
Tubuh besarnya menghadap pada dinding kamar mandi dengan pancuran air yang membasahi kepalanya hingga ujung kaki melalui shower yang berwarna silver.
Ia hampir menghabiskan waktu setengah jam lebih untuk membersihkan tubuhnya. Perasaan groginya mulai muncul, dan penyebabnya adalah Lazel sendiri.
Vicy memanggil dirinya di waktu yang sangat tepat, bahkan disaat dirinya sudah tiba, Lazel belum menyadari kedatangannya, sehingga wanita itu mengatakan segalanya secara terang-terangan yang sempat membuat perasaan Hyunjae sedikit berdetak dengan kuat.
Namun karena situasi yang begitu menegangkan, ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu dan berniat untuk membuat Lazel pergi dari sana.
Lagipula, senjata yang sebelumnya ada pada Ja Heul belum dapat dipastikan keasliannya dari jarak yang cukup jauh. Tapi Hyunjae sangat mengenal jenis senapan tersebut, dan tidak sembarangan orang dapat menggunakanya.
Oleh karena itu hanya ada dua kepastian. Yang pertama, Ja Heul akan memenuhi keinginan pribadinya dan tidak peduli akibat yang akan dia terima. Kedua, senapan itu memiliki merek yang asli, namun tidak terisi dengan peluru.
Dan akhirnya, di antara dua dugaan Hyunjae benar. Cara Ja Heul memegangnya juga sangat salah. Hal itu membuat Hyunjae semakin yakin bahwa senjata itu hanya sebagai benda pajangan untuk mengancam.
"M-Mmm..." ia kembali mengingat ucapan Lazel yang begitu membuatnya terus memikirkannya.
Tangan besarnya mengusap ke belakang rambut hitam yang ia miliki dan memasang wajah yang sedikit malu.
"A-Aku adalah milik Lazel..." ucapnya dengan ekpresi yang gugup. "Kyaaa~ aku malu." Ucapnya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
...◇• •◇...
Matahari sudah terlihat sejak satu jam yang lalu. Pohon-pohon yang mengitari kediaman itu sudah nampak jelas dengan semburat cahaya dari atas.
Seluruh jendela kamar sudah terbuka lebar hingga angin dapat menerobos masuk begitu saja.
Bibirnya masih terlihat menekuk, tatapannya mengarah pada jendela yang kosong. Rambut-rambut panjangnya menutupi sebagian wajah cantiknya.
Pikirannya masih tidak dapat lepas dari masalah semalam.
Di malam itu... ia sempat menduga bahwa akan ada korban yang jatuh di hadapannya. Kepercayaan mengenai nasib buruk memang selalu tertanam pada dirinya, sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Akan tetapi, semuanya langsung terlihat baik-baik saja meskipun dirinya masih dalam keadaan syok.
"Jika benda itu memiliki peluru, maka..."
Halusinasinya mulai berlanjut, bersamaan dengan rasa takutnya.
Cklek!
Baru saja seseorang keluar dari kamar mandi dan melingkarkan handuk putih di pinggangnya.
"Hmmm-" lantunannya berhenti seketika disaat tatapannya bertemu dengan sosok wanita yang baru-baru ini membuatnya luluh. "Kau sudah bangun?" Tanya Hyunjae dengan menutupi bagian pinggulnya yang terlihat besar dan berotot.
"Haah~ sebenarnya apa maumu..." kini Lazel menatap Hyunjae dengan hawa-hawa yang kurang mendukung. "Kenapa kau selalu telanjang di hadapanku?" Tanya Lazel dengan kedua alis yang mengerut.
Hyunjae melipat kedua tangannya dan memasang wajah santai, "telanjang itu tidak mengenakan apapun, sehingga memperlihatkan k-"
"Keluar, aku mau mandi." Sela Lazel yang mulai turun dari ranjang dan merapikannya.
"Apa kau butuh bantuan?" Godanya dengan alis yang naik turun.
"Ck!"
Cklek!
Mendapat decakan dari Lazel membuat Hyunjae bergegas meninggalkan kamar Istrinya.
...◇• •◇...
"Bffftttt!!!"
"Jangan menyemburnya ke arahku!!" Teriak Hyunji.
"J-Jadi pelakunya..."
"Ja Heul." Jawab Kara dengan kesal.
"Rasa sukanya begitu berlebihan sehingga berani membuat langkah yang berbahaya." Sambung Vicy.
