Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Musim Panas [Sebuah Butik]


__ADS_3

"Sialan sialan sialan... pria itu berani sekali!!! Entah mengapa tindakannya semakin mendekati kontak fisik!!"


"Hm? Lazel, apa kau baik-baik saja? Wajahmu terus memerah." Tanya Nezra yang berada di sampingnya menatap Lazel dengan khawatir.


"A-Ah~ tidak apa-apa, ini hanya faktor Musim Panas," jawabnya bohong. "Tentu saja bohong! Tidak mungkin aku akan mengatakan yang sebenarnya semudah itu! Aku masih memiliki malu!"


Jika seperti ini terus, perasaannya akan tercampur aduk. Bahkan selalu berada di dekat Hyunjae sering membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Pria itu selalu bisa mendapatkan berbagai macam ide untuk menggodanya. Awalnya ia sangat risih dan merasa terganggu dengan tindakannya, namun entah mengapa Hyunjae yang lebih sering melakukannya membuat Lazel semakin tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.


Padahal ia sudah membuat benteng untuk dirinya sendiri agar tidak terjatuh pada perangkap yang sama. Lagipula trik itu sangat ia ketahui jika para perempuan disana telah merasakannya.


Bersamaan dengan perasaan kesal dan juga perasaan yang tidak dapat diartikan. Selain terus menggoda dirinya, Hyunjae juga sering bercerita pada Lazel tentang dirinya yang dulu. Dimana pria itu hanya membuat para gadis menemaninya saja dan membuat mereka bermain dengan tubuhnya, tidak lebih dari itu. Lagipula meskipun Hyunjae terdengar atau terlihat menjijikan bahkan dijuluki pria yang brengs*k, dia tidak akan membiarkan para wanita menyentuhnya secara intim.


Oleh karena itu perlahan Lazel mengubah cara pikirannya terhadap Hyunjae. Padahal yang ia ketahui hanya dari ucapan dan juga pendengaran secara langsung tanpa melihat dengan kedua matanya sendiri.


Hyunjae yang tiap hari selalu melengketkan dirinya pada Lazel merupakan hal pertama kali bagi Hyunjae. Karena selama ini dia tidak pernah meletakkan tangannya pada perempuan manapun, dan orang yang pertama kali terjebak dalam rayuannya sendiri adalah Lazel seorang.


"Aarggghh!!! Mengapa aku terus memikirkannya!!" Lazel pun mengeluarkan keluh kesah dalam hati dan juga pikirannya, sehingga membuat Nezra sedikit terkejut.


Sebuah lampu merah membuat Nezra menginjak rem dan berhenti di belakang mobil berwarna putih.


Ia pun menoleh ke arah Lazel dengan wajah yang serius, "Lazel, apa kau sudah melakukannya de-"


"Ibuuuuu!!! Kumohon jangan menambah beban pikiranku." Sela Lazel dengan wajah yang meratapi keputusasaan.


"Ahahahaha! Sudah kuduga jika kau terlibat dalam perasaan seperti itu," tawa Nezra dengan sedikit mengejek Putrinya. "Dengar Lazel, Ibu juga pernah muda. Dan mengalami banyak cinta dengan Ay-"


"Hoeeeeeekkkk!!"


"..............."


...◇• •◇...


Caranya duduk di atas kursi kayu melawan hukum alam dengan menghadap ke belakang sebagai arah depan, "whoaaa... aku tidak menyangka jika ternyata kau laku juga."


Saat ini Hyunjae berada di kamar Kakaknya dan menghabiskan waktunya sedikit disana untuk saling bicara satu sama lain.


"Dasar Adik yang mengesalkan."


"Jujur saja, aku merasa penasaran bagaimana awal kalian bertenu."


"Kau tidak perlu tahu."


Hyunjae menjungkitkan kursi yang dia duduki, "heeeeh... padahal baru kali ini kita saling ber-"


Duak!


Dengan sengaja Hyunji menendang kaki kursi dengan kuat hingga membuat Adiknya terjatuh dan mencium lantai rumah.


"Sialan kau Hyunji! Ini sangat sa-"


"Seharusnya yang perlu kau khawatirkan adalah hubunganmu dengan Lazel." Sela Kakaknya dan menatap Adiknya yang berada di bawah sedangkan dirinya berada di pinggir ranjang.


Karena jarang berbicara santai seperti ini sebagai Saudara Kandung. Hyunjae ingin mengganggu Kakaknya sejenak yang sebentar lagi akan berada di posisi yang sama seperti dirinya.


Bahkan tanpa diberitahu dirinya sudah memahami bagaimana situasi saat ini. Dimana Lazel masih menutupi dirinya.


Wanita itu terkesan keras kepala namun masih suka bercerita atau bergurau. Namun setelah dia kembali ada begitu banyak perubahan dalam dirinya.


