
^^^"HYUNJAE SEBENARNYA APA YANG TERJADI?!"^^^
^^^"KATAKAN! SEJAK KAPAN KALIAN KEMBALI?!"^^^
"..............."
Ia sudah menduga bahwa ujungnya akan seperti ini, namun ia tak menyangka jika dirinya sendiri yang menjadi sasaran.
Lazel melakukan langkah awal dengan mengadakan Konferensi Pers agar meringankan sedikit permasalahan yang dialami Suaminya dan juga Jean.
Sebenarnya kedatangan Lazel memang akan menyelesaikan sedikit permasalahan ini. Banyak orang yang mengira bahwa kepergian Lazel ada kaitannya dengan hubungan gelap antara Jean dan Hyunjae. Dengan hadirnya ia membuat semua orang terkejut dan sedikit demi sedikit mengubah cara pikir mereka.
Dan alasan lainnya adalah, untuk membuat sinyal ancaman bagi pelaku yang membuat onar sejauh ini.
"Jadi... apa yang ingin ka-"
Tut... tut... tut...
Hyunjae memperhatikan layar ponselnya dengan ekspresi datar, "mati?"
...◇• •◇...
Pernyataan itu berlangsung hanya satu jam, tidak lebih dari itu. Sebenarnya cukup sulit untuk meraih dukungan dari semua orang jika hanya melalui kata-kata. Tapi apa boleh buat, lagipula Lazel sendiri tidak pernah menduga bahwa ada seseorang yang berani menodai nama Pietra semudah ini.
"Nona, selamat datang kembali."
"Bagaimana liburan Anda? Apa menyenangkan?"
Usai dari Konferensi Pers, seluruh staff yang ada disana memberikan sambutan hangat untuk kedatangan Bos mereka.
"L-Liburan?" Lazel sempat terkejut dengan ucapan itu, "Hyunjae menggunakan alasan ini agar semua orang tidak tahu kenyataannya."
Lazel hanya mengikuti alurnya saja dan menganggap situasi itu sebagai kenyataan.
"Saya senang dengan kedatangan Anda kembali, tapi... kami minta maaf atas masalah ini. Bahkan tanpa Anda kami tidak bisa melakukan apapun." Ujar Byul sebagai perwakilan dari seluruh anggota perusahaan.
"Tidak masalah, lagipula memang hanya aku yang bisa melakukannya." Ucap Lazel.
Kedatangannya kembali membuat seluruh wartawan beralih dan menumpahkan berbagai pertanyaan untuk Lazel. Byul yang terkejut melihat kehadiran Bosnya langsung memanggil para bodyguard untuk mengawal Bos mereka.
Saat ini Lazel hanya membawa mobil pribadi untuk melakukan aktivitas. Sebelum ia menarik perhatian lebih jauh, akan lebih baik dirinya segera pergi dari.
...◇• •◇...
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak lepas dari masalah Hyunjae dan Jean. Dibalik masalah yang rumit itu terdapat sebuah perasaan yang menjanggal. Seharusnya masalah ini tidak harus ia ikut campuri. Meskipun Jean adalah alasannya, namun masih sangat mustahil untuk melakukannya.
Kedatangan Hyunjae yang kembali mengikuti dirinya justru membuat kesepiannya kembali ceria. Namun ia tidak mungkin mengungkapkan semuanya semudah itu. Jauh sebelum harapan itu datang, Lazel hanya menikmati kesendiriannya dan melupakan hal yang berlalu. Namun tanpa sadar ia kembali hidup dengan adanya Hyunjae.
"Ck!" Tatapannya kembali masam karena memikirkan hal-hal yang tidak berguna.
...◇• •◇...
Kedua tangannya memutar stir mobil dan mulai memasuki area hotel yang ia tempati bersama dengan Hyunjae dan Ian.
"????" Alisnya berkerut seketika melihat sebuah mobil hitam terparkir dengan plat yang tidak asing.
Perlahan mobil hitam yang ia kendarai melaju dengan sangat pelan menuju mobil familiar tersebut.
Belum sampai ataupun melangkah keluar dari mobil, justru mobil yang ia lihat mulai membuka pintu dan memperlihatkan beberapa orang yang belum ia pastikan wajahnya.
"!!!!" Seketika rem terinjak dan membuat mobil itu berhenti secara mendadak. Bahkan Hyunjae yang baru muncul juga melihat keadaannya.
