
Kota-kota menjulang tinggi dengan pantulan cahaya dari pencakar langit. Berbagai macam hiburan dapat ditemukan di pinggir jalan. Namun saat malam, kota ini nampak persis dengan kota kerajaan. Aneka ragam lampu cerah meramaikan kota ini.
Cahaya terik yang menyinari secara keseluruhan membuat nuansa kota lebih hidup. Bahkan di sisi malam maupun siang, kota ini tetap memiliki gaya tarik tersendiri.
Tangan kirinya mengadah pada jendela dan tidak melepaskan pandangannya pada sosok rupawan itu.
Bibirnya telihat melengkung dengan tatapan yang terhalangi oleh kacamata hitam.
"Apa kau mau aku melepas matamu itu?" Ujarnya yang saat ini sangat serius memperhatikan jalan dengan kedua tangan yang menggenggam stir mobil.
"Jangan, sangat disayangkan jika aku tidak bisa melihatmu sepanjang hari." Tolak Hyunjae yang tidak mengubah posisinya sedikit pun.
"..............."
Hari ini... ataupun untuk beberapa hari ke depan. Hyunjae memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua hanya bersama Lazel. Lagipula aktivitas seperti ini sama saja dengan bulan madu, mungkin saja Hyunjae memikirkan hal ini di awal.
Setelah ia pikiran kembali, Lazel sangat jarang memanjakan dirinya untuk melakukan liburan atau heeling. Dihandingkan dengan dirinya yang selalu mendapatkan kesempatan kapanpun yang dia inginkan. Di sela-sela kesibukan ia selalu bisa memanjakan diri dengan para wanita di luar sana.
Mengingat hal itu kembali sangat memuakan baginya. Bahkan mengakui bahwa dirinya adalah orang yang sama di masa lalu sangat sulit. Kesalahan maupun penyesalan lebih terjadi di akhir cerita. Namun sangat beruntung bagi Hyunjae yang bisa mendapatkan dua kesempatan lagi.
Lazel memang tidak pernah mengungkit apapun yang ada di masa lalu. Bahkan wanita itu juga pernah berkata bahwa kesempatan kedua hanya dia lakukan demi Adam dan Nezra, selaku kedua orangtuanya yang lain.
Untuk saat ini, dirinya akan berusaha melupakan apa yang berlalu dan melakukan sesuatu yang baru dengan Lazel. Lagipula ia merasa jika Istrinya itu perlahan mulai terlihat santai dan enjoy terhadap dirinya.
...◇• •◇...
Place De La Concorde atau dikenal dengan alun-alun di kota paris. Tempat itu cukup ramai dengan pengunjung, entah berasal dari negeri itu sendiri maupun dari negeri lain.
Selain nyaman dan indah. Fasilitasnya juga nampak baru. Mereka memberikan perawatan yang baik untuk tempat ini.
"Ayo." Ajak Hyunjae pada Lazel.
"Kemana?"
Pria berkaos hitam dengan beberapa corak putih di dalamnya melangkah keluar dari mobil dan beralih pada pintu mobil yang berada di samping Lazel.
Wanita berambut perak itu memegang knop pintu, "jangan bercanda, aku bisa membukanya sendiri." Ucap Lazel yang langsung membuka pintu mobil dengan cepat sebelum pria itu melakukannya.
"Bukankah itu romantis?"
"Ini bukan drama atau film tontonan. Jadi hentikan." Sahutnya dengan nada yang dingin.
Mobil mereka atau lebih tepatnya mobil sewaan yang mereka dapatkan dari sebuah kenalan Hyunjae, benda itu terparkir tak jauh dari dari area dan tetap mematuhi peraturan parkir yang tertera.
Lazel kurang memahami mengenai Eropa. Seingatnya, ia pernah pergi kesini saat duduk di bangki Sekolah Menengah Atas untuk mengikuti pertandingan Taekwondo. Hingga untuk melakukan perjalanan mengelilingi kota paris yang indah ini tidak terlaksanakan.
Hyunjae tidak berniat memasuki bangunan yang berada di alun-alun itu melainkan mengistirahatkan dirinya di dalam sebuah tempat yang teduh.
"Kau tidak masuk?" Tanya Lazel.
"Tidak, aku kurang suka keramaian."
"Hm..."
Beberapa saat kemudian Hyunjae meminta tolong pada salah satu orang yang berada di sekitarnya atau yang berpas-passan dengannya untuk mengambil fotonya dengan Lazel.
