
Pemandangan yang terus terlihat di setiap hari sama sekali tidak membosankan. Lagipula tempat liburan dadakan yang dilakukan Hyunjae tidak begitu buruk. Sudah seminggu lebih mereka berada di Paris tanpa memikirkan pekerjaan.
"Aku lebih suka malam, pantulan kolam terkadang terlihat di dinding sehingga sangat cantik."
"Benarkah? Tapi aku menyukai siang, karena-"
"Aku tidak bertanya." Sela Lazel dengan wajah yang bingung.
".............."
Belakangan ini Lazel lebih sering terganggu dengan pikirannya sendiri mengenai masalah pribadi maupun dalam dua orang termasuk dirinya. Ada sesuatu yang terus dia pikirkan dan bagaimana menyelesaikannya, meskipun tidak ada yang menyadarinya.
"M-Menyukainya..." diam-diam ia meletakkan pandangannya pada Hyunjae yang bersantai di atas alas yang lembut dekat dengan pintu geser menuju kolam. "Tidak! Aku tidak akan pernah mengatakannya!"
Aktivitas mereka yang hanya berdua cukup menenangkan. Hyunjae juga tidak pernah berpergian sebelum meminta izin pada Lazel atau berusaha membujuk wanita itu untuk ikut dengannya.
Posisinya yang telungkup seketika berubah terlentang dengan kedua tangan yang lurus menyamping. Kaki kanannya menindih perut Hyunjae tanpa ia ketahui.
Hyunjae yang menyadarinya seketika tersenyum miring. Ia menutup buku itu dan membuat tangannya memasuki sela-sela celana yang Lazel kenakan.
"A-Apa yang kau lakukan?!" Tanya Lazel yang merasa sangat terkejut karena tindakan bodoh Hyunjae padanya.
"Kemarilah, tidur disini." Ujar Hyunjae dengan menepuk-nepuk kedua pahanya yang terjulur ke depan serta punggung yang bersandar pada dinding.
"Aku tidak mau."
"Kau mau kucium?"
"Diaaam! Hentikan ancaman bodohmu itu!"
"Oleh karena itu cepatlah kesini."
"Sialan!"
Mau tak mau Lazel pun mengikuti perintah Hyunjae dan mendekat ke arahnya dengan langkah yang malas. Awalnya jarak mereka tidak begitu jauh, namun Hyunjae berniat untuk memanjakan Lazel untuk hari ini meskipun hingga hari ini ia tidak pernah mendapatkan apapun.
Pria itu lebih atau semakin agresif. Terkadang hanya kesalahan kecil yang Lazel lakukan membuat Hyunjae langsung menerjangnya dan mulai menciuminya dengan paksa. Karena sudah terbiasa dengan tindakan pria itu, Lazel pun perlahan mulai bisa berciuman.
Hyunjae hanya bisa tersenyum senang karena perlahan Lazel berada di bawah naungannya. Hanya karena ancaman kecil membuat Lazel lebih sering patuh terhadap dirinya.
"Ck! Apa-apaan yang ku pikirkan." Tuturnya dalam hati dengan kesal.
"Apa aku harus melepas bajuku?" Tanya Hyunjae pada Lazel yang berada di atas pahanya.
Buagh!
"Untuk apa?!" Karena merasa makin kesal dengan ucapan Hyunjae yang tidak pernah berpikir terlebih dahulu ia memelayangkan tinjunya tepat di bawah dagu pria itu.
"Ack!" Jeritnya.
"Hentikaaan! Mengapa kau terus mengatakan hal yang tidak masuk akal!"
"Y-Yah... bukankah kau menyukai tubuh pria yang seksi?" Ujarnya dengan mengelus dagunya yang sakit.
"Dari mana kau tahu?" Karena merasa terkejut Lazel pun langsung bertanya balik sebelum memikirkan apa yang akan dia tanyakan.
"Oh, berarti benar."
"T-Tidaaak! Kau salah dengar!"
"Hahahahahaha! Tidak perlu kau sembunyikan. Hampir semuanya sudah ku ketahui mengenai dirimu." Ucapnya dengan senyuman yang manis.
Hyunjae terkadang tidak begitu buruk, pria itu masih bisa menghargai seseorang meskipun orang itu sendiri adalah musuhnya.
Melihat wajah Hyunjae dari dekat seperti itu sejujurnya tidak buruk bagi Lazel. Karena sebelum mereka menikah hingga saat ini dia dapat mengakui bahwa Hyunjae memiliki paras yang rupawan. Bahkan ada begitu banyak wanita yang mengantri demi dirinya meskipun beberapa dari mereka tahu jika Hyunjae sudah memiliki Istri.