Lazel melebarkan kedua matanya tak percaya. Salah satu dari mereka adalah Nezra.
Perlahan ia memarkirkan mobil dan keluar dari sana secara perlahan.
Seorang wanita yang asing menurutnya namun selalu memberikan kasih sayang yang setara pada semua anaknya. Tidak pernah membeda-bedakan siapapun, itulah Nezra yang saat ini masih berstatus sebagai Ibu Mertuanya, atau Ibu dari Suaminya.
Melihat beliau dalam keadaan baik-baik saja sudah ingin membuat Lazel menangis karena bersyukur. Ingin menyapa, namun rasa sakit di masa lalu masih membekas.
__ADS_1
Di titik ini keduanya merasakan hal yang sama. Meskipun keduanya tidak berniat melakukan kesalahan apapun.
Nezra melangkahkan kakinya ke arah Lazel dengan wajah yang lesu. Sedangkan Hyunji dan Gyuu hanya berdiri terdiam melihat Lazel yang cukup lama tidak mereka jumpai.
"Lama tidak-"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Lazel sehingga membuat wajahnya berpaling dengan kuat.
"..............."
"Ibu! Apa yang kau lakukan?!" Hyunjae yang melihat Lazel mendapat perlakuan tak wajar membuat wajahnya seketika tertabur emosi.
"Apa kau puas dengan tindakanmu ini?"
Kini Nezra mulai bersuara layaknya Ibu yang memarahi anaknya.
"Apakah ini adalah hasil didikan dari kedua orangtua mu?"
"Apakah ini adalah tindakan yang sangat wajar untuk kau lakukan hanya karena sakit hati?"
"Lazel! Disini aku sama denganmu! Kalian berdua melakukan kesalahan fatal sejak awal!"
"Membohongiku bukanlah hal yang biasa! Aku berharap lebih pada hubungan kalian! Aku berharap bahwa akan ada anak kecil yang lahir dan akan memeriahkan keluarga ini. Tapi kau merusak semuanya!"
Nezra sama sekali tidak memperhatikan perasaan Lazel yang memiliki perasaan terkuak sama seperti yang dia rasakan.
"Ya, itu benar," Lazel mulai menyeringai di bawah wajahnya yang menunduk. "Harta kalian sangat berguna bagiku, lagipula aku hidup bukan untuk orang lain." Ucapnya dengan bangga meskipun terdapat luka yang amat menyakitkan.
"Jika Ibu berpikir bahwa aku akan semudah itu meletakkan hati pada Putramu itu sangatlah salah. Prioritasku hanya untuk uang, tidak lebih dari i-"
"Jika yang kau butuhkan adalah uang kau bisa mengatakannya padaku tanpa membuat drama sejauh ini!" Sela Nezra yang semakin histeris dengan keterbukaan Lazel, "aku mengkhawatirkan kalian! Aku tidak tahu dimana kalian hidup! Bahkan berharap untuk kembali saja sudah sangat mustahil bagiku!"
Lazel rada-rada tidak memahami ucapan Nezra sehingga membuat ekspresinya bingung.
"Kau dan Ian adalah anak-anakku, apakah kalian pernah memikirkan perasaan seorang Ibu disaat kehilangan kedua anaknya?" Perasaan Nezra semakin tidak terkendali disaat melihat Lazel yang benar-benar ada di hadapannya.
Ucapan Nezra semakin membuat Lazel ingin menangis, "h-hah... apa yang ka-"
Nezra langsung memeluk Lazel untuk sekian lamanya tidak bertemu.
"Aku mengkhawatirkan kalian... siang malam aku selalu memikirkan dimana kalian berada." Tangis Nezra di dalam pelukan Lazel.
Inilah perasaan yang sebenarnya dari Nezra. Hanya sebatas teman bagi orangtua kandung Lazel membuat wanita itu memiliki perasaan kasih sayang pada Lazel dan Ian. Dirinya sudah menganggap jika kedua orang itu adalah anaknya sendiri.
Lazel tidak membalas pelukan itu dan hanya meneteskan air mata tanpa bersuara.
...◇• •◇...
"..............."
"Aku tidak menyangka jika kalian sudah tiba disini." Ujar Hyunji.
"Ada apa dengannya? Aku merasa jika Lazel sedikit berbeda." Gyuu mulai menyadari sesuatu disaat Lazel mulai memperlihatkan sisi aslinya.
