
[Hyunjae pov]
Secara tidak langsung, namun ia tahu jika perubahan pada Istrinya itu sedang terjadi. Semenjak berhasil membuju Lazel kembali, wanita itu sama sekali tidak ada bedanya dengan yang di masa lalu. Bahkan dirinya saat itu sama sekali tidak segan-segan mengatakan sesuatu yang dia sukai atau yang tidak dia sukai. Meskipun kepulangan Lazel hanya demi membantu Jean, itu tidak masalah bagi Hyunjae.
Lazel juga tidak pernah memberikan tatapan atau tutur kalimat yang bersahabat. Mengingat hal itu membuat dirinya semakin sadar, bahwa apa yang dia perbuat di waktu itu tidak dapat berubah begitu saja. Menikah di atas papan catur yang sudah siap dengan segala drama. Setelah berhasil pergi ia kembali mencarinya. Di posisi Lazel yang seperti itu, dia tidak ada bedanya dengan mainan sekali buang.
Seharusnya hal ini menjadi sebuah rasa syukur bagi Hyunjae, setidaknya Lazel mau kembali meskipun alasannya demi orang lain.
Lagipula Jean yang awalnya memiliki sifat yang aneh ternyata dapat bersahabat dengan mudah. Bahkan dirinya begitu banyak membantu Lazel dan juga dirinya.
...◇• •◇...
Seharusnya tidak ada yang perlu dilakukan lagi, sebagian besar pekerjaan Hyunjae telah selesai. Dan sisanya akan ia serahkan pada Leo, Sekretarisnya.
Lazel dan dirinya sudah berkali-kali pergi ke Luar Negeri, seperti biasa, ia menghabiskan waktunya yang tersisa untuk bersenang-senang di luar sana dan meninggalkan serta melupakan Lazel yang ada bersamanya.
Wanita pekerja keras itu saat ini akan Hyunjae usahakan untuk terbuka.
...◇• •◇...
Total perjalanan berlangsung selama dua belas jam. Ia pergi tepat di tengah hari maka tiba di larut malam. Kedua Pilotnya akan membawa pesawat Keluarga Pietra menuju bandara yang terbaik di Prancis. Sebagai Pramugari, wanita pelayan itu juga mengurus beberapa hal untuk meminta izin dari beberapa pihak karena kedatangan Hyunjae Pietra, Putra dari Adam Pietra.
Hampir satu dunia ada yang tidak mengenal Hyunjae, berbeda halnya dengan Adam. Saat muda dulu, pria itu tidak ada bedanya dengan Lazel. Demi menciptakan wawasan yang luas, Adam rela pergi mengelilingi dunia dan pada akhirnya berhasil mendirikan saham yang hampir di akui di seluruh dunia. Sedangkan Nezra ahli dalam bidang Kedokteran, sehingga mendapat panggilan dari negara yang berbeda-beda.
Mungkin saja runtutan cerita seperti itu membuat Nezra dan Adam bertemu untuk yang pertama kalinya.
Wajah Hyunjae mendapat banyak dari Ibunya, sedangkan sisi tampannya ia dapatkan dari Adam. Sehingga ia mendapatkan gen yang seimbang dari kedua orangtuanya.
Tangan kanan yang terbalut dengan jam berwarna hitam menggenggam koper menuju keluar. Rambut hitamnya tertata dengan biasa, kacamata hitamnya ia letakkan di atas kepalanya seperti bando.
"Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Pramugari tersebut yang baru saja menyelesaikan beberapa urusan utama, setelah itu menghampiri Tuan Mudanya.
Kedua Pilot yang sudah melakukan tugas mereka terhadap pesawat pun juga menyusul.
"Lakukan apa yang kalian mau," ucap Hyunjae yang menatap kedua Pilotnya secara bergantian. "Anggap saja ini liburan, jadi tidak perlu melakukan tugas apapun sampai aku menghubungi salah satu dari kalian untuk kembali."
"Baik Tuan!"
...◇• •◇...
Seperti menjalani kehidupan seperti biasa. Negara Prancis atau sering disebut dengan Paris. Meskipun sudah larut malam, kendaraan masih banyak berkeliling, lampu-lampu kota masih terang benderang.
