Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Lost Feeling [Hyunji & Kara]


__ADS_3

Merasa seperti layaknya benda yang mudah dipakai, hanya Lazel yang bisa yakin pada dirinya sendiri jika masalah yang Hyunjae dan Jean alami dapat ia selesaikan seorang diri.


Cklek!


"Aku pulang..."


Seorang pria yang memiliki rupa yang sama dengannya baru saja pulang dari kampusnya.


"Selamat datang," ia beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap Adiknya. "Ian, bisakah kita berangkat besok?"


...◇• •◇...


"Ya, kami akan kembali besok. Usahakan jangan sampai mereka tahu tentang ini."


^^^"Baik Tuan."^^^


Ia mendiami Jepang sudah cukup lama, lagipula sama sekali tidak bisa dia bayangkan bagaimana meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan menyerahkan segalanya pada sekretarisnya.


Pada akhirnya ia berhasil membawa Lazel dan Ian kembali, meskipun nantinya yang Lazel mereka temui bukanlah Lazel yang dulu. Yang artinya dia akan tampil layaknya dirinya yang asli. Mungkin perubahan pada dirinya akan mendapat banyak kebingungan atau pertanyaan lainnya.


Untuk persiapan besok sudah diselesaikan hari ini juga, termasuk pemeriksaan terhadap pesawat yang akan mereka naiki untuk kembali.


"Kupikir saat dia mengetahui masalah kami... dia akan berpikiran buruk atau mengatakan hal lain yang mungkin akan menjatuhkan mentalku kembali." Ujarnya dengan wajah yang sangat kasihan.


"Lazel sudah mengetahui siapa itu Ja Heul, tapi dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana dan apa yang akan dia lakukan untuk menghentikan berita yang diperbuat perempuan licik itu."


Karena Lazel sudah memutuskan semuanya seorang diri, Hyunjae mengenal Lazel bukan hanya sehari melainkan bertahun-tahun. Oleh karena itu dirinya tahu segala sifat atau tindakan Lazel yang mungkin terdapat beberapa tindakan nekat dalam dirinya.


Sisanya akan ia serahkan pada Lazel, karena ia sendiri percaya bahwa wanita itu akan membuat masalah di besok harinya.


...◇• •◇...


"Kau paham Kak?"


"Hm." Angguk Lazel meskipun sedikit berat untuk dia terima.


Satu buah bola lampu yang menerangi ruangan itu hanya menyorot pada kedua Adik Kakak tersebut.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan beberapa barang untuk besok dan segera tidur. Selamat malam." Ian hanya mengatakan beberapa kalimat singkat lalu pergi begitu saja ke kamarnya.


"..............."


Seharusnya ini bukanlah yang dia inginkan, namun jika dirinya menolak, mungkin Ian akan membuat keputusan lainnya yang semakin membuatnya kesulitan. Tak ada jalan lain selain mendengarkan ucapannya dan permohonannya.


Lazel merebahkan kembali tubuhnya di atas sofa, "baiklah, kira-kira apa yang akan terjadi nanti..." pikirnya yang sudah mulai memprediksi masalah ke depannya.


...◇• •◇...


Langit yang masih memeprlihatkan bintang-bintang mereka, langit belum menampakkan matahari dan masih membiarkan cahaya bulan menerangi semuanya.


Di sebuah bandara terbuka di Ibu Kota Tokyo. Pesawat dengan corak tertentu yang hanya dimiliki oleh Keluarga Pietra sudah memperlihatkan kelip-kelip cahaya di kedua sayapnya yang terbentang besar.


"Apa tidak ada barang yang teringgal?" Tanya Hyunjae dengan kacamata yang masih ia pakai di setiap harinya.


"Tidak." Sahut Lazel yang menggenggam erat koper merah yang ada di sampingnya.


Ian menggeleng sebagai jawaban.


Mereka masih berjalan menelusuri koridor berdinding kaca untuk pergi memasuki pesawat.


Saat itu sudah sangat ramai dimana mereka akan menunggu pesawat turun dan membawa penumpang dan akan bergantian ke sesi berikutnya.


Saat menggerakkan kaki begitu lama akhirnya mereka tiba di depan tangga pesawat yang akan membawa mereka masuk. Koper merah milik Lazel sudah berada di tangan Ian untuk membantu Kakaknya, sedangkan Hyunjae masih berada di bawah dan berbincang dengan seorang petugas yang memeriksa pesawatnya.

