
Permasalahan ini akan semakin rumit, namun harapannya sama sekali tidak pupus. Disisi lain justru Lazel harus membuat Adiknya mengerti dan membawanya pergi bersama.
Karena memiliki turunan yang sama, Lazel saat ini sedang berusaha untuk berdebat dengan dirinya sendiri. Mau bagaimana pula, keputusan yang dibuat oleh Ian sudah tidak bisa mengubah apapun.
...◇• •◇...
Semua orang menatap layar televisi dengan serius, bahkan hampir tidak mengedipkan mata. Wajah tegang mereka begitu jelas terlihat.
"G-Gawat... seharusnya di tengah-tengah masalah seperti ini, Hyunjae ada di posisinya."
"Beritanya akan semakin memanas, padahal sejak masalah ini muncul mereka berdua sama sekali tidak pernah bertemu atau melalukan pertemuan apapun. Selain di waktu kepergiannya menuju Jepang." Ujar Kara.
Saat ini Vicy dan Kara masih di rumah, hari-hari biasanya yang mereka habiskan di kediaman Pietra tidak begitu sering mereka lakukan. Lagipula mereka merasa bahwa kehadiran mereka akan merepotkan Tuan Rumah.
Berita panas yang mereka lihat dari layar televisi sama sekali bukan candaan. Berita palsu mengenai Hyunjae dan Jean semakin melunjak, bahkan begitu banyaknya Wartawan memenuhi Perusahaan Pusat atau bahkan Rumah Utama Keluarga Pietra.
"Ck! Masalah ini akan selesai jika Lazel sendiri yang muncul ke hadapan publik." Ucap Kara dengan kesal.
"Tidak bisa, bukankah Kak Hyunjae sudah mengatakannya?" Sahut Vicy yang ikut merasa resah dengan masalah ini, "lagipula... dia sudah meminta pada kita agar tidak membiarkan Lazel tahu mengenai hal ini." Sambungnya.
Pelaku yang ingin mereka tangkap hingga saat ini belum mereka dapatkan. Lagipula sangat sulit menangkap orang yang sama sekali tidak ada inisial ataupun jejak.
...◇• •◇...
Di tengah-tengah permasalahan pribadi antar Kakak Adik. Hyunjae menggunakan waktu itu untuk berpikir mengenai ucapan Kara di tempo hari, dimana dia mengatakan bahwa pelaku meletakkan dendam pada Lazel. Lagipula jika dipikirkan baik-baik sama sekali tidak masuk akal, ditambah dengan mencari masalah dengan wanita seperti Lazel.
Lazel memang terkenal seperti wanita yang liar. Namun dirinya sendiri tidak pernah berniat untuk ikut campur atau mengusik kehidupan orang lain. Jadi masalah ini cukup sulit untuk dicerna.
Cklek!
"Hm?"
Wanita berambut perak itu akhirnya keluar dan langsung melihat Hyunjae yang sama sekali tidak memperhatikan keberadaannya.
"Apa yang dia pikirkan?"
Ia berjalan seperti biasa mendekati pria yang duduk dengan wajah yang serius seperti memikirkan sesuatu.
"Apa ada masalah?" Tanya Lazel dengan menepuk pundak Hyunjae.
"T-Tidak... tidak sama sekali," jujur saja bahwa dirinya sama sekali tidak menyadari kedatangan Lazel, sehingga membuatnya sedikit terkejut. "Bagaimana? Apa kau berhasil berbicara dengannya?" Kini Hyunjae mengalihkan pembicaraan.
"..............."
"Ada apa?"
"Berikan lagi kami waktu. Apa bisa?"
Melihat dari wajahnya saja, Hyunjae sudah bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya pada kedua saudara itu.
"Ya, tentu saja," Hyunjae sebenarnya tidak memiliki waktu yang banyak untuk berada di tempat lain dan menghiraukan masalahnya dengan Jean. "Maaf... kupikir kalian harus melakukannya lagi." Batinnya.
...◇• •◇...
Kesalahan tetaplah kesalahan, meskipun maaf sudah terlontar, namun korban tidak semestinya akan menerima permohonan maaf itu. Itulah yang ada di pikiran Ian, Adik Kandung dari Lazel.
__ADS_1
Tubuhnya tidak bergerak dari atas lantai dan bersandar pada dinding yang berada di samping pintu. Tatapannya sama sekali tidak terlihat, namun cara kepalanya mengadah ke atas sudah jelas jika dirinya merasa bimbang.
