Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Patah Atau Mati


__ADS_3

Kedua matanya terasa berat. Ia merasa jika saat ini punggungnya berada di tempat yang cukup nyaman. Semburat cahaya semakin membuatnya kesulitan untuk mulai melihat.


Jas hitam itu sudah tak tertata rapi lagi, dan hanya menyisakan kemeja putih yang sangat berantakan. Rambut hitam yang semakin memanjang dan juga tebal ia singkirkan dengan kasar.


"..............."


Lengannya yang lain berusaha membuat tumpuan agar tubuhnya dapat bangkit kembali. Secara perlahan posisinya berubah menjadi duduk.


Kedua matanya yang berat itu mulai terbuka dan menatapi sekitar, "hm? Dimana?"


"BODOH! LAIN KALI JANGAN MEREPOTKAN KAMI!" Teriak kedua orang itu dengan emosi yang membara, tak lain adalah Gyuu dan juga Kara.


"????"


Hyunjae memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya karena ia merasa jika kepalanya terasa begitu sangat sakit.


"Oh benar, aku minum." Ucapnya dengan polos.


...◇• •◇...


Keempat orang itu terlihat sangat mengerikan dibandingkan Hyunjae yang kini terlihat segar bugar selepas membersihkan seluruh tubuhnya.


Wanita berambut cokelat itu tidak henti-hentinya memeluk lengan sofa dengan ekspresi yang menyedihkan, "aku tidak akan pergi kesana lagi." Rintih Kara yang terlihat sangat depresi.


"Vicy, apa bajing*n itu menyentuhmu?" Tanya Gyuu dengan tatapan tak mendukung.


"Hm." Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Syukurlah Kara tidak sempat melihat ruangan itu." Batin Hyunji.


"Pikiran mereka random sekali." Gumam Hyunjae.


Saat ini Hyunjae mulai berpikir mengenai masalah sebelumnya. Dimana ia bisa terjerumus untuk menyewa ruang VIP dengan banyak minuman.


Bahkan Hyunji, Kara, Gyuu dan juga Vicy ingin mengetahui detailnya.


"Aku hanya takut jika Lazel sudah pergi terlalu jauh. Aku juga pernah berpikir, apakah aku memang akan bertemu dengannya lagi?"


Dari awal permasalahan itu memang tidak berubah. Dan apa yang dikhawatirkan Hyunji pun terjadi. Sebaik apapun kondisi yang mereka alami, selagi Hyunjae tidak dapat menemukan sesuatu yang sangat berharga. Itu sama saja ia menyiksa dirinya sendiri. Tidak selamanya Hyunjae akan terlihat baik-baik saja, disaat itulah pikirannya sedang beradu.


Jalan satu-satunya hanyalah menghilangkan rasa risau tersebut.


"Aku mencintainya... bahkan aku tidak ingat apakah aku pernah mengatakan ini padanya secara langsung."


Semuanya terdiam setelah mendengar keluh kesah Hyunjae. Hyunji yang dulu pernah menyukai Lazel sedikit tahu mengenai perasaan Adiknya. Sedangkan Gyuu yang menganggap Hyunjae sebagai rival tidak bisa merasakan apa yang dirasakan Hyunjae. Ia hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik dan mengalahkan Hyunjae.


"Aku akan kembali." Ujar Hyunji sambil menggenggam tangan Kara, yang seolah-olah mengajaknya pulang bersama.


"Hm." Diikuti dengan Gyuu, tangannya juga mencapit kerah belakang Vicy sehingga terlihat seperti Anak Ayam.


"Apa yang kau lakukan?"


"Hm? Kau sangat kecil, jadi seperti ini akan lebih mudah."


"Maaf telah merepotkan kalian. Dan terima kasih." Ucap Hyunjae yang hanya mengenakan sweeter hitam serta jelana panjang yang sedikit longgar.


Kondisi Hyunjae saat ini sedang turun, jadi sebisa mungkin Hyunji tidak ingin memberatkan pikirannya lagi. Oleh karena itu ia memilih untuk pergi.


...◇• •◇...


Di sebuah kursi dan meja yang disiapkan secara khusus untuknya. Belakangan ini ponsel itu tidak lepas dari genggamannya. Raut wajahnya yang terkenal aneh semakin aneh saat mencoba untuk tersenyum.


Beberapa pria dan wanita terus berganti tempat dan juga riasan untuk memulai pemotretan.


"Hm~ mengapa dia marah? Bukankah aku hanya memberitahukan apa yang menurutku menarik?"

__ADS_1


"Tapi..." perempuan itu menyanggah wajahnya dengan telapak tangan sembari memperhatikan layar ponselnya. "Aku sama sekali tidak habis pikir jika keraguanku itu benar."


