Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Salah Perkiraan


__ADS_3

"Astaga... kupikir anak hilang..." setelah melihat kepergian anak kecil itu Lazel sempat panik. Ia berpikir bahwa perempuan kecil itu adalah anak-anak yang kesasar di dalam pesawat. Ternyata... dia adalah salah satu anggota dari grup terkenal.


"Ayo." Ujar Hyunjae.


Kini mereka telah sampai. Hyunjae saat ini sibuk dengan ponselnya untuk meminta bawahannya menjemputnya dan juga Lazel.


Di sisi lain, seorang gadis kecil yang sebelumnya berniat untuk menjadikan Hyunjae sebagai sasarannya masih tidak percaya bahwa dia sudah memililki seorang Istri. Dan rasa kejutnya semakin bertambah saat melihat secara langsung wanita yang merupakan Istri dari Hyunjae.


Dia memiliki tubuh tinggi, berwajah dingin serta rambut perak yang terikat satu ke belakang. Belum lagi auranya begitu terasa. Ia dapat menebak bahwa profesi wanita itu tidak jauh dari permodelan.


Meskipun begitu, rasa cemburunya tetap ada.


"Hei... tadi aku melihatmu bersama Tuan Muda dan Nona Muda."


"Muda? Siapa yang muda?"


"Hm? Kau tidak tahu?"


"Pria tinggi dengan wanita berambut perak."


"Oh, ya aku bertemu mereka. Muda? Memangnya apa kaitannya?"


"Ya ampun... kau tidak berkata yang aneh-aneh bukan?"


"Hm? Kenapa?"


"Tuan Muda Hyunjae Pietra yang memegang Perusahaan Pusat. Sedangkan Istrinya, Lazel Pietra yang memegang Perusahaan Aplic Pietra."


"A-APAAAAAAA?!" Ia terkejut setengah mati karena tidak menyangka akan bertemu dengan sosok penting seperti itu di dalam pesawat.


"Kau ini! Bukankah sudah kami bilang untuk mempelajari atau mengetahui orang-orang penting dari negara ini?"


"Yang ku dapat dari Manager, Nona Lazel akan menjadi sponsor untuk penampilan bulan depan."


Melihat fotonya saja ia sudah menganggap tidak asing. Pada akhirnya dia melihat atau mendengar secara langsung mengenai identitas Hyunjae dan Lazel. Ternyata mereka berdua adalah sepasang Suami Istri dari Keluarga Pietra. Keluarga yang memegang saham terbesar dan hampir menjalar ke seluruh negara.


"Hei! Kau tidak bicara aneh kan?"


"T-Tidak..." jawabnya bohong.


...◇• •◇...


"M-Maaf tidak memberitahu Ibu. Aku melupakannya."


^^^"..............."^^^


"Y-Ya, aku baik-baik saja."


^^^"..............."^^^


"Ya, Hyunjae juga."


^^^"..............."^^^


"Hm, kami akan berkunjung besok pagi."


Hyunjae yang duduk di sampingnya mendengar jelas omelan dan teriakan maut Ibunya. Oleh karena itu saat Nezra menghubungi dirinya, ia menyerahkan ponsel itu pada Lazel.


"Apa-apaan?! Mengapa kau menyerahkannya padaku?!" Bentak Lazel dan melempar ponsel itu ke arah Hyunjae.


"Karena aku tidak mau." Jawabnya singkat.


"Keparat... karenamu aku baru saja mendapatkan omelan dari Ibu!"


"Bukankah itu salahmu sendiri? Mengapa hanya Ian?"


"M-Maaf... aku tidak berpikir terlebih dahulu."


"..............."

__ADS_1


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah atau lebih tepat disebut dengan Villa bersama dengan bodyguard yang sebelumnya Hyunjae panggil.


...◇• •◇...


Telunjuknya menekan benda itu lalu lampu utama menyala dengan terang.


"Hahhh... aku lelah..." keluhnya. "Tapi aku sudah kembali! Jadi ini luar biasa. Hahahahaha!" Tawanya menggema di ruangan besar itu.


Melihat tingkah laku Lazel yang kekanak-kanakan membuat Hyunjae ingin menerkamnya dan membawanya ke kamar. Namun karena dia ingat sebuah rencana yang dia susun untuk mengabaikan Lazel. Ia pun mengurungkan niat tersebut.


Suara percikan air terdengar pelan. Hyunjae saat ini sedang membersihkan dirinya. Sedangkan Lazel sibuk merapikan pakaian dan juga beberapa barang yang dia bawa dari Paris sebagai oleh-oleh.


