Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Jean Kris


__ADS_3

Pembahasan mereka semakin mendalam, dan itu semua adalah kilasan hidup Jean yang dulunya memiliki seorang Suami. Namun sebuah masalah yang berkaitan dengan skandal pun datang, sehingga dirinya berniat untuk berpisah.


Entah kesalah pahaman atau tidak, Jean hanya mencoba untuk menjauhkan Putrinya dari sesuatu yang berbau negatif. Meskipun itu berkaitan dengan Ayahnya sendiri.


Pernikahan yang sudah mereka jalani belasan tahun, hancur begitu saja karena tindakan Suaminya. Oleh karena itu, hingga saat ini, Jean berusaha untuk memenuhi segalanya yang mampu untuk dipenuhi oleh seorang Ibu dan Ayah. Ia melakukan semuanya demi Putri satu-satunya.


Hyunjae sangat terkejut jika saat ini umur Jean cukup jauh darinya, padahal wanita itu memiliki wajah yang masih terlihat muda. Belum lagi bercerai tanpa mendengarkan masalah.


"S-Sepertinya kau harus mendengarkan penjelasan-"


"Memangnya apa lagi yang perlu ku dengar?" Tanya Jean dengan mengangkat sebelah alisnya, "mendengarkan alasannya lalu akan membuatku percaya begitu saja?" Tawanya.


"Oleh karena itu kau harus mendengarkannya terlebih dahulu!" Hyunjae mengulangi ucapannya dengan sedikit penekanan.


"Tidak," ucapnya dengan tegas. "Sudah ku katakan sebelumnya bukan? Kesalah pahaman atau tidak, apa yang kuputuskan sudah tidak bisa berubah. Selain itu... perpisahan kami memang diinginkan oleh takdir." Jelasnya.


"..............." terkadang dirinya percaya pada sebuah nasib dan juga takdir. Hal yang menyebabkan dirinya berpisah dengan Lazel adalah kesalahan yang dia perbuat sehingga takdir memisahkan mereka untuk sementara. Tapi... Hyunjae mencoba untuk merubah takdir itu, dimana ia berhasil membawa kembali Lazel dan Ian.


"Inilah yang membuatku khawatir jika kau akan bertemu dengan Istrimu lagi." Ucap Jean yang menunjukkan ekspresi murung.


"A-Aku akan-"


"Kau harus hati-hati dengan keputusannya, beruntung atau tidaknya. Semuanya ada pada tangan wanita itu sendiri." Jelas Jean.


...◇• •◇...


Jean tidak seburuk yang dia pikirkan, tingkah laku aneh yang dia berikan... Hyunjae berpikir sedikit mengenai hal itu. Dimana dirinya bertindak seperti itu untuk menghilangkan rasa depresi di dalam dirinya.


Semua perempuan itu ada yang sama dan juga tidak. Mereka yang benar-benar memahami arti kehidupan tidak akan mengeluarkan emosi mereka semudah itu. Ada sesuatu yang mereka pikirkan mengenai dampak emosi tersebut.


Saat ini mereka mulai kembali bekerja. Satu  jam diambil untuk beristirahat sejenak sekaligus mengganti pakaian ataupun riasan.


...◇• •◇...


"..............."


^^^"Bagaimana? Apa dia terlihat begitu menawan?"^^^


"T-Tampan!" Ucap Kara tanpa sadar.


"T-Tidak! Dia tidak tampan! Akulah yang melebihi ketampanannya!" Sahut Hyunji yang merasa tak setuju dengan ucapan Kara.


"Aku tidak menyangka jika Bos kita bisa melakukan hal seperti itu." Ujar Vicy yang begitu mendalami pergerakan Hyunjae dari layar ponsel.


Tap!


"Berhenti, kau belum cukup umur untuk melihatnya." Ujar Gyuu sambil menutup kedua mata Vicy dengan tangannya.


"Lepaskan!" Vicy memaksa Gyuu untuk menyingkirkan tangannya yang menutupi kedua matanya.


"Tidak, itu tidak baik untuk anak di bawah umur." Balasnya.


"Aku hanya lebih muda dibandingkan kalian semua, bukan berarti-"


"Shh! Anak kecil dilarang berbicara." Sela Gyuu dengan kepala yang menggeleng.


Alhasil keduanya ribut sendiri.


Kara mendapatkan panggilan dari Jean yang saat ini sedang bekerja bersama Hyunjae. Karena pria itu berhasil menjadi salah satu model dari agensi tersebut, maka Jean yang akan bertanggung jawab pada persiapan Hyunjae.


