Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Rasa Rindu]


__ADS_3

Poninya menutupi sebagian wajahnya yang terlihat putih. Rambut peraknya terus bergerak mengikuti alunan angin yang berhembus serta kedua matanya sama sekali tidak percaya pada apa yang dia temui malam itu.


"Kau... Lazel! Lazel! Kau Lazel?!" Hyunjae melepaskan topengnya begitu saja dan menunjukkan wajahnya di depan wanita beriris merah muda.


Wajah yang sangat dia kenali, rambut tebal berwarna hitam serta memiliki rahang yang cukup besar, sesuai dengan ukuran tubuh yang dia miliki. Ditambah dengan sepasang anting yang memiliki buah awal huruf nama yang dimiliki pria itu.


"Ahahaha! Akhirnya aku menemukan-"


Lazel berlari begitu saja dan berusaha menghindar dari Hyunjae. Siapa sangka jika malam itu akan menjadi malam yang mungkin akan menjadi keburukan lagi dalam hidupnya.


"Lagi dan lagi... aku harus merasakan hal yang sama untuk yang kesekian kalinya." Umpatnya dalam hati.


...◇• •◇...


Kerumunan sedikit membuat pelariannya terhambat. Ia tidak menoleh sedikitpun karena yang dia yakini adalah pria itu pasti mengejarnya dengan cara apapun. Dan sekarang yang ada di pikiran Lazel adalah bagaimana untuk menjauhi pria itu darinya.


Awalnya ia tahu jika Jean mulai bekerja sama dengan Perusahaan Pusat Pietra sebagai sponsor Agensi Permodelan. Dirinya tidak begitu pusing dengan kehadiran Hyunjae, lagipula Jean pernah berkata padanya jika tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka.


Tetapi... apa yang dia bayangkan sangat berbeda. Ia percaya bahwa Jean benar-benar tidak akan memberitahukan apaun mengenai dirinya dan juga Ian.


Jika terlambat satu detik saja, mungkin pria itu berhasil menangkap dirinya. Sebuah keputusan yang bagus dengan menyela pembicaraan lalu segera kabur dari tempat.


"L-Lazel tunggu!" Hyunjae berusaha untuk berlari mengejar Lazel di tengah kerumunan yang cukup padat.


Hari ini adalah hari dimana setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu. Namun pertemuan mereka mendapatkan penolakan terang-terang dari Lazel, bahkan wanita itu hampir tidak terlihat lagi dari pantauannya.


"Tidak," Hyunjae menghentikan larinya dengan nafas yang terengah-engah. "Dia akan terus berlari jika aku mengejarnya. Aku harus menangkapnya dari depan, itu adalah cara yang efektif."


Hyunjae mengubah arah larinya dengan berlawanan dan berusaha menangkap Lazel dari depan.


...◇• •◇...


Rambutnya peraknya terus berkibar dan pada akhirnya menemukan sebuah area yang cukup sepi. Tempat yang pas baginya untuk bersembunyi. Namun sebelum ia melakukannya, ia tidak melihat tanda-tanda jika Hyunjae berlari ke arahnya.


"Haaaaah~ hah~" nafasnya begitu tersendat seusai berlari. "Dia pasti tersesat, itu bag-"


Tanpa sadar kedua kakinya melemas begitu saja dan membuatnya terjatuh di atas tanah yang berumput.


"A-Apa..." ia memegang kedua kakinya terutama paha atasnya. "A-Aku tidak bisa berdiri."


...◇• •◇...


^^^"Apa?"^^^


"Aku bertemu dengan Lazel." Ucapnya yang tidak ingin basa-basi.


^^^"APAAAAA?! SERIUS?! APA KAU BERTEMU DENGANNYA?!"^^^


^^^"L-LAZEL?! APA DIA BAIK-BAIK SAJA? DIMANA IAN?!"^^^


^^^"Cepat berikan ponsel ini padanya. Aku ingin berbicara."^^^


"Tapi dia melarikan diri." Ucapnya sehingga membuat mereka terdiam.


Di waktu yang bersamaan, dimana mereka saling menghubungi satu sama lain.

__ADS_1


Kara merebut ponselnya dari Gyuu serta akan mendengarnya sendiri, "BODOH! KEJAAAAR!"


^^^"T-Tapi aku menunggunya di depan gang. Bukankah akan bagus jika aku menunggunya disini?"^^^


Jean yang samar-samar mendengarnya langsung menyalakan mode speaker dan memasang wajah panik.