__ADS_1
Kara dan Vicy bagaikan berita yang keliling. Mereka selalu memberitahukan informasi apapun dengan rinci, bahkan Gyuu yang awalnya tidak bisa mengatakan apapun, kini seperti Ibu-Ibu komplek yang hobi begosip.
Sebelumnya Vicy mendapat pesan dari Hyunjae untuk memberitahukan kejadian malam pada Ibu dan Ayahnya. Namun karena Adam yang jarang sekali berada di rumah, Kara dan yang lainnya pun menceritakannya pada Nezra dan juga Hyunji.
"Apa Lazel baik-baik saja?" Tanya Nezra dengan khawatir hingga menggenggam kedua tangan Kara.
"Y-Yah... seharusnya yang Anda khawatirkan adalah kondisi Hyunjae yang sudah di ujung tanduk."
"Haah? Untuk apa aku mengkhawatirkan penjahat itu." Ucapnya dengan ketus.
Di sisi lain, Hyunji berusaha menyingkirkan posisi Ibunya yang menghalangi dirinya untuk berada dekat dengan Kara. Beberapa hari yang lalu sangat jarang baginya untuk bertemu dengan Kara.
Meskipun sangat merepotkan, Hyunji sangat menyukai disaat ada masalah yang menimpa salah satu dari mereka. Karena hanya di waktu itu dirinya dapat bertemu dengan Kara.
"Apa aku harus menciptakan masalah yang baru sehingga Kara harus tinggal disini?"
"Hm... kalau begitu adalah masalah pernikahan. Bukankah dengan masalah seperti itu akan membuat Kara tetap terus bersamaku?"
"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Nezra yang menatap Putranya dengan heran.
"Kenapa Kakak tertawa sendiri?" Tanya Vicy.
"Kalian berdua berisik sekali." Jawab Hyunji lalu memindahkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Kara.
...◇• •◇...
"Yo."
"Ian..." perasaannya semakin lega dimana Adiknya menjumpai dirinya.
Sang Kakak langsung memeluknya dengan erat dan membawanya masuk.
Masalah itu terjadi saat kemarin malam. Ian hanya mengetahui dimana Kakaknya melakukan siaran langsung di hadapan publik secara tiba-tiba hingga membuat kehebohan. Namun setelah ini Lazel sendiri akan menceritakan lebih lanjut mengenai masalah yang hampir membuat dirinya tidak bisa berpikir.
Semenjak pergi dari hotel, Ian memutuskan untuk menetap disana dan tidak ikut dengan Kakaknya.
Ia kurang tahu mengenai identitas Ja Heul atau masalah selebih dari itu. Setidaknya Kakaknya sudah mengatakan pada dirinya jika masalah ini hampir usai.
"Yo." Sapa Ian.
"Yo." Sapa Hyunjae balik.
"Sapaan para lelaki..." batin Lazel.
...◇• •◇...
"Mereka membutuhkan penjelasan langsung darimu atas Konferensi yang kau buat serta penjelasanku atas keterkaitan masalah ini." Jelas Hyunjae sembari menggunakan seat belt.
"Bagaimana dengan Jean?" Tanya Lazel yang masih di luar mobil dan mulai ingin melangkah masuk.
Pria berkacamata hitam itu menoleh pada Istrinya, "apa kau belum menerima kabar darinya pagi ini?"
"Hm?"
"Dia sudah dalam perjalanan menuju Jepang."
"Hahh??"
Duak!
Lazel menghantupkan kepalanya karena terkejut dengan ucapan Hyunjae barusan.
"..............." Ian yang tidak mengetahui apapun hanya bisa duduk manis di kursi belakang dengan ekspresi datarnya.
"Apa maksudmu? Mengapa dia hanya memberitahumu saja, sedangkan aku tidak?" Tanya Lazel dengan nada yang sedikit marah dan buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Entahlah, padahal yang lain sudah menerima kabar dari Jean."
"Y-Yang lain??"
__ADS_1
"Bukankah Kak Jean dan kau terlibat dalam masalah?" Sahut Ian.
"Ya, seperti penjelasan Lazel sebelumnya..."
Saat ini Hyunjae, Lazel dan Ian sedang dalam perjalanan menuju pengadilan, dimana Ja Heul dan keluarganya mendapat tahanan atas perbuatan Ja Heul sendiri. Untuk menyelesaikan kasus ini sebagai kasus terakhir, mereka harus hadir dalam penyidangan pagi ini.
Sedangkan Lazel, wanita itu nampak risih karena mengetahui jika Jean pergi kembali ke Jepang tanpa sepengetahuannya.