__ADS_1


Seorang Pramugari, atau biasa disebut sebagai petugas karena bekerja di pesawat pribadi milik Keluarga Pietra sudah menundukkan sedikut tubuhnya sebagai rasa hormat, "selamat da-Nona Lazel?!" Sapaannya berubah menjadi rasa kejut yang bukan main.


"Yo." Sapanya singkat.


"J-Jadi Anda berada di negara ini." Ucap petugas wanita itu yang berdiri di samping pintu masuk pesawat.


Setelah semuanya siap, Hyunjae pun memasuki pesawat dan beberapa menit ke depan pesawat yang mereka naiki perlahan bergerak.


"Ck! Siapa sangka jika aku akan kembali." Ujar Lazel yang menatap Hyunjae di hadapannya.


"Hahaha! Istriku kembali." Tawanya girang.


Pesawat bermotif cokelat hitam itupun akhirnya lepas landas.


...◇• •◇...


Keringat bercururan dimana-mana, bahkan sinar matahari dapat menembus kacamata yang ia kenakan.


"Panas..." keluhnya dengan topi yang ia gunakan sebagai pelindung.


"Musim Panas benar-benar tidak memberikan rasa dingin sedikitpun." Sahut Kara yang berjalan sangat lambat.


Musim Panas adalah satu-satunya musim yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan liburan. Biasanya di Musim Dingin mereka akan tetap bekerja dan mengambil banyak waktu untuk Musim Panas nanti. Itu hanya bagi anggota karyawan, entah dengan Bos mereka.


Saat ini Kara dan Vicy sedang menghabiskan waktu mereka di sebuah Taman Raya yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Taman Raya hampir sama halnya dengan taman-taman pada umumnya, namun taman satu ini diadakan di sebuah jalan raya yang sering atau hampir hanya digunakan oleh pejalan kaki saja.


Jajaran toko kecil memenuhi pinggiran, di bawah teriknya sinar matahari membuat berbagai macam aroma masakan tercium jelas.


"Apa kita harus mengajak Gyuu?" Ujar Kara yang menduduki salah satu pot bunga raksasa yang memang diperbolehkan untuk di duduki.


"Tidak." Jawab Vicy dengan cepat.


"Kau memang tidak pernah akur dengannya."


"Hei... Gyuu itu juga jauh lebih tua dibandingkan dirimu," Kara mengomentari ucapan Vicy terhadap sebutannya pada Gyuu. "Dia mungkin bekerja."


"Apa kau mau aku memanggilnya?"


"Ayolah, bukankah recana yang kita buat hari ini untuk tetap berdua?"


"Dia mengalihkannya lagi." Batin Vicy.


Dirinya tahu jika saat ini bukalah saatnya untuk bersantai, karena masalah yang dialami Hyunjae dan Jean belum mendapatkan jalan keluar. Akan tetapi, disaat hari langka seperti ini tidak boleh mereka lewatkan untuk menikmati masa liburan.


"Kau menyukai Kak Hyunji. Lalu mengapa kau tidak berusaha mengungkapkannya saja?" Ujar Vicy dengan ide cemerlang yang dia ucapkan untuk memotivasi Sepupunya itu.


Merasa geram dengan tindakannya, Kara pun mencubit pipi Vicy dengan gemas dan juga sedikit kesal, "Viiicyyy... mulutmu ini ringan sekali..." ucapnya dengan perasaan yang teriris pelan.


"????"


"Aku hanya menyukainya, sekedar menyukainya saja. Tidak lebih." Kini Kara mulai membalas ucapan Vicy meskipun sebelumnya dia sama sekali tidak berniat untuk membahas hal ini.


"Apa kau pikir dia menyukaiku? Dari mana? Lagipula banyak perempuan di luar sana yang jauh lebih lembut dibandingkan diriku." Kara hanya mengucapkan apa yang memang menjadi ciri khasnya.


"Hm, kau benar." Angguk Vicy karena memahami ucapan Kara.


"Kau ini sebenarnya mau apa?!" Kara tidak menyangka jika Vicy akan mengatakan hal itu padanya, "haah... tidak perlu membahas pria. Apa disini ada minuman?" Kara mulai memperhatikan sekitar.


...◇• •◇...


Sebuah patung es krim yang terletak di depan pintu toko. Warna yang beragam mungkin mereka gunakan sebagai penghias sekaligus maskot sehingga banyak pengunjung yang tertarik.