Saat ini Hyunjae berniat untuk menyewa hotel yang nantinya akan dia tempati bersama Lazel jika wanita itu sudah berada disini.
Seluruh tubuhnya serasa remuk, berada di dalam pesawat selama belasan jam tidak baik-baik baginya.
...◇• •◇...
[PARIS]
Sebuah La Tour Eiffel, bangunan yang paling menonjol di Kota Paris dan dikenal sebagai simbol Negara Prancis.
Selama di perjalanan tadi, Hyunjae sempat meminta saran mengenai tempat penginapan yang cukup indah atau sangat nyaman di tempati. Pada akhirnya supir membawa Hyunjae menuju hotel yang terkenal dengan keindahannya dan juga keunikannya. Selain itu, letaknya juga dekat dengan Menara Eiffel.
Tangan kirinya memegang ponsel dan memeriksa sesuatu.
"Hôtel Mercure Paris Centre Tour Eiffel," ucapnya. "Tidak buruk."
__ADS_1
...◇• •◇...
"Bienvenue dans notre logement..."
Hyunjae baru saja mendapat sapaan dari para Staff yang bekerja di bagian lantai utama atau lobby dengan bahasa khas dari sana. Tanpa menunggu lama ia pun langsung memesan kamar.
"T-Tunggu dulu..." pria yang baru saja ingin menunjukkan kamar yang Hyunjae pesan berhenti sejenak dan juga berpikir. "B-Bukankah Anda Tuan Muda Perusahaan Pietra?!" Tanya pria itu ke dalam bahasa Prancis yang sangat dipahami oleh Hyunjae.
"Y-Ya kau benar."
Perempuan yang tadi memberikan sambutan pada Hyunjae awalnya juga merasa tidak asing dengan wajahnya. Pada akhirnya dugaannya benar, pria berkaos hitam polos itu adalah Tuan Muda dari Perusahaan Pietra yang sangat terkenal itu. Dan juga Putra dari Adam Pietra yang merupakan Mafia Malam yang cukup dikenal oleh belah pihak dunia.
Mengetahui adanya Hyunja tempat itu seketika riuh, harga yang pada awalnya menggunung tiba-tiba menjadi standar.
"Padahal aku bisa membayar sesuai dengan harganya." Batin Hyunjae.
...◇• •◇...
Sebelumnya Hyunjae meminta kamar yang nampak dengan pemandangan kota, salah satunya menara unik yang Prancis miliki. Sesuai dengan permintaannya, kamar dengan diameter yang sangat luas akhirnya ia dapatkan.
Nuansa kamarnya sedikit beragam, namun tetap terlihat berkesan.
Dinding putih dengan lantai berwarna abu-abu muda. Ranjang yang terletak di bagian kiri tengah. Serta di bagian samping ranjang terdapat jendela yang amat besar, tirai abu-abu itu dapat disingkirkan dengan mudah, lalu nampaklah pemandangan kota dengan menara di bagian tengah-tengahnya.
Ia tersenyum puas melihat kamar itu.
Setelah melakukan pembayaran, ia langsung mendapatkan kamar yang sempurna. Tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu ia bergegas melompat ke atas ranjang lalu mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.
"Dia tidak menjawab? Kupikir persamaan jam disini dan disana sama saja." Ucapnya dengan kedua alis yang berkerut.
Hyunjae mengulangi panggilan itu berulang kali namun tidak mendapatkan jawaban satupun. Karena merasa sedih tidak dapat mendengar suara Istrinya. Mau tak mau ia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sembari melakukan panggilan video melalui laptop yang dia bawa.
...◇• •◇...
Tanpa mengenakan sehelai penutup, justru ia menggunakan handuk itu untuk mengeringkan rambutnya sembari berjalan ke arah komputer dan melihat apa Lazel sudah menjawab panggilannya.
"Haah... apa dia tidur?" Ucapnya dengan wajah yang tertekuk.
Seharusnya ia tahu jika Lazel tidak pernah tidur selarut ini, apalagi jika dalam melakukan pekerjaan.
Pada akhirnya, Hyunjae memutuskan untuk tidak mengganggu Lazel dan akan menghubunginya di esok hari.
