
Beberapa hari setelah mendapat kabar bahwa Jean sudah pergi menuju Jepang. Akhirnya Lazel berhasil menghubungi wanita itu. Lazel menangis tak karuan dan terus meminta maaf dan berterima kasih secara bersamaan melalui ponsel. Hyunjae hanya bisa berdiam diri dan membiarkan Lazel berbicara panjang dengan Jean.
Jean yang memiliki masalah namun Lazel yang panik dan terus menangis.
Di saat itu Jean sudah tidak ingin terlibat dengan apapun, apalagi terlibat di sebuah negara dimana negara itu bukanlah tempatnya sekarang ini. Justru dirinyalah yang harus meminta maaf dan berterima kasih pada Lazel karena mau menyelesaikan semuanya disaat dirinya pergi begitu saja.
Penyakit di masa lalunya, dimana perseteruan antara Jean dengan mantan Suaminya membuatnya sedikit trauma. Oleh karena itu Jean tidak bisa masuk ke dalam masalah lagi, bahkan masalah itu sama sekali bukan perbuatannya.
Mulai dari situ Hyunjae mulai penasaran dengan hubungan antara Lazel dan Jean.
Di saat ia mulai menanyakannya, Lazel pun menjawabnya dengan terang-terangan bahwa mulanya mereka adalah musuh.
...◇• •◇...
"M-Musuh? Apa kalian terlibat dalam sebuah organisasi gelap?"
"TIDAAAK BOODOOOH! BAGAIMANA BISA KAU BERPIKIR SEJAUH ITU?!"
"Jadi?"
"Kau pernah mendengar bukan jika aku pernah ditahan di penjara anak karena mematahkan salah satu tangan orang lain."
"Hm." Angguk Hyunjae.
"Tangan yang ku patahkan ternyata adalah tangan Jean. Dimana dia sangat suka mengejekku dan juga Ian."
"H-HA?!"
sungguh cerita yang sangat lama, bahkan Lazel sendiri hampir melupakan kronologi kejadiannya.
"Setelah tinggal di sini beberapa saat, dia pun dikabarkan pindah negara dan tidak bertatangga lagi denganku,"
"Saat itu aku sangat senang jika pengecut telah pergi dari hadapanku,"
"Saat aku dan Ian berencana untuk ke Jepang. Tanpa sengaja bertemu dengan Jean yang masih mengingat kami berdua dengan baik,"
"Karena umur kami yang sudah terbilang dewasa, oleh karena itu kami hanya bisa tersenyum saat bertemu dan mengucapkan maaf satu sama lain."
Lazel dan Ian memiliki ciri-ciri yang mencolok, bahkan semua orang sangat mengetahui hal itu. Oleh karena itu Jean dengan mudahnya menebak Lazel dan Ian yang tiba-tiba muncul di Jepang. Dari situlah mereka mulai menjalin pertemanan biasa hingga menjunjung tinggi nilai persatuan, pret.
...◇• •◇...
Saat ini pendingin ruangan itu bisa membekukan sebuah pulau. Karena panas yang begitu menyengat, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa volume pendingin ruangan sangat tinggi.
Saat ini Lazel fokus pada layar televisi yang mulai menanyangkan film bergenre action dan sedikit berbau romantis. Sedangkan Hyunjae melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Lazel, namun apa yang dilakukan Hyunjae benar-benar tidak berguna dan bisa menarik emosi Lazel.
Pria itu terus memperhatikan wajah Lazel yang fokus pada layar televisi.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan dari tadi keparat?" Tanya Lazel yang memasang wajah amat kesal ke arah Hyunjae yang teru menatap dirinya.
Pria itu pun bergerak dan berjalan ke arahnya. Lazel yang tengah berbaring tidak menyadari hal itu. Secara tiba-tiba Hyunjae mengangkat kepala Lazel dan meletakkannya di atas pangkuannya dengan cepat sehingga Lazel tidak sempat berkomentar.
"Kau terus menggangguku Hyunjae! Bisakah kau membiarkanku tenang?!" Kini Lazel mulai risih dengan tindakan Hyunjae yang sama sekali tidak bisa diam.
"I-Iya! Aku tidak akan mengganggumu lagi, jadi tetaplah seperti ini."
"Aku tidak mau!" Tolak Lazel dengan wajah yang menatap ke atas, dimana ia dapat menemukan wajah Hyunjae dengan mudah.