"Hm... aku juga harus membersihkan rumah. Kira-kira kapan aku libur bekerja?" Lazel meraih ponselnya dan melihat daftar dan juga tanggal.


Tatapannya seketika melemas dan ekspresinya sama sekali tidak mempunyai harapan.


"Dengar Lazel... kau bukanlah anak sekolahan lagi yang bisa mendapatkan libur di harinya. Bahkan di hari minggu jika pekerjaanmu tidak selesai, maka tidak ada libur." Ucapnya dengan setengah hati.


Cklek!


Suara pintu kamar mandi cukup kecil sehingga ia tidak menyadarinya.


"..............." ia yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Istrinya yang duduk di atas lantai tepat di depan lemari. Kedua tangannya memegang ponsel dengan serius hingga membuat kedua alisnya berkerut.


Hyunjae yang berniat mengambil dalaman sekaligus pakaian merasa terhalangi. Meskipun dalam rencananya dia harus mengabaikan Lazel, namun dirinya akan tetap menggoda Lazel secara tidak langsung.


Hyunjae yang hanya melingkarkan handuk putih di pinggangnya mendekati Lazel dari belakang. Kedua kakinya sedikit melebar hingga menyentuh punggung Lazel.


"Hm?" Merasa ada yang menyentuh punggungnya, Lazel pun menoleh ke belakang dan secara otomatis mengadah ke atas, "HUAAAA!!!"


"Ada apa?" Tanya Hyunjae dengan wajah polosnya.


Wanita berpakaian tipis itu menggeser tubuhnya ke samping hingga bertemu dengan sofa mini, "jika kau mau mengambil pakaian setidaknya bilang terlebih dahulu! Jangan mengejutkanku seperti ini!"


"Memangnya kenapa?"


"Kauuuu..." Lazel tidak bisa berkata-kata lagi. Apalagi setelah mengadahkan kepalanya ke atas. Ia sangat bersyukur bahwa tidak melihatnya.


...◇• •◇...


"Hm? Dimana tas mininya?"


Di atas ambal lebar dan berbulu. Wanita berkaos kuning itu tengah sibuk dengan tumpukkan barang. Semua benda itu merupakan oleh-oleh dari Paris untuk keluarganya dan juga teman-temannya. Lagipula ia berada disana cukup lama, sebagai buah tangan ia membeli beberapa benda unik yang menjadi ciri khas Kota Paris.


Sedangkan Hyunjae sedang bersantai di atas ranjang dengan ponselnya dan terus mengabaikan Lazel.


"Hyunjae, apa kau melihat satu paket tas mini berwarna biru?"


"Tidak."


"Ha?? Seharusnya kau tahu, bukankah kau yang membawanya?"


"Salahkan dirimu sendiri karena lupa meletakkannya."


"O-Oh... aku lupa. Maaf."


Diam-diam Hyunjae melirik ke bawah, dimana Lazel terus bersenandung dengan mulutnya sembari kedua tangannya yang bergerak.


"Banyak sekali... apa dia berniat memberikannya kepada semua orang?" Pikirnya.


"Hihihi... aku memang pandai merangkai dan membungkus sebuah hadiah."


"Hm~"


Sebuah tas mini berwarna biru diisi dengan beberapa benda yang dia beli di Paris sebagai oleh-oleh. Selain itu dia juga merangkai beberapa figuran mini.


Hyunjae melihat hadiah yang sudah jadi, cukup menarik. Lazel pandai dalam desainer tentu saja pandai dalam merangkai hadiah.


"Enaknya... apa dia juga memberikanku hadiah?" Hyunjae mulai mengada-ngada, "ck! Tidak mungkin. Bukankah  berada di Paris bersama?" Seketika wajah bersemangatnya sirna.

__ADS_1


...◇• •◇...


"Akhirnya selesai~"


"Hm?"


Seluruh hadiah telah ia siapkan seorang diri. Semuanya telah tersusun rapi dengan nama masing-masing di depan tas mini tersebut.


"Oke waktunya tidur."


"Kau tidak mandi?" Tanya Hyunjae sebagai basa-basi.


"Sudah, di kamar sebelah." Jawabnya tanpa menoleh.


Ia memperhatikan wanita itu secara diam-diam. Pintu balkon terbuka, Lazel pun keluar sembari membawa sesuatu masuk. Tak lupa ia memperhatikan dan memeriksa setiap jendela yang ada dan merapikan tirai.


