Lost Feeling 2

Lost Feeling 2
Negosiasi


__ADS_3

Demi kebaikan Lazel dan juga Adiknya, Ian. Nezra berencana untuk melupakan mereka berdua, hal itu dia lakukan demi memisahkannya dari Hyunjae. Tidak ada gunanya mempersatukan mereka kembali, jika kesalahan yang Hyunjae perbuat sudah begitu banyak. Lagipula Nezra berpikir jika hanya jalan inilah yang terbaik.


Akan tetapi... mendengar Hyunji yang terus mencoba untuk membuatnya yakin. Perlahan keputusannya berubah.


...◇• •◇...


Entah apa yang saat ini mereka lakukan. Mereka berdua seperti menghilang dari permukaan bumi. Pelacak apapun yang digunakan sama sekali tidak berfungsi. Kepergian mereka membawa luka yang begitu berat.


Tidak ada yang tahu kemana tujuan mereka, dimana saat ini mereka tinggal.


...◇• •◇...


Sama seperti biasa, mereka penuh semangat untuk bekerja. Hal itu sudah berlaku pada hari-hari sebelumnya. Bahkan dalam keadaan apapun, ia terus tetap fokus dalam mengerjakan kewajibannya.


Sebagai seorang Direktur yang memegang kendali sebuah perusahaan pusat. Tidak ada yang mudah baginya, di setiap harinya jadwal selalu berusaha untuk membuatnya rubuh. Namun demi Lazel, dirinya tidak akan tumbang begitu saja.


Di dalam sebuah ruangan yang familiar, yang hanya bisa dimasuki oleh beberapa orang saja. Seorang pria dengan kemeja hitamnya tengah duduk di hadapan sebuah laptop berukuran sedang. Kedua matanya dibaluti dengan kacamata agar menghindari radiasi.


Tatapannya benar-benar fokus untuk mengerjakannya, meskipun beberapa kali melakukan kesalahan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk." Ujarnya.


Pintu terbuka begitu saja dan menampakkan seorang pria yang sedikit memiliki kemiripan dengannya.


Saat mengetahui siapa yang dibalik pintu itu, seketika ia mengubah raut wajahnya yang tidak bersahabat, "apa yang ingin kau lakukan disini?" Tanya Hyunjae yang langsung pada intinya.


"Kasar sekali," pria berpakaian militer itu berjalan santai menuju sofa. "Apa kau tidak kelelahan?"


"..............."


"Apa dia baik-baik saja?"  Pikirnya dalam hati.


Kedatangan Hyunji yang entah memiliki tujuan apa membuat Hyunjae sedikit kesal. Ibunya, Ayahnya, serta beberapa teman Lazel. Di antara mereka semua tidak pernah berniat untuk membantunya selain memusuhinya.


Hyunjae tidak pernah melakukan protes mengenai hal ini, karena dirinya sadar bahwa ialah yang memulai permasalahan ini.


"Di saat kau berhasil menemukan Lazel, apa kau yakin jika dia akan mendengarkanmu dan kembali padamu begitu saja?" Kini Hyunji mulai membuka suara yang mengarah pada sebuah inti permasalahan.


Hyunjae yang mendengar sesuatu tentang Lazel dari saudaranya membuatnya sedikit berpaling sejenak.


"Berusaha untuk berubah serta terus berusaha mencarinya itu adalah jalan yang luar biasa. Tapi," Hyunji menatap Adiknya dari kejauhan. "Apakah kau berpikir dia akan menurut begitu saja?"


Perkataan Hyunji tidaklah salah, karena mencari keberadaan Lazel saja sudah membuatnya mati kelelahan. Belum lagi masalah membujuknya untuk kembali.


"Untuk saat ini aku akan mencarinya." Sahut Hyunjae yang tetap membulatkan keputusannya.


"Percaya diri sekali." Seringai Hyunji.


"Apa kau tahu. Sebenarnya dia menyukaiku, tapi perasaan malu menyelimuti dirinya." Ucap Hyunjae dengan penuh keyakinan.


"Benarkah?"


"Entah~"


Hyunji sebenarnya sedikit khawatir dengan kondisi Adiknya yang cukup buruk setelah kepergian Lazel. Namun setelah apa yang dia lihat, sepertinya ada sedikit kesalahan. Hyunjae yang memang nampak kelalahan sama sekali tidak buyar dalam pendiriannya. Ia sama sekali tidak mengetahui faktor apa yang membuat kepercayaan diri Adiknya itu datang.


"Ibu berniat untuk ikut mencari Lazel."


"!!!!" Kedua matanya membesar saat mendengar sesuatu yang sedikit mustahil dia dengar, "l-lalu apa cincinnya-"


"Aku tidak peduli dengan masalah yang lain. Intinya Ibu dan aku akan mencari Lazel sebisa mungkin." Jelas Hyunji.


