
"Hm?" Tubuhnya berbalik dan melihat ke arah belakang, "dimana Kak Lazel?" Tanya Ian yang tanpa sadar telah berpisah dengan Saudaranya.
Pria berambut perak itu mengambil jalan ke arah lain, "aku harus mencarinya." Ucapnya dengan santai.
...◇• •◇...
Festival seperti ini bukan hanya terjadi di perkotaan besar saja, namun di berbagai desa lainnya tidak akan kalah meriah dengan mereka. Lagipula Tokyo memang pusat dari seluruh Jepang, namun terdapat kota-kota lainnya saat berada disana.
...◇• •◇...
Ia masih terdiam dan tidak mengatakan apapun setelah pria itu berbicara semaunya. Tapi sosok yang dia kenal memang seperti itu, bahkan jika diperhatikan dengan benar, dia tidak sedikit pun berubah.
"Apa aku harus mengenakannya kembali?" Tanya Hyunjae yang berniat memakai topeng itu kembali.
"Apa Jean yang mengirimmu kesini?" Lazel mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang hal lain.
"Apa aku perlu membawamu ke tempat yang lebih baik?"
"Ku ulangi, apa Jean mengirimmu kesini?" Kini Lazel memang nampak sedikit berbeda, bahkan tutur ucapannya sama sekali tidak bisa diprediksi seperti dulu.
"Ya."
"Mengapa kau percaya dengan ucapannya?"
"Bagaimana aku tidak percaya, dia selalu memanas-manasiku dengan fotomu! Itu membuatku hampir frustasi di setiap harinya kau tahu!" Hyunjae nampak histeris dengan tindakan konyol Jean padanya.
Kedu alisnya menekuk, "jadi... alasanmu kesini untuk membawaku dan Ian kembali?"
"Ya, itu benar."
"Aku menolak."
"Aku akan berusa-"
"Ian, bawa aku pergi dari sini." Sela Lazel yang menyebutkan nama Adiknya di tengah-tengah perbincangannya dengan Hyunjae.
"Ian? D-Dia disini?" Kejut Hyunjae yang langsung memperhatikan sekitar.
"Kau... mengapa kau disini." Ucap seorang pria yang berdiri di belakangnya dengan wajah yang terkejut dan juga terisi dengan sedikit amarah.
Hyunjae yang melihat sosok kembar itu tidak bisa berkata apa-apa. Lagipula ia tidak menyadari sama sekali kehadiran Ian, bahkan dari raut wajah yang diberikan Lazel sebelumnya juga nampak terkejut dengan kedatangan Ian.
"Bajing*n sepertimu telah membuat Kakakku seperti ini." Pria berambut perak itu mendekati Hyunjae dengan tatapan tidak suka.
"Ian, bisakah kita kembali?" Sahut Lazel.
"T-Tapi! Bagaimana bisa kau berniat untuk bertemu dengan pria ini?!"
"Bertemu? Mengenalnya saja tidak." Ujar Lazel dengan wajah tidak peduli.
Ucapan Lazel membuat Hyunjae merasa sangat tertekan. Sebuah hubungan yang sama sekali tidak akan pernah dianggap oleh Lazel dan memang seolah-olah mereka tidak pernah bertemu di kehidupan sebelumnya.
"Tunggu apa lagi? Ayo." Lazel membentangkan kedua tangannya ke arah Ian.
Dengan adanya Lazel, ia tidak bisa bertindak lebih jauh. Lagipula saat ini ia melihat Lazel yang sama sekali tidak bisa berdiri karena faktor sebelumnya. Mau tak mau dirinya harus mendengarkan ucapan Lazel dan langsung membawa Kakaknya dengan cara memanggulnya ke depan dengan kedua tangan.
Hyunjae yang saat ini hanya bisa berdiri dianggap tidak ada atau memang tidak pernah ada.
Namun Ian yang sibuk membawa Kakaknya melewati di hadapan Hyunjae. Lazel diam-diam menjatuhkan sesuatu yang mirip seperti bungkus jimat, lalu telunjuk wanita itu mengarah pada benda yang dia jatuhkan.
__ADS_1
Setelah Ian dan Lazel pergi, pria beranting itu langsung meraih benda tersebut lalu membukanya.
'Taman yang cukup terkenal di Kota ini'.