Pada saat itu... Kakaknya memberitahukan semuanya yang terjadi selama sepuluh tahun yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Pernyataan itu awalnya ia duga sebagai candaan, namun siapa sangka jika kenyataan pahit itu adalah kenyataannya. Bahkan sebuah kenyataan yang hingga saat ini masih tidak dapat ia terima.
Pernikahan yang tidak masuk akal, bahkan melakukan trik di setiap harinya. Pertikaian terus terjadi tanpa henti yang diawali karena para wanita Hyunjae. Semakin hari tidak ada yang berubah, penderitaannya dibayar dengan bergelimang harta. Sakit atau tidak prioritas utamanya adalah harta, kurang lebihnya ia tidak peduli.
Sebagai kakak Tertua, Lazel pasti memiliki banyak pikiran, rencana serta tindakan. Dan tanpa tahu, semua yang dia lakukan itu sangat sia-sia dan membuang waktunya yang berharga.
...◇• •◇...
Ian nampak frustasi namun tidak terlihat, Kakaknya dapat tunduk begitu saja hanya karena uang. Hidupnya dipermainkan hanya demi uang. Tidak ada tujuan lain selain uang. Bahkan dirinya tidak dapat membayangkan apa yang Kakaknya lakukan selama sepuluh tahun lamanya.
Dan setelah mendapatkan begitu banyak hinaan, dengan mudahnya ia kembali dan memenuhi harapan Hyunjae. Hal itu membuat Ian sangat emosi namun ia berusaha untuk menahannya, karena ia tidak akan menunjukkan sisi buruknya di hadapan Lazel.
Ia masih mengingat momen dimana mereka harus tunduk pada keluarga besarnya sendiri hanya karena tidak memiliki kekayaan yang setara dengan mereka.
Dirinya bahkan sudah mengetahui gerak-gerik Lazel dari umur yang begitu muda hingga saat ini. Kakaknya itu sudah membuat pengorbanan banyak dan melakukan penolakan atas keras kepala yang dia miliki.
Semua itu adalah kenangan yang sempat ia singkirkan dari dalam pikiran. Namun sekarang... karena perbuatan Hyunjae, membuat Ian kembali mengingat dimana posisi Lazel kecil di hadapan seluruh Keluarga Besarnya.
Oleh karena itu dirinya tidak takut untuk membuat pilihan pada Kakaknya sendiri. Tetap tinggal bersama atau pergi secara terpisah.
Pilihan itu membuat Lazel tidak bisa berucap apapun. Dan pada akhirnya akan memilih di hari lain dengan permohonan yang sama.
"Bagamaimana bisa Kak... kau kembali pada Keluarga seperti itu." Keluhnya.
...◇• •◇...
"Asal kan kau tahu," dirinya tetap berbicara tanpa menolehkan kepala. "Aku tidak peduli pada apapun yang kau lakukan, selagi kau bisa memberikanku jarak." Ucapnya dengan langkah kaki yang terus ke depan.
"Kau pikir aku kembali karena mu bukan?" Wanita itu membuat kedua irisnya menatap Hyunjae dengan seringai di lekukan bibirnya, "jangan bercanda, memangnya kau memiliki apa sehingga aku harus kembali padamu?" Tawanya.
"..............."
"Aku kembali karena balas budi pada Ibu Nezra dan Ayah Adam, tidak lebih dari itu." Ucapnya dengan wajah yang tidak peduli.
Harus ia rasakan bagaimana ucapan kejam dari seorang wanita yang dulu selalu mendapatkan tindakan yang buruk darinya. Dan disaat inilah, dirinya harus menerima karma tersebut.
Saat ini keduanya sedang pergi menuruni apartemen. Hyunjae hanya mengikuti kemana Lazel akan pergi karena cukup lama bagi mereka berdua untuk tidak pernah bertemu.
Sebuah pintu lobby yang mulai terlihat. Pemandangan luar cukup cerah dan mendukung.
Lazel menghentikan langkahnya, "pergilah, aku akan mengurus masalah ini sendiri." Ujarnya pada Hyunjae yang sudah menapak tangga ke bawah.
Pria itu menoleh dan menatap wajah Lazel, "per-pergi?! Kupikir kau akan mengajakku pergi ke suatu tempat."
"Kau kesini bertujuan untuk membawa kami berdua kembali, bukan liburan." Ucapnya dengan kejam.
"M-Maaf."
"Kembalilah disaat aku memanggilmu." Ujarnya sembari berjalan berbalik dan meninggalkan Hyunjae.
"Hm? Memangnya kau punya nomor ponselku?"
Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban, Lazel hanya ingin cepat pergi dari sana.
__ADS_1
...◇• •◇...
"Arrghhh! Terlalu banyak wanita yang pernah mendekati Hyunjae! Dasar pria keparat itu!! Memangnya apa yang sudah dia alami sehingga menciptakan aib seperti ini." Ucap Kara dengan kesal.
"Sepertinya permasalahan ini tidak akan selesai dengan mudah." Sahut Hyunji yang duduk di sampingnya sambil menatap layar laptop dengan serius.
"Haah~ apa kita perlu pergi ke tempat tinggal mereka? Bukankah hingga saat ini Villa itu tidak ditinggali?" Sahut Gyuu.
Vicy menanggapi Gyuu dengan gelengan kepala, "bukankah rumah semewah itu memiliki beberapa pelayan?" Ucapnya.
Kara melebarkan kedua telinganya dengan tatapan yang masih fokus pada laptop, "pelayan? Ku dengar saat itu..." ia menghentikan ucapannya sendiri dan mulai memasang wajah berpikir. "P-Pelayan Lazel..."
"Ada apa?" Tanya Jean.
"Benar! Bukankah kita bisa meminta bantuan pada Pelayan Lazel maupun Hyunjae?"
...◇• •◇...
"Yana... bukan?"
Dengan langkah yang terburu-buru, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat tinggal yang di duga adalah tempat dimana Yana berada.
Gyuu, Vicy, Kara bahkan Hyunji. Mereka bersama-sama memecahkan permasalahan ini dengan bertemu dengan salah satu pelayan yang pernah melayani Hyunjae ataupun Lazel.
Rumah susun yang memiliki warna cerah itu merupakan salah satu tempat sewaan Yana.
"Kalian kalau tidak salah... teman Nona Lazel bukan?" Ujar Yana yang melihat beberapa wajah yang tak asing.
"Yah... kami ada beberapa pertanyaan. Bisakah kami meminta waktunya sebentar?"
"Ya, tentu saja. Masuklah."
Kara hanya membuat kedaan itu menjadi memungkinkan, sehingga akan memperlebar peluang mereka untuk mencari tahu.
Ia berpikir bahwa seorang pelayan bukan hanya seseorang yang harus bekerja di dapur setiap saat. Setidaknya mereka dapat mengetahui sedikit mengenai masalah Hyunjae dan Lazel selama tinggal bersama.
...◇• •◇...
"Nona Lazel dan Tuan Hyunjae?"
"Yahh...seharusnya kita membiarkan masalah ini sebagai masalah pribadi. Tapi kita tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar dengan seperti ini."
"Benar juga..." kini Yana mulai terlihat lesu dan juga tidak bersemangat. Mendengar nama Lazel saja sudah membuatnya sangat khawatir. "Setiap ada permasalahan apapun, maupun berkaitan dengan wanita maupun bukan. Tuan Hyunjae selalu membuat Nona Lazel yang bersalah meskipun Nona sama sekali tidak berniat untuk ikut campur.
Mereka mendengarkan cerita Yana dengan serius. Beberapa kalimatnya terkadang membuat terkejut bahwa Hyunjae saat itu memang tidak pantas untuk di tolong. Akan tetapi, masalah setiap masalah yang selalu terjadi. Yana beranggapan bahwa ada sesuatu yang perlahan berubah, yaitu sifat Hyunjae.
Bahkan mereka sendiri dapat mengingat dimana Lazel pernah mengalami kecelakaan sehingga bagian rahimnya mengalami ketidakfungsian untuk sementara waktu dan entah akan berfungsi kembali atau tidak. Namun pengecekkan sebulan sekali sangat rutin ia lakukan bersama dengan Ian semenjak berada di Jepang.
"Jadi... maksudmu Hyunjae memang sudah berubah sebelum Lazel meninggalkan negara ini?"
"Hm," angguk Yana. "Aku juga tidak tahu apa faktor dari perubahan beliau. Namun aku sangat yakin jika Tuan memang tidak seperti dulu lagi." Sambungnya.
"Lalu apa kaitannya dengan masalah baru di antara Hyunjae dan Jean?" Tanya Hyunji.
"Awalnya aku juga tidak memikirkan ini... tapi setelah kedatangan kalian aku langsung tersadar begitu saja," Yana mengepalkan tangannya dan menekuk kedua alisnya. "Disaat semuanya hampir membaik... seseorang kembali datang dan kembali menimbulkan keretakkan di antara keduanya. Dan orang itu memiliki nama Ja... Heul."
__ADS_1