Di tengah-tengah sesi pemotretan bersamaan dengan waktu istirahat para pegawai. Gyuu dan temannya yang lain mengunjungi sebuah kafe yang berada di dalam lingkungan kantor. Namun beberapa saat kemudian, Hyunji dan Kara datang bersama. Pada akhirnya Jean menghubungi Kara dan memperlihatkan sesi pemotretan yang dilakukan Hyunjae.


Jean cukup terkejut jika bukan hanya Kara saja yang ada disana. Bahkan seluruh teman Lazel juga melihat.

__ADS_1


...◇• •◇...


"Kelihatannya dia sangat menikmati pekerjaan itu." Ujar Kara yang menempelkan dagunya ke atas meja dan menatap Vicy.


"Hm, aku setuju." Angguk Hyunji.


"Setidaknya biarkan dia rileks untuk sementara, lagipula tidak mungkin dia harus terus berpikir mengenai Lazel yang sudah diketahui ada dimana. Meskipun Jean tidak ingin memberitahukannya pada kita." Jelas Vicy.


"Meskipun anak kecil, caramu berbicara boleh juga." Sahut Gyuu yang tiada henti mengomentari Vicy.


Plak!


Tamparan maut terhalangi oleh buku pesanan yang membuat telapak tangan Vicy memerah.


...◇• •◇...


Semua orang kembali pada tempat mereka masing-masing, dimana ruang pribadi mereka sudah disiapkan oleh para staff.


"Lelah?" Seorang perempuan yang memiliki rambut hitam itu datang menghampiri Hyunjae yang satu persatu melepas aksesoris yang memenuhi dirinya.


"Aku hanya kehabisan ide untuk membuat gaya." Jawabnya dengan sedikit kelelahan.


"Yaa, itu sudah menjadi masalah utama untuk para model."


"Ngomong-ngomong... sampai kapan aku harus melakukannya? Apa kau akan terus bertindak seperti ini dan tidak memberitahuku dimana Lazel?"


Brak!


Jean menggebrak kedua tangannya di atas meja dan menatap Hyunjae dengan kesal, "jangan macam-macam denganku, kau baru sehari mengikuti sesi pemotretan. Jadi diam. Dan duduklah dengan manis." Ucapnya dengan penuh tekanan.


"B-Baik."


Jean meninggalkan ruangan Hyunjae, tak lupa, sebagai kesan akhir. Ia menutup pintu tersebut dengan kuat, sehingga membuat pemilik ruangan terkejut.


Hyunjae memang tempat dimana uang akan mengalir deras seperti air terjun. Ia sama sekali tidak peduli pandangan Hyunjae mengenai dirinya, karena dari awal niat dan rencananya tidak akan berubah.


"Haah~ serius... apa kau benar-benar telah menikahi pria yang tidak sabaran seperti dirinya?" Keluhnya.


...◇• •◇...


Matahari masih terlihat jelas, dan masih memberikan kesan panas dan hangat. Jadwalnya yang harusnya sangat padat mampu menambahkan jadwal lainnya. Padahal hal itu tidak terlalu penting. Namun demi cintanya, ia berjuang sebisa mungkin. Ucap seorang sad boy seperti Hyunjae.


Belakangan ini, ia tidak pernah melalaikan sedikit pekerjaannya. Apapun yang datang ke atas mejanya akan usai saat itu juga. Leo yang merupakan sekretarisnya, dia akan membantu atasannya dengan mengecek ulang apa yang sudah Direktur lakukan.


"Hebat, Anda masih bisa bergerak setelah mengerjakan sesuatu yang lain." Ujar Leo.


"Pemotretan tidak ada apa-apanya dibandingkan ini semua." Sahut Hyunjae yang saat ini fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapannya.


"Tuan... ku harap Anda tidak melupakan itu."


"Ha? Apa?" Toleh Hyunjae dengan raut wajahnya yang polos.


"Amerika. Apa Anda sudah tidak berniat untuk melakukan kerja sama dengan mereka?"


"Apa aku harus menggunakan meriam dari kantor Hyunji untuk meledakkan mereka sehingga mau bekerja sama denganku?"


"Hentikaaaan! Apa Anda berniat untuk berperang?!"


"Aku tidak akan melakukan apapun di luar kawasanku sebelum Lazel dan Ian ku temukan." Jelasnya.


Bagi Hyunjae yang sekarang, uang adalah urutan kedua. Sedangkan Istrinya adalah yang utama. Selama tidak ada wanita itu dirinya tidak berniat untuk melakukan apapun. Salah satunya melakukan penerbangan jauh tanpa Lazel.