"Apa kau lupa pada kondisi Lazel?! Dia masih belum pulih total dari kecelakaan! Itu bisa saja membuatnya tidak bisa berjalan untuk sementara." Jelas Jean yang berdiri di samping Kara dan mengtahui tragedi kecelakaan Lazel pada bulan-bulan sebelumnya.


^^^"A-Apa? Kau mengetahuinya?"^^^


"Mengapa kau bertanya balik? Cepat cari dia!"


Sambungan itu terputus begitu saja dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa panik dan juga terkejut pada bentakkan yang diberikan Jean pada Hyunjae. Padahal saat ini Nezra ada bersama mereka dengan wajah yang seolah-olah tidak terpengaruh dengan krtikkan Jean pada Putranya.


...◇• •◇...


"Di sini gelap. Aku juga tidak membawa ponsel."  Ucapnya dengan kesal.


Ia berada di kejauhan pada kerumunan, dengan keadaannya yang seperti itu tidak seorang pun bisa menemukannya. Satu-satunya adalah dengan berteriak meminta tolong. Tapi jika dirinya melakukan itu, bisa saja Hyunjae yang ada disana berhasil menemukan dirinya dengan mudah.


Tapi... apa yang tidak pernah dia sangka benar-benar terjadi. Hyunjae menemukan dirinya yang berada cukup jauh dari asalnya. Padahal ia berusaha menghapus semua akses mengenai dirinya dan membuat semuanya tereset secara otomatis.


Namun pria itu berhasil menemukan dirinya dan menunjukkan wajah cerianya seperti biasa.


Salah satu matanya pun mulai menitikkan air mata. Dibandingkan rasa takut pada kegelapan, ia lebih terkejut lagi jika dapat bertemu dengan Hyunjae.


Padahal cukup lama bagi mereka yang tidak pernah bertemu, tetapi takdir masih membuat keputusan agar mereka bertemu kembali.


Dari apa yang dia lihat, Hyunjae tidak banyak berubah. Namun rambutnya terlihat cukup panjang.


Sebuah harapan mungilnya pun terjadi dan membuat Hyunjae berdiri jelas di hadapannya.


"Tidak... aku tidak akan termakan oleh perasaan seperti itu," kedua air matanya semakin deras sehingga membasahi wajahnya. "Memangnya apa yang akan ku dapatkan jika kami bertemu? Dia memiliki kekayaan tanpa batas jadi sangat memungkinkan baginya untuk pergi kemanapun yang dia inginkan."


Pada akhirnya Lazel hanya tidak mampu melihat pada masa lalu. Bahkan jika tidak ingin, Hyunjae saja pun sudah cukup baginya untuk membuatnya kembali terjatuh.


Rasa sakitnya perlahan kembali hanya karena melihat wajah Hyunjae yang lama tidak ia lihat. Bayangan kembali datang dimana selalu ada perdebatan yang dilakukan Hyunjae pada dirinya yang selalu tidak mengetahui apapun. Namun dengan santainya dirinya selalu mengelak atau memberikan balasan agar tidak terlihat lemah.


Jika tujuan takdir adalah mengulang, lebih baik ia menjauh. Karena dirinya sudah tidak memiliki ruangan apapun di dalam hatinya. Apapun yang terjadi di masa lalu sudah lebih dari cukup untuknya.


Tangannya mengusap kasar wajah yang dibanjiri dengan air mata, "a-aku harus pergi. Aku akan membawa Ian bersamaku."  Ia berusaha berdiri dengan perlahan meskipun masih terasa sangat mustahil baginya.


"Bergerak! Bergeraklah!" Kepalan tangannya memukul kedua kakinya dengan kuat seiring tangisannya yang menderu di malam hari, "aku tidak akan melakukan apapun hingga aku menjauh darinya!"


"..............." seseorang yang sudah cukup lama berdiri disana dan melihat semuanya mulai memunculkan diri dengan wajah yang ditutupi oleh topeng.


Langkahan kakinya mendekati wanita berambut perak yang terligat histeris.


Tangannya yang besar meraih tubuh wanita itu dengan perlahan sehingga membuatnya terkejut.


"Dengan begini kau tidak bisa melihat wajahku bukan?"


"!!!!" Tangisannya terhenti, "lepas!" Ucapnya dengan nada yang kasar.


"Bahkan sudah bertemu seperti ini aku tidak bisa mengatakan apapun yang pantas. Namun pada intinya aku merindukanmu." Ucapnya yang terus berusaha mendekapkan Lazel padanya.

__ADS_1


"UNTUK APA KAU DISINI?! APA JEAN MEMBERITAHUMU TENTANG LOKASI KAMI?!" Teriaknya dengan rasa emosi yang tinggi.