"Haha~ kira-kira apa pencarian ini akan berhasil?"


"Itu tergantung dirimu sendiri."  Sahut Kakaknya.


"????"


"Kau tidak berubah. Maka keadaan tetap sama." Ujar Hyunji dengan tatapan seriusnya.


...◇• •◇...


Awalnya ia berpikir jika kedatangan Hyunji hanya akan memperburuk keadaan. Namun siapa sangka jika ia medapatkan kabar bahwa Ibunya akan ikut serta dalam mencari Lazel.

__ADS_1


Selain Adam. Nezra juga memiliki koneksi luas di luar sana. Sehingga dapat mempermudah mencari sesuatu.


Untuk hari ini ia merasa bahwa ada sedikit harapan baginya agar dapat bertemu kembali dengan Lazel.


Pada kemarin malam, selama empat bulan ini dia baru menyadari sesuatu. Pada saat mereka berdua melakukan perjalanan menuju Amerika, Hyunjae ingat bahwa dirinya pernah menghadiahkan sesuatu untuk Lazel, yaitu berupa lampu mini berbentuk tabung serta corak kupu-kupu di bagian dindingnya.


Saat Lazel masih tinggal bersamanya, wanita itu, secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan Hyunjae selalu merawat lampu mini tersebut. Lagipula ia melihat dengan jelas jika benda cantik itu selalu terletak di atas meja tepat di samping ranjang.


Hyunjae waktu itu sadar jika Lazel menyukai hadiah yang dia berikan. Namun dirinya tetap acuh dan tidak peduli.


Dan hingga saat ini ia tidak pernah melihat benda itu lagi selama Lazel meninggalkan rumah.


Hal itu membuat Hyunjae merasa yakin jika lampu tersebut ada bersama Lazel. Entah apa yang wanita itu pikirkan, namun Hyunjae berpikir bahwa benda itu benar-benar sangat disukai oleh Lazel.


...◇• •◇...


"..............."


"..............."


Keduanya terus terdiam tanpa bersuara sedikit pun. Masing-masing memikirkan sesuatu yang serius untuk dilakukan.


"Lazel... aku baru-baru saja mengenalnya, namun dalam sekejap dia pergi entah kemana."


Hyunji dapat mengetahui perasaan Kara hanya dari wajahnya saja.


Semenjak Lazel dan Ian pergi. Hyunji dan Kara lebih sering bersama untuk saling berbincang mengenai masalah Lazel. Lagipula Kara sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Hyunjae. Namun pria itu hanya menyuruhnya untuk beristirahat selama beberapa waktu.


"Kau akan kelelahan jika terus berpikir keras seperti itu." Ucap Hyunji yang membuat lamunan Kara buyar.


"A-Ah, maaf."


Sebelum melakukan pertemuan, Hyunji menyempatkan dirinya untuk pergi mengunjungi Hyunjae dan memastikan keadaannya. Setelah itu ia mengajak Kara untuk pergi ke sebuah kafe dan membicarakan sesuatu.


"Apa... Tuan baik-baik saja?" Tanya Kara yang sedikit ragu.


"Hm? Kau juga menyukai Hyunjae?" Sahut Hyunji dengan suara yang sedikit tinggi.


Kara menunjukkan wajah jeleknya dan juga mulai merasa kesal pada ucapan Hyunji, "dia sudah menikah! Tidak mungkin aku mengambil kesempatan bodoh hanya untuk mendekati atasanku sendiri! Lagipula temanku adalah Is-"


"Lagipulaa... pria yang kusukai tepat di hadapanku!" Ucap Kara dalam lubuk hatinya yang terdalam.


"Hm~ kupikir kau menyukainya. Kalau begitu kenapa tidak berusaha menyukaiku saja?" Ucap Hyunji yang menatap Kara dengan senyuman.


"HA?"


"Yaah~ bukankah tidak buruk untuk menyukaiku dibandingkan pria preman seperti Hyunjae."


"Hm, benar juga," tanpa sadar Kara terlarut dalam pembicaraan Hyunji. "M-Maksudku!-"


"Hahahahaha~ bukankah seperti ini sedikit lebih baik?" Tawa Hyunji.


"..............." Kara terdiam sejenak dan kembali mengingat sesuatu yang sudah ia ketahui dari Hyunji sendiri, "bukankah kau juga sama? Kau menyukai Lazel." Ucap Kara yang sedikit menekuk wajahnya.


"Ya, itu benar," jawabnya langsung. "Tapi... sama sepertimu. Aku tidak ingin mengganggu hubungan siapapun, lagipula dari awal mereka memang ditakdirkan untuk bersama."