Itulah yang tertera pada isi jimat tersebut. Isinya memang terlihat sebagai balasan sebuah doa atau keberuntungan. Namun siapa sangka jika kalimat yang tertera disana cukup bisa untuk memberi sedikit pesan untuknya.
"D-Dia ingin bertemu denganku disana?"
...◇• •◇...
"Harus ku katakan berapa kali, kau tidak boleh berlari dengan cepat sehingga memberi tekanan yang kuat pada kedua kakimu." Ucap Ian yang memarahi Kakaknya.
"Tapi Dokter sudah memberitahuku untuk tetap berolahraga agar ke-"
"BEROLAHRAGA DI TENGAH-TENGAH FESTIVAL SEPERTI ITU?! APA ITU MASUK AKAL?! DAN TANPA KU SADARI HAL INI BERKAITAN DENGAN PRIA ITU." Ia menyela dengan nada yang tinggi sehingga membuat Lazel terkejut.
"..............." Lazel terdiam setelah Ian meninggikan suaranya di hadapannya.
Ian berhasil menemukan Lazel dan segera membawanya pulang. Dan saat ini mereka berdua berada di Ruang Tengah untuk berbicara serta Ian memberikan perawatan ringan pada Lazel.
Setelah Ian mengetahui permasalahan yang berlangsung selama sepuluh tahun itu, pikirannya sama sekali tidak pernah berjalan dengan baik. Namun meskipun begitu, ia tetap menjalankan kuliah dengan baik dan tetap patuh pada ucapan Kakaknya.
Tetapi terkadang sesuatu yang membuat Ian marah besar adalah permasalahan di masa lalu yang terungkit. Dari hal itu, Lazel sudah memahami apa yang Adiknya pikirkan. Tidak akan pernah untuk mengubah keputusan atau tidak akan pernah menerima maaf dari siapapun.
Dan pada akhirnya hal itu terjadi di waktu yang datang dan di hari ini. Dimana Hyunjae memunculkan dirinya di tengah keramaian dengan pakaian yang menyerupai penduduk lainnya. Alasannya cukup masuk akal, tapi untuk menerimanya sudah melewati akal sehat. Apalagi Ian yang sudah memiliki garis emosi dari Kakaknya, mungkin sebagai pria dia tidak akan tinggal diam.
"Maaf Kak... aku tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Ian yang mendadak duduk di atas lantai dan menyandar pada sofa yang Lazel duduki.
"Di saat seperti ini aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang masa depanmu. Kau bisa membedakan yang baik dan buruk sudah cukup bagiku, meskipun terkadang emosi yang kau keluarkan cukup membuatku terkejut."
"M-Maaf! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, jadi jangan marah, maaf."
Kini Lazel akan memberikan sesuatu pada Adiknya yang mungkin akan memahami apa arti dari kehidupan tentang gelap ataupun malam serta salah dan benar.
"Kesalahan adalah sesuatu yang mutlak sehingga sulit untuk memaafkan seseorang. Namun pernahkah kau berpikir mengenai tindakanmu itu?"
"Apa kau puas hanya dengan emosi dan membencinya serta tidak akan memaafkannya?"
"Atau bahkan kau akan mencoba untuk kehilangan pikiran untuk berbuat sesuatu sehingga dirimu puas?"
Lazel mulai menunjukkan wajah amarah sehingga Ian tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku akan membencimu seumur hidup jika kau sampai kehilangan sesuatu yang penting seperti ucapanku sebelumnya." Ujar Lazel.
"Y-Ya, aku akan mengingatnya."
...◇• •◇...
Bukan berniat untuk memaafkannya kembali, namun Lazel hanya menerapkan sedikit pembelajaran tentang apa yang pernah dia alami. Terkadang untuk memaafkan saja sangat sulit, namun apa yang Lazel lakukan adalah diam dan tidak melakukan tindakan apapun untuk ke depannya. Berusaha untuk melupakan dan tidak akan membicarakan apapun.
Ia sangat tahu jika Ian adalah seorang pria yang mestinya cukup sulit untuk menahan emosi, namun dirinya tidak akan membiarkan perasaan emosi itu mengalir ke pikirannya sehingga melakukan sesuatu di luar pikiran.
Pintu berwarna putih itu terbuka dan memperlihatkan suasana kamar yang gelap yang hanya disinari oleh cahaya rembulan.
Seorang pria dengan rambut peraknya tengah tertidur. Baju tidur yang dia kenakan cukup berantakan sehingga menampakkan perutnya.