"Foto? Bukankah kita sudah banyak berfoto saat di acara pernikahan Kara dan Hyunji?" Lazel yang terus mengoceh tidak mendapat tanggapan dari Hyunjae. Justru pria itu tetap membuat Lazel untuk mengambil posisi berdiri dengan benar.
__ADS_1
Seorang perempuan muda kini tengah berdiri di hadapan kedua pasangan itu dengan kamera ponsel yang sudah siap, "luar biasa! Apa kalian adalah model?" Ucap perempuan itu dalam bahasa Prancis.
Lazel mengerutkan dahinya untuk berusaha untuk menerjemahkan kalimat itu.
"Haha! Tidak. Kami hanya pekerja biasa." Jawab Hyunjae dengan ramah.
"Ck! Aku masih kesulitan untuk menguasai bahasa ini."
"Dia bilang kau sangat cantik." Ujar Hyunjae pada Lazel.
"Whoaa! Ternyata perempuan disini pandai menilai seseorang ya? Tapi ku akui bahwa aku memang cantik." Ucap Lazel dengan kepercayaan dirinya.
...◇• •◇...
Atas permintaan dan bantuan seorang photografer, Lazel dan Hyunjae telah membuat banyak pose agar terlihat menawan di kamera. Meskipun hanya penduduk yang lewat, namun skillnya dalam memotret atau mengambil gambar cukup bagus.
Disana terdapat dua kursi yang berwarna cokelat susu. Lazel menduduki tempat itu dengan kaki menyilang, sedangkan Hyunjae akan mengambil posisi berdiri di samping wanita berkaos panjang tersebut.
Bukan hanya di alun-alun saja. Tempat hiburan lainnya juga menjadi sasaran kedua pasangan itu. Awalnya Lazel tidak berniat untuk melakukan ini semua, namun setelah melakukan liburan seperti ini perasannya dan beban pikirannya perlahan mengurang.
"Lazel, aku penasaran. Bukankah kau berniat untuk melanjutkan ke pendidikan Dokter? Namun dalam bidang bahasa kau sudah bisa dikatakan luar biasa."
"Oh... Ayahku bisa menggunakan bahasa yang cukup banyak. Sehingga di waktu luang terkadang aku dan Ian mendapatkan pembelajaran ringan mengenai bahasa melalui Ayah kami." Jelas Lazel yang dapat menjawab rasa penasaran Hyunjae.
"Hm... kupikir kau pernah mempelajarinya di sekolah."
"Pernah, tapi aku hanya mengambil tiga bahasa. Inggris, Spanyol dan Jepang. Selebihnya ku dapatkan dari Ayah, termasuk bahasa Prancis saat ini yang masih sangat sulit untuk ku kuasai." Jelasnya.
Hyunjae tidak menyangka jika Lazel bisa banyak belajar hanya dari pendengaran saja dan melalui pembelajaran biasa yang sering dilakukan oleh orangtua di rumah.
"Mau ku ajari?" Hyunjae menawari dirinya sebagai guru bahasa pribadi untuk Lazel.
"Hm... berarti kau harus terus bersamaku agar bisa memahaminya."
"Hm, kau benar."
"..............."
Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menjanggal dari jawaban yang dia berikan untuk Hyunjae. Oleh sebab itu wajahnya tiba-tiba memerah, "s-sial! Kau selalu terus berbicara sehingga aku kehabisan kata-kata untuk menjawabnya!"
...◇• •◇...
Satu persatu tempat mereka kunjungi secara bergantian. Lazel pada akhirnya menikmati liburan singkat itu bersama dengan Hyunjae.
Sebuah toko mini berada tak jauh dari lokasi mereka. Hyunjae yang melihatnya terlebih dulu berniat untuk membeli sesuatu, lagipula saat ini sudah hampir sore.
"Lazel, aku mau beli bir." Ujar Hyunjae pada Lazel yang tengah sibuk melihat sungai yang mengalir dari bawah jembatan yang ia pijak.
"Hentikaaaan!! Aku akan memecahkannya dan membuangnya jika kau berani membelinya." Jawabnya dengan menggebu-gebu.
"Tenang saja, aku tidak akan membuatmu meminumnya. Lagipula aku sudah tahu kelemahanmu dalam mengkonsumsi minuman berakohol."
"Aku masih waras, tentu saja aku tidak akan menyentuhnya sedikit pun. Tapi jawabanku tetap tidak."
"Haah... lalu apa yang bisa menyenangkan diri di malam ini?" Hyunjae terlihat tidak bersemangat karena Lazel membuat larangan mengenai bir atau wine.
"Terserahmu, intinya jangan membawa minuman aneh ke dalam kamar."
