
"M-Maukah kau menikah de-dengan- a-apa-apaan ini!" Seketika Kara mengubah warna wajahnya menjadi merah masak.
"Sudah kuduga kau tidak mengetahui artinya." Hyunji sedikit malu dan juga terkekeh karena ketidakpahaman Kara tentang apa yang dia ucapkan sebelumnya.
"A-Apa-apaan jebakan batman ini!"
"Jangan membuat lawakan disaat seperti ini!" Hyunji memperbaiki posisinya, "ekhem! J-Jadi... apa kau mau?"
"Apa ini salah satu caramu menyampaikan rasa benci pada seseorang yang sudah menyukaimu sejak lama?"
"Jadi kau benar-benar menyukaiku sejak lama?!"
"Hmph!" Kara menutup mulutnya sendiri.
"!!!!"
...◇• •◇...
"Lazeeel~ apa kau tidak lapar? Kau sudah tidur cukup lama." Ia mencoba membangunkan wanita cantik itu yang sudah cukup nyaman berada di pelukannya.
Hembusan nafas Lazel masih menderu hangat di tangannya yang terus mencoba memeluk Lazel dari segala tempat. Rambut perakbya berada dimana-mana, sedangkan tanpa sadar tangannya sudah berada di leher seseorang.
Cup!
Bibirnya mendarat sejenak di kening Istrinya yang sedang tertidur, "ayo bangun, kau tidak boleh tidur tanpa makan. Ayo bangun." Ujarnya yang berusaha membangunkan Lazel dari tidurnya.
Setelah mendapat pergerakan dari Hyunjae, perlahan-lahan wanita itu membuka kedua kelopak matanya dan akhirnya melihat siapa yang ada di hadapannya dan sedang apa kedua tangannya saat ini.
"A-Apa ini mimpi?" Tanya Lazel yang berusaha bertahan beberapa detik setelah mendapatkan apa yang ada di hadapannya.
"Hm, jadi kau boleh memberiku ciu-"
Dengan sekuat tenaga Lazel mendorong wajah Hyunjae darinya, "A-APA YANG KAU LAKUKAAA-"
"Shh~ kau harus terbiasa dengan momen-momen yang seperti ini," ujar Hyunjae yang membungkam mulut Lazel dengan tangannya lalu menarik tubuh wanita itu secara perlahan ke tempat semula. "Seharusnya kau bersyukur jika tanganku bersedia menutup mulutmu, jika mulutku yang mengambil alih kau bisa pingsan." Tawanya pelan.
Karena tidak sanggup melawan hukum alam bahwa Hyunjae memang memiliki wajah yang tampan. Demi menyelamatkan harga diri, Lazel menundukkan wajahnya sehingga menempel pada dada Hyunjae yang begitu terasa dengan lekukan ototnya.
"Oh~ ada apa? Kau malu?" Tanya Hyunjae.
Lazel tidak memberikan jawaban apapun, namun Hyunjae merasa jika tubuh Lazel semakin memanas dan terus bergetar karena gugup. Melihat rasa takut Lazel pada dirinya, Hyunjae akan membuat langkah pertama, yaitu cara menenangkan Lazel.
Ia mulai mengusapka telapak tangannya pada kelapa Lazel sembari mengajaknya bicara.
"Malu itu sudah wajar, tapi tidak wajar di hadapan Suamimu sendiri. Tapi tenang saja, aku akan menunggu hingga kau siap."
Hyunjae mulai mengambil posisi duduk dan mengusap kedua rambutnya ke belakang hingga kedua anting pemberian itu bergoyang.
"Aku akan memasak sebentar, aku akan memanggilmu sayang jika semuanya sudah siap."
Langkah kaki terus terdengar hingga bunyi pintu terbuka dan juga tertutup.
Perlahan ia mengangkat wajahnya dan membuka selimut yang ia gunakan sebagai tambahan untuk menyembunyikan rasa malunya.
Ia pun mulai duduk di tengah ranjang besar itu dengan pakaian yang masih rapi namun tidak untuk rambutnya.
Perasaannya saat ini sama sekali sulit untuk dia artikan. Bahkan ia merasa jika wajahnya masih sangat memerah karena tindakan Hyunjae yang hari demi hari terus menggoda dirinya.