Lazel hanya tersenyum tipis melihat Adiknya itu. Ian yang dulu sangatlah cengeng, apapun yang terjadi padanya Lazel harus siap menjaganya. Bahkan sebagai Kakak ia siap menerima apapun demi Adiknya.
Dan sekarang... Ian yang suka menangis sekarang sudah tidak ada lagi. Pria kecil itu sudah tumbuh sebesar ini dan mulai menyaingi Kakaknya.
__ADS_1
Di dunia ini dirinya hanya sendirian, namun dengan adanya Ian, ia merasa jika dunia hanya memiliki mereka berdua. Tidak seorang pun ia percayai selain Ian.
Tangan kanannya merambat pada sebuah selimut dan meraihnya serta menutupi tubuh Ian, "kau sudah besar, dan tentunya kau harus mengetahui segalanya tentang kehidupan. Karena tidak selamanya hidupmu akan terus bahagia,"
"Di dalam hidupmu, kau sendiri yang menjadi tokoh utamanya. Jadi jangan sia-siakan itu."
...◇• •◇...
"Aku berang-"
"SARAPAAAN!"
Bruak!
"Y-Ya baiklah."
Khusus untuk di pagi hari, Lazel akan mengurus sarapan. Karena Ian selalu bangun telat sehingga tidak sempat untuk memasak. Lazel yang awalnya tidak bisa memasak, perlahan-lahan mulai terbiasa karena ajaran dari Adiknya. Karena tidak mungkin dirinya terus merepotkan Ian. Apalagi saat ini Ian sudah menjadi Maha Siswa dan mengambil gelar yang dulu diinginkan kakaknya.
Ruangan bernuansa orange beserta lampu penerang tepat di atas meja makan. Disanalah kedua Saudara itu menghabiskan waktu di pagi hari.
"Sudah." Ucap Ian sembari memperhatikan Kakaknya agar tidak memberikan kepalan maut lagi.
"Oke, kau bisa pergi."
"Sampai nanti Kak!"
Pria berjaket hitam itu berlari keluar rumah dan langsung menaiki mobil yang biasa selalu menjemputnya. Dan mereka adalah teman-teman Ian selama tinggal di Jepang.
"Jurusan Kedokteran," Lazel menyeringai. "Bagaimana bisa ahli bela diri sepertinya akan berada di jurusan hebat seperti itu."
Mimpi yang dulu sangat ingin ia wujudkan, pada akhirnya Ian lah yang akan melakukannya.
"Baiklah, kurasa aku harus pergi juga."
...◇• •◇...
"Panas..."
Kicauan burung dan jangkrik menjadi satu. Langit terlihat begitu cerah, awan-awan yang mengitari sekitar tidak pernah menghalangi cahaya matahari sedikit pun. Bahkan sudah berdiri di bawah pohon sakura yang berukuran besar masih sangat terasa panasnya.
"Ini taman yang cukup terkenal bukan? Aku sempat bertanya pada orang-orang di sekitar." Gumannya.
Hyunjae tiba terlebih dahulu, karena sebelumnya Lazel tidak memberi tahu waktu dimana mereka akan bertemu. Oleh karena itu Hyunjae memastikan agar dirinya yang tiba terlebih dahulu meskipun berkali-kali mendapat gangguan.
Pria bertubuh tinggi berbadan besar itu mengenaka celana longgar bertali serta mengenakan atasan setengah lengan sehingga memperlihatkan lekukan otot di kedua lengannya yang besar. Sebagai tambahan, ia akan mengenakan topi agar sedikit melindungi wajahnya dari silau matahari.
"Tampan sekali, hei apa dia pendatang?"
"Apa kita harus menghampirinya?"
"A-Ayo! Ini adalah kesempatan kita!"
Dari jarak yang cukup jauh, ia mulai merasa tidak nyaman dan mungkin akan ada beberapa orang yang akan mengganggunya lagi.
"K-Kak? Apa kami bisa berfoto denganmu?" Pada akhirnya para gadis mulai mengerumuninya lagi.
"H-Ha? Hm... kurasa-"
"Apa yang kalian lakukan terhadap Suamiku?" Ucap seseorang dengan suara yang familiar serta menggunakan bahasa asli dari negara itu, sehingga Hyunjae sedikit sulit mengartikannya.
__ADS_1