...◇• •◇...

__ADS_1


Beberapa pegawai masih di posisi mereka masing-masing. Namun bagi seseorang yang lebih memilih untuk bersantai pulang terlebih dahulu.


Sebuah ruangan yang hanya ada dirinya saja. Hawa sejuk dari sebuah pendingin membuat pikirannya semakin fokus.


Untuk menggaji pegawainya pun Hyunjae tidak akan sembarangan. Meskipun ada begitu banyaknya orang yang dia miliki, bukan berarti ia tidak memiliki beberapa staff khusus untuk memperhatikan waktu para pegawai.


Drrt!


Ponsel silver itu ia letakkan di atas meja dan mendapat sebuah panggilan dari seseorang yang kini memiliki urusan penting dengannya.


Ia menyalakan speaker lalu tetap meletakkannya di atas meja sembari mengerjakan pekerjaannya.


"Ada apa?" Tanya Hyunjae pada ponsel yang terletak di sampingnya.


^^^"Aku lupa memberitahumu tentang jadwal pemotretan."^^^


"????"


^^^"Aku memberikan hari selang seling padamu. Karena aku tahu jika bukan hanya satu pekerjaan yang kau lakukan. Ditambah kau tidak mengharapkan gaji dari kami."^^^


"Bolehkah?"


^^^"TENTU SAJA BOLEH! AKU TIDAK SEKEJAM YANG KAU PIKIRKAN!"^^^


"..............."


Hyunjae berpikir sejenak mengenai waktu selang seling yang diberikan Jean padanya. Ia beranggapan bahwa itu akan menjadi lebih baik, sehingga menyempatkan dirinya untuk mengambil istirahat sejenak. Lazel telah ditemukan meskipun saat ini entah ada dimana. Tidak perlu terburu-buru. Hyunjae tau jika hingga saat ini Jean dan Lazel masih berkomunikasi satu sama lain.


Jika ada yang mengganjal dari Jean, maka dengan mudah Hyunjae melakukan tindakan pemaksaan.


^^^"Hyunjae?"^^^


^^^"Hei Hyunjae, apa kau disana?"^^^


Lagipula terburu-buru hanya akan membuat dirinya panik saat akan bertemu dengan Lazel. Ia akan berusaha membuat dirinya jauh lebih tenang sebelum bertemu kembali dengan wanita itu.


^^^"HYUNJAEE!"^^^


"APA?!" Jawabnya dengan terkejut sehingga melupakan pekerjaannya.


^^^"Apa yang kau pikirkan? Aku memanggil namamu berulang kali."^^^


"Oh, maaf. Aku memikirkan Lazel."


^^^"Sampai jumpa di hari lain."^^^


Panggilan mereka pun terputus.


"Itu saja?"


...◇• •◇...


Anak di zaman sekarang, terkadang mereka mengikuti moral modern dibandingkan moral etika yang sudah diterapkan dari dulu. Mereka yang memiliki harta melimpah mampu melakukan apapun sehingga mambuat banyak orang tunduk di hadapannya.


Ada sebuah pernikahan namun ada saja yang terlibat dalam penceraian akibat pertengkaran Rumah Tangga atau sebuah kesalahan sehingga perselingkuhan. Mereka yang melakukan itu tidak ada bedanya dengan binatang, yang dapat memunculkan nafsu begitu saja pada siapapun yang mereka jumpai.


Lagipula kepercayaan merupakan kunci utama dalam menjaga sebuah hubungan. Mereka yang mengucapkan janji suci dan memutuskan akan hidup bersama selamanya tidak akan bernilai tanpa rasa percaya.


Itulah perasaan Jean. Dibandingkan orang diluar sana yang begitu mudah mencari pria lain lalu menikah kembali. Itu adalah hal bodoh yang pernah dia pikirkan.


Karena terkadang manusia melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Dan tidak berpikir tindakan ke depan yang akan mereka hadapi.


Penceraian tidak semudah itu akan diucapkan atau diadili. Karena sebajing*n apapun pasangan, jika dia mencintainya hanya akan bertabur kebencian, bukan berarti perasaan utama akan menghilang. Disaat itulah hati dan emosi saling bertabrakkan.

__ADS_1


Dan seseorang yang sangat dia kenal berada di fase seperti itu... dimana kemungkinan besar ia akan melihat dirinya sendiri melalui orang lain meskipun dalam permasalahan yang berbeda.


__ADS_2