"Hahahahaha~"


...◇• •◇...


Sebuah rumah yang langka untuk dikunjungi. Cahaya matahari menyorot kediaman tersebut meskipun ada sedikit kekesalan di dalam hatinya.


Ia lekas keluar dari mobil itu dan melepaskan kacamata hitamnya. Kedua kakinya melangkah dengan pelan sehingga tiba di depan pintu rumah tersebut.


Tok! Tok! Tok!


Tak menunggu lama, salah satu pemilik rumah itupun membukakan pintu untuknya.


"Kau..."


"Lama tidak berjumpa, Miel."


...◇• •◇...


Untuk kasus ini sedikit berbeda. Miel yang merupakan sepupu dari Lazel tidak akan mendapatkan hukuman di penjara, melainkan dikurung di dalam rumah sendiri selama sembilan bulan.


"Percuma. Bahkan aku tidak berniat untuk mencarinya."


"Bukankah kau keluarganya? Bagaimana kau tidak khawatir pada keadaannya?"


"Siapa yang bilang jika aku tidak khawatir?" Kini Miel menekuk kedua alisnya, "dengar, selama aku mendengar mengenai kehilangan Lazel dan Ian kau pikir aku bisa tidur dengan tenang?"


"Ketahuilah, ada perbedaan dari beberapa ucapan itu. Aku mengkhawatirkannya bukan berarti berniat untuk mencarinya. Dia membenciku, dan tentu saja berlaku juga bagiku,"


"Apapun upaya yang kulakukan demi membawa Lazel Ian kembali sangatlah mustahil. Karena bahkan dirimu sendiri tidak dapat menemukannya, apalagi denganku yang mendapatkan kurungan dalam beberapa bulan?"


Awalnya Hyunjae akan merasa lebih baik jika berbicara dengan Miel, wanita yang merupakan bagian keluarga Lazel dan Ian. Namun hubungan mereka bagaikan langit dan tanah, keduanya tidak pernah saling menggapai.


...◇• •◇...


Earphone yang terpasang di salah satu pendengarannya baru saja menerima panggilan dari sekretarisnya untuk melakukan beberapa jadwal lainnya.


"Hm, aku akan segera kesana."


Waktunya begitu singkat, bertemu dengan Miel bukan mendapatkan hasil atau informasi. Melainkan pertengkaran dan juga adu mulut.


Dan saat ini ia mendapatkan jadwal lainnya untuk pergi mengunjungi sebuah tempat, dimana ia mengenal salah satu pengurus dari agensi tersebut.


Tangan kirinya menggenggam stir dengan erat, sedangkan tangan kanannya sibuk mengganti gigi mobil. Dengan satu putaran, mobil hitam itupun melesat pergi dari sana.


"..............." Miel mengamati kepergian Hyunjae dari jendela rumah, "meskipun aku tahu dimana lokasi Lazel dan Ian saat ini, aku juga tidak akan memberitahukannya padamu,"


"Lazel... wanita itu semenjak belum bersama kalian masih merasakan perasaan yang sama. Dan semenjak dirinya pergi pada kalian, beban yang dia tanggung semakin banyak. Dan dia melakukan semuanya demi uang,"


"Aku memang tidak menyukai Lazel, tapi... aku mengerti bagaimana perasaannya sebagai sesama perempuan."


...◇• •◇...


"Ohoo~ Tuan Direktur datang~" seorang perempuan yang Hyunjae temui di tempo hari saat ini memberikan sapaan dan juga sambutan untuknya.


Hyunjae baru saja tiba dengan Sekretarisnya dan juga salah satu bodyguardnya. Dengan ini jumlah mereka tepat tiga orang.


"Hei Jean. Wajahmu itu... bisakah kau menyapa mereka dengan baik?" Seseorang yang memakai ID yang sama sedang menegur Jean.


"Hm? Memangnya wajahku aneh?" Jean menunjuk wajahnya sendiri.


"Kau tidak menyadarinya??"


"Hei~ hei~" Jean tidak memperdulikan ocehan temannya dan lebih memilih untuk mendekat ke arah Hyunjae begitu saja dan merangkul lengannya.

__ADS_1


"H-Hei! Apa yang kau lakukan?!" Kini Sekretaris dan bodyguard yang bertugas untuk mengawasi Bos mereka berusaha memisahkan Jean dari Hyunjae.


Orang-orang dan beberapa petugas melihat Jean dengan panik dan saling membantu untuk membuatnya menjauh dan segera melepaskan Hyunjae.