Saat ini mereka berada di kamar Hyunjae dan Lazel. Nezra menggunakan ruangan tertutup untuk mengintograsi Ian dan Lazel secara bersamaan. Hyunjae dan yang lainnya hanya duduk santai di Ruang Tengah sembari menunggu mereka usai.
Mendengar dan melihat Lazel dari layar televisi membuat Nezra langsung mengambil tindakan untuk bertemu dengan Lazel dan Ian secara langsung.
"Dia memang sedikit berbeda. Justru perbedaan itu merupakan sosok aslinya." Sahut Hyunjae yang bingung mau melakukan apa, "mungkin setelah ini kita tidak akan tahu apa yang akan Lazel lakukan dengan sikapnya yang seperti itu."
Cklek!
"Lama juga..." ucap Hyunji yang melihat ketiga orang itu yang sudah melakukan pembicaraan secara enam mata.
Gyuu memasang wajah yang canggung, "L-Lazel, lama tidak-"
"Tenang saja. Aku akan menyelesaikan masalah ini." Ucap Lazel dengan wajah yang sedikit muram dan beralih pada kamar tidur.
__ADS_1
"..............."
"Ian..." ucap Hyunji yang melihat Adik Lazel yang merasa acuh tak acuh.
"Aku hanya sementara berada disini, untuk beberapa minggu ke depan aku akan kembali ke Jepang untuk melanjutkan kuliah." Jelasnya dengan wajah yang tanpa ekspresi.
Kondisinya sama sekali tidak membaik, justru semakin canggung dan dingin. Apalagi pada perubahan Lazel yang begitu membuat semua orang terkejut.
Nezra memegang keningnya, "Hyunjae... saat ini akan kuserahkan padamu."
"Hm."
"Jika masalah ini tidak selesai dengan cepat. Aku akan meminta Lazel sendiri untuk pergi."
"!!!!"
Nezra, Hyunji dan Gyuu langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Hyunjae yang masih dipenuhi dengan tanda tanya.
...◇• •◇...
Tok! Tok! Tok!
"Lazel, apa aku boleh masuk?"
"Haaah~ ini adalah kamarmu sendiri."
Suara pintu terbuka terdengar dengan jelas.
Suasana kamar itu nampak sejuk dan indah untuk dipandang, ditambah dengan kehadiran Lazel yang kini perlahan mulai kembali namun tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.
Pria berkaos hitam itu mengambil ancang-ancang lalu berlari dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang hingga membuat pantulan yang cukup besar.
"Kau ini berat, jadi jangan banyak bertingkah." Ucap Lazel yang duduk di pinggir ranjang.
Hyunjae menggulingkan badannya mendekati Lazel dan menatapnya dari bawah, "mau jalan?"
"Tidak."
"Sudah kuduga jika itu adalah jawabannya."
"Kalau begitu untuk apa kau bertanya?"
Seketika ia mengubah posisinya, "apa kau tidak pernah mendengar pepatah ini?" Tanya Hyunjae yang kini dapat menatap Lazel dengan jelas.
"Hah?"
"Jika ingin melakukannya maka lakukanlah selagi Istrimu mengizinkannya." Ucap Hyunjae dengan wajah yang serius.
"Aku tidak memahami ucapanmu."
"Apa kau benar-benar mau kembali kesini?" Tanya Hyunjae dengan wajah yang berpaling karena merasa gugup dan juga takut.
"Menurutmu?" Ia bertanya balik.
"Aku tidak tahu, bahkan kau juga belum menerima maafku."
"..............." Lazel tidak memberikan balasan apapun lagi pada Hyunjae. Kalimat terakhir itu memang sebuah fakta baginya dan tidak bisa semudah itu untuk diubah.
"Aku menyukaimu semenjak kau berusaha khawatir disaat aku selalu menyakitimu."
"Aku mencintaimu disaat aku benar-benar tahu bagaimana sifat pribadi yang kau miliki."
"Aku merindukanmu disaat kau tidak ada lagi disini."
"Aku menyesal karena kau bertemu dengan pria buruk sepertiku."
"Aku bersedih karena harus memaksa hatiku untuk tetap mempertahankanmu."
Hyunjae memang tidak berharap bahwa akan ada jawaban yang keluar dari mulut Lazel sehingga membuatnya mendapatkan sedikit cahaya untuk berharap.
__ADS_1
"Sepuluh tahun aku menikahi seseorang bahkan aku tidak pernah bermimpi untuk menjadikannya kekasihku." Batin Lazel.