hingga cairan tintanya tumpah ke tangannya dan menempelkannya ke kertas itu hingga menutupi sebagiannya.
“Ini…” Rey menyerahkan kembali kertas tersebut.
Murid perempuan itu melebarkan kedua matanya ketika melihat tulisan tangan bocah di depannya yang sama sekali tidak bisa dibaca, “Errrr, tulisan apa ini? Dan juga, apa ini benar-benar tanda tangan?” Batinnya.
Dia menyimpan kertas itu ke dalam laci lalu memberikan pakaian yang diambilnya, “Ehem, jadi begini dik… pakaian murid pria untuk seukuranmu tidak ada, jadi apa kau tidak keberatan untuk memakai pakaian perempuan?”
Rey memiringkan kepalanya, “Apa kau menyuruhku untuk memakai pakaian perempuan? Apa kau sudah kehilangan akal sehat?”
Murid perempuan itu terkejut ketika mendapat perkataan kasar oleh bocah di depannya, tapi dia memaklumi hal tersebut karena bagaimanapun seorang pria meski itu seorang bocah pastinya tidak akan mau memakai pakaian perempuan.
“Ya aku tahu hal ini, tapi hanya ini saja yang tersisa. Ini hanya sementara waktu saja kok dik, mungkin 6 bulan lagi pakaian seukuranmu akan datang, karena sekte hanya akan memesan pakaian setiap 2 tahun sekali dan untungnya terakhir kali sekte memesan pakaian bagi murid tepat satu tahun enam bulan yang lalu.” Jelas murid perempuan itu sambil tersenyum semanis mungkin agar tidak membuatt bocah manis di depannya menangis.
Rey yang mendengarnya hanya bisa menelan ludah. “6 bulan ya? Cih, untung saja tubuhku masih kecil, jadi mungkin tidak akan terlalu mencolok saat memakai pakaian perempuan,” batinnya yang mulai menerima kenyataan.
Dia mengambil pakaian perempuan itu lalu berjalan pergi. Namun baru beraoa langkah tiba-tiba saja dia dipanggil kembali. “Hei Dik, aku lupa memberitahumu. Kamarmu nomer 42 berada di belakang ruangan alkimia! Ingat nomor 42 jangan sampai salah!” Teriak murid perempuan tersebut sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1