Tak lama kemudian, wanita berambut perak itu berlari ke depan cermin dan melepaskan ikat rambutnya dan menyisir lurus rambutnya ke bawah.


Setelah melakukan beberapa ritual, Lazel pun akhirnya sampai di atas ranjang untuk tidur.


"????" Lazel telah memosisikan tidurnya dengan memunggunginya, "tunggu sebentar, bukankah aku yang harus mengabaikannya? Mengapa dia yang mengabaikanku?"


Di sisi lain, dimana Lazel tidur dengan posisi ke arah lain. Hyunjae yang menduga bahwa ia telah tidur ternyata tidak, justru ia memikirkan sesuatu yang merupakan bagian dari rencana Hyunjae sendiri.


"Sudah kuduga..." ucapnya dalam hati dengan tatapan yang biasa. "Sudah kuduga bahwa hal ini pasti akan terjadi. Cepat atau lambat... dia akan kembali seperti dulu."


Tanpa tahu, rencana Hyunjae membuat Lazel berpikir bahwa pria itu telah membuangnya begitu saja setelah sekali pakai.


"Syukurlah... aku tidak terlalu berharap pada malam itu."


...◇• •◇...


Aktivitas mereka kembali ke semula, dimana Lazel berdiri di depan cermin dengan kemejanya yang rapi. Rambut perak panjangnya ia kepang ke belakang dan meletakkan pita kupu-kupu sebagai hiasan.


Tatapannya terlihat datar yang memantul jelas ke arah cermin tersebut.


Hyunjae yang baru saja ingin mengenakan cermin yang sama untuk merapikan pakaiannya seketika terkejut dengan penampilan Lazel yang dulu sering ia lihat. Setelan jas berwarna hitam dengan rambut cantiknya terkepang ke belakang.


Namun... kekagumannya hilang saat melihat ekspresi Lazel dari pantulan cermin. Dimana ia sedang melihat Lazel yang dulu. Lazel yang tidak bisa berekspresi selain marah. Tatapan dinginnya itu sering sekali dia lihat.


"Aku akan mengantarmu."


"Hm? Mengantarku? Kupikir kau akan pergi sendiri."


"Sendiri? Memangnya aku pernah membiarkanmu pergi sendirian?"


"Pernah, jangan bilang kau melupakannya," ucap Lazel dengan wajah yang menoleh ke belakang dan menatap Hyunjae dengan tatapan biasa. "Bahkan kau juga pernah meninggalkanku sendiri dan pergi bersama wanita lain. Heeh... jangan bilang kau melupakannya."


Hyunjae terkejut jika tempo ceritanya kembali ke masa lalu, bagaimana bisa Lazel kembali membahas masalah itu. Bukankah mereka berdua telah sepakat untuk tidak membicarakan hal yang sudah berlalu?


"M-Maaf... kupikir kau sudah melupakannya."


"Ayo pergi," ujar Lazel yang membawa hadiah itu seorang diri di dalam dua plastik yang berukuran besar. "Tidak perlu memikirkannya terlalu panjang, dan tidak perlu bertele-tele. Lagipula aku mulai terbiasa dengan perilakumu."


...◇• •◇...


"Kyaaa!!! Lama tidak melihatmuuuu Lazeeel!!" Nezra dengan semangatnya memeluk Lazel dan terus menciumi wajahnya karena rindu.


"Hahahaha! Maaf aku tidak menghubungi Ibu saat ingin kembali."


"Bagaimana? Apa bulan madu kalian berjalan lancar?" Tanya Nezra.


"Hm! Tenang saja! Kami telah melakukan yang terbaik!" Lazel menjawabnya dengan semringah yang lebar.


"Benarkah itu Hyunjae?" Tanya Hyunji yang datang karena panggilan dari Lazel.


"Y-Ya itu benar," Hyunjae mulai mengerutkan dahinya. "Apa yang Lazel lakukan, mengapa dia seperti ini."


Hyunjae tidak memahami kondisi saat ini, apa yang Lazel lakukan hanyalah kembaran dari masa lalu. Bagaimana bisa wanita itu kembali memerankan hal yang sama. Yang lebih tidak masuk akal adalah ekspresinya yang begitu mudah berubah.

__ADS_1


Bertemu keluarganya lagi dan Kara membuatnya bahagia. Oleh-oleh yang dia bawa dengan cepat ia bagikan.


Semua tawa terjadi secara bersamaan. Disini Hyunjae mulai merasakan sesuatu yang tidak masuk akal, dan itu membuatnya seakan-akan telah melakukan kesalahan.


__ADS_2