Hyunjae tidak berharap lebih pada Lazel, cukup melihatnya dan membiarkannya mencintai wanita itu sudah lebih dari cukup. Masalah hatinya itu urusan takdir dan juga waktu, jika Tuhan memutuskan mereka untuk tetap bersama, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia hanya mencoba menunggu dan juga bersabar.


"Tenang saja, cepat atau lambat dia akan menerimaku dan memaafkanku," ujar Hyunjae yang mengambil posisi duduk di samping Kakaknya. "Untuk saat ini biarlah waktu berlalu dengan tenang hingga waktunya tiba." Sambungnya.


"Semoga berhasil." Ia menepuk punggung Hyunjae dengan pelan.


"Kau benar-benar menikahinya tanpa alasan tertentu bukan?" Kini giliran Hyunjae yang mengintograsi Kakaknya.


"Hm? Maksudmu?"


"Aku tahu kau kesal karena aku yang mendapatkan Lazel lebih dulu dibandingkan dirimu. Sehingga kau hanya bisa menyukainya saja meskipun dia sudah menjadi milik orang lain."

__ADS_1


"..............."


"Meskipun kau hanya diam aku sudah bisa menebaknya, mungkin ini yang dinamakan insting dari saudara."


"Aku merasa jika menyukainya karena kasihan," kini Hyunji mulai terbuka pada Adiknya yang merupakan Suami dari sosok yang pernah ia sukai. "Bagaimana kau memperlakukannya membuatku semakin menyukainya dan ingin membuatnya nyaman di sisiku,"


"Namun hingga pada suatu hari aku mulai menyadari jika semuanya itu hanya berlandaskan kasihan. Saat Lazel mengalami kecelakaan, kau begitu histeris, dan bagaimana kau kehilangannya kau begitu frustasi. Bahkan kau rela melepaskan segalanya demi Lazel. Bukannya merasa cemburu justru aku merasa senang pada perubahanmu,"


"Lagipula aku menyadari jika Lazel tidak ditakdirkan untukku. Dia terlalu keras untuk bersama orang yang ramah seperti diriku, bukankah kalian begitu serasi? Hyunjae yang keras kepala bertemu dengan wanita bermulut maut serta emosi yang tidak stabil."


"Y-Ya... oleh karena itu aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun."


Adiknya membuang muka dengan ekpresi dan warna wajah yang tersipu malu.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami, fokus saja pada perasaanmu yang berusaha tulus pada Lazel. Karena rasa trauma sangat sulit dihilangkan, aku memintamu untuk sedikit lebih sabar." Ucap Kakaknya sebagai nasihat untuk Adiknya.


...◇• •◇...


Seorang wanita bersepatu hitam dengan masker dan juga kacamata sedang berjalan kesana kemari untuk melihat-lihat berbagai macam corak maupun bentuk.


Sebuah butik yang letaknya berada di Ibu Kota, yang berarti sangat dekat dengan Villa Lazel dan Hyunjae. Meskipun sama-sama berada di keramaian kota, namun kediaman Rumah Utama Keluarga Pietra sedikit menyingkir dari kota, belum lagi lorong jalan panjang yang kiri dan kanannya ditutupi dengan pohon-pohon yang rimbun.


Nezra saat ini sedang berbicara dengan pemilik butik tersebut, oleh karena itu Lazel akan menggantikan Ibunya untuk melihat-lihat.


"Karena aku pernah bekerja di butik, aku sedikit paham mengenai pilihan pakaian. Tapi aku tidak tahu apa seleraku sama dengan yang lain..." pikirnya.


Ia masih memantau semuanya, terutama dari perpaduan warna dan juga bentuk pakaiannya.


"Ini bagus." Ucap Lazel yang mengambil salah satu dress panjang yang memiliki warna yang unik, yaitu hitam merah, ditambah dengan motif mawar di bagian corak hitamnya.


"Yuhuu~ Lazel~" suara Nezra terdengar jelas jika saat ini beliau sedang mencari Lazel.


"Ibu aku disini." Sahut Lazel yang berada di selip-selip pakaian.


"Bagaimana apa kau sudah menemukannya?" Nezra pada Putrinya yang lebih tinggi darinya.


"Hm, bagaimana menurut Ibu?" Tanya Lazel pada Ibunya dengan memperlihatkan dress tersebut.


"Ikut aku." Ujar Lazel yang pergi dan membawa dress itu ke suatu tempat.


"????" Nezra yang tidak tahu apa yang ingin dilakukan Lazel hanya mengikutinya saja.


...◇• •◇...


"Ini tempatnya?"


"Ya, bukankah ini terlihat luas?"


"Sangat."


