Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Olahraga]


__ADS_3

Beberapa aneka ragam makanan sudah berada di hadapan mereka. Masing-masing tangan sudah membuka satu persatu makanan yang berbeda-beda.


"Ini adalah acara makan-makan, bukan acara memecahkan masalah." Ujar Vicy.


Karena merindukan dimana mereka sering menghabiskan waktu untuk melakukan apapun secara bersama. Lazel pun memesan banyak makanan ke rumah Jean dan menyantapnya bersama-sama.


"Apa Hyunjae tidak masalah jika ditinggal oleh Istrinya?" Tanya Kara pada teman-temannya.


"Itu bukan masalah. Jangan pikirkan dia." Jawab Lazel.


"Lagipula ada aku, jadi tidak perlu memikirkan apapun." Sahut Gyuu yang duduk manis di samping Lazel.


"Tenang, akan kupastikan jika perselingkuhan yang sebenarnya tidak akan terjadi." Ucap Jean yang bersifat menyindir pada seseorang.


...◇• •◇...


Kara, Vicy dan Jean menceritakan banyak hal pada Lazel semenjak dirinya tidak bersama mereka. Banyak kisah-kisah seru yang ia tinggalkan, namun teman-temannya bersedia untuk menceritakannya pada Lazel. Salah satunya adalah masa-masa Hyunjae disaat dirinya tidak ada.


Seharusnya Hyunjae sudah memperingatkan mereka untuk tidak memberitahukan Lazel mengenai apapun yang terjadi pada dirinya semenjak Lazel menghilang. Namun menurut pandangan pribadi mereka, Lazel yang merupakan Istrinya harus mengetahui masalah ini.


Momen dimana perasaan campur aduk Hyunjae disaat Lazel meninggalkan dirinya. Rasa frustasi selalu menghantui dirinya bahkan seperti tidak ada kehidupan untuk menjalaninya.


Segala cara dia gunakan demi mencari tahu dimana Lazel dan Ian berada. Rela bekerja di bawah perintah Jean tanpa bayaran. Hal itu tidak perlu dipikirkan oleh orang kaya sepertinya.


"..............."


"Maaf Lazel... meskipun awal mula semua ini adalah kesalahan Hyunjae. Melihat dirinya yang sangat putus asa, frustasi hanya karena kehilanganmu sungguh membuat kami ikut bersalah." Ucap Kara yang memasang wajah muram.


"Seolah-olah mendukung perpisahan kalian justru membuat Hyunjae semakin sulit mengendalikan dirinya." Sahut Vicy.


Bahkan tanpa diberi tahu, Lazel sendiri sudah melihat bagaimana perubahan yang diinginkan Hyunjae pada dirinya sendiri. Perubahan itu memang secara pribadi mengejutkan, namun tidak akan ada yang tahu bagaimana situasi ke depannya.


Letak kesalahan hanya pada manusia, bahkan berulang kali manusia sering melakukan kesalahan yang sama yang seharusnya sama sekali tidak wajar untuk dilakukan.


Dari lubuk hati terdalamnya, ia sangat menghargai perubahan itu, yang mendorong pada menghargai orang lain. Namun dari di dasar hatinya ia masih tidak bisa semudah itu menerima maaf dari Hyunjae.


...◇• •◇...


"Aku pulang."


"Hiks! Kau selalu meninggalkanku sendirian di rumah." Nampak seorang pria yang hanya menunjukkan kepalanya dari balik kursi sofa dengan raut wajah yang bersedih.


"..............." sedangkan Lazel menanggapinya dengan ekspresi yang jelek.


Ia melepaskan jaket yang menutupi dirinya dari paparan panas matahari. Bukan karena takut karena efek panasnya, justru Lazel hanya tidak ingin menunjukkan wajahnya pada siapapun di luar sana sehingga nama Jean dan Hyunjae bersih dari masalah palsu tersebut.


Wanita berambut perak yang terikat ke belakang itu kini hanya mengenakan celana panjang yang longgar dan atasan kaos biasa berwarna hijau tipis sehingga dapat memperlihatkan bentuk bra nya.


Hyunjae yang sudah melihatnya secara langsung sama sekali tidak mempermasalahkan penampilan Lazel, selagi hanya dirinya yang dapat melihatnya.


"Apa yang kalian bahas disana? Apa sudah ada jalan keluar?" Tanya Hyunjae pada Lazel yang merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari menyalakan televisi.


"Belum." Jawab Lazel dengan apa adanya.


"Jadi apa yang kalian bahas?" Hyunjae terus bertanya dan semakin mendekatkan dirinya ke arah Lazel.