__ADS_1
"Haah... baiklah. Aku tidak akan membelinya, tapi..." pandangannya tiba-tiba menoleh secara tajam ke samping, dimana Lazel juga menempatkan tatapannya di posisi yang sama. "Bisakah kau menghiburku ma-"
Duak!
"Hentikan. Aku tidak akan melakukannya."
"..............."
...◇• •◇...
"Whoaaa..."
Tanpa di sadari oleh dirinya sendiri. Namun Hyunjae melihatnya dengan jelas.
Keseharian yang mereka habiskan bersama tidak terasa memakan waktu begitu cepat. Matahari hampir terbenam. Saat ini Lazel dan Hyunjae berada di depan Menara Eiffel yang masih belum menyalakan cahaya emasnya yang menjulang tinggi.
Diam-diam Lazel sangat menantikan hal itu, momen ini juga belum tentu akan terulang kembali.
Dalam hitunga detik ke depan, cahaya kuning keemasan secara serentak menyinari menara tersebut dengan kilauannya.
Lazel yang melihatnya secara langsung sangat menyukainya. Bukan hanya itu, beberapa benda-benda atau tempat-tempat tertentu juga perlahan mengeluarkan cahaya yang dapat memperjelas bangunan tersebut.
Tepat di halaman Taman Menara Eiffel terdapat beberapa kolam yang salah satunya terletak di bagian tengah terdapat sebuah air mancur yang pada saat matahari benar-benar tenggelam, maka cahaya yang tak kalah jauh menawan akan muncul mewarnai air mancur tersebut.
Ukurannya berbeda dengan yang lainnya. Sedangkan air mancur yang tersedia hanya satu dan ukurannya cukup besar.
"????" Semua orang meramaikan fenomena tersebut, namun pria yang ada di sampingnya hanya menatap ponselnya dengan serius.
"Pekerjaan... kah?" Pikir Lazel.
"Baiklah, aku sudah menemukan tempat yang sesuai." Pria itu memasukan ponselnya ke dalam saku celana dan sesekali mengusap rambut hitam tebalnya ke belakang meskipun bentuknya akan kembali seperti semula.
"????"
"Kita belum makan apapun hari ini karena kemauanmu cukup banyak." Ucap Hyunjae yang menatap Lazel dengan senyuman di bibirnya.
"H-Hah?! Bukankah kau sama saja?!"
"Iyaa iyaa~ sekarang ayo kita pergi ke sebuah tempat yang mungkin akan kau sukai."
"????".
...◇• •◇...
Sebuah tempat yang banngunan utamanya terdapat tiga ruangan yang sangat besar namun tersambung menjadi satu dengan bangunan bagian tengah. Tugu yang berada di pagar masuk juga terlihat mewah dan juga cantik.
Setelah diperhatikan baik-baik, tempat mewah itu hampir sama seperti hotel atau penginapan. Namun karena fasilitas yang memungkinkan hanya pengguna VIP yang bisa memasukinya tempat itu sedikit berbeda dan lebih terlihat seperti Mansion atau Villa pribadi.
Pengunjungnya tidak banyak, namun pekerja di bagian lobby maupun bagian yang lain sangat ramai. Hal itu sudah menjadi hal yang lumrah.
Lazel juga berpikir, siapa yang mau memasuki tempat yang bisa menguras rekening seperti ini.
Hyunjae menggenggam tangan Lazel dan mengajaknya untuk masuk ke dalam lobby untuk mengurus nomor kamar.
"Gilaaaa!! Ini sangat kereen! Apa ini renkanasi dari Kapal Titanic?!" Seperti seorang bocah yang terpisah dari orangtuanya, Lazel memperhatikan sekelilingnya dengan mata yang terkejut. Ia dapat memperkirakan bahwa semua fasilitas di dalam ruangan itu berkaitan dengan emas murni dan juga berlian.
"Tuan Muda Hyunja? Nona Muda Lazel? Kami tidak menyangka jika hotel kami dapat menarik perhatian Anda berdua." Ucap wanita berseragam lengkap itu setelah memperhatikan kartu atau tanda pengenal milik Hyunjae.
__ADS_1
"Kami memiliki ruangan yang mungkin akan sangat Anda sukai, mari ikuti Saya." Kini seorang pemandu mulai mengantar atau menuntun ruangan yang akan mereka rekomendasikan untuk Hyunjae dan Lazel.
Lazel yang sulit memahami atau mengartikan bahasa itu pada akhirnya hanya mengandalkan Hyunjae sebagai penerjemah handal. Oleh karena itu dirinya hanya akan ikut kemana Hyunjae membawanya.