"Hm..."


"Oleh karena itu..." Hyunji meraih rambut cokelat yang dimiliki Kara. "Mengapa kau tidak mencoba untuk menyukaiku saja?" Ucapnya dengan wajah yang sangat tenang.


"!!!!" Kara hampir memberikan kepalan mautnya pada Hyunji, "a-apa yang kau lakukan?!" Ucapnya dengan histeris sembari menyingkirkan tangan Hyunji darinya.


...◇• •◇...


"Aku penasaran... apa Lazel akan semudah itu untuk muncul? Dan kembali?"


"Maksudmu?"


"Aku merasa jika dia berada di sekitar kita, namun enggan untuk menampilkan dirinya seperti dulu."


"Apa yang kau maksud jika dia melakukan penyamaran?"


"Oh, benarkah?"


"..............." Hyunji tidak melanjutkan ucapannya setelah mengtahui jika pemikirannya dengan Kara sangat berbeda.

__ADS_1


Kara kembali terdiam dan mulai memikirkan Lazel. Wanita itu memiliki kepribadian yang buruk, sama seperti Hyunjae. Seperti yang dikatakan Hyunji sebelumnya, mereka berdua seperti memang ditakdirkan untuk bersama. Namun hanya masalah waktu dan tempat berusaha memisahkan mereka.


"Kira-kira bagaimana dengan Gyuu dan juga Vicy?"


"Apa mereka juga mencari keberadaan Lazel?"


"Dengan kuasa yang dimilili Gyuu, kurasa pria itu berniat mencari Lazel dan Vicy tetap bersamanya untuk membantu."


...◇• •◇...


"Model?"


"Wah... kira-kira sudah berapa lama."


Sepanjang perjalanan, banyak orang-orang yang heboh mengenai beberapa kumpulan orang yang terkenal karena pemotretan.


Vicy hampir mendengar kabar itu di seluruh tempat sehingga membuatnya sedikit pusing.


"Lambat." Ucap seseorang yang muncul begitu saja.


"Ini sudah secepat yang kubisa." Ucapnya dengan geram.


"Apa kau mendengar kabar baru-baru ini?"


"Kabar?" Vicy menepuk kedua tangannya. "Model?"


"Hm. Ku dengar Hyu-Bos dari perusahaan ini menjadi salah satu sponsornya." Jelas Gyuu.


"Waaah~ haruskah kita menonton?"


"Tidak."


"Kenapaaaa?"


"Hatiku hanya milik Lazel seorang." Ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.


Bruak!


Tas yang masih berada di genggamannya melayang begitu saja di wajah Gyuu, "sadarlah wahai Makhluk Sesat! Dia sudah memiliki Suami." Ucap Vicy dengan kesal.


"Tapi aku menyukainya."


"Dia sudah menjadi milik seseorang!"


"Hm! Dia memang milikku."


"BODOH!"


...◇• •◇...


Untuk pertama kalinya Perusahaan Pietra mendapatkan permintaan untuk menjadi sponsor sebuah agensi yang merekrut beberapa model. Untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan terkenal seperti Keluarga Pietra itu sangat sulit dilakukan atau di setujui.


Cahaya matahari membelakangi dirinya yang tengah duduk dan menatap semua yang ada di atas mejanya.


"T-Tuan... apa Anda serius mengenai kerja sama ini?"


"Tentu saja," Hyunjae melepaskan kacamatanya dan menatap Sekretarisnya yang berdiri di hadapannya. "Mereka menawarkan harga yang cukup menarik, bukankan itu bagus."


"Kurasa ini seperti metode yang digunakan oleh Nona." Umpatnya pelan.


"Hm, aku memang menggunakan ide Lazel." Sahutnya dengan wajah yang bangga.


"A-Anda mendengar saya?!" Kejutnya, "tapi, berhubungan dengan agensi yang seperti itu sepertinya sedikit-"


"Kau hanya harus membantuku saja, tidak lebih dari itu." Sela Hyunjae yang kini mulai serius.


"Saya pernah menggantikan posisi Anda selama rapat penting antar Direktur Perusahaan. Apakah itu merupakan sesuatu yang tidak berlebihan?" Kini Sekretaris itu mulai membocorkan sebuah masa lalu.


"Baiklah, negosiasi ini selesai dan kau bisa kembali ke tempatmu."


"Dia tidak mendengarkanku."


Hyunjae beranjak dari tempatnya tanpa mengenakan jas yang berada di kursi.


"Anda mau pergi?" Tanya Sekretaris tersebut.

__ADS_1


"Ada seseorang yang harus ku temui." Jawabnya singkat.


__ADS_2