"Rasa fru-" ucapannya terpotong dan mengingat sesuatu yang tidak boleh ia katakan pada Hyunjae.


"Rasa? Fru?? Fruit?"


"Lupakan."


Kini Hyunjae duduk di lantai yang memiliki alas bulu-bulu berwarna putih yang berukuran besar. Tubuhnya menyandar pada sofa yang Lazel tiduri.


"Hyunjaeee... kepalamu menghalangi televisi." Ujar Lazel yang menyingkirkan kepala besar itu dari hadapannya.


Bukannya menyingkir, justru Hyunjae meraih tangan itu dan menciumnya bahkan menggigitnya cukup keras.


"Apa yang kau lakukan sialan!" Lazel menarik lengannya kembali dan mengelapkannya pada pakaian Hyunjae sendiri dengan tatapan kesal dan juga wajah yang sedikit memerah.


"Ayo makan, aku lapar." Ajak Hyunjae dengan wajah yang menatap Istrinya secara langsung.

__ADS_1


"Pesan saja sendiri, aku sudah makan dengan yang lainnya disana."


"Kau tidak menyisakannya untukku?"


"Tidak."


"Jahat..."


"Aku memasaknya sendiri, apa kau benar-benar tidak mau?"


"Tidak," jawabnya dengan acuh. "Hm... pria itu memang pandai memasak dibandingkan diriku." Batinnya dengan cukup kesal.


"Baiklah, aku saja." Hyunjae langsung pergi  menuju dapur dengan lantunan lagu yang bersenandung di mulutnya.


"Melihat dirinya yang sangat putus asa, frustasi hanya karena kehilanganmu."


Secara tiba-tiba sebuah kalimat melintas di kepalanya.


Kletak!


Ia mematikan televisi dan melempar remote control itu ke atas meja dengan kesal. Wanita berambut panjang itupun lekas pergi dari sana dan menuju kamar.


Kembalinya Hyunjae dengan sepiring makanan di tangannya ke tempat sebelumnya, dimana Lazel ada disana. Perempuan itupun sudah tidak ada di tempatnya dan pergi entah kemana.


"Lazel kemana?"


...◇• •◇...


"Apa kau merasa baik-baik saja dengan ini?"


"Sama sekali tidak," jawabnya. "Mungkin yang harus di hadapi saat ini adalah hati Lazel sendiri. Itu adalah proses yang mungkin sangat sulit."


Kepulangan Lazel membuat Jean dan Kara merasa khawatir. Disaat Hyunjae mulai berubah, Lazel justru memperlihatkan dirinya yang asli. Sifatnya yang seperti itu justru membuat Kara bertanya-tanya, apakah hubungan mereka akan membaik atau sebaliknya?


"Masalah ini juga harus dihadapi oleh Hyunjae, melalui ketulusannya ataupun kesabarannya. Karena bagaimanapun juga, dialah yang memulai  semua ini." Jelas Jean.


Ketakutan terbesar Kara adalah perpisahan antara Lazel dan Hyunjae. Dan lebih memilih pada jalan masing-masing, sehingga tidak seorang pun yang berniat ikut campur.


Kara membuat kedua tangannya menempel ke lantai belakang dan menyandar sembari menatap langit dari balik jendela, "setelah semua berakhir... kira-kira apa yang akan mereka lakukan?"


...◇• •◇...


Tirai terus berterbangan mengikuti arah angin yang meniupnya. Musim Panas masih berlangsung dan mungkin akan berakhir dua bulan yang akan tiba.


Banyak peramal bilang jika Musim Panas tahun ini akan terasa panjang daripada sebelumnnya.


Perlahan ia masuk tanpa membunyikan suara sedikitpun. Begitu terasa pendingin ruangan yang menusuk kedua kakinya yang telanjang.


Ia melihat Lazel yang tertidur dengan helai-helai rambut yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Pria itu hanya mengamatinya dengan senyuman di atas kursi kayu yang dia duduki.


"Hm... apa Lazel benar-benar sudah makan? Apa dia tidak berbohong? Apa aku harus menghubungi Jean?"


Hyunjae mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat untuk Jean dan menanyakan perihal Lazel.


^^^'Dia sudah makan, kau tidak perlu mengkhawatirkannya'.^^^


"Fyuuh~ kupikir Lazel berbohong. Kalau begitu aku akan menyimpan makanan tadi, siapa tahu dia akan lapar saat bangun nanti." Ucapnya dalam hati dan meninggalkan kamar Lazel dengan pelan tanpa membuat wanita itu terbangun.


...◇• •◇...