"Lazel, apa kau bahagia?"
__ADS_1
"H-Hm? Maksudmu?" Lamunannya tiba-tiba terhambur karena pertanyaan dadakan dari Hyunjae.
"Apa kau senang bersamaku?"
"..............." Lazel merubah posisi kepalanya menjadi miring, sehingga ia dapat melihat ujung-ujung kaki Hyunjae. "Apa pertanyaan itu memang masih dibutuhkan?"
"Menurutmu?"
"Berikan alasannya pada dua jawaban yang berlawanan."
"Jika kau bahagia. Maka aku akan menggunakan kebahagiaan itu untuk terus menggodamu agar kau bisa menerimaku." Ucapnya dengan kedua mata yang terpejam serta lekukan senyum yang manis di hadapannya.
Jujur saja, itu membuatnya terkejut. Jawaban yang diberikan Hyunjae sama sekali tidak ada celah untuk meremehkannya.
"Jika tidak, aku akan pergi. Kau tidak perlu melakukannya, lagipula kau tertekan juga karenaku. Meskipun sangat sulit untuk melakukannya setidaknya hal ini dapat kulakukan sebagai permintaan maaf,"
"Dulu... saat pertama kali aku mulai menyukaimu. Aku pernah berpikir untuk menjadi Wonhae. Seseorang yang pernah kau sukai,"
Semakin terus Hyunjae berbicara, semakin muak pula perasaan Lazel karena mendengar semua hal itu. Perasaannya bahkan tidak berdasar atau tidak memiliki alasan yang pasti.
Telapak tangannya yang terdapat tato kupu-kupu itu mulai terkepal.
"Meskipun pada dasarnya aku dan dia berbeda, setidaknya aku akan mencobanya,"
"Lagipula kau seharusnya jatuh hati pada pria sepertinya dibandingkan de-"
"Haaahh... kau terus berbicara tanpa henti. Aku lelah mendengarnya." Sela Lazel.
"M-Maaf..."
Untuk beberapa saat ia terdiam dan kembali berpikir tentang apa yang harus dia katakan sebagai penengah.
"Kau tidak perlu menjadi siapapun hanya untuk membuat orang lain menyukai dirimu,"
"Daripada menjadi seperti sosok yang pernah kusukai lebih baik berusahalah untuk meyakini perasaanmu sendiri,"
"..............."
Biasanya setelah mendapatkan pencerahan seperti itu, orang yang mendengar akan terdiam untuk beberapa saat. Namun hingga Lazel hampir terlelap dalam tidurnya Hyunjae tak kunjung bersuara.
"Hyunjae?-"
"Hei Lazel. Bahkan aku yang tidak tahu mengenai perasaanmu hingga kini masih sangat membuatku frustasi," ucap Hyunjae dengan nada rendah. "Aku memang terus menunggu tanggapanmu meskipun ada sedikit kemungkinan bahwa kau tidak akan pernah mengatakannya."
"..............."
Bahkan langit pun menolak adanya matahari dan bulan berada di tempat yang sama. Sama halnya dengan Lazel yang masih terpaku pada masa lalunya.
"Semenjak aku kembali, apa aku pernah mengatakan benci padamu?"
"Ku-Kurasa tidak."
"Apa aku pernah mengatakan bahwa tidak akan mencintai siapapun lagi?"
"Tidak."
"Perasaan manusia dalam umur berapapun akan tetap berubah-ubah. Seberat apapun yang mereka pikirkan akan tetap kembali seperti semula,"
"Hyunjae, jika dari awal kehidupan di dunia diharuskan untuk bahagia. Lantas tangis bayi yang baru lahir merupakan kebahagiaan atau kesedihan?"
"Aku tidak pernah membencimu, bahkan dari awal kita bertemu."
"!!!!"
"Lagipula kesepakatan tetaplah kesepakatan. Suka maupun duka perjanjian telah ditentukan."
"Jadi-" ucapannya terputus begitu saja setelah sebuah tangan membuat wajahnya menoleh. "..............." dibandingkan rasa terkejut, justru ia sudah menduga bahwa hal itu akan terjadi.
__ADS_1
Hyunjae memberikan ciumannya lagi dan lagi pada Lazel yang berbaring di atas pahanya. Wanita itu belum menerima karena ia tidak memahami prinsip melakukan hal seperti itu. Namun pada akhirnya, karena terlalu sering melakukannya ia pun mulai melakukan kontraksi pada tindakan Hyunjae.