"Maaf... aku sungguh minta maaf. Bahkan sebelum kau meninggalkanku, aku sudah berusaha merebut hatimu."


"LEPAS! KU BILANG-"


"Apa aku harus mengakhiri hidupku agar kau mau memaafkanku?"


"..............." kalimat terakhir membuat terdiam, dan hal lainnya adalah tetesan air mata dibalik topeng yang dia kenakan sehingga membasahi punggungnya.


"Menangisi seorang wanita tidaklah berguna, itulah perkataan orang lain. Tapi kau adalah Istriku, apa aku tidak boleh menangisimu?" Semakin larut ucapannya semakin terdengar lirih bahkan Lazel dapat mengetahui dengan jelas jika saat ini sekujur tubuh Hyunjae bergetar hebat.


Dibandingkan perasaan campur aduk Lazel. Saat ini yang paling histeris adalah Hyunjae. Di balik topeng yang kaku dan dapat dilihat baik-baik saja menyembunyikan sesuatu yang amat menyedihkan. Bahkan perasaan sedihnya terus menjalar pada air matanya yang tidak berhenti mengalir.


"Aku mencintaimu Lazel." Ujarnya dengan suara yang nampak serak dan juga berusaha menahan tangis yang ingin pecah.


Lazel tidak mengucapkan apapun lagi atau memberontak pada Hyunjae. Justru yang dia lakukan adalah menangis, sama seperti Hyunjae yang saat ini tengah berlutut dan memeluk dirinya.


Aroma Hyunjae yang dulu selalu melekat pada pikirannya pernah buyar, namun beberapa saat kemudian kembali dan mengupas semuanya kembali.


Hyunjae merenggangkan pelukannya dan menatap Lazel dari balik topeng.


"Pergilah." Ujar Lazel yang kini mampu untuk berdiri meskipun saat ini ia terlihat menahan rasa sakit pada kedua kakinya.


"Lalu apa kau akan menghilang lagi?" Tanya Hyunjae.


"Pergi sebelum Ian kemari."


"Aku akan membawa kalian berdua kembali."


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan harapan itu terwujud."


"Kau tahu... saat ini aku sangat ingin menyeretmu untuk ikut denganku dan tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun." Ucap Hyunjae.


"Lepaskan topengmu." Ujarnya.


Bahkan tanpa menanyakan alasannya, Hyunjae melepaskannya begitu saja dan menunjukkan wajahnya yang terlihat berantakan.


"Inilah wajah brengs*k yang selalu membuatku berlutut di hadapan para Selirmu," ucapnya tanpa kenal ampun. "Apakah kau datang untuk memberikan surat pernikahanmu dengan wanita pilihanmu? Jika iya itu sangatlah bagus. Karena aku sudah tidak perlu ikut peran dalam masalahmu."


"Peranku berakhir dimana aku meninggalkan semuanya di rumah itu,"


"Bukankah menyenangkan bisa bermain sepuasnya tanpa ada seseorang yang selalu kau salahkan?"


"Seharusnya kau bangga!" Lazel tersenyum lebar di hadapan Hyunjae seolah-olah ikut bahagia dengan hal itu, "tidak ada yang mengusikmu, tidak ada yang membuatmu marah, tidak ada yang  kau khawatirkan, dan tidak ada lagi yang perlu kau urusi."


"Urus hidupmu sendiri, karena aku memiliki hidupku sendiri. Ian dan aku adalah kami, sedangkan kalian hanyalah beban di kehidupanku sehingga membuat Adikku ikut terseret dalam hal ini."


Lazel meluapkan segalanya yang pernah membuatnya terus menderita di kesenangan Suaminya sendiri. Meskipun dari awal pernikahan mereka berisi saling memanfaatkan, namun Lazel tidak pernah bermimpi akan mendapatkan kehidupan seperti itu.


"Mengapa kau diam? Apa kau terkejut dengan ungkapan seperti ini? Itulah pria bajing*n yang memiliki marga hebat seperti dirimu."


"Tidak," setelah mendapatkan penghinaan atau lebih tepatnya rasa sakit Lazel yang saat ini ia dengar secara  langsung. Justru yang dia berikan adalah senyuman yang tulus sehingga membuat Lazel sedikit bingung dengan rautnya. "Bukankah sangat menyenangkan disaat kau memarahiku? Hal itu juga biasa dialami di dalam Rumah Tangga. Lagipula mendengar banyak suaramu membuat kerinduanku terbalas."


Untuk yang pertama kalinya... di dalam hidup Lazel. Ia menunjukkan wajah terkejutnya dengan ekspresi yang lucu.

__ADS_1


__ADS_2