"Tapi aku mau!" Ucap Hyunjae dengan tegas.
"Kenapa kau memaksa?!"
__ADS_1
"Karena aku suka padamu! Aku mencintaimu! Bahkan aku selalu berpikir akan berhasil mengikatmu dan membawamu ke dalam kamar dan-lupakan." Ucapnya panjang lebar dengan wajah yang berkeringat dingin.
"Haaah~ aku lelah menanggapimu." Keluh Lazel yang pada akhirnya merebahkan kepalanya di atas pangkuan Hyunjae.
"Jika kau tidak ingin lelah, bilang padaku jika kau mencintaiku." Ujar Hyunjae sembari memainkan rambut Lazel.
"Tidak akan sialan! Lagipula uangmu adalah semangatku!"
Meskipun akan terasa sangat sulit mendapatkan pengakuan dari Lazel, itu tidak akan mematahkan usaha Hyunjae untuk menangkap perasaan Lazel. Lagipula saat ini adalah proses dimana dirinya ingin membuat Lazel nyaman disaat bersamanya.
Saat Lazel meninggalkan rumah, Hyunjae sama sekali tidak merasakan bahwa dirinya sedang hidup. Penyesalannya tidak begitu terlambat, namun dirinya terlalu menganggap enteng bahwa Lazel akan membuka perasaannya begitu saja. Alhasil wanita itu pergi dari hadapannya dan entah kemana.
Hyunjae tidak menginginkan hal itu datang kembali atau terulang kembali sehingga ia harus merasakan hal yang sana untuk kedua kalinya. Lazel yang membenci dirinya bukan berarti ia akan merasakan sakit hati atau pasrah begitu saja.
Wanita itu ada di hadapannya sudah sangat ia syukuri, dapat berbincang dan bertengkar seperti dulu sudah menjadi hal yang membahagiakan dalam hidupnya.
Jika Lazel sudah merasa nyaman bersamanya, maka Hyunjae tidak perlu apapun dan akan membuat Lazel terus bersamanya. Lagipula jika memang tidak akan ada pengakuan cinta dari Lazel, di alam manapun mereka berlabuh nanti ia akan tetap berharap.
"????" Seiring pikirannya bekerja dan tatapannya melamun, Lazel tengah tertidur pulas di atas pangkuan Hyunjae.
Pria berambut hitam itu tersenyum miring dengan menutup wajahnya dengan tangan kirinya.
Tangan kanannya mulai merogoh saku celananya dan mendapatkan sebuah cincin emas yang waktu itu sempat berada di tangan Ibunya. Namun ia menyempatkan diri untuk mengambilnya kembali dan memasangkannya lagi pada jari Istrinya.
Ia membuka mulutnya dengan kecil, taring tajamnya mulai terlihat dan menggigit cincin tersebut. Lalu dengan perlahan ia kenakan pada jari manis Lazel hingga mengentuh taringnya.
...◇• •◇...
"Ada apa?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
"Cevaaat! Aku ingin pulang dan mengajak Lazel dan yang lainnya untuk pergi ke pan-"
"Ha?"
"Pendapatmu, mengenai diriku. Menurut pandanganmu saja."
"Kau adalah Kakak Ipar dari temanku Lazel, Kakak kandung dari Hyunjae. Itu saja."
"Bisakah kau menjelaskannya lebih spesifik?!"
"Haaaah?!"
Di atas sebuah jembatan yang terbuat dari kayu berwarna cokelat terang. Di bawahi dengan aliran air sungai yang mengalir dengan tenang, serta dipenuhi dengan kelopak-kelopak bunga yang berbeda-beda jenis maupun warnanya.
Untuk di Musim Panas, biasanya tempat-tempat yang menarik akan ditambahi hiasan atau berbagai macam dekoran untuk memperindah suasananya. Pohon-pohon mengelilingi sekitar hingga tidak terlalu panas dengan paparan sinar matahari.
Jauh dari ini... ia sudah membicarakannya dengan Nezra dan akan mengucapkannya seusai masalah antara Jean dan juga Hyunjae. Dan saat ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
Pikiran Hyunji yang saat ini dipenuhi dengan berbagai macam kalimat. Hingga tanpa sadar membuatnya tersenyum.
"Te casarías conmigo?" Tanya Hyunji dengan semburat merah di kedua pipinya. Bahkan untuk menatap Kara sudah sangat memalukan baginya. Tapi bagaimanapun juga ia akan tetap melakukannya.