Dibandingkan sudah menerima, ia justru mulai menyukai untuk melakukannya.
Saliva saling menyatu satu sama lain, nafas yang terus tersenggal-senggal serta dekapan satu sama lain yang terus terjaga.
Lazel menerima dan melawan balik ciuman itu dengan lebih dalam. Kedua tangannya yang awalnya hanya terdiam kini mulai meraih wajah Hyunjae dan perlahan membalas ciuman itu dengan lebih eksotis.
"Hm? Sepertinya kau sudah pandai melakukannya." Ucap Hyunjae sembari menjilati area bibir Lazel.
Wanita itu menyeringai, "tentu saja, kau pikir siapa yang terus melakukannya padaku?" Balasnya dengan melakukan hal yang sama seperti yang barusan Hyunjae lakukan.
"Baiklah, sekarang aku hanya perlu bersiap." Ucapnya dengan perlahan membuka pakaiannya sendiri dan pakaian Lazel.
Gedebuak!
"Aku masih tidak mengizinkannya." Ucap Lazel yang masih tidak bisa terbiasa dengan tindakan Hyunjae.
...◇• •◇...
"Ikuuuut!!"
"Tidaakkkk!!! Lebih baik tetap disini! Aku akan kembali secepat mungkin!"
"Tidak mau!"
"Aku akan membawa sesuatu yang membuatmu tidak bisa berkata-kata." Pada akhirnya Lazel mempertaruhkan sesuatu yang berbahaya.
"Benarkah? Kau janji?"
"Hm."
"Baiklah, kau bisa pergi." Hyunjae akhirnya membiarkannya pergi dan mulai berendam di kolam.
...◇• •◇...
Di bandingkan mengurus atau membeli sesuatu, justru ia sedang menyusun strategi untuk membuat sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan seperti apa ke depannya.
Tak jauh dari hotel, Lazel saat ini berada di sebuah taman mini yang dekat dengan menara.
^^^"Lazeeel! Lama tidak mendengar suaramu!"^^^
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan yang dia lakukan mulai terhubung. "Haha~ bagaimana kabarmu... Jean?" Tanya Lazel dibalik ponsel yang menempel pada pendengarannya.
^^^"Aku baik, bagaimana denganmu?"^^^
Sebagai bahan cerita utama, Lazel akan menanyakan kabar atau bagaimana pekerjaan serta hari-hari Jean dan juga Putrinya di Jepang. Meskipun mereka adalah musuh diwaktu kecil, tidak akan ada yang tahu hubungan seperti apa yang akan mereka jalin di masa depan nanti.
Walaupun begitu, Lazel tetap menghormati Jean karena lebih tua dibandingkan dirinya sekaligus sosok teman yang sudah sangat banyak membantunya saat berada di Jepang.
^^^"Jadi... intinya apa?"^^^
"I-Inti?!"
^^^"Lazel, aku jauh lebih berpengalaman dibandingkan dirimu. Tentu saja aku dapat menyadarinya, bahkan dari awal."^^^
Sangat memalukan bagi Lazel. Sepertinya sia-sia jika ingin mengelabuhi Jean demi tujuan tertentu. Lagipula tidak ada siapapun yang dapat ia percaya dibandingkan Jean. Selain itu dia juga sudah berpengalaman. Namun Lazel masih berpikir, apa baik-baik saja menanyakan hal seperti ini pada seorang Istri yang sudah berpisah dari Suaminya?
"J-Jean... aku malu untuk mengatakannya. Tapi jauh dari lubuk hati aku sama sekali tidak pernah berani untuk melakukannya."
^^^"Lazel dengar... aku tahu salah satu alasanmu seperti itu karena masa lalu yang kau alami. Tapi, kesempatan ketiga tidak akan pernah terjadi meskipun kesempatan kedua hanya perhitungan atau ancaman,"^^^
^^^"Bahkan ada begitu banyak orang yang sama sekali tidak menyukai atau mempercayai kesempatan kedua,"^^^
^^^"Jadi inti dari penjelasanku adalah dari perasaanmu sendiri. Karena pada awalnya aku tidak berhak menghakimi apa yang harus atau tidak kau lakukan,"^^^
^^^"Sangat wajib melakukannya, apalagi kalian berdua telah menikah. Tapi dalam masalahmu dan juga Hyunjae. Aku hanya bisa menjelaskannya seperti itu."^^^
__ADS_1