Meski ia masih meletakkan rasa benci pada pria itu, namun sangat jelas dan nyata bahwa Suaminya itu memiliki wajah yang sama sekali tidak bisa diartikan. Ditambah dengan tubuh kekar yang dia miliki.
Namun saat ini hanya ada satu yang ingin dia pertanyakan.
"Bagaimana bisa aku berada di kamar?"
...◇• •◇...
__ADS_1
Jujur saja, tindakan itu terkadang membuatnya merasa malu dan juga jijik. Pandangannya terhadap Hyunjae tidak berubah bahwa pria itu pernah bergelombolan dengam ratusan perempuan di luar sana. Lazel hanya tidak ingin terhanyut karena perasaan seperti itu. Lagipula sakit yang akan dia derita jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Oleh karena itu sangat sulit mengendalikan hatinya dan juga pikirannya. Jika dibilang berubah, pria itu memang memiliki perubahan yang sangat banyak hingga membuat Lazel sendiri tidak bisa menghindarinya.
Yang harus ia benamkan adalah... perasaan kuatnya terhadap hidup tanpa perasaan. Karena ia sama sekali tidak berniat untuk jatuh di lubang yang sama.
Ia berdiri di hadapan cermin sembari mengangkat tinggi pakaiannya untuk memeriksa apa yang Hyunjae lakukan padanya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya untuk tidak melakukan apapun tanpa izin darimu." Ujar Hyunjae yang bersandar pada bingkai pintu.
Lazel hanya menatap pria itu dari pantulan cermin lalu menurunkan dan merapikan pakaiannya kembali.
Hyunjae mengubah raut wajahnya, "ngomong-ngomong, makanan-"
"Lebih baik kau tidak akan pernah melakukannya, ada kalanya aku muak dengan tindakan bodohmu ini." Sela Lazel yang melewati Hyunjae begitu saja dengan langkah kakinya dan meninggalkan pria itu.
"..............."
...◇• •◇...
Dirinya memang tidak pernah berniat untuk melewati batas saat bertindak, apalagi melakukan sesuatu yang dapat memicu rasa benci Lazel terhadapnya. Hanya saja ia menginginkan perhatian dari Lazel sebagaimana ia memberikan perhatian padanya.
Lagipula... tidak ada proses yang begitu instan terjadi semudah itu. Perasaan Lazel padanya adalah menunjukkan betapa menjijikannya ia di masa lalu. Oleh karena itu Hyunjae sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Lazel padanya.
Setelah berganti ia pun bergegas turun ke bawah untuk makan bersama Lazel. Namun setelah tiba di bawah, wanita perak itu tidak ada dimana-mana, bahkan di meja makan sekalipun.
"Lazel, kau dimana?" Panggil Hyunjae sembari memeriksa beberapa ruangan yang ada di bawah.
Drrt!
^^^'Aku makan diluar'.^^^
Pesan singkat yang dia dapatkan dari nomor ponsel Lazel.
"Haaah... setidaknya dia memberitahuku jika ingin keluar rumah. Bukankah aku sudah membuat aturan di dalam rumah?" Keluhnya, "aku lapar... kalau bagitu tidak masalah makan sendiri."
...◇• •◇...
"Makan? Aku bahkan lebih sering makan diluar, sementara kau membuat para wanita meniduri tubuhmu. Kau pikir dengan perubahanmu berharap aku akan ikut berubah?" Seringainya.
Ia tidak tahu kemana tujuannya saat ini, lagipula hanya ini satu-satunya jalan untuk menghindari Hyunjae.
"Oh! Bagaimana kalau aku belan-aku tidak membawa dompet maupun ponsel." Ucapnya dengan wajah yang kasihan.
Memori itu selalu melekat pada pikirannya, Hyunjae selalu menggunakan segala cara untuk membuatnya jatuh ke bawah kendalinya. Tindakan romantis yang bisa memompa jantung berdetak dengan cepat, Lazel sama sekali membencinya meskipun hatinya selalu goyah saat ada di dalam tangan pria itu.
"Aku tidak bisa pergi ke tempat Ian... dia pasti akan mudah curiga dan akan membuatku ikut kembali bersamanya menuju Je..." ia menghentikan mobil itu di tempat yang cukup ramai, lebih tepatnya di area taman yang cukup jauh dari rumahnya.
"Lalu apa gunanya aku berada disini, bahkan jika aku memastikan diriku untuk tidak menyukainya. Tapi kenapa, memangnya apa yang sedang ku pertahankan..."