Hyunjae awalnya tidak mempermasalahkan hal ini, namun sepertinya perempuan bernama Jean itu sudah melewati batas, "hei, apa yang-"


"Bukankah motif 'kupu-kupu' sangat bagus?" Seringainya dan membuat ucapan Hyunjae terputus.


Hyunjae yang awalnya ingin melepaskan wanita aneh itu darinya kini mulai terkejut dengan apa yang ia dengar. 


"Jean! Cepat lepaskan Tu-"


"Haah~ sepertinya kalian sangat membenciku," Jean melepaskan tangannya dan berniat untuk pergi begitu saja. "Baiklah, sampai jump-"


Tap!


Langkahnya terhenti begitu saja disaat ia mendengar sesuatu yang familiar keluar dari mulut Jean.


"Apa apa? Apa kau tertarik padaku?" Tanya Jean dengan terang-terangan pada seorang pria yang sudah memiliki seorang Istri.


Duak!


"Berhenti bercanda! Cepat pergi dari sini." Ujar salah satu temannya yang baru saja memberikan kepalan tepat di atas kepalanya.


"Sakit! Kau tidak perlu memukulku!" Ringis Jean sembari mengelus pucuk kepalanya.


Hyunjae melonggarkan kepalannya, "t-tidak, kau bisa pergi. Maaf."


"Ck! Yang salah siapa? Namun mereka memukulku begitu saja." Umpatnya dengan kesal.


...◇• •◇...


Meskipun merupakan agensi yang kecil, namun mereka cukup berkembang dengan baik. Fasilitas yang mereka gunakan juga tidak begitu buruk, dan itu semua merupakan penilaian pribadi menurut Hyunjae secara langsung.


Meskipun banyak yang mengetahui bahwa dirinya tidak lagi lajang dan sudah memiliki seorang Istri. Para wanita tetap berusaha mendekatkan dirinya dan berusaha mendapatkan perhatian banyak dari Hyunjae.


Adam dan Nezra diwaktu muda memiliki paras yang luar biasa. Mereka menjalin hubungan serius melalui pernikahan lalu dikaruniai dua orang Putra yang hampir memiliki wajah yang sama. Ketampanan Adam menurun pada kedua Putranya, sedangkan aura luar biasa yang dimiliki Nezra terturun pada keduanya.


Meskipun masih begitu banyak yang harus diperhatikan dan juga dipertimbangkan. Saat ini Hyunjae kembali memikirkan ucapan Jean yang menyebutkan kalimat kupu-kupu. Hewan kecil bersayap namun beracun itu merupakan ciri khas yang dimiliki oleh Lazel seorang.


Ia menganggap bahwa semua ini hanyalah kebetulan belaka yang tidak di sengaja. Jean adalah seseorang yang baru dia kenal, dan mengetahui Lazel sepertinya cukup mustahil.


"Bos?"


"Bos?"


"Bos."


"Y-Ya?"


"Apa Anda baik-baik saja?" Tanya seorang penjaga yang terus mendampinginya.


"Apa kalian sudah menemukan jejak dari Lazel?" Hyunjae mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya mengenai keberadaan Lazel.


"Maaf. Kami sudah berusaha sebisa mungkin."


"..............."


Pendataan mengenai orang-orang di bandara. Beberapa kota, bahkan hampir tiga negara mereka lakukan penyelidikan demi menemukan Lazel dan Ian. Namun hasil yang mereka dapatkan tetap kosong, dalam hal penyelidikan ataupun mata-mata, Lazel memang lihai dalam bidang ini. Hyunaje mengaggap bahwa Lazel juga tidak akan membiarkan dirinya ditemukan begitu saja.


Inilah arti dari simbol yang dimiliki oleh Lazel. Kupu-kupu yang sama tidak akan tertangkap kembali. Hanya dua pilihan, mematahkan sayap mereka atau mati. Mematahkan sayap dalam arti menyerah dengan keadaan, sedangkan mati, ia tidak akan membiarkan siapapun mengetahui, mendengar, ataupun mendata dirinya bahkan harus hidup di dunia yang kecil.


Lazel yang sudah mendapat kehidupan sulit dari masa kecilnya, pada akhirnya menganggap semua ini tidak ada apa-apanya. Ia adalah tipe wanita yang meremehkan segala hal dan berusaha untuk berlari tanpa melihat apapun yang menjadi pijakannya.


Di sela-sela proses pemikirannya, seseorang yang sebelumnya pergi entah kemana kini kembali lagi dengan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Hei," kini Hyunjae kembali mendapatkan gangguan dari Jean. "Mau bermain?" Tawarnya dengan senyuman yang sedikit jahat.


"Ha?"


__ADS_2