"Ha? Tata rias? Kau mau belajar merias?"
"Tidaaaak!"
"Lalu?"
Wanita yang ada di sampingnya memiliki rambut cokelat gelap yang cukup panjang dan bergelombang. Ia hanya menjadikannya satu dan diikat biasa ke belakang.
__ADS_1
"Haaah~ mengapa harus kau, aku sudah berusaha memikirkannya berulang kali tapi mengapa harus kau," keluhnya secara tiba-tiba sehingga membuat Kara menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Padahal aku belum melakukan apapun namun hal ini berlangsung begitu saja,"
"A-Apa yang dia ocehkan dari tadi?" Pikir Kara.
"Ini bukan kesalahanku bukan?"
Tatapan Hyunji seketika menjadi teduh, hal itu membuat pikiran Kara mulai bekerja mengenai apa yang diucapkan Hyunji.
"!!!!" Seketika sesuatu membuatnya terkejut, "j-jangan-jangan dia tahu perasaanku padanya..."
"B-Bagaimana ini..." seiring berjalannya waktu, Kara terus memikirkan dan mengingat kembali bahasa asing yang Hyunji utarakan untuknya.
"Sebuah penolakan kah?" Wajahnya tertunduk, "hal ini memang tidak perlu dipungkiri lagi." Sekejap cahaya yang sempat ia kobarkan perlahan padam secara perlahan.
"Lagipula menyukai sosok seperti Hyunji sudah sangat mustahil bagiku,"
"Aku bukan Lazel. Aku tidak sehebat atau sekuat dirinya. Mau dimulai dari manapun aku tidak akan bisa sepertinya,"
"Kesalahan besar pertama dalam hidupku... berharap terlalu tinggi."
"Ba-" Hyunji memperhatikan Kara yang bertingkah aneh. "Ada apa? Mengapa kau menunduk?"
Hembusan angin menyapu pelan rambutnya, dalam posisi wajah seperti itu membuat Hyunji tidak bisa melihat wajah Kara dengan jelas.
Hyunji telah memantapkan hatinya dan siap untuk mengajak Kara bersamanya, "b-bagaimana, apa kau mau?" Tawarnya.
"Hm." Kara mengangguk tanpa memberi waktu bagi Hyunji untuk menahan degup jantungnya.
"B-Benarkah?!" Wajah Hyunji sudah memerah terlebih dahulu, namun apa yang Kara rasakan dan apa yang wanita itu pikirkan jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Hyunji.
"Kalau begitu aku akan pe-"
"Ayo pergi." Sela Hyunji dengan tangan yang menggenggam Kara.
"Ha?"
"Hm? Ada apa?"
"Bukankah aku harus pergi?" Tanya Kara dengan wajah yang terbelenggu bingung.
"Tentu saja, kita harus pe-tunggu dulu," Hyunji melepaskan tangannya dari Kara dan menatap wanita itu dengan keringat dingin. "Kau... apa kau paham yang ku maksudkan sebelumnya?"
"Kau menolak perasaanku yang dari dulu selalu berharap padamu, kau tidak perlu merasa bersalah. Lagipula dari awal-"
"Kau menyukaiku?" Tanya Hyunji dengan wajah yang polos.
"Tentu sa-" ucapannya terpotong disaat ada sesuatu yang menjanggal. "Bukankah kau mengetahuinya, bagaimana bisa kau kembali bertanya?" Kini Kara mulai sama seperti Hyunji yang sebelumnya mengalami gugup dan keringat dingin.
Hyunji tidak bisa mengatakan apapun lagi, lebih tepatnya Kara yang mengutarakan semuanya dibandingkan dirinya.
"Ter-Ternyata..." Hyunji tidak bisa berkata-kata, ditambah ia tidak bisa melihat wajah Kara secara langsung.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Kini Kara semakin bingung dengan tindakan aneh yang diberikan Hyunji.
"Sebaiknya kau cari apa arti bahasa tadi." Ujar Hyunji yang tidak bisa menahan rasa senangnya dan juga rasa bahagianya. Ia lebih memilih untuk menjaga jarak dari Kara dan membiarkan wanita itu mencari artinya seorang diri.
Kara mendengarkan dan melakukan apa yang disarankan dari orang yang dia suka.
"Te-Te casar? Casarías conmigo?"
__ADS_1
"Aku mengambilnya dari bahasa Spanyol." Ujar Hyunji.
"Maukah kau menikah denganku?"