"Haaah!... haah..."


Keringat menetes di atas lantai seiring pergerakan yang dia lakukan. Setelah melakukan begitu banyak hal, dirinya sangat jarang untuk melatih tubuhnya.


Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk berolahraga. Di tengah Musim Panas seperti ini akan menghasilkan banyak keringat sehingga akan membuat tubuhnya sehat. Tidak ada alasan lain bagi Hyunjae untuk menjaga olah raganya, tak lain untuk menjaga kesehatannya.


Kedua tangannya terlihat semakin membesar sangat mengangkat beban seberat tujuh puluh kilo. Rambut-rambut hitamnya juga terus meneteskan keringat tiada henti.


Perutnya yang terdapat beberapa bentuk kotak terus bergerak.

__ADS_1


Saat ini kondisi atau pemandangan Hyunjae sangat berbahaya untuk dilihat.


Awalnya peralatan olah raga tidak ada di kediaman Lazel. Namun ia membawanya demi tidak ingin berpisah dari Lazel, Istri tercinta.


Di sisi lain, seorang wanita yang tertidur di pinggir  ranjang hampir menyentuh lantai dengan sempurna.


Drrt!


Bruak!


Rasa sakit tidak seberapa, namun rasa terkejutnya bukan main. Deringan ponselnya membuatnya yang tertidur langsung terkejut.


"Ku pikir aku terjatuh ke dalam jurang."  Ucapnya dengan wajah yang was-was.


Ia meraih ponselnya yang berada di atas meja yang bersebelahan dengan meja lampu tidur.


"Hm... siapa ini?" Rambutnya masih terlihat berantakan namun dengan satu usapan, rambut cantiknya itu langsung turun secara menyeluruh.


^^^"L-Lazel!  Beritanya kembali muncul!"^^^


"Ha?! Siapa?!" Tanya Lazel balik dengan wajah yang setengah tidur.


^^^"JANGAN TIDUR! DAN DENGARKAN AKU BICARA!"^^^


"!!!!" Hanya mendengarnya dari suara saja sudah dapat menebaknya dengan mudah.


Teriakan itu membuatnya terkejut. Ia pun memperhatikan siapa yang menghubunginya di sore hari ini.


"Oh, Jean." Ucapnya dengan tatapan yang masih linglung.


^^^"LAMBAT!"^^^


Bagai topan yang menderu.


^^^"Dengar..."^^^


...◇• •◇...


Seperti maraton, ia berlari menelusuri setiap ruangan hanya untuk mencari seseorang. Padahal lebih mudah jika memanggil atau meneriakkan namanya.


Jean sebelumnya memeberikan kabar bahwa pelaku kembali membuat berita baru, meskipun berita itu masih sama seperti sebelumnya, namun juga terdapat perubahan sediki, tetapi tidak memberi pengaruh apapun.


Lazel pun berniat untuk menemui Hyunjae yang entah saat ini berada dimana. Satu hal yang belum ia ketahui adalah, sebuah ruangan khusus untuk berolahraga.


Rambut cantiknya terus berkibar seiring kedua kakinya berlari.


Hanya tingga satu ruangan lagi yang belum ia kunjungi. Yaitu ruangan yang dekat dengan pintu utama yang menghubungkan dengan teras.


Di waktu yang bersamaan, Hyunjae baru saja menyelesaikan olahraganya. Seluruh tubuhnya terasa sangat panas dan juga mengalir keringat yang banyak.


Handuk yang tergantung di dekat pintu, ia akan mengenakan handuk itu untuk membersihkan tubuhnya sebelum keluar, agar keringatnya tidak menetes ke lantai luar.


Di ruangan itu terdapat jendela berukuran besar yang dapat memperlihatkan halaman depan secara langsung.


Pria yang hanya mengenakan ****** ***** itu sudah mengambil handuknya lalu-


Duak!


"Hyunjae apa kau-"


Bruak!


Hyunjae yang mendapatkan serangan langsung masih dapat berdiri, sedangkan Lazel sebagai tersangka langsung terkapar di atas lantai.


"L-Lazel, kenapa kau berlari?" Hyunjae meraih lengan wanita itu dan membantunya berdiri, "jika kau membutuhkan sesuatu, setidaknya panggil aku."


"W-Wajahku basah, pakaianku ju-" ucapannya dan tatapannya berhenti pada bagian yang tidak tepat. Namun secara perlahan ia berusaha untuk ke atas. "H-Hyunjae?"


"Hm?" Sahutnya dengan wajah yang polos.


"DIMANA PAKAIANMU!!!"

__ADS_1


__ADS_2