^^^"Ada apa?! Siapa yang menelponku malam-malam seperti ini?!"^^^
"..............."
^^^"H-HYUNJAEEEEEEEE!!!!"^^^
Siapa sangka jika panggilannya akhirnya terangkat juga.
"Lazeeeellll!!"
^^^"Bajing*n! Kemana pakaianmu! Mengapa kau telanjang lagi?!"^^^
"Lalu? Apa kau suka."
Tut... tut... tut...
__ADS_1
Karena ulah mesum Hyunjae, Lazel pun mematikan panggilan video itu. Namun saat berniat menghubunginya kembali, Lazel terlebih dahulu menghubungi dirinya.
Drrt!!
"Mengapa kau menelpon biasa? Jika begini aku tidak bisa melihatmu."
^^^"Kau dimana?"^^^
"!!!!" Siapa sangka jika pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Lazel. "Hotel, t-tapi! Jangan salah paham! A-Aku-"
^^^"Hm... kalau begitu apa yang ingin kau katakan?"^^^
"Hm?"
^^^"Kau menelponku malam-malam seperti ini pasti ada yang ingin kau katakan bukan!"^^^
"Tidak juga."
^^^"Apa maksudmu?!"^^^
"Aku merindukanmu, hehehe."
^^^"..............."^^^
Hyunjae mengubah suara panggilan menjadi speaker. Karena ia ingin memakai pakaiannya segera dan kembali menghubungi Lazel melalui panggilan video.
^^^"Aku lelah, apa kita bisa melanjutkannya besok?"^^^
"Benarkah? Hm... baiklah. Akan ku hubungi lagi besok."
Pembicaraan mereka pada akhirnya tidak mengandung sesuatu yang penting. Lazel membuat panggilan mereka berakhir.
Lazel sangat teliti dengan apa yang dia lihat, siapa sangka jika wanita itu akan mengetahui perbedaan latar belakang hanya melalui panggilan video. Yah... untuk saat ini Hyunjae tidak akan mengatakannya hingga Lazel sendiri yang pergi kesini.
...◇• •◇...
Di sisi lain, di waktu yang sama. Seorang wanita dengan ponsel yang terletak secara telungkup di hadapannya.
Lampu-lampu masih menyala dengan terang, terlihat suasana sekitarnya yang nampak sunyi. Awalnya ia memang sempat ingin tidur, namun sebuah nomor asing menghubunginya berulang kali. Pada akhirnya ia pun mengangkat panggilan itu dan melihat sesuatu yang tidak dia sangka.
Rambut perak panjangnya tergeletak di mana-mana. Wajahnya masih berada di tengah-tengah lekukan lututnya.
"Haha... dia memang berubah. Tapi aku yang bodoh karena terlalu berharap," kini wajahnya yang menunduk kembali terangkat ke atas dengan tatapan yang kosong. "Seharusnya aku tahu dari awal bahwa dia hanyalah pria yang baik. Tidak lebih dari itu." Sambungnya.
Ponsel itu langsung mendapatkan mati daya total dari pemilikinya dan ia letakkan begitu saja di atas lantai.
Pada akhirnya ia hanya merasa di bodohi oleh dirinya sendiri.
"Memangnya apa yang spesial dariku sehingga dia mau melakukan hal-hal yang di luar nalar?"
Tanpa sadar air matanya mulai turun.
Sekilas ia mengusapnya dengan kasar, "bukankah ini wajar saja dia lakukan? Dia tidak pernah mendapatkan apapun dariku, oleh sebab itu dia mencari yang lain di luar sana." Ucapnya dengan senyum yang tipis.
Lazel tidak bisa memahami keadaan. Apa yang dia lihat barusan sangat memperjelas apa arti dari seseorang yang baik itu.
Pada akhirnya tetap ada pembatas di antara mereka berdua. Kesalah pahaman Lazel mungkin akan menciptakan masalah yang baru, akan tetapi, perasaan sesungguhnya dari apa yang dirasakan Hyunjae sama sekali tidak salah.
__ADS_1
Namun... melihat Lazel yang kembali bersedih sangat melukai hati harapannya.
Baik belum tentu harus mencintai... itulah prinsip yang harus dia sadari.