"Ngomong-ngomong dimana Hyunjae sialan itu! Seharusnya dia ada disini sekarang!" Ucap Gyuu dengan kesal.


"Hm... mungkin ini yang ketiga kalinya aku mengunjungi perusahaan Kak Lazel." Ujar Ian sembari melihat ke sekelilingnya.


"Hm... aku-HA?! KETIGA KALINYA?!"


"Aku tidak begitu menyukai keramaian."


"O-Oh..."


Sebuah aula bernuansa emas dengan lantai berwarna cokelat gelap yang nantinya akan digunakan sebagai tempat acara. Tepatnya di samping kantor yang Lazel pegang.


Tujuan Ian dan Gyuu untuk meneriksa keadaan aula dan menyewa beberapa orang untuk membersihkannya. Mereka tidak ingin mempersiapkannya dengan santai, jika ada yang tidak beres setidaknya dapat ditangani dengan cepat.


Sebelumnya Vicy bersama mereka, tapi Kara memanggilnya karena sedang membutuhkan teman. Lazel saat ini sedang pergi bersama Nezra ke toko butik, sedangkan Gyuu bersama Ian untuk memeriksa tempat pelaksanaan ucapacara nanti. Oleh karena itu Vicy bersedia menemani Kara sejenak hingga Lazel kembali nanti.


...◇• •◇...


Di atas selembar kertas berwarna putih, dengan pensil dan juga pena yang dia pakai secara bergantian.

__ADS_1


Sebelumnya Lazel mengajak Ibunya untuk menemui Sang Pemilik dan meminta beberapa kertas kosong serta pena dan juga pensil.


Kini tangannya masih terus bergerak dan perlahan menghasilkan garis-garis yang indah. Lazel juga menuliskan bagian-bagian warna yang akan tercantum pada gambaran tersebut.


"Selesai! Bagaimana menurut Ibu?" Ia menunjukkan hasil coretan serta garis-garis itu pada Nezra.


"L-Lazel, sejak kapan kau pandai mendesain sesuatu?" Tanya Nezra yang cukup terkejut.


"H-Hahaha itu hanya kebetulan saja." Jawabnya yang tidak ingin membuat ocehan Nezra semakin panjang.


"Tunggu sebentar."


"Hm."


Nezra membawa dress yang dipegang Lazel dan juga gambaran yang dia buat tadi untuk diserahkan pada pemilik butik.


Sembari menunggu Ibunya kembali, Lazel memainkan ponselnya sejenak karena terus berbunyi sejak tadi.


Ia melihat pesan dari Kara sehingga membuat senyumannya mengambang, "Kara? Apa dia ber-"


Drrt!


Hanya melihat namanya saja, tanpa pikir panjang ia langsung menekan tombol merah dan mengakhiri panggilan begitu saja.


Drrt!


Lazel melakukan hal yang sama. Hingga panggilan masuk itu terus terjadi tanpa henti hingga membuat Lazel merasa kesal sendiri dan pada akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Bicara cepat."


^^^"Haah... mengapa kau menolak panggilanku sayang?"^^^


"Ku tu-"


^^^"A-Apa kalian sudah menemukan pakaian yang cocok?"^^^


"Hm, baru saja Ibu membawanya kepada pemilik toko dan membicarakannya."


^^^"Hm..."^^^


"Itu saja?"


^^^"Tidak, ada lagi."^^^


"Apa?"


^^^"Aku mencintaimu."^^^


Tut... tut... tut...


Tangannya menggenggam ponselnya dengan erat bahkan dengan raut wajah yang penuh dengan rasa dendam, "pria brengs*k itu..." tuturnya.


"Lazel~ kita sepakat akan mengikuti desainmu." Ucap Nezra dan menghampiri Lazel yang sedang duduk.


"A-Apa Ibu tidak keberatan?"


"Tidak! Itu sangat bagus! Lagipula aku yakin jika mereka akan menyukainya." Ucap Ibunya dengan pasti, "apa kau pernah mempelajari sesuatu mengenai desain?" Tanya Nezra.


"A-Aku pernah bekerja sebagai salah satu butik di Jepang." Jawabnya dengan pandangan yang tertunduk.


"Kau bekerja di bu-"


"Maaf mengganggu lagi, pengukurannya kapan bisa kalian lakukan?" Tanya pemilik toko tersebut dengan sangat ramah.


Otomatis tangannya mengarah pada Lazel, "ah~ itu akan dilakukannya olehnya, lagipula kami memiliki anggota keluarga yang sangat banyak." Jawab Nezra dengan senyuman yang tak kalah ramah.


"Hahaha~ kalau begitu baiklah, kami tunggu ukurannya hingga besok lusa."


"Terima kasih kembali."

__ADS_1


Lazel masih berusaha memahami situasi, "huh??"


__ADS_2