Memilih es krim mungkin hanya akan membuat seluruh giginya membeku, oleh karena itu Kara akan lebih memilih untuk membeli minuman dingin saja.

__ADS_1


"Toko yang unik, bahkan aku baru melihatnya. Apa mereka baru saja membukanya?" Pikirnya.


Kara menunggu antrian yang tidak cukup ramai pengujung, setidaknya ia sudah memesan dan saat ini sedang menunggu kedatangan pesannya sembari memperhatikan beberapa hiasan lucu di setiap meja dan di beberapa dinding.


Di tengah Musim Panas seperti ini, Kara hanya sering mengenakan pakaian polos dan tipis berlengan pendek, ditambah dengan celana pendek longgar di atas lutut.


"Apa masih lamaa~ aku hampir mati kehausan~" kedua tangannya terjulur ke depan dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.


"Apa ini pesananmu?" Seseorang menghampirinya dan bertanya.


Kara berusaha membangkitkan dirinya kembali dan melihat dua gelas minuman dingin di hadapannya, "hm? Ya ini-"


Salah satu dari mereka mematung dan memberikan raut wajah yang datar dan juga sedikit tegang.


"H-Hyunji?!" Ucap Kara dengan berdiri kedua tangan yang ada di atas meja.


"Selamat Siang Nona~" sapanya dengan lekukan senyuman yang lebar sehingga membuat kedua matanya terpejam.


"A-Apa yang kau lakukan disini?!" Kara memperhatikan penampilan Hyunji dari bawah hingga ke atas, "b-bukankah ini pakaian pelayan?"


"Yup."


"Jangan hanya 'yup'! Bagaimana bisa kau ada disini?!" Karena sangat kesal dengan kejutan itu, Kara pun mencengkram kerah pakaian Hyunji dan menggoyangkannya ke depan dan ke belakang secara berulang kali.


"O-Oh... sa-saat itu..."


...◇• •◇...


"..............."


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini." Ucapnya yang akhirnya duduk saling berhadapan.


"Kau datang kesini, lalu para gadis yang bekerja disini meminta bantuanmu untuk memberikan pelayan pada tamu, dengan hati yang terbuka kau pun menerimanya, pada akhirnya inilah yang membuat kita bertemu."


"Hm."


"Jangan bercanda!" Kara kembali mencengkram kerah Hyunji dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, "bagaimana bisa kau tunduk pada perintah mereka begitu saja?!"


"Yah... aku juga memiliki hati nurani untuk membantu mereka. Lagipula aku juga luang, sebagai gantinya Tuhan mendatangkan dirimu." Ucap Hyunji pada Kara yang terus menatapnya dengan kesal.


Ia mengeritkan dahi dan mengubah raut wajahnya sehingga terlihat seperti lelucon, "apa-apaan wajah bercahaya itu."


"Ahahahahaha!"


"Hentikan! Cahaya matahari sudah cukup bagiku!" Seketika ia baru menyadari sesuatu sehingga membuatnya berdiri dari duduknya, "Vicy! Dia pasti sudah lama menunggu-"


Bruk!


"Dasar bujang, apa yang kau lakukan." Kara otomatis terduduk kembali seperti semula karena Hyunji yang menarik tangannya agar tidak lepas dari hadapannya.


Sebuah nontifikasi masuk dan membuatnya harus membuka dan membaca pesan tersebut.


'Yo, aku akan meninggalkan kalian. Selamat bersenang-senang'.


Pesan masuk itu membuat Kara tidak mempercayai apa yang ia lihat, "V-Vicy... bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja."


"Hahaha~" Hyunji masih tetap dalam kondisi yang sama. "Bagus Vicy, ku hargai panggilan dadakan itu." Ucapnya dalam hati.


...◇• •◇...


Hal sesungguhnya yang terjadi adalah. Vicy tetap memutuskan untuk menghubungi Hyunji untuk mengatakan lokasi mereka berada, karena Kara juga bersamanya. Dengan cepat Hyunji pun pergi ke tempat lokasi yang diberikan.


Sebagai basa basi, Vicy membuat Kara memasuki kafe atau toko mini yang menjual minuman dimana Hyunji sudah berada di dalam sana untuk memberi kejutan untuk Kara.

__ADS_1


Dan pada akhirnya... semua itu adalah rencana Adik hebat dari Vicy untuk Kakak Sepupunya.


__ADS_2