"Dia tidak mengangkatnya." Ucap Lazel dengan kesal.
"Mungkin dia sedang dalam perjalanan." Sahut Ian.
"Tapi kenapa harus kalian, mengapa dia tidak memberitahuku."
...◇• •◇...
Hampir usainya permasalahan mereka, justru Jean pergi terlebih dahulu sebelum mendapatkan maaf dari Ja Heul. Hal ini bukan masalah bagi Hyunjae, karena wanita itu pasti memiliki alasan tersendiri, apalagi dia sudah memiliki seorang Putri.
Lazel nampak khawatir, ia bahkan belum mengatakan apapun pada Jean sebagai perpisahan.
"Haah~ kepalaku sakit.." keluh Lazel yang langsung meletakkan ponselnya begitu saja.
...◇• •◇...
"Itu mereka." Ucap Lazel yang melihat beberapa mobil terparkir, yang dia duga merupakan mobil dari keluarganya dan juga teman-temannya.
"Lazel, apapun yang mereka katakan. Jangan memasukkannya ke dalam hati." Ujar Hyunjae.
"Tenang, aku akan baik-baik saja." Jawab Lazel yang sudah mempersiapkan diri dengan mantap.
"Tidak tidak... kau tidak baik-baik saja."
Meskipun sudah bertemu, namun Nezra masih tetap memanjakan Lazel dan Ian layaknya Anak Kandungnya sendiri. Tak lupa dengan Adam. Lazel dan Ian bersama-sama memeluk Adam dari sisi yang berbeda dan membuat pria berwajah dingin itu tersenyum tipis.
Para wartawan sudah bergerombolan hanya untuk menangkap berita yang dapat menguntungkan mereka.
Semua orang seketika melirik karena jejeran para Keluarga Pietra yang menjadi tokoh utama dalam masalah ini. Terutama Lazel yang sudah membuat langkah awal terlebih dahulu.
Tidak perlu menunggu lama, sidang pun terjadi dan membuat pelaku dan para keluarganya menampakkan diri.
...◇• •◇...
Penjelasan demi penjelasan, Sang Pengadil banyak mengucapkan pasal ataupun undang-undang mengenai hak kemanusiaan atau tindakan yang dapat membahayakan nyawa. Namun dalam kasus ini masih bisa terbilang ringan karena Ja Heul hanya berusaha menggertak tanpa melukai seseorang.
Suasana di dalam ruangan itu nampak sunyi.
Lazel dengan tatapan yang angkuh menatap seseorang dari atas dengan wajah yang menyanggah wajahnya.
"Seharusnya masalah ini tidak perlu membawa Pengadilan ataupun Polisi," kedua alisnya tertekuk sebagai tanda kesal. "Ini hanya membuang-buang waktuku saja."
Ujung dari penyelesaian masalah ini adalah tuntutan permintaan maaf untuk pada Keluarga besar Pietra dan juga Keluarga besar Jean.
Di sini Lazel merasa tak enak hati karena Jean tidak ada disini untuk melakukan sidang bersama. Seharusnya ia menyadari hal ini sejak awal. Jean sama sekali tidak berniat tetap bertahan semenjak dirinya diambang masalah. Akan lebih baik jika dirinya cepat pergi dan menganggap semuanya telah berlalu.
"Tunggu."
"????" Wajahnya terangkat dan bertanya-tanya.
"Seharusnya kau meminta maaf melalui media masa secara langsung." Ujarnya dengan suara yang berat.
"A-Apa??"
"Kau sudah membuat kebohongan yang begitu hebat, oleh karena itu bersihkan dengan tanganmu sendiri." Ucap Hyunjae yang masih tidak merasa puas dengan masalah ini.
"H-Hyunjae??" Lazel berharap bahwa masalah ini akan selesai dengan cepat, namun siapa sangka jika Hyunjae kembali mengucapkan sesuatu lagi.
Bukan hanya Lazel, bahkan semuanya ikut berdiri karena Hyunjae.
Kedua langkahnya terus berjalan dan melalui orang-orang yang ada di kedua sisinya. Tatapannya hanya tertuju pada seorang gadis cantik dengan Sang Ibu yang mendampingi dirinya.
__ADS_1
Hingga langkah terakhirnya berhenti tepat di hadapan gadis yang terus menunjukkan wajah kusutnya.
"Minta maaflah pada Lazel." Ujarnya dengan intonasi yang datar.