"Bukankah akan lebih baik jika aku kembali bersama Ian dan melupakan segalanya?"
"Memangnya apa yang menarik di tempat ini? Selain perbudakan oleh keluarga sendiri, sebagai wanita yang hidup demi uang dan berjalan tanpa arah..."
"Memangnya... apa yang akan kulakukan disini..."
Lazel menghantamkan tangannya pada bagian mobil di depan dengan kuat. Seketika ia kesal pada dirinya sendiri.
...◇• •◇...
Tatapannya terus berhadapan dengan jam tangan yang ia kenakan dan menatap area rumah untuk melihat kepulangan Lazel. Cukup lama wanita itu meninggalkan rumah hingga malam tiba.
"Apa yang Lazel lakukan hingga malam?" Gumamnya.
Suara deruman mobil dan cahaya sorotnya membuat Hyunjae berpaling dan melihat ke depan gerbang dari teras rumah.
__ADS_1
Sebuah mobil berwarna hitam baru saja memasuki arena rumah dan berhenti tepat di hadapan Hyunjae.
Dalam beberapa saat seorang perempuan muncul dari balik pintu mobil itu dan memasang wajah yang datar seperti sebelumnya.
Duak!
"Auch! Mengapa kau me-"
"Kemana saja kau hah? Kau tidak membawa dompet maupun ponsel. Kau mencari makan diluar? Apa angin membuatmu kenyang?" Kini Hyunjae memarahi Lazel layaknya seorang anak.
"Cepat masuk sebelum makananmu dingin! Ngomong-ngomong maaf karena sudah memukul kepalamu! Itu pasti sakit! Aku akan mengobatinya setelah kau makan!" Hyunjae memasuki rumah terlebih dahulu dan meninggalkan Lazel yang masih terdiam di teras rumah.
"T-Tidak... ini tidak sakit sama sekali... apa dia berniat memukulku atau tidak??"
...◇• •◇...
"Hm... dimana aku meletakkan piyamaku?" Ia berusaha mencarinya dengan detail, "ruaaaghh!" Kedua tangannya pun menghambur pakaian itu dengan liar.
Cklek!
"Hm? Apa yang kau cari?" Tanya seseorang dengan rambut yang masih terlihat basah.
"Piyamaku hi-" lagi dan lagi, fenomena yang berulang kali dia lihat kini kembali terjadi. "Bukankah aku sudah mengatakannya padamu untuk tidak menggunakan kamar mandi di kamar ini?"
Seorang pria yang hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi ***********, meskipun Hyunjae sama sekali tidak memiliki rasa malu.
"Yaah... aku tidak bisa melakukannya." Jawab Hyunjae .
"Kenapa?"
"Tidak seru, jika aku melakukannya aku tidak akan bisa mengintipmu mandi."
"Aku akan menusuk kedua matamu itu."
"Bercandaa~ lagipula jika serius aku tidak akan mendapatkan dosa atau hukuman apapun. Tubuhmu adalah milikku, begitupula sebaliknya." Jelasnya.
Mendengar ucapan itu membuat sekujur tubuh Lazel menggigil geli.
"Keluar, aku mau mandi." Ujarnya dengan membawa handuk dan mulai berjalan ke arah kamar mandi.
Bukannya menjauh, pria itu justru mengekori Istrinya untuk menuju kamar mandi, "haaah? Seharusnya aku membantumu man-"
Duak!
...◇• •◇...
"Ahahahahaha!"
Tawa Hyunjae begitu terdengar hingga kamar. Lazel yang mendengarnya pun sedikit terkejut.
Wanita berambut perak beriris merah muda itu baru saja menyelesaikan mandinya dan segera mengeringkan tubuhnya.
"Rambutku sudah cukup panjang, apa aku harus memotongnya?"
Kamar itu kini dipenuhi dengan aroma Hyunjae. Dibandingkan dirinya, Hyunjae lebih suka memakai parfume. Bahkan Lazel akan memakainya jika ada perayaan atau pesta.
Bukan hanya pada ruangan, seluruh tubuh Lazel atau pakaiannya juga perlahan dipenuhi dengan aroma Hyunjae.
Lazel menjatuhkan handuknya dan mulai memakai pakaian dalamnya.
"Haah~ berapa kilo pria itu memakai par-"
Duak!
"Lazel! Ada be-"
__ADS_1
"Huh?!"